
Siang hari, Gavano meninggalkan Alleta entah ke mana, tak ada yang tau. Lelaki itu pergi tampa memberi tahu apa-apa pada Alleta, dan hanya meninggalkan selembar kertas kecil yang di tempelkan di sebuah gelas berisi jus, dan sepiring makanan.
-Aku keluar sebentar, jangan lupa habiskan makanannya, Suamimu, Vano.!-
Itulah yang tertulis di kertas berwarna biru muda. Alleta yang baru saja membuka mata, meraih kertas tersebut. 'Apakah dia masih lelaki dingin yang ku temui beberapa bulan lalu.? agh... Alleta, sadar. sadar.!' Gemuru hati Alleta seraya menggelengkan kepala agar dirinya tersadar, bahwa hubungan itu hanya sebuah perjanjian saja.
Yang setelah sampai pada waktu yang di tentukan, maka hubungan itupun akan berakhir. Maka Alleta berusaha untuk tidak memasukkan perasaannya ke dalam hubungan tersebut.
Tapi, siapa yang tau apa yang akan terjadi kedepannya.
Tak mau larut dalam pikirannya, gadis itu kemudian meletakkan kerts kecil dan meraih baki berisi jus dan makanan.
Setelah melakukan aktivitas berbenah, Alleta berjalan ke dapur hendak minum sesuatu yang segar, kebetulan cuaca siang itu sangat panas,
Alleta keluar dan mendapati Arkana yang sedang bersantai di ruang tamu sambil bermain dengan ponselnya.
Perasaan dendam yang memburu muncul di hati Alleta, jika bukan karna Arkana, gadis itu tidak akan mendapat hukuman dari Gavano, meskipun tak dapat Alleta pungkiri bahwa dirinya juga sangat menikmati hukuman itu, hukuman yang nikmat tiada tara dan menyiksa.
Tak butuh waktu lama bagi Alleta untuk segera duduk di samping Arkana. Meraih majalah di meja.
"Bagaimana hadiahku.?"
"Bagus...!" Jawab Alleta dengan senyum, padahal di dalam hatinya sangat ingin menendang pemuda di sampingnya.
"Apa kamu menggunakannya.?"
Sebelum menjawab, Alleta berbalik lalu berbisik ke telinga Arkana.
"Emmm... untuk apa menggunakan sesuatu yang seperti itu ? toh milik Gavano lebih baik dari benda itu.!"
Seketika wajah Arkana memerah, lelaki itu menjadi kikuk, tenggorokannya terasa kering,meskipun ia berusaha membasahai kerongkongan dengan menelan ludahnya yang terasa hambar, tetap saja perkataan Alleta membuatnya tak tau harus menjawab apa.
"Ka..kamu... Alleta, kenapa kamu begitu vulgar...!" Teriak Arkana. Baru kemudian meraih gelas minumannya.
Baru saja Arkana hendak meminum,
"Agrh.... ke.. kecoaaa...!" Teriak Arkana sembri melempar gelas minuman, untung saja karpet di ruang tamu sangat tebal sehingga gelas itu tidak pecah.
"Hahahah...!"
Tawa lepas keluar dari bibir Alleta, puas sekali rasanya membalas Arkana. Sesaat sebelum menghampiri Arkana,
Tadi Alleta melihat seekor kecoak di dapur, maka tampa merasa geli sedikitpun gadis itu menangkapnya, dan memasukkan ke dalam gelas minuman Arkana saat tadi meraih mjalah.
"Kamu,,, wanita sakit mental, kamu mengerjiku..." Ucap arkana kesal.
Lantaran sangat marah, di tambah lagi dirinya sangat fobia binatang kecil yang menjijikan, Arkana segera saja menarik rambut Alleta yang terikat menampakan tanda lahirnya yang indah, kini sudah terurai dan berantakan.
"Kamu,,, yang sakit mental, memberiku sesuatu yang seperti itu." Balas Alleta berteriak dan juga menarik rambut Arkna.
__ADS_1
"Ohh... tidak, Rambutku, sebentar lagi ada syuting.! dasar wanita gila. Awas kamu.!"
Tak mau kalah, Arkna kembli membalas hingga mereka saling menarik rambut satu sama lain. Tak sampai di situ, mereka berdua lelah dan akhirnya merosot kelantai namun tetap saja tangan mereka masih berada di rambit lawan.
Pelayan yang mendengar keributan itu, segera berlari dan berkumpul.
"Nyonya muda, tuan muda kedua, saya mohon hentikan.!" Pinta kepala pelayan dengan hormat dan membungkuk.
"Diam..." Serentak Alleta dan Arkna meneriaki kepala pelayan itu.
"Tapi Nyonya, tuan...!"
"Aku bilang diam, wanita sakit mental ini harus di beri pelajaran.!"
"Kamu yang sakit mental, dasar tikis busuk..."
"aaa... kamu kodok betina, awu... rambutku."
Semua pelaya di rumah itu hanya diam saja, tak ada yang berani melerai, mengingat sifat Arkan yang semaunya, bahkan seringkali membuat pelyan dalam masalah.
"Arkana... Alleta..." Teriak seseorang dari arah pintu.
"Diam...!" Kembali Arkana dan Alleta serentak berteriak memerintahkan orang itu untuk diam, dan tampa perduli tetap melanjutkan aksi saling menari rambutnya.
"Arkna Dylan Gramentha, Alleta Anastasia..."
Mendengar nama mereka di sebut lengkap, kedua orang yang saling bertikai berhenti, lalu memeluk bahu masing-masing.
"Ya benar, aku juga merasakan hawa yang begitu dingin, padahal cuaca sedang sangat panas."
Arkana dan Alleta yang saat ini bersimpuh di lantai, melihat seseorang yang sudah berdiri di hadapan mereka. Bersamaan menyapu pandang orang itu dari ujung kaki, namun baru sampai di bagian lutut Arkana dan Alleta beralih pandang saling menagap.
"Alleta, aku merasa pernah melihat kaki itu, tapi dimana.?"
"Aku juga, seperti kaki..."
"Kakak, Tuan...!" Bersamaan terkejut beserta gemetaran saat mereka mendongkak dan melihat wajah Gavano yang memerah lantaran emosi.
Gavano saat ini benar-benar sangat marah, terlebih lagi Ayahnya yang baru saja tiba, harus menyaksikan pemandangan yang begitu tidak layak dan tidak menyenangkan.
"Berdiri kalian...!" Bentak Gavano, tak lupa dengan tatapan tajam dan mendominasinya.
Mendengar bentakan Gavano, Arkana dan Alleta segera berdiri dengan baik.
"Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi Vano.?" Tanya ayahnya, Revandra.
Lelaki yang sudah berumur itu, sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang di saksikannya, padahal dirinya baru saja datang. Bagaimana tidak, Revanda melihat putra keduanya sedang bertikai dengan seorang gadis muda yang tidak dirinya kenal. Bahkan saat ini, penampilan gadis itu sudah acak-acakan. Rambutnya sudah tidak teratur seperti habis di sasak dan di semprotkan hairspray.
"Ayah...!" Teriak Arkana melangkah hendak memeluk ayahnya meminta sebuah perolongan.
__ADS_1
"Kembali ke tempatmu, dan bersiri dengan baik."
"Baik kakak."
Gavano berbalik, menatap ayahnya,
"Maaf ayah, sepertinya hari ini bukan waktu yang tepat, bisakah ayah kembali ke rumah lama terlebih dahulu.?" Ujar Gavano sambil memijit kepalanya yang terasa pusing.
"Baiklah, sepertinya ini memang bukan waktu yang tepat, ayah akan kembali ke rumah lama, ayah juga merindukan ibumu.!"
"Ayah... aku ingin ikut, hiks... hiks..." Pinta Arkana mencoba lari dari Gavano.
"Tidak, sebagai seorang pria, kamu harus mempertanggung jawabkan perbutannmu, Semua pria di keluarga Gramentha kita, tidak ada yang berani lari dari tanggung jawab. Apa kamu mengerti Arka.?"
"Arka mengerti ayah."
Sebentar setelah Revandra berlalu, bersamaan dengan bubuarnya para pelayan atas perintah Gavano, lelaki itu kembali pada kedua orang yang masih tak berani untuk bergerak,
"Berap kali aku harus mengatakan pada kalian.? apakah aku harus benar-benar meluapkan emosiku, baru kalian akan berhenti.? begitu.?" Tanya Gavano mencoba tenang namun tetap dengan nada bicara yang tegas dan terselip amarah yang begitu dahsyat.
"Maaf kakak... tapi wanita sakit mental ini yang memualainya.!"
"Apa kamu bilang, aku yang memulainya.? bukankah kamu yang pertama memberiku sebuah hadiah yang begitu tidak layak.?" Jawab Alleta ketus.
"Diam... Berhenti kalian berdua. Arkna, mulai hari ini hingga seminggu kedepan, kamu tidak di perbolehkan meninggalkan tempat ini."
"Tapi kakak, bagaimana dengan syutingku.?"
"Kamu tidak perlu lagi mengikuti drama itu, aku juga sudah akan memberhentikan dana pada drama itu."
"Tapi kakak."
"Tidak ada penolakan, kamu hanya boleh ke universitas. Tenang saja, aku akan mencarikan drama yang lebih baik. Apa kamu mengerti.?"
"Mengerti kakak.!"
"Kembali ke kamarmu. Tunggu sampai makan malam baru boleh keluar."
Setelah Arkana berlalu, Gavano merebahkan diri di sofa, baru kemudian memandangi Alleta yang masih berdiri dan tertunduk sambil bermain dengan kuku-kukunya,
Baru saja Gavano ingin membuka suara. Tapi Alleta sudah mendahuluinya.
"Ma..maaf tuan, aku hanya ingin membalas perbuatan Arkana karna benda itu."
Ingin sekali rasanya Gavano memaki gadis itu, tapi setelah melihat kaki Alleta yang bergetar, lelaki itu mengurungkan niatnya. Jelas saja, itu semua karna perbuatannya juga. Kegilaannya dalam menggauli istrinya.
Gavano bangkit dari duduknya, perlahan melangkah ke arah Alleta, membuat gadis muda itu mundur satu langkah.
"Tuan... tuan,, mau apa.?"
__ADS_1
Bersambung...
******