
"Arkana...!" sapa Alleta terkejut takut jika Arkana akan memberitahu Gavano bahwa dirinya baru saja memaki bahkan mngutuk lelaki dingin itu. Terlebih lagi Arkana dalam keadaan berantakan.
Kancing baju Arkana sudah terlepas sampai tiga bagian, memperlihatkan bagian dada yang sempurna.
"Apa yang kamu lakukan.? kenapa rambut dan bajumu acak-acakan.?"
"Apa urusannya denganmu.?"
Alleta sangat penasaran, gadis itu mulai berjalan mendekati Arkana.
"Kamu pasti menyembunyikan sesuatu di belakang sana.!" Ucap Alleta sambil melirik ke balik tembok penghalang yang ada di atap.
"Ti...tidak, tidak ada.!"
"Benarkah.?"
"Benar."
"Baik, kalau begitu aku akan pergi saja." Sambil berbalik hendak meninggalkan Arkana.
'Hufff, hampir saja' Ucap Arkana sambil menghembuskn nafas lega. Namun apa yang tidak diketahui oleh lelaki muda itu, adalah Alleta dengan sigap berlari ke belakang tembok penghalang. Dan menemukan seorang gadis yang setengah t*lanjang sedang bersandar pada tembok itu.
"Ckckckck,,, jadi ini yang kamu sembunyikan.?"
Arkana yang baru sadar bahwa Alleta telah mengetahui perbuatannya, segera menarik Alleta.
"Jangan memberi tahu kakak, kalau kau memberi tahunya, maka kakak akan mematahkan kakiku, bahkan mungkin saja akan mengebiriku, membayangkannya saja sudah membuatku ngeri."
"Baik, dengan satu syarat."
"Apa.?"
"Kamu juga jangan memberitahu Gavano apa yang kamu dengar barusan."
"Ok,!"
Alleta dan Arkana sepakat untuk saling merahasiakan tentang apa yang terjadi hari itu. Setelah kesepakatan, Alleta berlalu meninggalkan Arkana yang masih berdiri tegak
Sebentar setelah Alleta berlalu, Arkana berfikir keras.
"Memangnya apa yang kodok betina itu ocehkan sejak tadi.?" Tanya Arkana pada dirinya sendiri sambil mengaruk-garuk kepalanya yang sedang berfikir keras tentang apa yang di katakan Alleta.
Arkana sebenarnya tidak terlalu jelas mendengarkan makian dan kutukan yang di lontarkan untuk Gavano oleh Alleta, lantaran ******* dan leguhan seorang gadis yang tengah ia cembui lebih jelas terdengar di telinganya dari pada makian dan kutukan Alleta.
Tak mau banyak berfikir Arkana juga meninggalkan atap, tapi sebelum itu, ia meraih hody yang ia gunakan sebagai alas
"Mau kemana kamu.?" Tanya seorang gadis yang tadi Arkana cembui.
"Mau pergi.!"
"Tapi kita belum selesai."
"Maaf,,, lain kali saja. Aku sudah tidak berminat." Ucap Arkana lalu meninggalkan tempat itu, tak lama setelah itu, air hujan mulai turun dari langit yang tadinya mendung.
***
Di sebuh restorant, Gavano yang telah selesai makan siangnya, duduk sambil memandangi hujan yang menguyur tanaman dan pepohonan yang ada di sekitar restaurant itu.
"Vano, maafkan aku.!" Ucap seorang wanita cantik sambil menyentuh tangan Gavano,
"Sudahlah, semua sudah berlalu."
"Tapi aku masih sangat mencintaimu Vano, aku merindukanmu." Masih menggenggam tangan Gavano di atas meja.
__ADS_1
"Di antara kita, semuanya sudah berakhir."
"Tapi Vano,"
"Luna, Berhentilah bersikap seperti itu, kamu juga tau sendiri, bahwa aku sudah menikah."
"Tentu saja aku tahu itu, bahkan aku tahu kamu menikahi istrimu karna perintah paman dan bibi kan.?, Vano aku tau, jauh di dalam lubuk hatimu, kamu masih mencintaiku kan" Perlahan mengeluarkan air mata.
"Jangan berlebihan Luna, semua tidak seperti yang kamu fikirkan, aku menikahi istriku atas dasar keinginanku sendiri, tidak ada paksaan dari ayah dan ibuku."
"Lalu mengapa kamu mau menjemputku di bandara jika kamu sudah tidak mencintaiku."
"Luna, bukankah semua kekacuan ini adalah ulahmu.? andai saja kamu tidak memberi tahu media bahwa aku akan menjemputmu, aku juga tidak akan datang.!"
Seperti yang Gavano katakan, lelaki itu ke bandara hanya karna Luna memberitahu pada media bahwa Gavano Azka Gramentha akan menjemputnya. Bertujuan agar para media tahu bahwa Gavano dan Luna kembali bersama. Dan apa yang di rencanakan Luna berjalan sesuai keinginannya.
Di bandara, Luna bahkan berlaku manja pada Gavano,
Wah apakah, presedir Gavano dan Nona Luna kembali bersama.?-
Spertinya tidak mungkin..-
Menurut apa yang aku dengar, mereka putus karna Luna berselingkuh.-
Mungkin saja Luna yang mengemis meminta kembali pada presesir Gavano-
Sudahlah itu urusan mereka.-
Begitulah orang-orang membicarakan tentang hubungan Gavano dan Luna di media sosial
"Luna, setelah ini aku harap kamu tidak mengangguku lagi."
"Tidak Vano.! Aku kembali hanya untukmu, aku melepaskan semua impianku di negara asing dan kembali ke kota S demi dirimu, demi cintaku.!"
"Aku sudah tidak mencintaimu lagi.!" Tegas Gavano.
__ADS_1
"Saat ini kamu sedang marah, makanya kamu berkata seperti itu itu.!"
"Aku sedang tidak marah.!" Jawab Gavano menarik tangannya lalu berdiri, baru kemudin meninggalkan Luna yang masih dengan tangis pilunya.
Meskipun di luar sedang hujan, itu tidak menghentikan Gavano untuk kembali ke rumah, lelaki itu begitu pusing dengan kelakuan Luna, di tambah lagi empat hari yang lalu, gadis yang telah menjadi istrinya, menagis tampa sebab.
***
Selama empat hari Gavano tidak bertemu dengan Alleta, merasa ada sesuatu yang berbeda, meskipun lelaki itu tahu bahwa selama empat hari Alleta menghindarinya.
Di kamar Alleta sedang tertidur pulas, gadis itu bahkan tidak mersakan bahwa Gavano sudah masuk ke kamar. Lelaki itu ikut berbaring setelah menganti pakaiannya.
Gavano mulai menyapu pandang seluruh wajah Alleta. Tampa sadar tangannya sudah berada di pipi gadis itu, membelainya dengan lembut. Ibu jarinya meraba bibir mungil Alleta.
"Kau sungguh mirip dengannya Alleta.!"
Merasakan ada sesuatu yang menimpa bibirnya, Alleta membuka matanya dan terkejut saat Gavano sudah menjatuhkan ciumannya pada bibir gadis itu.
Alleta yang terkejut seketika mendorong Gavano, namun Gavano kembali hendak mencium Alleta, akan tetapi gadis itu tidak bersedia.
"Tidak ada ciuman." Ucap Alleta kesal,
Gavano menurutinya, lalu hendak memeluk tubuh Alleta.
"Tidak ada pelukan." Sergah Alleta.
Baru kemudin Gavano hendak menyentuh pinggang ramping Alleta.
"Tidak ada sentuhan." Ucap Alleta
"Tapi mengapa.?"
"Tidak ada pertanyaan, dan jangan menjawab, tidak semuanya. Keluarlah dari kamar ini tuan.!"
"Keluar.?"
"Tidak boleh berbiacra, pergi.!" Perintah Alleta.
Gavano menuruti perintah Alleta, lelaki itu beranjak dari pembaringan, lalu berjalan hendak keluar, tapi lagi-lagi Alleta menegurnya.
"Berjalan dengan tenang tuan.!" Bentak Alleta, hingga membuat Gavano membuka sandalnya dan benar-benar berjalan keluar kamar tampa suara.
Setelah keluar dan menutu pintu, Gavano tersadar, entah apa yang merasuki dirinya, sehingga begitu mudahnya tunduk dan patuh pada perintah seorang gadis yang seharunya patuh padanya.
Dengan frustasi Gavano menepuk kedua sandal yang masih berada di tangannya. 'Sial,,, ada apa denganku, begitu mudahnya menuruti perkataan gadis itu. aggrhh...!" Teriak Gavano frustasi.
"Kakak.! kenapa kakak tidak memakai sandal di kaki.? justru memakainya di tangan.?" Sergah Arkana yang kebetulan lewat di depan kamar utama, dan mendapati Gavano yang terlihat sedang frustasi, bahkan sandalnya sudah berpindah ke tangan.
"Diam.!" Bentak Gavano.
"Apa kakak bertengar dengan Alleta.?"
"Arkana.! Aku peringatkan padamu, antra aku dan Alleta bukan urusanmu, dan cepat kembali ke kamarmu."
Arkana dengan patuh kembali ke kamarnya, padahal sebenarnya ia ingin bertanya tentang kembalinya Luna.
Tak mau kefrustasiannya di lihat oleh Alleta, apalagi tadi gairah dalam dirinya timbul saat menatap wajah Alleta, Gavano memilih untuk ke ruang kerja dan memeriksa pekerjaannya.
Bersambung...
******
...LUNA
__ADS_1
...