
Julia segera membuka pintu, dan terkejut setelah melihat Gio dan Helen berada di ambang pintu.
"Mau apa lagi kamu ke sini Helen.?" Tanya Julia yang belum tahu bahwa Helen tidak dapat melihat.
"Kamu sungguh tega Juli, melakukan semua ini pada Helen,"
"Apa maksudmu Gio.?"
"Karna kamu Helen kehilangan penghlihatannya."
Julia tersetak kaget dan mengingat kembali perkataan pelayan Clara bahwa Clara sudah mendapatkan donor ginjal dan kornea. 'Tapi mengapa Clara melakukan itu pada Helen.' Pikir Julia,
Julia yang belum mengetahui bahwa Helen bukanlah adik kandungnya, merasa kasihan.
Namun mengingat apa yang telah Helen lakukan pada perusahaan ayahnya, Julia menepis rasa kasihan itu. Dia kemudian mengusir Gio dan Helen keluar dari rumah.
Helen tiba-tiba menggila, mengapai-gapai ke arah Julia, tapi dia tidak dapat meraih Julia karna tak dapat melihatnya.
"Kamu sungguh tega."
"Keluar, bawa dia keluar Gio."
"Julia, aku tidak menyangka, ternyata kamu adalah orang yang seperti ini."
"Kamu sudah tahukan.? Maka bawa dia keluar dari sini."
Gio membantu Helen keluar dari rumah itu, sakit hati, kesal, marah dan dendam. Itulah yang di rasakan Helen saat ini. Sedang Gio yang memang semenjak menikah dengan Helen, dia sudah mulai menyukainya, bahkan saat Helen meminta cerai, dia hanya bisa menuruti saja, asalkan Helen bahagia.
Saat Helen kembali dengan keadaan tidak dapat melihat, Gio merasa prihatin, di bahkan menentang kedua orang tuanya dan pindah keluar dari rumah untuk bersama Helen.
Sebentar setelah Gio dan Helen berlalu, Reygan muncul menurini anak tangga sambil mengucek matanya. Dia terbangun mendengar suara gaduh saat Helen berteriak tadi.
"Siapa yang datang ibu.?"
"Oh... tak ada apa-apa.!"
Baru saja Julia bersandar di sofa, bel rumah kembali berbunyi.
"Aishh... Siapa lagi yang datang.!"
Reygan menawarkan diri untuk membuka pintu. Wajahnya berubah senang saat melihat siapa yang datang.
"Ibu... Bibi Anya datang.!"
Anya terkejut, rupanya Julia telah kembali, dia tidak tahu hal itu lantaran Axcel tidak memberitahunya, dan Anya juga tidak ikut dalam rapat perusahaan kemarin karna saat itu Axcel sudah bukan lagi pemimpin di perusahaan.
"Nona Julia.!"
"Masuklah."
Julia menceritakan semua apa yang telah dia lalui selama ini.
"Nona, aku ingin memberitahumu sesuatu.!"
"Apa itu Anya.?"
"Tentang Helen.!"
"Kenapa dengan dia.?"
"Dia bukan adikmu nona Julia.!"
Betapa kagetnya Julia mendengar hal itu, dan timbul niatnya untuk menuntut Helen, tak perduli jika saat ini Helen sudah tidak dapat melihat.
"Apa yang sedang kalian bicarakan.?" Sela Axcel baru saja tiba.
"Sayang... kamu sudah kembali."
"Emm... aku akan memasak.!"
__ADS_1
Beberapa saat kemudian setelah Axcel menyelesaikan masakannya, dia meminta Anya untuk tinggal makan malam. Awalnya Anya menolak, tapi karna Reygan memohon akhirnya Anya tinggal untuk makan malam.
Melihat Axcel dan Julia bahagia, Anya juga ikut bahagia, bahkan dia sempat iri dengan kebahagiaan itu dan bertanya pada dirinya, kapan dia akan memiliki keluarga seperti itu.
Setelah makan malam, Anya pamit dan menyempatkan diri memberi kecupan selamat malam kepada Reygan yang begitu manis dan lucu.
Di luar rumah Axcel, Anya tersenyum sambil memandang rumah itu.
"Semoga kalian akan tetap seperti ini boss.!"
"Anya...!" Panggil seseorang membuyarkan lamunan Anya.
***
"Alvaro...!"
Anya dan Alvaro memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum mengantar Anya kembali ke rumahnya.
Hubungannya dengan Anya sudah enam tahun, namun tak sekalipun ada kemesraan di antara mereka. Bukannya tidak mau, hanya saja mereka terus merasa canggung
"Anya, sebentar lagi ulang tahunku.!"
"Sungguh.?"
"Em...!"
"Kenapa aku bisa melupakan ulang tahun orang yang kucintai."
"Kamu terlalu sibuk." Kata Alvaro.
Tapi itu tidak membuat Alvaro marah sedikitpun, dia tahu Anya adalah wanita mandiri.
"Auww..." Keluh Anya kesakitan di area perutnya.
"Ada apa.?"
Anya tiba-tiba saja tidak sadarkan diri, Alvaro begitu khawatir dan segera membawanya ke rumah sakit untuk di periksa.
"Apa yang terjadi padanya.?"
"Ap anda suaminya.?"
Alvaro diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dokter.
"Saya suamninya."
"Bisa ikut saya ke ruangan saya.?"
Seperti yang di minta Dokter tersebut, Alvaro mengikutinya keruangannya
"Ada apa Dokter, tampaknya anda sangat serius dalam hal ini.?"
"Anda harus sabar.!"
"Ada apa dokter.?"
"Istri anda akan sangat sulit untuk mendapatkan keturunan.!"
"Kenapa demikian.?"
"Dia sepertinya sudah melalui waktu yang berat, saya juga tidak tahu apa itu, tapi terdapat luka luka di bagian perutnya yang membuatnya akan sulit untuk mengandung."
"Apa... Tidak mungkin saya tidak bisa punya keturunan Dokter." Kata Anya menyela yang tiba-tiba masuk ke ruangan Dokter tersebut.
"Maafkan saya.!" Keluh Dokter itu.
Anya lalu berlari keluar di susul Alvaro, hampir saja Anya tertabrak mobil andai Alvaro tidak menariknya kepelukannya.
Dan itu adalah pertama kali Alvaro dan Anya berpelukan, rasa canggung yang ada selama ini hilang begitu saja.
__ADS_1
"Sabarlah..."
"Tapi, aku tidak bisa mengandung, tidak akan ada lelaki yang akan menikahiku di masa depan.!" Kata Anya berurai air mata."
Alvaro menghela nfas dalam-dalam, baru kemudomian menghembuskannya perlahan dan membelai rambut Anya.
"Aku tak masalah dengan itu.!"
"Tapi bagaiman dengan keluargamu.? meraka tidak akan membiarkan hal ini begitu saja."
"Ini adalah pilihanku, tak ada hubungannya dengan keluargaku."
"Sungguh.?"
"Sungguh.!"
"Aku mencintaimu Varo...!"
"Akupun begitu.!"
Alvaro kemudian mengantarkan Anya kembali ke rumahnya, dan meminta Anya untuk menceritakan apa yang terjadi sampai Anya bisa mendapat luka dalam itu.
Tampa ragu Anya bercerita, bahwa hal itu karna tiga tahun lalu, saat dia berusaha menghentikan paman Axcel untuk mengakhiri nyawa ayah Axcel, paman Axcel menendang keras perutnya.
Alvaro sangat prihatin dengan apa yang terjadi tiga tahun yang lalu, dia tidak tahu hal menyakitkan menimpa Anya, saat itu Alvaro kembali ke New York untuk melanjutkan sekolah sebelum ikut begabung ke perusahaan Mintle Gup, itulah sebabnya dia tidak tahu apa yang telah Anya lalui.
Alvaro baru kembali setelah tiga tahun kemudian, saat banyak peristiwa yang terjadi.
"Baiklah, kamu istirahat, aku akan kembali dulu, besok aku akan datang lagi."
"Bagaimana jika menginap saja, masih ada kamar yang kosong."
"Tidak apa-apa, aku pulang saja, tidak baik jika aku terus berada di sini, aku takut aku tidak bisa menahan diri sebelum waktunya tiba."
Anya tersipu mendengar apa yang Alvaro katakan padanya.
Sementara itu di kediaman Revandra, setelah makan malam, Revandra dan Aliya bersantai di ruang tamu sambil menemani Gavano mengerjakan tugas sekolahnya.
Aliya membuka album pernikahannya,
"Ibu, Vano juga ingin lihat."
"Lihatlah sayang.!" Kata Revandra.
"Ibu cantik sekali"
"Sungguh sayang.?"
"Benar ibu, ibu seperti teman wanita ayah.!"
"Teman ayah.?" Tanya Aliya
"Em...!"
Aliya yang tadinya tersenyum, berubah kesal dan menatap Revandra sedemikian rupa, tatapan yang membuat keringat dingin menetes di dahi Revandra.
"Hahaha... itu... itu...!"
"Itu apa Ay.? Apa kamu menipuku.?"
"Ti..Tidak sayang, aku mana berani."
"Lalu apa maksud Gavano.?"
"Aku bisa menjelasknnya.!"
Bersambung...
******
__ADS_1