KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Memaafkan dan menjadi teman


__ADS_3

"Kakak."


"Tn.Daniel."


Serentak Anya dan Alvaro menjawab


"Dari mana,?"


Alvaro ingin menjawab, tapi Anya terlebih dahulu menjawabnya.


"Bukankah aku tadi meminta ijin pada kamu Tn.Daniel.!"


Ingin sekali rasanya Daniel untuk marah. Namun, entah apa yang merasukinya, dia tidak tega pada Anya, semenjak dia tahu kekurangan Anya yang sulit mendapatkan keturnan. Daniel hanya menghel nafas dan tak berkata apa-apa lagi, kemudian mninggalkal Anya dan Alvaro.


Tapi sebelum itu, Daniel sempat meminta Anya untuk segera istirahat.


Melihat Daniel seperti itu, Anya dan Alvaro menjadi bingung. Mereka saling menatap dan sama-sama menaikkan bahunya menandakan tidak tahu apa yang sesang Daniel pikirkan


Anya kemudian berlalu meninggalkan Alvaro sendiri di ruang tamu, wanita manis itu, masuk ke kamar di mana Daniel berada.


Daniel hanya memandangi Anya yang sedang berganti pakaian.


"Apa ada yang salah sedanganku Tn.?"


Pertanyaan Anya membuyarkan lamunan Daniel. Sontak Daniel meminta maaf, membuat Anya lagi-lagi bingung dengan laki-laki di depannya. Betapa tidak, Anya merasa semenjak dirinya keluar dari rumah sakit, perlakuan Daniel terhadapnya berubah seratus delapan puluh derajat.


Laki-laki yang selalu berbuat semena-mena terhadapnya tidak lagi seperti itu, Daniel bahkan tidak marah saat melihat Anya kembali bersama Alvaro.


"Nona Anya...!" Panggil Daniel.


"Ada apa Tn.?"


Daniel seperti ingin mengatakan sesuatu pada Anya, tapi kata-kta itu terhenti di kerongkongannya.


"Tidak ada." Katanya.


Sebentar Daniel menatap Anya, barukemudian merebahkan diri di pembaringan. Di susul Anya yang masih bingung ada apa dengan Daniel.


Tak mau ambil pusing, Anya memposisikan dirinya di tepi dan membelakangi Daniel. Sebentar kemidian, sebuah tangan hangat melingar di pinggang rampingnya, membuat Anyak tersentak.

__ADS_1


Entah mengapa, Jantung Anya tiba-tiba berdetak kencang, dia ingin berbalik menghadap laki-laki di sampingnya. Namun, laki-laki itu mendekapnya kuat, seolah meminta Anya tetap dengan posisi itu, dia bahkan menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Anya, seraya menghirup aroma blubarry, wangi khas parfum Anya.


Begitu erat Daniel mendekap Anya dari belakan, Anya bahkan dapat merasakan degup jantung Daniel yang tak menentu, persis dwngan degup jantungnya sendiri. 'Ada apa ini.? situasi apa ini.?" Tanya Anya dalam hati.


"Tn.Daniel.!"


"Em...!"


"Kamu mendekapku terlaku kuat, aku sulit untuk bernafas."


"Maafkan aku." Kata Daniel sedikit mengurangi kekuatannya dalam mendekap Anya.


Beberapa saat berlalu, Anya merasa pakaiannya basah. Benar saja Daniel sedang meneteskan air matanya


"Jangan tinggalkan aku.!"


"Tn., Ada apa denganmu.? apa yang terjadi.?"


"Semu wanita yang kucintai, meninggalkanku, tak terkecuali ibuku."


Air mata Daniel membuat Anya merasa iba terhadapnya, dia merubah posisinya dan menarik kepala Danile untuk bersandar di dadanya. Anya bahkan mengusap lembut rambut Daniel, berharap bisa memberi ketenangan pada laku-laki itu.


'Masalah apa yang telah Tn. Daniel lalui,!' Gumam Anya masih membelai rambut Danile.


Malam kian larut, tak ada lagi pergerakan dari Daniel, menandakan bahwa laki-laki itu telah tertidur di dalam dekapan hangat Anya. Entah mengapa Anya juga tidak riaih dengan keadaan itu, mungkin dia merasa sudah terbiasa dengan berada di sisi Daniel, meski itu dengan terpaksa.


Anya juga sudah menjemput mimpinya dengan Daniel dalam dekapannya.


***


"Ibu, bibi yang mirip ibu itu siapa.?" Tanya Reygan saat Julia mengantarnya ke sekolah kanak-kanak, di sana juga Aliya yang datang untuk menerima penghargaan siswa tk yang cerdas. Tentu saja itu ituk Gavano yang sudah mengakhiri sekolah taman kanak-kanaknya, dan sebentar lagi akan memasuki sekolah dasar tingkat satu.


"Siapa maksud Reygan?"


"Ibu, bibi yang membantu Reygan kemarin saat Reygan hampir di culik oleh kakek pamnnya ayah Reygan."


"Sungguh bibi itu mirip ibu.?"


Reygan mengangguk pelan. Semntara Aliya yang seperti mengetahui sesuatu cepat-cepat mohon pamit untuk kembali terlebih dahulu.

__ADS_1


Julia bukanlah wanita yang tidak tahu gerak-gerik seseorang jika ada terjadi sesuatu, dia sangat peka akan hal itu, ingin sekali Julia bertanya pada Aliya. Namun, dia mengurungkn niatnya, dan berfikir mungkin saja itu adalah masalah keluarga Aliya.


Padahal, Aliya seperti itu lantaran Reygan mempertanyakan siapa Clara, dan sebagai istri dari Revandra, tentunya Aliya tahu siapa Clara sebenarnya. Terlebih Clara adalah salah satu pemegang saham lima persen di Gramentha Grup.


Di kediaman Gramentha, Aliya yang baru saja tiba, berlari masuk ke rumah mencari keberadaan Revandra. Dan kebetulan sekali saat itu Clara juga ada di rumah itu.


"Clara, kamu juga ada di sini." Kata Aliya bertanya setelah mendapati Revandra di ruang kerjanya bersam Clara.


"Ibu Vno, ada apa.?" Tanya Clara.


Aliya menceritakan semu tentang apa yang Reygan katakan dan pertanyakan siapa Clara, mengapa wajahnya mirip Julia.


"Mau sampai kapan kamu menyembunyikannya.?" Tanya Rrvandra pada Clara.


"Kakak, jujur saja, aku sangat ingin mengungkap identitasku. Namun, aku merasa belum saatnya." Jawab Clara.


"Lalu kapan saat itu kapan.?" Sambung Aliya bertanya


"Ibu Vano, jika saat itu tiba, tebtunya saat itu, semua orang yang menyakiti kakakku telah mati dalam genggamanku."


"Baiklah, itu terserah padamu, tapi satu hal, Axcel bukanlah pria bodoh yang akan diam saja, terlebih kamu sedah membantunya mendapatkan perusahaannya kembali." Jelas Revandra.


Clara hanya diam saja, benar apa yang dikatakn Revandra, apa lagi akhir-akhir ini Axcel mulai menyelidiki tentag kematian semua wanita yang mencoba mendekatinya. Dia harus bersiap diri, jika suatu waktu semuanya akan terbongkar.


Malam hari di kediamn Mintle, seperti biasa setelah pulang Anya dan Daniel sama-sama sibuk membenahi diri sebelum tidur. Saat itu, Anya keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah, tetasan air dari sisa keramanya menjatuhi bahunya yang mulus.


Daniel hanya memandangi Anya, sementra itu, Anya meraih sebuah handuk dari gantung yang berada di tepi sudut kamar, baru kemudian mengeringkan rambutnya dengam handuk itu.


Daniel tak henti-hentinya memandangi Anya, Jatungnya berdegup kencang saat Anya melangkah ke arah pembaringan, yang di sana juga sudah ada Daniel sedng duduk di tepi pembaringan.


Sebenarnya Anya merasa sedikit canggung lantaran Daniel tak henti-henrinya memandanginya. Wanita cantik itu kemudin duduk di samping Daniel lalu mengeluarkn hairdrayer dari laci di samping pembaringan.


Melihat bahu mulus Anya, Daniel menelan salivanya, bukan karna nafsu melainkan karna kagum. Anya terus saja asik memgeringkan rambutnya, dan terhenti ketika Danile mwngucapakan satu kalimat yang membuat Anya terperangah.


Kalimat yang di inginkan oleh semua wanita yang kelur dari mulut pria yang mereka cintai. Jantung Anya tiba-tiba berdetak lebih kencang, wajahnya merona menatap Daniel seakan tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Menikahlah denganku.!" Ucap Daniel tiba-tiba.


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2