
...🌺HAPPY READING🌺...
Serentak Riko dan Alleta berbalik ke sumber suara.
"Gavano.!"
"Riko, bisa bantu aku mengantarkan gadis kecil itu.?".
"Tapi."
"Kali ini saja, aku tak bisa mengantarnya kembali, ada hal yang lebih penting."
"Baiklah," Ucap Riko terpaksa.
Sebentar setelah Riko berlalu, Gavano meraih tangan Alleta, namun gadis itu menghempaskannya. Untung saja saat ini para karyawan perusahaan sedang sibuk, dan kebetulan tempat itu sepi, jadi tak akan ada yang melihat peresedir mereka diperlakukan seperti itu oleh Alleta.
"Ku mohon dengarkan aku.!"
"Tak ada yang perlu di dengarkan" Berbalik hendak meninggalkan Gavano,"
"Alleta, dengar penjelasanku.!"
"Apa yang perlu di jelaskan.? bukankah semuanya sudah jelas.? dan juga itu tidak ada hubungannya denganku. Toh semua sudah di sepakati di dalam perjanjian."
"Apa maksudmu Alleta.?"
"Ya.! apa kamu lupa.? kamu sendiri yang menulis isi kontrak, bahwa aku tidak diperbolehkan mencampuri urusanmu, terlebih lagi jika itu urusan asmsra." Ujar Allet yang berusah menahan keluarnya air mata dari mata indahnya.
"Kenapa kamu selalu membahas tentang kontrak.?"
"Karna memang semuanya hanya kontrak saja kan.?"
"Alleta...!" Kembali menggenggam tangan Alleta, kali ini Alleta hanya diam saja, meskipun dirinya sangat ingin meronta untuk di lepaskan.
Namun mengingat bagaimana sifat Gavano, Alleta memilih diam dan mengigit bibir bawahnya.
"Vano, apa yang kamu lakukan.?"Tanya Alleya mulai panik lantaran sudah ada beberapa karyawan yang berkumpul.
"Tidak sama sekali."
"Apa kamu tidak akan menjaga image mu di hadapan karyawanmu.? liatlah mereka sedang menatap kita."
"Aku tidak perduli, selama kamu mau mendengar penjelasanku."
"Mangapa aku harus mendengarkan penjelasanmu, itu hakmu, dan tak ada hubungannya denganku."
"Tentu saja ada.?"
"Lalu katakan apa yang membut semua ini jadi berhubungan."
Alleta mentap lekat wajah Gavano yang sedang memohon padanya, bajkan lelaki itu tidak perduli dengan imagenya sebagai seorang bos di perusahaan besar.
"Wah... apa gadis muda itu akan menjadi nyonya kita.?"
"Cantik dan muda."
"iya.! sangat serasi dengan peesedir Gavano."
__ADS_1
"Aku akan senang jika gadis muda seperti itu menjadi pendamping bos kita."
"Benar sekali, dibanding dengan nona Luna dan Felisa, gadis itu lebih layak menjadi nyonya presedir."
Itulah ungkapan-ungkapan yang keluar dari mulut bebera karyawan perusahaan. Mereka pada dasarnya sangat tidak menyukai Luna dan Felisa yang sering kali berbuat semena-mena terhadap mereka, bahkan kedua wanita itu sering membuat masalah untuk para karyawan perusahaan.
Gavano akhirnya melepaskan gengaman tangannya, semakin mendekat pada Alleta, menjatuhkan kepalanya di pundak gadis itu.
"Alleta, saat ini hatiku kacau balau, seperti jutaan semut kecil merangkak ke dalamnya. walaupun tidak sakit, tapi rasanya tidak nyaman, meskipun begitu, aku tidak dapat menghentikannya.! aku tidak pernah memiliki perasaan semacam ini sebelumnya." Ujar Gavano masih pda posisi kepalanya di pundak Alleta.
Lelaki itu perlahan memeluk tubuh Alleta yang tatapannya terlihat sangat bingung.
Alleta kemudian mendorong pelan tubuh Gavano, Sedang Gavano, memegang kedua pipi Alleta, mengankat kepala gadis itu hingga wajah mereka hanya berjarak dua senti saja.
"Alleta, dengar baik-baik, aku hanya akan mengatakannya sekali saja, dan jangan pernah melupakannya.!"
"Apa itu Vano.?"
"Aku mencintaimu."
Dag dig dug...
Seperti itulah detak jantung Alleta saat ini, terlebih lagi Gavano sudah menjatuhkan ciuman pada bibir mungilnya.
Antara bingung dan bahagia, Alleta tidak jelas dengan apa yang ia rasakan. Gadis itu takut saat ini Gavano mengatakan cinta padanya dan jika kontrak pernikahan itu berakhir, maka cinta yang dimiliki pria seperti Gavano akan hilang bersamaan dengan kontrak tersebut.
Plok...plok...plok...
Tepuk tangan dari beberapa karyawan yang menyaksikan hal tersebut membuat Gavano tesadar dan segera saja menarik wajahnya dan melepaskan ciumannya.
"Kenapa kamu membawaku ke sini.?" Tanya Gavano setelah berada di dalam lift.
"Tentu saja untuk menyelamatkan imagemu.!"
"Lalu apa jawabanmu.?"
"Beri aku waktu."
"Berapa lama.?"
"Entahlah.!"
"Seharusnya kamu tau, aku orang yang seperti apa Alleta.?" Ucap Gavano kembali tegas.
Lelaki itu kemudian mencium bibir mungil Alleta, me..lumatnya dengan lembut, untuk sesaat Alleta terbuai. Dan hari saat itu pula Alleta kembali melihat betapa mondominasinya seorang Gavano.
***
Sementara itu, di tengah perjalanan mengantar Alexa, Riko hanya terdiam, hingga mereka melewati sebuah jalan kecil lantaran tak mau terjebak macet
"Hentikan mobilnya." pinta Alexa
"Untuk apa.?"
"Hentikan." Bentak Alexa.
Tak mau membuat gadis kecil itu marah, Riko dengan terpaksa menghentikan mobilnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Alexa sudah berpindah ke pangkuan Riko, hingga bagian intinya dan ke..jantanan Riko berpadu, meskipun terhalang kain, tapi tetap saja Riko dapat merasakan hangatnya bagian itu, sementara kedua tangan Alexa merangkul tengkuk leher Riko.
"Apa yang kamu lakukan Alexa.?"
"Kakak, mau sampai kapan kamu menghindariku seperti ini.?"
"Apa maksudmu.?"
"Apa kakak Riko benar-benar tidak memiliki perasaan apapun terhadapku.?"
"Maaf Alexa," Berpaling ke arah lain.
"kamu berbohong.! iyakan.? kamu pasti berbohong.!" Ucap Alexa sedih, dan perlahan air matanya mulai menetes membasahi kemeja Riko.
Merasa iba pada gadis kecil itu, Riko memeluk Alexa berharap gadis itu berhenti menangis. Namun pulukan Riko terlerai saat Alexa mulai menciumi begian leher Riko,
"Alexa, tenangkan dirimu.!" Bentak Riko.
Namun seperti yang sudah lalu-lalu, Alexa tidak mengindahkan bentakan itu, bukan hanya kali ini gadis lecil itu menggoda Riko, tapi setiap kali bertemu dan ada kesempatan, Alexa akan terus menggoda Riko.
"Kakak, aku mencintaimu," Kemudian mulai me..***** bibir Riko, Riko yang hanya seorang lelaki normal hanya bisa menerima dan terbuai dengan ce..mbuan dari seorang gadis kecil.
Perlahan kecupan itu, merambah hingga ke dada bidang Riko, bahkan sesekali Alexa me..jilati dada bidang itu. Membuat Riko mulai menegang di bawah sana.
"Kakak, sepertinya posisi ini tidak terlalu nyaman" Ucap Alexa bangkit dan berpindah ke jok belakang, melalui sela jok depan. Baru kemudian menarik Riko,
Alexa sudah berbaring sedang Riko berada di atasnya.
"Kakak, aku memcintaimu, sangat mencintaimu."
Riko yang sudah di kuasai na..fsu bi..rahinya, mulai mencembu Alexa, merobek pakaian Alexa hingga menampakkan sebuah benda bulat membusung dan kenyal, tentu saja seprti belum ada yang pernah menjamahnya,
Memang belum pernah ada pria yang menyentuh Alexa, sejak umur empat belas tahun, Alexa menyukai Riko, berbagai cara gadis kecil itu lakukan untuk menggoda Riko, bahkan dengan tubuhnya. Itulah mengapa hanya Riko saja yang pernah menjamahnya.
Tapi kali ini Riko yang sudah di kuasai setan, mulai mengulum benda lunak itu, me..remasnya dengan keras.
"Ah... pelan sesikit kakak, itu terasa sakit.!" sedikit meneteskan air mata
Riko seketika tersadar, hampir saja ia menodai gadis kecil itu. 'Sial, kau bajingan Riko, seharunya kau menjaganya, bukan merusaknya,' Maki Riko pada dirinya sendiri, seraya bangit dan duduk bersandar
"Maaf Alexa, aku hampir kehilangan akal sehatku." Sambil menutup tubuh Alexa yang setengah polos dengan jasnya.
"Jika kakak mau, Lexa rela, sebab memang itu yang Lexa inginkan selama ini. Ingin menjadi milikmu kakak.!" Kata Alexa yang sebenarnya tadi sempat terkejut saat Riko merobek pakaiannya dengan liar.
"Alexa, tolong mengerti, posisiku saat ini tidak cukup pantas untuk memilikimu."
"Itu berarti, kakak juga mencintaiku.?"
"Alexa, jujur saja, sejak melihatmu di usia sepuluh tahun, aku sudah tertarik padamu, namun mengingat siapa aku, perasaan itu aku kubur dalam-dalam, jadi aku mohon berhenti dengan perasaan konyolmu itu."
Riko kemudian menarik Alexa ke dalam dekapannya, mencium kening gadis kecil yang sudah berderai air mata. Hingga gadis itu tertidur dalam dekapan Riko,
Tak mau membangunkan Alexa, Riko terpaksa menghubungi seorang sopir pengganti, untuk mengemudikan mobil, sebab jika saat itu Riko bergerak, maka akan membangunkan Alexa.
Beraambung...
******
__ADS_1