
"Ternyata kamu masih ingat padaku."
"Siapa yang akan lupa pada seseorang yang memaksa seorang gadis di depan prianya."
"Hahaha... tentang masalah itu, aku minta maaf"
"Sudah berlalu," Jawab Alleta berbalik menghindari tatapan orang itu.
"Apa kamu masih ingat namaku nona cantik,?"
"Tidak, dan tadak ingin." jawab Alleta tegas sambil memeluk kedua bahuunya lantaran sangat kedinginan.
"Aku akan mengatakannya sekali lagi, Aku Leo, rekan bisnis Gavano. Tentunya kamu sudah tahu soal itu, saat kita bertemu di toko kue beberapa waktu lalu kan.?"
"Lalu.?" Tanya Alleta ketus.
"Bagaimana kalau kamu ikut denganku, Sepertinya hujan tidak akan berhenti, dan lagi kamu tidak punya payung kan.?" Ajak Leo menyarankan.
Leo berada di univeraitas karna ada sesuatu yang ia urus, toh lelaki yang seumuran dengan Gavano itu juga memiliki aset di universitas itu.
Sesaat Alleta berfikir. 'Benar juga apa yang dikatakan lelaki ini, sebaiknya aku ikut dengannya.'
"Baiklah, aku ikut."
Meskipun Alleta sangat cuek terhadapnya, Leo tetap membantunya dan memberi tumpangan pada Alleta.
"Mau di antar kemana nona.?"
"ke jalan xxx..."
"Baik..."
Di perjalanan, Alleta hanya terdiam dan menatap dari balik jendela, melihat rintikan hujan yang membasahi tanaman dan pepohonan yang mereka lalui.
"Siapa namamu.?"
"Alleta."
"Aku ingat saat itu, Gavano menyebutkan bahwa kamu adalah wanitanya.!"
"Jika anda terus bertanya, sebaiknya turunkan saja saya di sini." Pinta Alleta mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Leo.
Tak mau mencari masalah dengan gadis yang membuatnya terpesona beberapa waktu lalu, Leo memilih untuk diam saja. Hingga mobil berhenti tepat di depan rumah Gavano.
Tak mau berlama-lama, Alleta segera keluar dari mobil dan berlari, tak perduli lagi jika dirinya akan kebasahan air hujan. Terlebih lagi gadis itu melihat Gavano berdiri di samping mobil hendak masuk ke rumah dengan sebuah payung di tangannya.
"Vano...!" Panggil Alleta berlari dan segera memeluk Gavano.
"Kenapa kamu seperti ini.?"
"Aku tidak sengaja melupakan ponsel di mobil, dan tak punya payung.!"
"Masuklah, benahi dirimu, tunggu aku di dalam." Perintah Gavano seraya mengelus pipi istrinya yang basah.
Sebentar setelah Alleta masuk ke dalam rumah, sementara Gavano yang melihat Leo keluar dari dalam mobil, berbalik dan seketika tatapan lembut untuk Alleta berubah menjadi kembali dingin, tajam dan tegas, serta modominasi.
Gavano menghampiri Leo yang tersenyum padanya.
"Rupanya kali ini kamu betah dengan gadis itu."
"Apa maksudmu.?"
__ADS_1
"Baru kali ini aku melihatmu begitu memanjakan seorang gadis muda."
"Kenapa tidak.?"
Leo kemudian lebih mendekat pada Gavano seraya mengatakan sesuatu pada Gavano.
"Presedir Gavano, aku masih berharap tentang apa yang aku katakan padamu tempo hari, jika kamu sudah puas bermain dengan gadis itu, bekasmu pun aku mau." Ucap Leo
Buk...
"Berani sekali kau berbicara seperti itu." Ucap Gavano setelah melayangkan satu tonjokan pada wajah tampan Leo.
"Kau demi gadis pe..lacur memukulku.?"
Buk... buk.. buk...
Tampa perduli hujan yang deras membasahi tubuh Gavano, lelaki yang sedang dilanda amarah besar itu memukul Leo, Matanya memerah dan melotot saat Leo menyebut Alleta seorang pe..lacur.
"Berani sekali kamu berkata seperti itu." Mencengkram kera baju Leo dan menariknya kembali berdiri yang sempat terjatuh ke tanah lantaran tak kuasa menahan pukulan Gavano.
"Kenyataannya memang seperti itu." Jawab Leo yang pinggiran bibirnya sudah mengeluarkan sedikit darah.
Buk...buk..buk..
Kembali Gavano menghujani Loe dengan pukulannya, bahkan beberapa kali menendang perut Leo, hingga Leo benar-benar memekik kesakitan dan tak mampu berdiri lagi.
Bukannya tak mau membalas, Leo sempat membalas namun tetap saja tak bisa mengalahkan Gavano.
"Dia istriku, bukan pe..lacur. dan jangan sekali-kali kamu menyentuhnya, jika itu terjadi maka apapun akan aku lakukan untuk melindunginya. bahkan dengan nyawaku sendiri. Ingat itu." Ujar Gavano menekankan pada kalimat terakhirnya, baru kemudian berbalik pergi meninggalkan Leo yang tak mampu berdiri di bawah guyuran hujan yang deras
"Anda baik-baik saja.?" tanya sopir Leo.
"Tak apa, bantu aku masuk ke mobil."
Lelaki yang sudah terpesona bahkan telah jatuh cinta pada Alleta sejak pertama kali bertemu di toko kue beberapa waktu lalu itu, bertekat untuk memiliki Alleta, meskipun lawannya adalah Gavano Gramentha, seorang putra dari penguasa kota S, yaitu Revandra Gramentha.
***
"Bagaimana kuliahmu hari ini.?" Tanya Gavano setelah keluar dari kamar mandi
"Seperti biasa.!"
"Kenapa tidak ikut Arkana pulang.?"
"Hum... kamu tahu sendiri kalau pemuda mnyebalkan itu tidak suka padaku." Jawab Alleta membuat wajah sebal dan memancungkan bibirnya.
"hahaha... kamu sangat imut seperti itu."
"Kenapa tertawa.?"
"Kamu lucu.!"
"Benarkah.?"
"Tentu saja."
"Lalu, cium aku."
Mendengar permintaan manja istrinya Gavano segera melemparkan handuk yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Naik ke tempat tidur dengan posisi menindih Alleta.
"Kalau begitu sesuai permintaanmu siluman kecil.!" Ucap Gavano menjatuhkan ciuman hangat pada bibir mungil Alleta.
__ADS_1
~Pipiluma pipiluma dolililmpa, papaluma papaluma dolilimpa~ (Nada dring ponsel Alleta)
Suara dering ponsel Alleta menghentikan aktivitas sepasang suami istri itu,
"Sebentar." Ucap Alleta mendorong lembut dada bidang Gavano dan meraih ponselnya.
Sedang Gavano terlihat sangat kesal dengan panggilan telfon itu.
"Hallo, ada apa Mira.?"
"Alleta... Aku ada di depan rumah yang tempo hari kamu berikan alamatnya.!" Jawab Mira di ujung telfon."
"Apa yang kamu lakukan di sana.?"
"Huhuhu... aku sangat ingin bertemu denganmu." Tampam seperti sedang menangis
"Baik tunggu aku.!"
Setelah mematikan panggilan, Alleta beranjak dari tempat tidur dan meraih salah satu hodie milik Gavano,
"Mau kemana.?" Tanya Gavano menarik pergelangan tangan Alleta.
"Mira ada di depan rumah.!"
"Untuk apa dia ke sini.?"
"Ingin bertemu dengan kepala pelayan.!"
"Ada hubungan apa temanmu itu dengan kepala pelayan rumah ini.?"
Cup...
"Apkah otakmu audah koslet suamiku yang terhormat.? tentu saja Mira datang untuk bertemu denganku." Ucap Alleta setelah melayangkan satu kecupan pada bibir suami dinginya itu.
Kecupan Alleta membuat Gavano merona, mau tak mau lelaki itu harus merelakan suasana romantis yang hendak ia ciptakan tadi.
Di waktu bersamaan, lantaran tak mau menunggu lama, Mira segera saja berlari hingga ke depan pintu rumah Gavano, dan mletakkan payungnya di teras. Mengetuk pintu.
Namun alangkah terkejutnya Mira saat melihat bukan Alleta yang membuka pintu, melainkan seorang aktor terkenal dan juga tuan muda kedua dari Gramentha grup yaitu Arkana.
Berbeda dengan Mira yang terkejut, Arkana justru melihat sekeliling Mira di penuhi bunga-bunga yang berwarna-warni, indah, cantik dan harum, setelah menatap wajah Mira yang cantik, bibir yang sedikit tebal menambah kecantikan wajahnya.
"Apa aku tidak salah alamat.?" Tanya mira pada dirinya sendiri yang bingung, mengapa Arkana berada di alamat rumah yang di berikan Alleta.
Mendengar suara Mira, sekali lagi Arkana merasa ada sebuah aluna musik yang mengelilingi Mira, bermain dengan alunan-alunan indah yang siapa saja yang mendengarnya akan terpesona dan terbuai.
"Mira...!" Panggil Alleta yang baru saja menuruni anak tangga.
"Alleta, aku pikir aku salah alamat."
"Tidak, kamu tidak salah, ayo masuk..." Ajak Alleta masuk tampa memperdulikan Arkana yang saat ini sedang melongo menatap Mira.
"Jelaskan apa yang terjadi.? mengapa kamu tinggal bersama seorang aktor terkenal, terlebih lagi dia adalah tuan muda ke dua Gramentha Grup. Apa kamu sedang di pelihara.?" Tanya Mira serius.
Bersambung...
******
...MIRA KALICA...
__ADS_1
...LEO...