
Meskipun Mira meninggalkannya setelah melakukan s.e.x, Arkana tersenyum dan segera kembali ke rumah.
Cepat-cepat ia turun dari mobil, dan berlari masuk ke rumah, baru kemudian menghampiri Alleta yang baru saja keluar dari kamar. Pemuda itu terlalu senang dan ingin memeluk Alleta.
"Kodok betina aku sungguh senang," Teriaknya.
Namun pelukan yang ia ingin beri pada Alleta terhenti lantara Gavano segera menarik kerah baju bagian belakannya.
"Berhenti." Tegas Gavano.
"Ah... hahahah kakak, sejak kapan di sini.?"
"Sejak kau ingin memeluk istriku."
"Maaf...!" Dengan senyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
'Huff... hampir saja, aku lupa, kakak terlalu cemburuan' Sambubg Arkana dalam hati. Gavano bingung apa yang membut Arkana begitu senang, dan lelaki itu segera bertanya dengan wajah datarnya.
"Apa yang membuatmu begitu senang"
"Tidak, aku hanya senang melihat kakak ipar.!"
"Arkana.!" Bentak Gavano sedikit cemburu.
"ahahaha... aku hanya bercanda kakak, dan sebaiknya aku ke kamar, capek!"
Arkana kemudian meninggalkan Gavano dan Alleta, Berbeda dengan Alleta yang sudah menebak apa yang terjadi pada Arkana, sementra Gavano masih di penuhi pertanyaan di benaknya.
"My...!" Panggil Alleta membuyarkan lamunan Gavano.
"Ah... maaf. Ada apa.?"
"Lapar.!"
"Bukankah tadi sudah makan.?"
"Tapi aku kembali lapar My.!"
"Ya sudah, kamu mau makan apa.?"
"Hanya ingin roti bakar dan susu hangat.!"
"Baiklah, kamu tunggu di kamar.!"
"Emmm...!"
Gavano bergegas ke dapur, tapi langkahnya terhenti saat mendengar Alexa sedang berbicara dengan seseorang melalui pnggilan telfon
"Lexa juga mencintaimu kakak, Love you so much.!" Mengakhiri panggilan.
Alexa kemudian berbalik ingin kembali ke kamar, namun gadis kecil itu terkejut, kakaknya Gavano sudah berada di belakangnya.
"Kakak...!"
"Em..!"
"Se..sejak kapan kakak di sini." Tanyanya terbata-bata. 'Apa kakak Vano mendengarkan pembicaraanku dengn kakak Riko.?'. Sambungnya dalam hati
"Baru saja.!"
"Oh... hahahah.! kalau begitu Lexa kembali ke kamar.!"
"Kembalilah.!"
Gavano hanya memperhatikan adik kecilnya berlalu,
"Lexa mau sampai kapan kalian bermain seperti itu. Tapi jika itu keinginan kalian, maka mari kita bermain bersama."
Gavano kembali ke kamar dengan sebuah baki yang berisi roti bakar dan segelas susu hangat seperti yang di minta istrinya.
__ADS_1
"Alleta, makanlah.!"
"Terimah kasih My.!"
Segera Alleta menyantap roti bakar itu lalu meminum segelas susu hangatnya. Baru kemudian menatap Gavano setelah menyingkirkan baki di tangannya
"Kenapa istriku menatapku seperti itu.?"
"Tidak, hanya ingin menatap saja." Jawab Alleta seraya melingkarkan tangannya di batang leher Gavano.
"Besok, aku akan ke New York.!"
"Untuk.?"
"Perjalanan bisnis."
"Berapa hari.?"
"Paling lama seminggu."
"Emm...!"
"Mau ikut.?"
"Tidak,"
"Kenapa.?"
"Aku takut menganggu.!"
"Baiklah jika istriku tidak ingin ikut, tapi kamu harus janji, kamu tidak boleh mebuat masalah, dan sebisa mungkin jangan sering berinteraksi dengan Grace."
"Baik tuan muda Gramentha.!"
"Lalu mari kita tidur.!"
Gavano tertidur sambil memeluk Alleta dalam dekapannya, tapi sebelum itu, lelaki itu terlebih dahulu melayangkan sebuah kecupan hangat di dahi istrinya.
Di waktu yang bersamaan, di kamar Arkana menghempaskan tubuhnya ke pembaringan setelah mandi, merentangkan kedua tangannya. Kembali mengingat apa yang di lakukannya dengan Mira tadi siang.
"Mira,,, kamu pikir kamu bisa lari dariku, he, jangan harap. Tak ada wanita yang melakukan s.e.x denganku hanya satu kali. Terlebih aku begitu mencintaimu dan sangat menginginkanmu gadis cantik."
Sementara itu, di kamar Grace, sedang uring-uringan.
"Sudah sebulan lebih aku di rumah ini, tapi mereka semua mengabaikanku, bahkan gadis ja..lang si..alan itu seringkali mengerjaiku. Sungguh tak ada kemajuan sama sekali."
Grace kemudian merai ponaelnya di meja dan mengirim pesan kepada seseorang. (Besok kita bertemu di cafe xx).
***
Esok hari, Gavano sudah berangkat ke New York bersama Riko dan Alexa juga ikut dengan alasan merindukan teman-temannya di sana. Grace yang mengetahui kepergian Gavano mengambil kesempatan untuk keluar dan bertemu dengan seseorang.
"Apa kamu sudah siapa Arkana.?"
"Siap.!"
Alleta dan Arkana sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk mengikuti ke mana Grace akan pergi, dan kebetulan saat ini Gavano sedang tidak ada, hal itu membuat mereka bisa leluasa melakukan apapun.
Mereka berdua mengikuti Grace ke sebuah cafe xx.
"Alleta, kenapa tiba-tiba menjadi malam, bukankah kita berangkat dari rumah masi begitu pagi.?" Tanya Arkana setelah turun dari mobil di susul Alleta.
Plak... Tamparan mendarat di kepala Arkana.
"Dasar bodoh.! Kamu belum melepas kacamatamu...!" Teriak Alleta di kalimat terakhirnya.
"Ah... maaf, aku lupa.!"
"Makanya kalau sedang tidur otaknya jangan ikut tertidur."
__ADS_1
"Hahahaha. Sudah sebaiknya kita ikut masuk."
"Ok...!"
Alleta dan Arkana merubah penampilan mereka layaknya sepasang kekasih dan duduk tepat di belakan kursi Grace. Betapa terkejutnya mereka saat orang yang di tunggu Grace tiba.
"Leo..." Ucap Arkana dan Alleta serentak terkejut dengan nada pelan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan.?" Tanya Leo pada Grace, setelah ia menghenyakan bokongnya di kursi.
"Minumlah terlebih dahulu."
"Lalu apa.?" Tanya Leo kembali
"Aku sungguh tidak tahan tinggal di rumah itu, gadis ja..lang dan dan Arkana seringkali mengerjaiku."
Emosi Leo tiba-tiba memuncak saat Grace menyebut Alleta Gadis ja..lang.
Brak...
Leo menghantam meja, bersyukur saat itu pelanggan cafe masih sepi.
"Jangan sekali-kali menyebutnya gadis ja..lang, dia punya nama. Di bandingkan denganmu, kamu lebih ja..lang."
"Ah, maaf.!" Ucap Grace terkejut.
Ia tidak menyangka bahwa Leo begitu menyukai Alleta.
"Lalu apa yang membuatmu ingin bertemu denganku.?" Tanya Loe yang emosinya mulai mereda.
"Tentang ibu Devan."
"Ada apa dengan ibunya.? Wanita itu sudah meninggal, Terlebih lagi, Devan tidak tahu tentang ibunya, karna kamu merawatnya sejak ia lahir."
Alleta dan Arkana semakin terkejut mendengar percakapan antara Leo dan Grace, Selama ini Alleta mengira, Devan adalah anak Grace yang ia dapatkan dari hasil mencuri sper..ma Gavano dan melakukan pembuahan dengan bantuan medis.
Begitu pula yang diketahui Gavano tentang bagaimana cara Grace mendapatkan putra darinya. 'Tapi siapa ibu Devan.?'. Tanya Alleta dalam hati.
"Leo aku takut, Gavano akan tahu bahwa ibu Devan adalah...!"
"Grace, sudah berapa kali aku mengatakannya, Gavano tidak akan pernah tahu siapa ibu anak itu, bahkan jika ibunya masih hidup, wanita itu juga tidak akan pernah tahu bahwa dia memiliki putra bersama Gavano."
"Tapi..."
"Sudah, bukankah kamu juga tahu apa yang terjadi, bahkan kamu rela berpura-pura hamil demi mendapatkan Gavano.!"
"Jadi apa yang harus aku lakukan selanjutnya."
"Grace, aku tidak ingin rencana yang telah ku atur selama beberapa tahun ini tidak mendapatkan hasil apa-apa, jadi aku harap kamu tidak pernah membahas tentang ibunya Devan, dan yang harus kamu lakukan, dekati Gavano, dan buat hubungannya bersama Alleta kacau, tapi ingat kamu jangan sampai menyakiti gadis itu."
Leo bangkit lalu meninggalkan Grace, begitu pula Grace pergi setelah Leo berlalu.
Sementara Alleta dan Arkana di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaa.
"Jika bukan wanita itu, lalu siapa ibu Devan.?"
"Arkana, apa masalah ini kita beri tahu pada Vano.?"
"Itu tergantung padamu, Tapi menurutku, sebaiknya jangan katakan dulu, kita harus mencari tahu terlebih dahulu, apa yang terjadi pada ibu Devan."
"Ya, aku juga penasaran, bagai mana bisa seorang wanita tidak mengetahui bahwa dirinya sedang hamil dan melahirkan."
"Em... aku pikir juga begitu." Ucap Arkna mengelus dagunya sambil berfikir keras.
"Apa yang kalian berdua lakukan di sini.?"
Besambung...
******
__ADS_1