KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Mempermainkan Alleta


__ADS_3

Alleta memberanikan diri masuk ke rumah karna sudah tidak tahan dengan perlakuan wanita itu yang dengan bebas mencium Gavano, bahkan Gavano hanya diam saja.


"Tu..tuan, siapa wanita ini.?"


"Alleta.?" Jawab Gavano santai.


Alleta yang di landa amarah, menarik lengan wanita itu, ingin sekali rasanya ia menampar wajahnya, namun mengingat tadi Gavano menerima ciuaman dari wanita itu, membuat Alleta mengurungkan niatnya.


"Tuan... biar bagaimnapun aku adalah istrimu, dan jika kamu ingin bermain dengan wanita, bisakah kamu lakukan itu di luar saja.? tidak di tempat ini, tidak di rumah ini, Biar bagaimanapun aku adalah nyonya muda di rumah ini, dan aku tidak ingin wanita wanitamu yang murahan itu masuk ke sini. Terlebih lagi, huh,,, aku tidak menyangka bahwa seleramu sperti ini, Bukankah dia sangat tua untukmu tuan Vano.! Meskipun wanita ini masih sangat cantik, tapi tetap saja dia lebih pantas menjadi kakakmu, bukan kekasihmu."


Makian demi makian yang Alleta lontarkan pada Gavano, tapi lelaki itu tidak marah sekalipun bahkan tersirat sebuah senyum puas di bibir seksinya. Sedang wanita cantik yang ada di sampingnya kembali meraih lengan Gavano, membelai pipi lelaki itu dengan lembut.


"Atas dasar apa kamu melarangku.? hahaha, di hatinya aku adalah segalanya, tak ada wanita manapun yang bisa menggantikan posisiku di hati Gavano."


"Kau... kau hanyalah seorang bibi yang haus akan kehangatan seorang pria, meskipun tuan Vano mencintaimu, tapi sekarang akulah yang menjadi istrinya, jadi lepaskan tangan kotormu dari lengan suamiku."


"Tidak, tidak akan, aku mencintainya, dan Gavano juga mencintaiku, iyakan sayang.?"


"Berhenti mempermainkannya, tidakkah dia terlihat sangat marah.?"


Ucapan Gavano membuat Alleta bingung,


"Ibu...." Teriak Arkana, yang baru saja pulang dari lokasi syuting.


"Ibu...?" Alleta menjadi salah tingkah, ternyata dirinya sudah salah paham,


'Apa yang harus aku lakukan.? Haruskah aku bersujud, memohon dan meminta.? aku tidak tahu dia adalah ibu tuan Vano, bahkan aku tadi memakinya..! Aggrhhh.!' Teriak Alleta frustasi dalam hati, sedangkan Gavano kembali tersenyum dengan puas.


"Ma...maaf nyonya.! aku tidak tau."


Setelah puas memeluk Arkana, wanita itu melangkah dengan anggunya dan semakin mendekat pada Alleta, membuat gadis itu merasa takut dan mempersiapkan diri, kalau-kalau ibu suaminya akan membalasnya.


"Sayang kenapa begitu tegang.?" Ucap ibu Gavano hangat.


Wanita itu yang tak lain adalah Aliya yang periang dan selalu melakukan hal-hal aneh di masa lalu, bahkan sifat itu terbawa sampai sekarang, tidak sedikit Aliya sering membuat masalah untuk Revandra di usiannya yang sudah empat puluh tujuh tahun.!


"Sekali lagi maafkan aku nyonya.!"


"Gadisku, panggil aku ibu seperti Gavano dan Arkana memanggilku." Sambil membelai lembut rambut menantunya.


"Ibu, Arka lapar." Manja Arkana.


"Baik mari kita makan malam bersama." Sahut Gavano.


Setelah di meja makan, Aliya terus saja menatap gadis yang sedang duduk si samping putra pertamanya.

__ADS_1


'Entah kenapa perasaanku begitu hangat saat tadi pertama kali aku melihat gadis ini, aku merasa wajahnya begitu mirip dengan seseorang yang aku kenal, tapi siapa.?, bahkan bibirnya...' Pikir Aliya dalam hati.


"Ibu, di mana ayah.? kenapa tidak ikut pulang bersama ibu.?" Tanya Arkana, membuat lamunan Aliya buyar.


"Oh... pria tua itu akan menyusul bersama si gadis kecil,! dan aku terlebih dahulu kembali karna sudah tidak sabar ingi melihat gadis mana yang telah berhasil meluluh lantahkan hati dingin putraku ini."


"Uhuk...uhuk." Alleta tersendak,


"Apa kau tak apa.?" Tanya Aliya


"Tak apa bu.!"


"Lalu kapan kalian akan berencena punya anak.?"


"Purfff..."


Gavano tersentak dan menyemburkan air dari mulutnya, Terkejut tiba-tiba ibunya bertanya seperti itu.


"Kami belum memikirkannya,"


"Tidak, pokoknya dalam setahun ini, kalian harus memberikan cucu yang imut untukku."


"Ibu, itu semua tidak semudah yang ibu katakan, kami beru menikah dua bulan ini, dan umur Alleta masih sangat belia,"


"No.! tidak ada penolakn, ibu juga mengandungmu saat usia ibu masih dua puluh tahun."


"Ibu, berhenti meminta sesuatu yang aneh, aku bukan pria tua itu, yang selalu menuruti semua keinginan ibu, meskipun ibu selalu meminta sesuatu yang aneh." Ujar Gavano tegas.


***


Usai makan malam, Arkana kembali ke kamar setelah puas melepas rindu pada ibunya, padahal baru dua bulan tidak bertemu, Arkana sangat lelah syuting seharian.


Gavano dan Alleta juga kembali kekamar, sedangkan Aliya masuk ke kamar Fia dan Faiq.


"Fia, Faiq apa kalian menginginkan ada bayi di rumah ini.?" Tanya Alliya pada keponakannya.


"Ingin sekali bibi.!"


"Baik, kalau begitu, besok kalian berdua ikut kerumah bibi ya.! karna kalau kalian berada di sini terus menerus, maka kita tidak akan melihat bayi kecil yang imut di sisini." Bujuk Aliya.


"Baik bibi, kami akan ikut bibi ke rumah bibi."


"Kalau begitu kita sepakat yah.!"


"Ok bibi."

__ADS_1


Setelah menyepakati permintaan Aliya, Fia dan Faiq akhirnya tertidur. Sedangkan Aliya, masih memikirkan tentang Alleta.


Di kamar Alleta berbaring membelakangi Gavano, lelaki terlihat sangat kesal, dirinya seringkali mengubah posisinya, namun tak menemukan posisi yang nyaman, bukan karna kasur busa yang ia tiduri tidak enak, melainkan perasaanya yang tidak enak dan tidak karuan. Dan semua itu karna istrinya.


"Tuan, berhentilah bergerak, aku lelah, aku ingi tidur."


"Berani sekali kamu memerintahku.?"


"Tapi tuan jika kamu terus-terus bergerak seperti itu, aku benar-benar tidak bisa tertidur."


"Heh..."


Gavano berdelik dan meraih tubuh Alleta, baru kemudian mendekapnya. Alleta yang memang sudah sangat mengantuk tidak perduli dengan perlakuan Gavano terhadapnya, toh itu juga bukan pertama kalinya.


Tapi tetap saja sesutu yang mengganjal di bawah sana membut Alleta tidak bisa tertidur, terlebih lagi Gavano seringkali mengesek miliknya pada Alleta.


"Gadis.!..." Panggil Gavano yang perasaannya tidak menentu.


"Ya tuan.!" tetap pada posisinya.


"Apa kamu sungguh mengantuk.?"


"Iya.!" Jawab Alleta singkat.


Jawaban Alleta tidak membuat Gavano berhenti, lelaki itu bahkan membenamkan wajahnya pada leher Alleta, memberi kecupan-kecupan di sana, tangannya yang tadi hanya memeluk pinggul Alleta kini berpindah menyusup di balik piama dengan motif bunga-bunga yang di kenakan Alleta.


Semakin nakal Gavano bermain disana. Mulai me..rmas, bahkan me..milin benda lunak yang membusung milik Alleta itu sambil me..ngesek sesuatu yang sudah menegang di bawah sanah.


Berbeda dengan Alleta, gadis itu diam saja, lantaran sangat mengantuk dan lelah, ia tidak meras geli atau apapun itu. Rasa kantuknya lebih besar dari rasa yang Gavano berikan padanya.


Hingga puas bermain pada benda lunak itu, Gavano menarik Alleta dan hendak menindihnya, Namun niat itu terhenti ketika mendapati Allet sudah tertidur lelap. Gadis itu sangat lelah, di tambah lagi tadi ibu Gavano bermain padanya saat ia masuk ke dalam rumah.


"Sepertinya gadis ini benar-benar lelah." Gumam Gavano sambil menatap wajah letih Alleta yang sudah tertidur


Tak mau menganggu Alleta, lelaki itu beranjak ke kamar mandi untuk mandi air dingin. Selama satu jam di kamar mandi akhirnya Gavano keluar, lalu meraih baji kaos dan celana pendeknya.


Lelaki itu menurini anak tangga, dan masuk ke dapur untuk membuat kopi.


Setelah selesai, Gavano duduk di ruang tamu sambil sesekali menyeduh kopinya. Tak lupa sebuah tab di tangannya untuk memeriksa pekerjaannya sperti biasa.


"Vano...!"


Panggil seseorang


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2