KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Sesuatu yang berbeda


__ADS_3

Alleta terpaku di ambang pintu, rasa takut seketika menyelimuti dirinya. Bagaimna tidak, gadis muda itu menyaksika Gavano sedang mencengkram kuat leher seorang wanita cantik. Ketakutan Alleta bertambah saat Gavano beralih pandang menatapnya,


"Masuklah, jangan diam saja di situ." Titah Gavano pada Alleta dengan senyum namun nada suara yang tegas dan masih sambil mencengkram leher wanita itu.


Alleta sebenarnya tidak heran dengan perlakuan Gavano pada wanita itu, toh Gavano memang adalah lelaki yang tegas dan suka menyiksa. Bahkan Alleta sendiri pun pernah mersakannya.


"Hari ini kau selamat karna istriku ada di sini.?"


"Istri.?" Ucap wanita cantik itu sambil melirik Alleta yang sudah duduk manis di sofa.


Jujur saja, di dalam hati wanita itu sangat terpesona dengan kecantikan Alleta, terlebih lagi umurnya masih sangat muda.


"Ya.! Gadis itu adalah istriku, jadi aku berharap kau berhenti menggodaku." Ucap Gavano


"Sejak kapan kamu menikah.?"


"Jane Hillarry." Bentak Gavano menghantam meja.


Alleta dan Jane serentak terkejut,


"Bukan urusanmu, dan ingat, lain kali kau tidak di perbolehkan masuk keruangan ini, jika kau masih berani, maka aku akan mengeluarkanmu dari daftat artis teratas."


"Ta... Tapi, Vano.!"


"Keluar...!!" Teriak Gavano sambil menunjuk ke arah pintu.


Melihat Gavano meluap emosinya, Jane yang memang sedang bernaung di Gramentha entertain yaitu salah satu bidang bisnis dari Gramentha Grup, dengan gemetar meninggalkan ruangan Gavano.


Sebelum kedatangan Alleta, Jane masuk keruangan Gavano dengan tampilan yang sangat seksi, wanita itu berjalan lalu duduk di pangkuan Gavano, meskipun lelaki itu mnolak dan sempat mendorong Jane, tapi tetap saja Jane berusaha merapatkan tubuhnya pada lelaki normal itu.


Jari-jari Jane, perlahan melonggarkan dasi Gavano, menjatuhkan ciuman pada leher lelaki itu, karna Gavano adalah seorang lelaki normal maka tidak bisa dirinya pungkiri di bawah sana sedang menegang. Namun ketika Jane hendak mencium Gavano, lelaki itu mendorong tubuh Jane dan mencengkram lehernya.


Meskipun wanita itu memohon untuk di lepaskan, Gavano tidak mengindahkannya, bahkan cengkraman itu semakin kuat, Jika saja saat itu Alleta tidak masuk, entah apa yang akan terjadi pada wanita itu, mungkin saja Gavano sudah membunuhnya. Membayangkannya saja sudah membuat Alleta merasa ngeri.


"Apa yang kamu fikirkan.?" Tanya Gavano sambil berjalan melanglah ke arah Alleta.

__ADS_1


Alleta yang sejak tadi diam dan memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada Jane, seandainya dirinya tidak muncul terbuyarkan lamunannya karna sapaan dari Gavano.


"Ah,,, tuan Vano.!,"


"Apa yang membawamu datang ke perusahaan.?"


"Kamu sudah tiga hari tidak pulang tuan.!"


"Lalu apa urusannya denganmu jika aku tidak lembali, bukankah semuanya sudah jelas, bahwa kau tidak di perbolehkan untuk mengurusi urusan pribadiku, apa lagi urusan asmara." Ujar Gavano tegas dan menekankan pada kalimat terakhirnya.


Tersirat rasa sedih pada diri Alleta saat mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Gavano.


"Maaf tuan Vano, ak... aku hanya membawakan baju ganti untukmu."


"Baiklah, letakkan saja di meja, nanti aku akan memakainya, lalu lain kali kamu juga tidak perlu membawakan pakaian untukku, dan jangan datang ke perusahaan jika bukan sesuatu yang mendesak."


Alleta kemudian beranjak hendak meninggalkan ruangan itu, namu kakinya tersandung di kaki meja saat hendak melewatinya.


Gadis itu hampir saja terjatuh, namun seketika Gavano yang memang tmjaraknya tidak jauh segera menangkap tubuh Alleta, Bahkan mereka saling menatap. Membuat Gavano memerah, sedang Alleta sibuk mersakan rasa sakit pada kakinya, meakipun saat ini sedang menatap Gavano yang merona.


"Tuan, kenapa wajahmu memerah.? bukankah kaku yang tersandung, bukan kakimu.?"


"Ah.!" Desah Gavano dan menegakkan tubuh Alleta baru kemudian berbalik membelakangi gadis muda itu.


"Kembalilah, dan katakan pada pelayan, aku akan makan di rumah malam ini." Ujar Gvaano yang masih membelakangi Alleta lantaran tak mau jika Alleta melihat wajahnya yang merona.


******


Seperti yang Gavano katakan pada Alleta, lelaki itu benar-benar kembali ke rumah, dan mendapati Alleta sedang bermain dengan si kembar.


"Apa Arkana belum kembali.?"


"Belum." Jawab Alleta singkat dan cuek.


Entah mengapa, jawaban dari Alleta membuat Gavano memicingkan mata, seolah-olah tidak suka jika gadis itu cuek terhadapnya. 'Sial, lagi-lagi jantungku berdetak kencang, ah.! mungkin saja aku terlalu capek.'

__ADS_1


"Kakak Vano.! mengapa wajah kakak seperti warna mainan ini.?" Panggil Fia membuyarkan lamunan Gavano, anak kecil yang belum mengerti apa-apa itu bahkan tau jika wajah Gavano sedang merona dan menunjuk pada mainannya.


Gadis muda yang sedang bermain denga Fia Faiq menoleh ke arah Gavano, namun lelaki itu segera berbalik dan menuju ke kamar utama yang ada di lantai dua.


Hingga pukul dua pulu dua nol nol, Setelah makan malam, Gavano terlebih dahulu meninggalkan meja makan dan kembali ke kamar, sedang si kembar juga menyusul dituntun oleh pelayan menuju kamar, berbeda dengan Gavano dan si kembar, Alleta dan Arkana masih berada di meja makan saling menatap dan saling dendam.


"Kodok betina, kali ini kamu bisa lolos, karna ada kakak di rumah, lain kali jangan harap." Ancam Arkana yang masih dendam pada gadis yang sudah dinikahi oleh saudaranya laki-lakinya.


"Kau pikir hanya kau saja yang bisa mengancam, aku juga bisa, aku... tau kalau kemarin kamu tidak pulang ke rumah saat Gavano sibuk di kantor, kamu bahkan bermain bersama seorang artis yang berada di bawah naungan Gramentha."


Ucapan Alleta, membuat Arkana tidak bisa berkutik. ' Gawat, jika kodok betina ini mengatakanya pada kakak, bisa-bisa kakak akan mematahkan kakiku.' Ucap Arkana takut dalam hati.


Seperti biasanya, Arkana adalah pria muda yang tidak dapat menyembunyikan ekspresi wajahnya disasaat dia sedang memikirkan seauatu, maka Alleta tahu apa yang akan di fikirkan oleh Arkana.


"Kenapa.? apa kamu takut, aku melaporkanmu pada Gavano.?"


"Ti.. tidak," Jawab Arkana terbata-bata.


"Lalu mengapa kamu membuat ekspresi wajah yang seperti itu.?"


"Sudahlah aku, sudah kenyang.! Aku sebaiknya kembali ke kamar." Meninggalkan Alleta


Sebentar setelah Arkana Berlalu, Alleta juga bergegas masuk ke kamar, membuka pintu perlahan, takut kalau-kalau Gavano sudah tertidur dan akan terbangun jika gadis itu berisik.


Namun semua tidak seperti yang ada di pikiran Alleta, alih-alih tertidur, Gavano justru bersandar di atas kasur dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek saja, tak lupa sebuah tab di tangannya untuk memeriksa pekerjaan.


Tak mau menganggu Gavano, Alleta meraih Bathrobe dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.


Beberapa saat Alleta sudah selesai dengan aktivitasnya, dan keluar dari kamar mandi, berjalan ke arah ranjang. Mata cantiknya menyapu seluruh tubuh Gavano yang masih sibuk dengan tab di tangannya. 'Indahnya, Aku melihat sebuah roti sobek yang enak' Ucap Alleta dalam hati.


Lantaran terlalu fokus memandangi keindahan otot-otot Gavano yang terpahat indah, Alleta tidak memperhatikan langkahnya. Gadis itu lagi-lagi tersandung, tapi kali ini berbeda, dirinya tersandung kakinya sendiri.


Hingga pada akhirnya terjatuh dan menimpa tubuh Gavano di atas tempat tidur.


Bersambung....

__ADS_1


******


__ADS_2