KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Memikirkannya


__ADS_3

Anya menepikan mobilnya, dia bersandar di stir mobil, dia menutup matanya, dan butiran-butiran bening menetes yang keluar dari matanya yang bulat. Dia mengingat kembali kejadian yang menimpa Daniel, Ngeri rasanya jika hal itu terbayang.


"Tn.Daniel, Maafkan aku, bukan aku tidak mencintaimu, hanya saja aku bukanlah wanita yang tepat untukmu." Gumam Anya di sela isak tangisnya.


Setelah puas menagis, Anya kembali menancap gas dan mengemudi dengan kecepatan rata-rata menuju ke tempat Axcel.


Anya berlari masuk ke rumah dan mencari di mana Reygan. Hanya Reygan yang bisa membuatnya merasakan kehangatan seorang anak yang jujur saja, dia sangat menginginkannya.


Namun, Dia tidak menemukan Reygan di manapun, akhirnya Anya tertidur di kamar Reygan.


Sementara itu, Daniel sudah tersadar. Dia merasa sakit di dadanya, bukan sakit karna bekas oprasinya, tapi sakit karna Anya tidak berada di dekatnya setelah dia sadar, Hanya Aliya dan Alvaro yang ada di sampingnya.


"Kakak, kamu sudah sadar!" Kata Aliya bersamaan dengan Alvaro."


"Em...!"


"Apa kakak ingin sesuatu.?" Tanya Alvaro.


"Di mana dia.?"


"Siapa.?"


"Anya.?"


Aliya dan Alvaro saling menatap, baru kemudian menatap Daniel. Aliya melangkah ke arah Daniel, dia membatunya untuk sedikit menyadar, lalu duduk di pembaringan.


"Kakak, apa kakak begitu mencintainya.?" Tanya Aliya.


"Al, aku, aku sangat mencintainya."


"Kakak, aku tahu, tapi, bagaiman jika dia tidak menginginkan kakak sama sekali."


"Benar apa yang dikatakan Aliya, saranku, sebaiknya kakak melupakannya, dan mencari wanita yang ingin menerima cintamu sepenuh hati." Sambung Alvaro,


Daniel terdiam sejenak, Dia menunduk menatap jarinya yang di infus. Dia berfikir bahwa apa yang dikatakan kedua adiknya. Setelah memikirkannya, Daniel menghela nafas panjang, dia akan mencoba mengikiti saran Aliya dan Alvaro.


"Kakak, Ayah Gavano punya seorang rekan bisnis, dia memiliki seorang putri yang cantik, bagaimana setelah kakak keluar dari rumah sakit aku akan memintanya untuk mengatur sebuab pertemuan.?" Tanya Aliya.


Daniel hanya diam, di tidak menerima ataupun menolak usulan Aliya dan Alvaro. Dia hanya akan memikirkannya setelah keluar dari rumah sakit.


"Ay.! tentang putri rekan bisnis yang kamu usulkan untuk menikah dengan kakak tempo hari, apa dia sudah memiliki pasangan.?" Tanya Aliya setelah berada di rumah.


"Belum, Ada apa.?"


"Aku ingin mengatur pertemuan untuknya dan kak Daniel."

__ADS_1


"Bukankah Daniel sudah memiliki Anya. sekertris Axcel.?"


"Aku tahu, kakak sangat mencintainya, tapi bagaimana jika dia selalu menolak setiap pengakuan cinta kakak. Dia bahkan tega meninggalkan kak Daniel yang masih terbaring lemah di rumah sakit." Keluh Aliya.


Revandra memeluk Aliya, meraih pergelangan tangannya, lalu mengecup buku-buku jari istrinya itu.


"Baik, nanti setelah Daniel keluar dari rumah sakit, kita akan mengatur pertemuan mereka, tapi..."


"Tapi apa Ay.?" Tanya Aliya bingung.


"Malam ini aku menginginkanmu."


Aliya tersipu Malu, di umurnya yang sudah menginjak 28 tahun, karna keegoisan Revandra yang menginginkan keturunan lebih banyak, dia telah menjadi ibu muda dengan dua anak laki-laki.


"Ay...! Apa Gavano dan Arkana tidak cukup.?"


"Sayang, keduanya adalah laki-laki, jadi mari kita buat satu seorang putri."


"Benar apa yang kamu katakan, aku juga menginginkan seorang putri kecil."


"Lalu..." Kata Revandra.


"Lalu.?"


"Lalu.?"


"Mari kita ke kamar."


Aliya dan Revandra memang menginginkan kehadiran seorang putri kecil, Aliya bahkan sering kali mendandani Arkana seperti seorang gadis kecil. Menurutnya itu sungguh lucu.


***


Dua bulan berlalu, Daniel sudah meninggalkan rumah sakit setelah menjalani beberapa perawatan. Selama dia di rumah sakit, Anya tak pernah sekalipun datang mengunjunginya. Dia akhirnya menerima usulan Aliya dan Alvaro. Terlebih setelah kecelakaan itu, Anya sudah tidak menghendel proyek kerja sama tempo hari, dia meminta asistenya untuk melanjutkanya. Sementara dirinya menjalankan proyek lain.


Anya sengaja melakukan hal tersebut, lantaran dia tidak ingin bertemu Daniel lagi, dia merasa jika dia terus bertemu dengan Daniel, dia merasa akan semakin sulit untuk membuang rasa cinta itu.


Meski begitu sakit, Anya tidak punya pilihan lain, dia ingin Daniel melupakannya, Anya berfikir dia tidak pantas untuk seorang Daniel yang bisa di katakan sempurna, sementara dirinya memiliki kekurangan.


"Maafkan aku." Ucap Anya di ruangannya setelah sekilas mengingat masa-masa yang pernah dia lalui bersama Daniel saat dia masih menjadi wanita Daniel.


Pintu ruangnya terbuka, dan Alvaro masuk lalu duduk di depan Anya, dia tampak sedikit kesal pada Anya, lantaran apa yang dia lakukan pada Daniel.


"Anya, aku tidak menyangka kamu seperti itu."


"Varo, maaf bukannya aku tidak tahu diri atau apapun itu, hanya saja kamu sudah tahu apa yang membuatku tidak bisa bersamanya."

__ADS_1


"Itu bukanlah sebuah alasan Anya."


"Varo, ku mohon jangan memaksaku seperti ini."


"Aku tidak memaksamu, aku datang ke sini untuk mengatakan sesuatu padamu."


"Apa itu.?"


Alvaro mengatakan pada Anya bahwa sebentar lagi Daniel akan menikah dengan putri salah saru rakan bisnis Revandra. Dan mereka akan melangsungkan pertunangan bulan depan. Dia kemudian berlalu setelah mengatakan semuanya pada Anya, dia bahkan tidak melihat ada tetesan air bening membasahi pipi Anya.


Sebentar setelah Alvaro berlalu, Anya benar-benar merasa saat ini dirinya di titik terendah dalam hidupnya. Laki-laki yang dia cintai sebentar lagi akan menikah dengan seorang wanita yang bisa memberinya keturunan.


Anya hanya bisa menahan rasa sakitnya. Meski sesungguhnya dia tidak sanggup untuk itu. Dia menangis pilu, menyesali nasib begitu mempermainkannya. Dia harus menerima kenyataan bahwa dirinya akan sulit mendapatkan keturunan dan kehilangan cintanya secara bersamaan.


"Bibi kenapa.?" Tanya Reygan masuk ke kamar dan mendapati Anya menagis. Segera Anya memeluk anak kecil itu, berharap mendapat kehangatan darinya.


"Reygan."


"Bibi, jika bibi Anya mencintai paman Daniel, seharusnya bibi memperjuangkannya."


"Apa yang harus bibi lakukan Reygan.? bibi sangat mencintainya. Namun, bibi merasa tidak pantas untuknya." Kata Anya meneteskan air matanya.


"Benar apa yang di katakan Reygan, jika kamu mencintainya, seharunya kamu menerimanya, bukan justru menghindari bahkan meninggalkannya." Sambung Axcel.


"Tapi aku tidak bisa memberikan sesuatu untuknya."


"Anya, cinta tidak memandang segalanya, jika Daniel mencintaimu, tentunya dia akan menerima semua kekurangan yang ada padamu." kata Axcel.


"Itu benar sekali Anya, perjuangkan cintamu, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari." Ucap Julia memberinya semangat.


Anya hanya diam saja, berfikir bahwa apa yang dikatakan Axcel dan Julia ada benarnya, bahkan anak sekecil Reygan bisa mengerti.


"Sudah terlambat" Kata Anya.


"Tidak ada kata terlambat Anya." Sergah Julia tegas.


"Tidakkah kamu bisa melihat, apa yang kami lalui baru bisa bersama seperti ini.?" Sambung Axcel.


Siang hari, Daniel sedang berbincang dengan Axcel di ruangannya. Perbincangan itu terhenti ketika seorang wanita cantik tiba-tiba masuk menyela pembicaraan.


"Daniel Mintle." Panggil wanita itu keras. Dia memanggil nama Daniel begitu lengkap


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2