
"Apa kamu bercanda Vano.?"
"Tidak ada yang bercanda, dan kenalkan, Aku Alleta istri Vano.!" Ucap Alleta angkuh memperkenalkan dirinya pada Grace.
Grace semakin terkejut, betapa tidak, ia baru saja menyangka gadis muda yang begitu cantik itu adalah Alexa adik Gavano.
"Apa benar yang dia katakan Vano.?"
"Ya... seperti yang kamu dengar dari mulut istriku,!" Jawab Gavano menarik Alleta ke dalam pelukannya.
Alleta juga sengaja bermanja pada Gavano, membuat Grace tampak kesal.
"My... apa benar yang di katakan bibi ini , bahwa kamu memiliki putra dengannya.?" Tanya Alleta pura-pura tidak tahu bagaimana Grace mendapatkan putra dari Gavano,
Padahal sejak tadi di perusahaan, Riko sudah menjelaskan padanya apa yang telah terjadi, hanya saja mereka tidak tahu bahwa saat itu ternyata Aliya ingin menikahkan Grace dengan Gavano demi memenuhi tanggung jawab Gavano sebagai seorang ayah.
"Apa kamu keberatan.?"
"Tidak, kenapa harus keberatan.?"
"Sungguh.?"
"Em... terlebih lagi, dia hanya masa lalu." Ucap Alleta.
Tak tahan melihat kemesraan Gavano dan Alleta, Grace begitu kesal hingga memutuskan untuk meninggalkan rumah itu,
"Bibi, Vano, aku pamit, minggu depan aku akan membawa putraku bertemu kalian.!"
"Boleh aku yang mengantarnya keluar ibu.?" Pinta Alleta,
"sesuai keinginanmu Alleta sayangku."
Seperti yang di minta Alleta, akhirnya ia mengantar Grace sampai di ambang pintu, saat Grace hendak melangkah pergi. Alleta tiba-tiba menarik lengan Grace. Membuat Grace terkejut dan menghentikan langkahnya.
"Ada apa.?" Tanya Grace, bingung.
"Bibi... aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa itu.?"
"Apa kedatanganmu ke sini untuk mengejar suamiku.?"
"Oh... rupanya kamu sudah tahu, jadi aku tidak perlu berpura-pura lagi. Terlebih lagi mendapatkan Gavano akan muda dengan adanya putra di antara kami."
"Lalu memangnya kenapa jika bibi punya putra dengan suamiku.?" Ucap Alleta sambil menekan genggamannya pada lengan Grace.
"Awu...kau, sungguh gadis ja..lang yang kuranga ajar." Rintih Grace kesakitan.
Bukan menghentikan tindakannya, Alleta justru semakin mendekat dan berbisik di telinga Grace dengan sangat menekankan.
"Bibi, jangan berharharap bisa menggunakan putramu untuk mengambil priaku, apa bibi fikir aku tidak tahu dengan cara apa kamu bisa mendapatkan putra dari suamiku.? Cih... sungguh menjijikan"
Ucapan Alleta semakin membuat Grace kesal, ia tidak menyangka bahwa gadis yang begitu muda bisa membuatnya tertekan seperti itu, bahkan tidak akan goyah meskipun ada seorang putra diantara Grace dan Gavano.
Setelah berbisik pada Grace, Alleta menutup pintu rumah, lalu bersandar di belakang pintu seraya menghela nafas panjang.
Jujur saja saat tadi ua menekan Grace, rupanya Alleta juga berusha tegar. Meskipun gadis itu masih begitu muda, ia tidak ingin di tindas oleh siapa pun, terlebih lagi jika itu menyangkut Gavano.
Ia berfikir Gavano adalah lelaki yang pertama kali membuatnya bahagia akan cinta, meskipun dengan awal yang salah, dan gadis muda bertekad akan tetap memertahankan cinta itu.
__ADS_1
"Alleta, hanya mengantar seseorang saja, mengapa lama sekali.?" Tanya Gavano menghampiri Alleta yang masih bersandar di belakang pintu.
"Tidak, aku hanya lelah.!"
Mari kita beristirahat."
"Emm... tapi aku ingin suamiku mengendongku."
"Baik...! sesuai permintaanmu siluman kecil."
Alleta dan Gavano bersitirahat di rumah Revandra, dan kembali ke kediaman Atmaja di malam hari setelah makan malam bersama keluarga Gavano.
***
Esok hari di depan perusahaan, Felisa yang frustsi mencegah Gavano masuk ke dalam perusahaan, Felisa memohon namun Gavano tidak memperdulikannya, bahkan Gavano menendang Felisa hingga tersungkur ke lantai.
Dan perestiwa itu di saksikan oleh Grace yang berniat menghampiri Gavano. Namun niat itu terhenti dan memilih mengikuti ke mana Felisa pergi.
"Ternyata wanita gila itu tinggal di sini, hem... baiklah, mari kembali dan menyusun rencana untuk menyingmirkannya.
Di waktu yang bersamaan, di universitas, terlihat Arkana sedang sibuk mengejar Mira.
"Berhenti mengikutiku." Ucap Mira.
"Kenapa.? apa kamu tidak menyukaiku.?"
"Ya.!"
"Tapi mengapa kamu memberiku harapan beberapa hari yang lalu.?"
"Itu sebelum aku memgenal pemuda yang lebih baik darimu." Jawab Mira berbohong.
Tapi apa yang tidak diketahui Mira bahwa Arkana tidak sakit hati sedikipun, pemuda itu justru bertekad lebih serius mengejar Mira dan mencari tahu apa penyebabnya hingga Mira menolaknya, padahal beberapa waktu lalu, Mira tampak memberi harapan pada Arkana.
Tak mau menunggu waktu, Arkana segera melakukan panggilan telfon,
"Hallo, kodok betina.!" Panggil Arkana setelah panggilan tersambung.!"
"Ada apa tiba-tiba menghubungiku.?" Tanya Alleta di ujung telfon.
"Aku butuh bantuanmu.!"
"Apa itu tentang Mira.?"
"Ya.!"
"Kenapa dengan Mira, bukankah hubungan kalian ada perkembangan.?" Tanya Alleta penasaran.
"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. awalnya dia memang memberi harapan padaku, tapi akhir-akhir ini dia sering kali menghindariku. Bahkan dia berkata tidak menyukaiku sedikitpun.!"
"Lalu.?"
"Kodok betina, ah anu maksudku kakak ipar, aku ingin meminta bantuanmu sekali lagi."
"Kebetulan aku juga sedang ingin meminta bantuan darimu." Sambung Alleta
"Apa itu.?" Sekarang berbalik, Arkana yang penasaran tentang bantuan apa yang ingin di minta Alleta.
Dalam panggilan terlfon antara Alleta dan Arkana, mereka menyepakati untuk saling membantu.
__ADS_1
***
Di rumah Andre, malam hari Riko sedang menganti pakaian kerjanya di temani Alexa, gadis cantik itu begitu terpesona melihat otot-otot Riko yang terpahat rapi.
Hingga pandangan Alexa teralihkan, ketika seseorang mengetuk daun pintu dari luar. Alexa terkejut dan panik, lantaran tak ada yang tahu bahwa ia menyelinap masuk ke rumah dan kamar Riko tampa sepengetahuan ayah dan ibu Riko.
Karna begitu panik, akhirnya Alexa berlari dan bersembunyi di lemari pakaian Riko.
"Ibu..." Panggil Riko saat melihat ibunya Aren masuk ke kamar sambil membawa beberapa helai pakaian yang sudah di cuci, dan tinggal di masukkan ke dalam lemari.
Tampa menunggu waktu lama, Aren berjalan dan berhenti tepat di depan lemari, baru saja wanita paruh baya itu hendak membuka lemari, Riko menghentikannya, lantaran takut jika ibunya mendapati Alexa ada di dalam lemari.
"Ibu, biarkan saja, nanti aku yang akan memasukkannya."
"Tidak apa-apa, biar ibu saja."
"Tidak perlu bu,"
Aren heran dengan kelakuan Riko yang seperti ada di sembunyikan, wanita paruh baya itu berfikir baru kali ini putranya seperti itu, biasanya jika ibunya ingin memasukan pakaian ke lemarinya, Riko baik-baik saja.
"Ada apa denganmu nak.?" Tanya Aren heran.
"Tidak, bu tidak ada. Biarkan saja di situ."
Namun Aren tetap bersikeras ingin memasukan pakain Riko ke dalam lemari, membuat Riko beserta Alexa yang bersembunyi di dalam lemari was-was dan tegang.
Hingga pada detik terakhir, sedikit lagi lemari terbuka, ayah Riko yaitu Andre menyusul Aren ke kamar Riko.
"Ayah."
"Nak, aku mencari ibumu ternyata ada di sini.!"
"Ibu, ayah sedang mencarimu, bagaimana jika ibu dan ayah kembali ke kamar kalian.?
"Tapi...!
"Ayolah, jangan menganggu putra kita, dia tampak sangat lelah."
Akhirnya Aren mengikuti suaminya, dan meletakkan pakaian Riko di ranjang, lalu keluar dari kamar itu. Membuat Riko dan Alexa akhirnya bernafas lega setelah di landa ketegangan masing-masing.
Setelah memastikan ibunya tidak akan kembali ke kamarnya, Riko segera membuka lemari dan membatu Alexa keluar,
"Hah... hampir saja." Ucap Alexa mengelus dadanya.
"Kamu sungguh gadis kecil yang nakal." Jawab Riko seraya mencubit puncuk hidung Alexa.
"Kakak... Lexa mencintaimu"
"Aku juga."
Riko memeluk Alexa, dan menciumnya hangat, namun ciuman itu terlepas ketika Gavano menghubungi Riko.
"Ya.! ada apa.? kenapa menelfonku malam-malam begini.?"
"Riko Felisa di temukan sudah tidak bernyawa di apartemennya"
"Apa.?" Ucap Riko terkejut.
Bersambung...
__ADS_1
*****