
Setelah Arkana menerima telfon dan mengakhirinya, Arkana menemui Mira kembali, 'Aku tidak tahu apa yang di inginkan keluarga Bantara pada Mira, aku tidak akan melepaskan mereka.' Ucap Arkana yang baru saja mendapat kabar bahwa Keluarga Bantara yang melakukan sesuatu pada Mira.
Di luara Yuyue yang ingin membalas dendam pada Mira menunggu di luar. Dan dia bersembunyi setelah melihat Mira dan Arkana keluar dari Club malam itu.
"Akhirnya aku pulang kerja, banyak yang harus aku lakukan mlam ini." Kata Mira merenggangkan otot-otoynya.
"Berhentilah bekerja, Aku akan mencukupi kebutuhanmu."
"Tidak, aku adalah wanita yang mandiri. Dan saat ini, aku lelah, aku ingin pulang beristirahat."
"Baiklah aku akan pergi mengambil mobil, tunggu di sini."
"Ok."
'Masalah datang satu demi satu hari ini,' Mira tidak percaya bahwa Darren membawa Yuyue yang menyukai Arkana datang ke Club malam. Dan Darren melakukan semua itu demi memisahkan Mira dan Arkana.
"Mira," Panggil Arkana. Namun, Mira tidak mendengarnya lantaran sibuk memikirkan sesuatu.
Karna tidak memperdulikannya, Arkana menjentik jidat Mira, baru Mira tersadar.
"Shh.! Ini sakit, bukankah kau pergi mengambil mobil.? kapan kau kembali.?" Tanya Mira terkejut seraya menggosok jidatnya.
"Aku memanggil namamu dua kali, kau tidak mendengarku, apa yang kau pikirkan.?" Tanya Arkana menarik kedua pipi Mira.
"Tidak ada yang penting, lepaskan aku."
"Katakan padaku, apa yang kau pikirkan atau aku akan menghukummu malam ini." Kata Arkana memasang tampang mesum dan matanya melirik ke bagian dada Mira yang kenyal.
"Aku akan memberitahumu, tapi lepaskan aku dulu."
Baiklah, katakanlah,"
Mira meminta ijin pada Arkana untuk bertemu dengan Xavier dan mengatakan pada Xavier bahwa Mira telah memilik Arkana. Serta meminta Xavier agar berhenti berharap padanya.
"Baiklah, berikan ponselmu padaku." Pinta Arkana.
"Ini, kenapa kau menginginkan ponselku.?"
"Aku bahkan memecahkan masalahmu."
Setelah mendapatkan ponsel Mira, Arkana mengirim sebuah pesan pada Xavier untuk bertemu di cafe yang terdapat di seberang jalan yang tidak jauh dari Club malam milik Xavier.
Mendengar pembicaraan Arkana dan Mira, Yuyue keluar dari persembunyiannya setelah Arkana dan Mira berlalu, dia menghubungi seseorang dan meminta sebuah obat jenis perangsang.
Esok hari Mira menemui Xavier dan mengatakan tentang apa tujuannya untuk bertemu. Dan tentunya Xavier juga sudah tahu bahwa Mira memang begitu mencintai Arkana.
"Apakah Arka adalah lelaki yang kau cintai.?"
__ADS_1
"Ya, aku sangat mencintainya."
"Berjanjilah bahwa kau akan bahagia bersamanya." Kata Xavier mengalah, dia tidak akan menganggu Mira lagi.
"Aku berjanji."
Sementara itu Yuyue tersenyum puas saat pelayan mengatakan bahwa dia telah berhasil mencampur obat ke dalam makanan Mira. 'Mira kau akan menagis sebentar lagi.' Kata Yuyue mengintip dari jauh.
"Baiklah Mira, ini sudah larut, sudah waktunya pulang, apa kau butuh tumpangan.?" Kata Xavier menawarkan.
"Tidak terimah kasih, Arka akan menjemputku."
Xavie berlalu meninggalkan Mira, dan Mira merasa lega ketika sudah mengatakannya pada Xavier, beruntung Xavier adalah seorang pria baik.
"Aku akan pulang." Kata Mira bangkit. Namun, tiba-tiba dia merasa pusing dan terperosot di lantai lalu tidak sadarkan diri.
Melihat obat sudah bekerja, Yuyue meminta orangnya untunk membawa Mira ke hotel, baru kemudian mengirm sebuah pesan pada seseorang dan memintanya ke sebuah hotel di mana Mira di bawa menggunakan ponsel Mira.
***
"Apa yang terjadi, mengapa tiba-tiba Mira memintaku ke hotel, padahal aku baru saja bertemu dengannya." Kata Xavier segra ke hotel.
Rupanya, Yuyue mengirimi Xavier pesan dan memintanya ke hotel. Sebentar kemudian Xavier telah sampai di depan pintu kamar hotel, dan mengetuk pintu. Namun, tak ada jawaban dari dalam. 'Pintunya tidak di kunci.' Kata Xavier.
"Aku akan masuk."
Betapa terkejutnya Xavier saat dia masuk dan mendapati Mira sudah dalam keadaan terangsang.
"Seseorang memberi dia afrodisiak." Kata Xavier berusaha menelan salivanya.
Jika seseorang mengkimsusi obat jenis tersebut, hanya ada dua cara. Yang pertama adalah menunggu sampai afrodisiak berhenti bekerja, dan yang kedua harus ada seseorang yang menangani ini. 'Sial, aku tidak bisa tinggal di sini.' Kata Xavier dalam hati.
Sebagai pria baik, Xavier berpaling ke arah lain dan menutup tubuh Mira yang sudah setengah polos.
"Bagaimana perasaanmu Mira.? apa kau tahu siapa aku.?"
"Hemm, aku merasa tidak enak, Arka, tolong jangan pergi." Pinta Mira menarik pergelangan tangan Xavier, dia mengira bahwa yang ada di hadapannya adalah Arkana.
'Mira berpikir aku adalah Arka, sepertinya Arka adalah orang yang paling penting dalam hidupnya.' Gumam Xavier dalam hati. Dia kemudian melepaskan tangan Mira yang mngenggamya.
"Mira, aku Xavier, aku akan memanggil Arkana untukmu."
"Tidak usah repot-repot." Tegas Arkana tiba-tiba masuk ke kamar hotel itu.
"Baiklah."
"Mira, aku akan membawamu pulang."
__ADS_1
"Arkana... Arkana."
"Apa kau tahu seseorang memberinya obat.?" Tanya Xavier setelah Arkana menggedong Mira.
"Tentu saja aku tidak tahu, aku meminta seseorang untuk mengikutinya, itulah aku tahu dia bersamamu. Terimah kasih, baik aku atau Mira bersyukur memiliki seorang teman sepertimu."
"Jangan mengejekku."
"Aku pemenangnya, aku memberi penghargaan pecundang untukmu," Kata Arkana tersenyum menggoda Xavier.
"Brengsek, Diam dan keluar dari sini."
Setelah keluar dari kamar, Arkana, meminta orangnya untuk menagkap Yuyue.
"Kau sudah di rumah Mira.!" Kata Arkana menurunkan Mira ke pembaringan setelah sampai di rumah.
"Arka... Arkana, panas."
"Aku berharap bisa merekam ini dan menunjukkan padamu ketika kau pulih. Aku ingin tahu bagaimana kau bereaksi.
Tapi Arkana bukanlah seorang pria brengsek yang akan mengmbil keuntungan dalam kesmpitan. Meski itu bukan pertama kali, Arkana tetap tidak ingin melakukannya saat Mira dalam keadaan seperti itu.
Arkana memberikan sebuah obat penawar pada Mira, karna Mira tidak dapat meminum itu, Arkana menggunakan mulutnya untuk membantu Mira. Hingga beberapa saat kemudian, penawar yang diberikan Arkana akhirnya berhasil
Suhu tubuh Mira yang tadinya panas akhirnya turun.
"Mira." Panggil Arka lembut.
"Arkana, aku sangat takut." Kata Mira memeluk Arkana.
Di dalam pelukan Arkana, Mira menangis, air matanya membasahi kemeja Arkana.
"Arka, aku takut seseorang yang lain akan meniduriku."
"Mira, lihat aku, aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Aku janji, jadi jangan takut." Ucap Arkana meraih pipi Mira agar Mira menatapnya.
"Aku tidak takut saat kau bersmaku."
"Arka...!"
Arkana menjatuhkan ciuman di bibir Mira dan ********** lalu, memperdalam ciumannya. Tapi tiba-tiba Arkana menarik wajahnya. Namun, Mira mendekatkan kembali wajahnya dan berbisik ke telinga Arkan.
"Arka, biarkan malam ini aku melayanimu sebagai wanitamu yang sebenar-benarnya." Bisik Mira menggoda.
Arkana terkejut dan mengira afrodisiaknya masih bekerja, Arkana bahkan mengecek suhu tubuh Mira.
"Arka aku serius. Jadi Arka bolehkah aku malam ini menjadi wanitamu yang sebenar-benarnya.?"
__ADS_1
Bersambung...
******