KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Geretakan Alleta


__ADS_3

"Mira, sebebarnya....!" Ucap Alleta masih ragu untuk memberitahu Mira


"Sebenarnya Alleta adalah istriku." Sahut Gavano melanjutkan kata-kata Alleta,


Lelaki itu kemudian duduk di sebelah Alleta, merangkul mesra pundak gadis itu. Membuat Mira semakin terkejut


"Ah,, Presedir Gavano, aku.. aku...!"


"Kau kenapa.?" Tanya Gavano tegas.


"Maksud saya,, itu." Ucap Mira yang tak tak tahu harus memulai dari mana.


Melihat gelagat Mira yang seperti itu, Gavano berinisiatif untuk memulai pembicaran yang tadi sempat terhenti.


"Seperti yang kamu lihat, Alleta adalah istriku, untuk seorang gadis sepertimu tentunya tahu dengan situasi kan.? dan lagi, aku harap kau jangan sekali-kali menyebutkan bahwa istriku adalah peliharaan.! Apa kau mengerti.?"


"Ak..aku.. mengerti.!" Jahwab Mira terbata-bata.


Alleta merasa kesal dengan perlakuan Gavano terhadap temannya, Gadis itu memicingkan matanya, menatap Gavano si sampingnya dan melepaskan tangan Gavano dari pundaknya.


"Berhenti menekan Mira, patuh dan diamlah.!"


"Baiklah.!" Jawab Gavano seperti seorang murid sekolah yang sedang di perintahkan oleh gurunya untuk diam lantaran menganggu pelajaran di kelas.


'Astaga...! kemana perginya seorang presedir Gavano yang dingin, tegas dan mendominasi.? Hanaya satu kalimat dari mulut Alleta, lelaki itu sudah tidak berkutik.' Tanya Mira dalam hati. Sementara Arkana masih diam melongo di depan pintu.


Untuk mengalihkan tekanan dari Alleta, Gavano menegur Arkana.


"Apa yang kamu lakukan di pintu seperti orang bodoh.?"


"Ah,, kakak. aku... bukankah hari ini begitu panas.?"


"Arkana, kamu itu sadar atau tidak.? di luar sangat dingin.!" Bentak Gavano.


Membuat Arkana terkejut


"Ah... kakak, jangan hukum aku."


"Siapa yang mau menghukumu, tutup pintu dan msuklah."


Mira dan Alleta tertawa kecil melihat tingkah laku Arkana yang lucu saat di bentak oleh Gavano. Tampa mengalihkan pandangan Arkana duduk juga duduk di kursi dan terus menatap Mira.


Namun Mira tidak menaggapinya sama sekali, ia lebih penasaran dengan Alleta dan Gavano.


"Mira, apa yang membawamu ke mari.?" Tanya Alleta.


"Tidak hanya rindu padamu.!" Jawab Mira berbohong.


Sebenarnya Mira datang untuk mencurahkan hatinya lantaran baru saja di putuskan oleh pacarnya, Namun hal yang tidak terduga membuat patah hatinya hilang entah kemana.


Setelah menjelaskan semuanya pada Mira, akhirnya Mira mengerti, dan karna saat itu tengah hujan deras, akhirnya Mira menginap di rumah Gavano, dan Alleta menemaninya di kamar tamu.

__ADS_1


Sementara Alleta tidur di kamar tamu bersama Mira, Gavano jadi uring-uringan, tak bisa tidur, gelisa, karna tak ada Alleta di sampingnya.


"Sebaiknya lain kali, aku tidak mengizinkan siluman kecil itu membawa temannya datang ke rumah ini" Ucap Gavano frustasi mengacak-acak rambutnya.


Gavano seperti itu karna sudah terbiasa ada Alleta di sampingnya, dan gelisah saat Alleta tidak ada di kasur yang empuk itu.


"Bahkan aromanya masih memenuhi ruangan ini, oh Alleta, kamu membuatku mabuk, mabuk akan cintamu"


Hilang sudah sosok Gavano yang dingin tertimpa rasa cinta yang begitu besar pada istrinya. Bahkan lelaki itu tidak mampu berkata apapun jika Alleta memintanya diam.


Di waktu yang sama, Arkana juga tak dapat memejamkan matanya, sosok Mira selalu terbayang memenuhi pikirannya.


"Ternyata kodok betina itu punya sahabat yang begitu manis, aku harus bisa mengorek tentang kehidupan gadis yang bernama Mira itu pada Alleta, tentunya dengan mengorbankan gengsiku." Gumam Arkana sebelum memejamkan matanya.


***


Esok hari, pagi-pagi sekali Mira meninggalkan kediaman Gavano, sedang Alleta kembali ke kamar dan mendapati Gavano masih tertidur.


Cup...


Perlahan Alleta mengecup lembut kedua pipi Gavano. Baru saja Alleta hendak bangkit, Gavano sudah menariknya ke dalam dekapannya.


"Sudah pagi, bangunlah.!" Kata Alleta seraya mengelus cambang-cambang Gavano."


"Sebentar lagi."


"Jangan malas, kamu punya istri mata duitan seperti aku, jadi cepatlah bangun dan bekerja untuk menghasilkan uang yang banyak." Goda Alleta


"Tenang saja, uangku tidak akan habis hanya menghidupi satu gadis matre sepertimu.!" Semakin mempererat dekapannya.


Hingga sesuatu di bawah sana mulai menegang saat dada kenyal Alleta menempel di dada bidangnya.


"Masih sangat pagi dan kamu harus segera bekerja." Ujar Alleta seakan mengerti dengan apa yang terjadi di bawah sana.


"Sekali saja." Pinta Gavano.


"Tidak kali ini, belum lagi tubuhku masih belum pulih seutuhnya, jadi, bisakah suamiku bertahan sedikit lagi.?"


"Baik, aku akan bertahan sedikit lagi, maka dari itu persiapkan dirimu." Ucap Gavano melayangkan kecupan hangat di kening istrinya.


Sebentar Gavano sudah lengkap dengan setelan jasnya, Tak lupa dengan Alleta yang membantunya memasangkan dasi yang telah gadis itu pilih sesuai dengan warna jas Gavano.


"Hari ini aku sedang tidak ada kuliah, boleh aku bermain ke perusahaan.?"


"Dengan senang hati, aku akan menunggumu"


"Jangan macam-macam saat bekerja"


"Siap Nyonya muda Gramentha.!" Jawab Gavano menarik pinggul ramping Alleta hingga tubuh mereka menyatu, sedang Alleta mengalungkan tangannya di tengkuk leher Gavano.


"Vano.!,

__ADS_1


"Emm...!" Saling menatap


"Boleh berjanji padaku.?"


"Apapun itu.!"


"Kalau begitu, mulai saat ini, kamu tidak di perbolehkan terlalu dekat dengan wanita lain. Kalau tidak..."


"Kalau tidak apa.?"


"Tentu saja aku akan membuatmu tidak akan mempunyai keturunan." Jawab Alleta menekan.


"jika aku impoten, kamu tidak akan mencapai kepuasaanmu.!"


"Berhenti menggodaku, itu jika kamu masih mau memberi wanita-wanita itu sela untuk masuk di antara kita." Sergah Alleta berdelik sedikit kesal namun wajah kesalnya itu terlihat lucu bagi Gavano.


Tak tahan dengan kelucuan itu, Gavano segera saja mencium hangat kening Alleta, lalu ke bibirnya, sebentar *******, lalu ciuman itu turun ke leher, sementara tangan Gavano merangkul pinggul Alleta dan tangan yang lain mulai nakal me..remas dada kenyal isttinya.


"Ugh...!"


Leguhan Alleta menyadarkan Gavano, hampir saja lelaki itu terbuai. Kali ini ia harus benar-benar menahannya, terebih lagi, kesehatan tubuh Alleta masih belum pulih sepenuhnya.


"Aku berangkat dulu." Pamit Gavano seraya kembali melayangkan kecupan hangat pda dahi Alleta.


"Emm... hati-hati."


Sebentar setelah Gavano berlalu, Alleta kembali berbaring dan memejamkan mata hingga kesadaranya hilang untuk beberapa jam.


Siang hari Alleta baru saja terbangun lantaran seseorang memanggilnya di luar kamar.


"Alleta... Alleta.!" Sambil mengetuk pintu.


"Ada apa lagi.?" Jawab Alleta setelah membuka pintu kamar.


"Bisa bicara sebentar.?"


"Tidak mau.!" Ucap Alleta ketus hendak menutup kembali pintu kamar.


"Ok...ok... tentang yang sudah berlalu, aku minta maaf.!"


"Oh... ternyata bisa juga kamu minta maaf, tapi orang seperti kamu meminta maaf itu tidak mudah, pasti ada sesuatu di balik itu semua."


"Hehehe... ternyata kamu sudah menebaknya."


"Tapi maaf aku tidak mau menerima maafmu." Sahut Alleta menyilangkan tangannya di dadanya dan membuang pandangannya.


"Tolonglah Alleta, kali ini aku bersungguh-sungguh meminta maaf padamu.! please" Sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya memohon.


"Baiklah aku akan memikirkannya.!" Jawab Alleta.


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2