KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Mengizinkan


__ADS_3

Gavano dan Riko segera menuju ke universitas dan Riko yang mengambil bagian mengemudi. Lelaki itu mengemudi di atas kecepatan rata-rata hingga membuat Gavano menegurnya.


"Riko, tenangkan dirimu, jika kamu berkendara seperti ini, bukan hanya kamu yang akan mati, aku juga akan mati."


"Diam kau ba..jingan.!" Bentak Riko.


Riko begitu khawatir pada Alexa, ia bahkan tidak sadar membentak Gavano. Meskipun begitu, Gavano tidak membalas, ia hanya memasang mimik wajah masam, toh ini juga semua karna keegoisannya.


Beberapa saat berlalu, kedua sahabat itu sampai di depan universitas. Riko terlebih dahulu turun dari mobil, berlari masuk ke universitas untuk ke atap.


Karna begitu terburu-buru dan khawatir, ia bahkan tidak menyadari bahwa keadaan tidak seperti ada yang akan bunuh diri di universitas itu.


Sesampainya di atap universitas Riko terkejut, benar saja Alexa sedang berdiri sendiri dan tatapannya kosong.


Riko cepat-cepat menarik Alexa dan memeluknya.


"Alexa, apa kamu gila.?"


Alexa begitu senang dapat bertemu dengan Riko, namun ia juga bingung, ada apa dengan Riko yang tampak sangat khawatir padanya.


"Ada apa kakak.?" Tanya Alexa setelah Riko melepas pelukannya.


"Apa kamu bodoh, apa tidak ada jalan lain selain bunuh diri.? Alexa kita memang saling mencintai tapi tidak begini caranya."


Bunuh diri.? bodoh.? Ya. Alexa semakin bingung.


"Apa maksudmu kakak Riko.? Siapa yang akan bunuh diri.?"


"Bukankah kamu akan bunuh diri.?"


"Siapa yang bilang.?"


"Lalu apa yang kamu lakukan di sini.?"


"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba orang-orang kakak Vano membawaku kemari, dan menyuruhku untuk menunggu sebentar."


Mendengar penjelasan Alexa, Riko sadar bahwa lagi-lagi Gavano mempermainkannya. 'Sial... Dasar pria bre..ngsek.!' Gerutu Riko dalam hati sambil menggepalkan tangannya.


"Ada apa kakak.?" Tanya Alexa


"Ah... tidak apa-apa." Jawab Riko kembali memeluk Alexa.


Hingga beberapa saat Gavano muncul, tampa kata-kata Riko menghampirinya.


Buk...


Ba..jingan kau Gavano.


Buk...


Dua kali Riko meninju wajah Gavano, tapi Gavano tidak melawan sedikitpun.


Riko lalu mencengkram kerah baju Gavano.


"Si..alan kau.!"


Namun Gavano hanya tersenyum dan menyeka pinggiran bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah akibat tinjuan dari Riko.


"Cih..." Keluh Riko melepaskan kera baju Gavano dan memutar tubuhnya membelakangi Gavano, bertolak pinggang serta mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


"Apa kakak sengaja melakukan ini.?" Tanya Alexa yang matanya mulai metesekan air bening.


"Ya...! Jika tidak begini, kalian akan terus menutupinya.?"


Riko hanya diam saja. Baru kemudian hendak meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin membawanya.?" Tanya Gavano.


Riko menghentikan langkahnya dan menatap Gavano.


"Apa maksud kakak, tidak masalah dengan hubungan kami.?" Tanya Alexa tersedu-sedu.


"Em...!"


Alexa langsung berlari memeluk Riko, perasaan bahagia ia rasakan, begitu pula Riko membalas pelukan erat Alexa. Dan melepas pekukan itu, lalu berjalan mendekat ke arah Gavano.


Buk...


Lagi-lagi Riko meninju wajah Gavano


Buk... kali ini Gavano tidak tinggal diam, lelaki itu membalas perbutan Riko hingga bibir Riko juga mengeluarkan sedikit darah.


"Sekrang kita impas."


"Ok..."


Kedua sahabat itu kemudian tertawa dan kembali seperti dulu lagi. Betapa bahagianya Alexa yang menyaksikan hal tersebut.


Kedua sahabat yang hubungannya renggang beberapa waktu lalu karna keegoisan mereka masing-masing. Kini kembali normal.


"Lalu sejak kapan kamu menyukainya.?" Gavano bertanya sambil melempar pandangannya pada Alexa.


"Aku tidak tahu, mungkin sejak dia duduk di bangku sekolah pertama."


"Si..alan kau, dia masih muda."


"Lalu apa kamu keberatan Vano.?"


"Jika saat itu, aku akan keberataan, dia masih begitu muda."


"Silahkan, tapi dengan satu syarat.!"


Saat Gavano mengatakan ingin mengajukan syarat, Alexa tiba-tiba merasa khawatir. 'Syarat apa yang akan kakak minta pada kakak Riko.? aku harap itu tidak akan membuat masalah.'


"Syarat apa.?"


"Kamu tidak di perbolehkan menikahinya sebelum dia menyelesaikan kuliahnya."


"Ok... Tidak masalah."


Kedua sahabat itu kembali tertawa


"Lalu bagaimana dengan masalah putramu.?"


"Aku meminta Reygan untuk menyelidikinya."


Alexa menjadi kesal, lantaran Riko dan Gavano seolah tidak perduli padanya bahkan saat ini mereka masih berada di atap.


"Kakak, kaka Riko, apa kalian akan mengabaikanku seperti ini.?"


Meledaklah tawa Riko dan Gvano, melihat Alexa merajuk dan membuat wajah sebelnya.


"Maafkan kami gadis kecil."


"Vano, ada yang ingin ku berikan padamu, bisa kita ke perusahaan sekarang.?"


"Buknkah kamu sudah memberiku surat pengunduran dirimu.?" Canda Gavano.


"Si..alan kamu.!"


"Sorry... sorry..!" Ucap Gavano sambil tertawa.

__ADS_1


***


Setelah mengantar Aexa kembali ke rumah, Gavano dan Riko ke perusahaan tampa menjelaskan apa-apa pada Aliya dan Revandra. Gavano hanya meminta Alexa untuk diam dan jangan memberitahu siapa-siapa tetang apa yang baru saja terjadi.


Meskipun Aliya dan Revandra penasaran dengan luka yang terdapat di pinggiran bibir Riko dan Gavano, Alexa tetap diam dan berkata bahwa dia tidak tahu apa-apa.


Gavano dan Riko masuk ke ruangan Gavano, di situ juga ada Reygan yang saat di perjalanan ke perusaahan tadi, Gavano menghubunginya dan meminta bertemu.


Riko kemudian duduk setelah dari ruangannya untuk mengambil sesuatu dan meletakkan di meja.


"Apa itu.?" Tanya Gavano melihat sebuah map berwarna coklat di meja yang baru saja Riko bawa dari ruangannya.


"Itu adalah hasil riwayat pemeriksaan Felisa."


Gavano meraih map itu, dan membukanya, lelaki itu mangut-manggut seraya mengelus dagunya membaca riwayat medis Felisa. Lalu memberinya pada Reygan setelah membaca apa isinya.


"Bagaimana ini bisa terjadi.?" Tanya Reygan bingung.


"Aku mendapatkan itu di rumah sakit x, hanya saja, menurut menejernya, Felisa tidak pernah bercerita tetang hal tersebut." Jelas Riko.


Ketiga lelaki dewasa itu, berusaha berpikir keras memutar otaknya.


"Wanita hamil, bahkan melahirkan.! bagaimana mungkin ia tidak tahu hal itu terjadi padanya.?" Ucap Reygan bingung.


"Lalu di mana anak yang dia lahirkan. Bahkan yang ia lupakan hanya hal itu. ?" Sambung Riko.!"


"Baiklah, sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Felisa sehingga dia tidak tahu tentang dia mengandung dan melahirkan."


Sebentar kemudian Reygan menatap Gavano, sejak tadi ia ingin menanyakan sesuatu pada Gavano, namun belum ada kesempatan, hingga kesempatan itu datang, ia baru bertanya.


"Ada apa dengan kalian berdua.? mengapa bibir kalian terluka.?"


Gavano dan Riko saling meatap sebelum tertawa.


"Ini karna keegoisan kami.!"


"Apa masalah gadis kecil itu.?"


"Em...!"


"Ck...! Ck..! Kalian berdua sungguh lelaki ba..jingan." Kata Reyang ikut tertawa.


"Sialan kamu Reygan, biar bagaimanapun aku adalah suami dari adik perempuanmu.!" Keluh Gavano menegaskan pada kalimat terakhirnya.


"Dan aku adalah kakak iparmu.!" Kembali Reygan tertawa.


"Berhenti menertawaiku, bagaiman pernikahanmu.?"


"Sebentar lagi, dan semua persiapan telah selesai, tinggal menunggu harinya saja."


"Dan bagaiman dengan apa yang aku minta, tentang Grace.?"


"Aku sementara menyelidikinya."


"Baiklah, aku tunggu kabar selanjutnya."


"Ok."


Setelah peembicaraan itu, Reygan kemudian pergi, begitu pula Gavano dan Riko.


Gavano kembali ke kediaman Revandra untuk menjelaskan semuanya pada ayah dan ibunya. Begitupun Riko.


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2