KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Tentang Delia


__ADS_3

"Ibu..." Ucap Gavano dan Alleta serentak menoleh, begitu pula dengan Reygan.


Wanita itu kemudian mendekati Gavano, berdiri di sampingnya, jika saja di situ tidak ada Alleta dan Reygan, mungkin Aliya sudah menjewer kuping putranya.


"Kamu, anak nakal.! Apa yang kamu lakukan pada menantuku.? dan mengapa kamu membatalkan kontrak itu," Geram Aliya.


"Bibi tenanglah, semuanya sudah kembali normal, aku juga sudah menandatangani ulang kontrak itu."


"Ah, Reygan, maaf bibi tidak sempat menyapamu, bibi sangat marah pada anak nakal ini, berani sekali dia mengusir menantuku."


Melihat ibu Gavano, Aliya, tak berhenti mengoceh, Alleta mencoba membuka suara.


"Ibu, sudahlah, aku juga sudah kembali."


"Oh... gadisku yang cantik, maafkan ibu, jika anak ibu membuatmu terluka."


"Tak apa-apa bu.!"


Setelah makan siang, Reygan berpamitan pulang, tapi sebelum itu, lelaki macho itu kembali memandangi Alleta dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Berhenti memandangi menantuku, sebaiknya kamu juga segera menikah."


"Nanti bibi, setelah aku puas bermain."


"Dasar anak nakal."


Sebentar Reyagan berlalu, Aliya kemudian berbalik


"Untuk menebus kesalahan kamu Vano, kalian harus ikut bersama ku hari ini."


"Mau kemana.?" Tanya Gavano seraua dengan mengerutkan keningnya.


"Tak perlu bertanya, kamu ikut saja."


"Jika itu adalah hal yang aneh, maka aku menolak."


"Tak ada penolakan Vano.!"


"Setidaknya ibu harus memberi tahu kemana ibu akan membawa kami.?"


"Ohh Tuhan... anakku, putra pertamaku sudah tidak mencintaiku lagi, dia sudah tidak mau menuruti perintahku...huhuhu... Ambilah saja nyawaku Tuhan. hiks... hiks...!"


"Ibu, berhenti, apa ibu tidak malu.? dan aku bukan pria tua itu yang selalu menuruti permintaan ibu yang aneh."


"Hiks... kau dengar itu Tuhan. huhuhu..."


Tak tega melihat ibunya yang memohon, Gavano akhirnya mengindahkan permintaan yang tak tau kemana arah dan tujuannya itu.


"Baik, baik, aku akan ikut."


"Benarkah.?"


"Benar bu." Sahut Alleta tampa keraguan.

__ADS_1


Akhirnya wanita itu tersenyum puas. Baru kemudian menuntun putra dan menantunya ke arah mobil, memerintahkan sopir pribadinya yang tak lain adalah Arkana.


"Ibu... kemana kita akan pergi.?"


"Ke rumah kakekmu."


"Baik bu.!"


"Kapan kamu akan kembali ke rumah.?" Tanya Gavano tegas.


Seketika Arkana merasa tertekan,


"ah... itu... aku,.. nanti setelah kembali dari rumah kakek." Jawab Arkana terbata-bata.


"Baik."


Meskipun Ibunya ada di sekitar, Arkana tetap tak berani melawan kakaknya. Pemuda itu tau jika kakaknya sudah marah besar, bahkan ayah dan ibunya tidak dapat meredahkan amarah itu, apa lagi dirinya.


Beberapa saat dalam perjalanan di keheningan, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah mewah, dan kemudian di sambut oleh beberapa pelayan dan dua penjaga, lalu menuntun mereka masuk.


"Kakek..." Teriak Arkana saat melihat seorang lelaki tua didampingi seorang wanita tua pula.


Arkana memeluk lelaki tua itu yang tak lain adalah Reyno, ayah dari ibunya, Aliya.!


"Cucuku yang tampan."


"Kakek, mana angpau untukku.?"


"Mintalah pada nenekmu, Selly."


"Nenek Selly, mana angpau untukku,"


"Baiklah, baiklah, dasar anak nakal, sudah punya penghasilan sendiri masih mau menguras hartaku. hahah..." Ucap wanita tua Selly.


Lelaki tua Reyno menghampiri Gavano,


"Mana cucu menantuku.?"


"Hallo kakek, selamat siang." sapa Alleta.


"Kenapa sangat muda.? bukankah kamu akan menikah dengan Luna.? di mana Luna.?" Tanya Reyno yang belum tahu tentang berakhirnya hubungan Luna dan Gavano.


Tak mau membuat Alleta sedih, Aliya segera memberi penjelasan pada ayahnya


"Ayah, dia bukan Luna, gadis ini adalah Alleta, Gavano dan Luna sudah berpisah sejak tiga tahun yang lalu,!"


"Ah, maafkan aku."


"Tak masalah kakek."


"Lalu dimana Delia.? kakek?" Gavano kembali bertanya pada kakeknya untuk mengalihkan pembicaraan.


"Loh bukankah gadis itu ada di rumahmu.? Beberapa hari yang lalu dia berpamitan ingin ke rumahmu dan bilang ingin tinggal sementra, bertujuan mengenal istrimu.?"

__ADS_1


Lantaran kesibukan, Gavano bahkan tidak terlalu mengenal bibinya yang hampir seumuran dengannya, hanya lima bulan perantara umur mereka. Terlebih lagi Delia cenderung menghabiskan waktu di Spanyol, Delia juga sangat menyukai tantangan dan selalu bermain dengan hal-hal yang tidak sewajarnya di lakukan oleh seorang wanita.


Dan tak ada kesempatan untuk bertemu dengan keluarganya, bahkan jika ada pertemuan keluarga, Delia lebih memilih menjelajah.


Dan seharusnya Gavano bisa saja mengenali bibinya itu melalui foto-foto yang terpajang di kediaman Reyno, hanya saja foto yang ada, hanyalah foto saat dirinya dan Delia masih sekitar dua tahunan.


Lantaran Delia tidak menyukai sesuatu yang berbau menampakan diri di depan publik. Bahkan di akun media sosialnya hanya ada gambar-gambar saat dirinya sedang traveling, hutan, lembah, sungai, gunung dan sebagainya. Ada juga foto dirinya sendiri, namun tetap dengan image misterius yaitu berfoto mengenakan topeng.


"Tak ada, hanya ada seorang pelayan saja yang baru masuk."


"Ah,,, anak itu.! Dia akan menyebabkan masalah lagi, pantas saja beberapa baju pelayan sudah tidak ada di rumah ini, rupanya dia ke rumahmu sebagai pelayan." Ucap Selly yang sangat tau karakter putri satu-satunya. Dan sudah menebak apa yang dilakukan Delia.


Setelah penjelasan panjang lebar mengenai Delia, Keluarga itu tertawa dalam kehangatan.


***


Malam kembali tiba menerpa sinar matahari, Bulan dan bintang-bintang mulai bermunculan di langit malam yang siapa saja yang melihat pemandangan langit itu akan merasa nyaman dan damai setelah beraktivitas seharian.


Seperti biasa, setelah makan malam, Arkna kembali ke kamar, tapi sebelum itu, ia memberikan sesutu pada Alleta, setelah menggu beberap waktu untuk kepergian Gavano terlebih dahulu.


"Hei... kodok betina.! aku punya sesuatu untukmu."


"Apa itu.?"


"Ini hadiah untukmu, sebagai permintaan maafku, sebaiknya kamu buka di kamar saja." Ucap Arkana seraya memberikan sebuah kotak persegi panjang pada Alleta.


Tak menunggu waktu lama bagi Alleta untuk berada di kamar, ingin sekali rasanya gadis itu membuka hadiah dari Arkana, tapi keinginan untuk mandi lebih besar, Alhasil hadiah dari Arkana di biarkan berada di atas tempat tidur.


Sesaat setelah Alleta masuk ke kamar mandi, Gavano yang tadinya ke ruang kerjanya sudah kembali ke kamar, dan mendapati sebuah kotak di atas pembaringan.


Lelaki itu kemudian duduk di tepi tempat tidur, meraih kotak hadiah tersebut.'Apa ini untukku' Fikir lelaki itu mengira hadiah itu di sediakan oleh Alleta untuknya.


Perasaan penasaran melanda Gavano, segera saja lelaki itu membukanya.


Setelah puas berada di dalam kamar mandi, Alleta mengapai handuk yang tergantung untuk membungkus rambutnya yang basah, kemudian memakai bathrobe yang sudah ia bewa ke kamar mandi.


Betapa terkejutnya Alleta saat melihat Gavano yang sudah tidak memakai pakaian, hanya ada celana kain pendek yang membalut bagian bawahnya,


Alleta di landa perasaan tertekan, butiran keringat mulai menetes di dahinya, padahal Ac kamar sudah dinyalakan, bahkan gadis itu baru saja selesai mandi, 'tapi kenapa terasa panas'.? Ucap Alleta sambil menyeka butiran-butiran keringat di dahinya.


Siapa yang tidak takut jika melihat orang yang di takuti dan terkenal tegas serta kejam, sedang duduk sambil memegang sesuatu di tangannya. Bahkan wajah Gavano memerah menatap Alleta tajam. Tak ada yang tahu apa arti tatapan tajam itu.


"Tu...tuan...!"


"Kemari.!" Perintah Gavano tegas.


Mau tak mau Alleta harus menerima perintah itu, meskipun saat ini kakinya sedang bergetar. 'Hufff... apa lagi kali ini.? aku harap malam ini hidupku akan selamat, dan bisa melihat matahari esok pagi.' Ucap Alleta dalam hati.


Perlahan Alleta mendekati Gavano yang masih duduk di tepi pembaringan, Alleta semakin terkejut saat memperhatikan sesuatu yang sejak tadi berada di tangan Gavano


"Tu...tuan...! itu..?"


"Itu apa.? Cepat kemari." Sambil meremas kencang sesuatu di tangannya itu.

__ADS_1


Bersambung...


******


__ADS_2