
"Apa lagi yang akan aku lakukan gadis.?" Jawab Gavano serya mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu.
"Ta...tapi, bukankah di sini sangat terbuka tuan.?"
"tidak masalah.!"
Gavano mulai m*ncium bibir Alleta, m*lumatnya dengan lembut, sebenarnya Gavano hanya ingin m*ncium saja, tapi karna Alleta mulai membalas, membuat Gavano mersa gerah, padahal angin berhembus dari sela-sela jendela yang belum tertutup.
Perlahan Gavano membuka jas, serta membuka satu-persatu kancing kemejanya, lalu membuang ke sembarang arah tampa melepaskan ciumannya.
Melihat Alleta terengah-engah, lelaki itu menggedong Alleta ke aebuah sofa yang ada di ruangan berdekatan dengan ruang tamu, ruang tamu dan ruangan itu hanya di halangi sebuah tembok penghalang, jika seseorang berjalan dari ruang tamu maka sofa yang ada di ruangan itu akan terlihat.
Gavano yang sudah bertelanjang dada, kembali menghujani Alleta dengan ciu..mannya, karna merasa itu adalah hukuman, maka Alleta hanya menerimanya.
"Ugh...!" Leguh Alleta saat tangan Gavano sudah menyusup di balik kemeja Alleta dan bermain pada benda lu..nak di sana. Se..se..kali me..mi..lin ujung benda itu
Namun di balik tembok penghalang itu, Fia dan Faiq tidak sengaja menjatuhkan coklat di lantai, Faiq yang tau apa yang sedang terjadi di sofa, tidak berani menamppakan diri, tapi karna Fia sangat ingin coklat itu, Faiq, dengan berani menjulurkan tangannya meskipun sedang gemetaran.
"Semangat kakak." Teriak Fia memberi dukungan pada Faiq.
"Shuut...!, jangan terlalu berisik, nanti tuan muda pertma mendengar." Ucap kepala pelayan laki-laki yang juga berada di balik tembok.
"Mendengar apa.?" Sergah Gavano sudah berdiri tegak tampa senyuman di hadapan Fia dan Faiq, beserta kepala pelayan yang ketakutan.
Fia dan Faik beserta kepala pelayan itu terkejut,
"Kalian berdua tidak tidur.? apa yang kalian lakukan di sini.?" Dengan senyum iblisnya.
"Ak..aku sedang lapar, jadi keluar dengan Fia untuk mencari makanan, hahaha," Jawab Faiq
"Iya kakak Vano. itu belul." sambung Fia polos.
"Benarkah.? kalau begitu, kakak akan pergi bersama kalian.!" Ucap Gavano lalu menggendong Fia dan Faiq menuju meja makan
"Tapi bagaimana dengan kakak ipar.?" tanya Fia
"Tak perlu memikirkannya, Kalian hanya perlu makan dengan tenang.!" Lalu menyuruh pelayan menyiapkan makanan untuk si kembar yang sebenarnya tidak lapar sama sekali.
Sedangkan Alleta yang masih duduk di sofa, membetulkan pakaiannya lalu kembali ke kamar, membersihkan diri, lalu masuk ke dalam selimut. Tak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk menjemput mimpinya.
Sebenatar setelah Gavano menemani Fia dan Faiq menghabiskan makanannya, Gavano juga kembali ke kamar, dan mendapati Alleta yang sudah tertidur dengan mengenakan piaya berwarna merah muda dengan gambar kartun kelinci.
"Imutnya..!" Gumam Gavano tampa sadar.! 'Sial...! Gavano.! apa kamu sudah gila.?' Sambungnya dalam hati.
Tak mau banyak memikirknnya, lelaki itu ke kamar mandi membersihkn diri, baru kemudian merebahkan diri di samping Alleta yang terlelap pulas.
__ADS_1
Lelaki itu menyapu pandang tubuh Alleta,
"Benar-benar masih anak-anak, seharunya aku tidak menyalahkannya jika dia selalu bertengkar dengan bocah tengil itu, biar bagaimanapun, gadis ini masih tetap anak-anak yang belum genap delapn belas tahun. Dibangkan dengan bocah tengil itu, seharunya dia lebih dewasa. Entah apa yang akan dikatakan ibu dan ayah saat melihat gadis ini."
Alleta tiba-tiba bergerak mengganti posisi, membelakangi Gavano, lelaki itu terlihat sedikit kesal dengan kelakuan Alleta yang membelakanginya.
"Berani sekali membelakangiku."
Perlahan Gavano menarik pinggul Alleta hingga menempel padannya, dan memeluk gadis itu. Karna sudah pulas Alleta tidak sadar bahwa Gavano memeluknya. Hingga beberapa saat Gavano juga ikut terlelap pulas sambil mendekap gadis belia yang sudah menjadi istrinya itu.
******
Di sebuah restaurant xxx, Gavano sedang menikmati makan siang dengan seorang wanita cantik.
"Vano.! apa kali ini,? hadiah apa yang akan kamu berikan padaku.?"
"Apa yang kamu inginkan.?"
"Cintamu.!"
"Tidak mungkin,"
"Kenapa.?"
"Aku sudah beristri."
Mendengar jawaban wanita cantik itu, Gavano memghentikan makannya, lantaran sudah tidak ada selera.
"Aku sudah kenyang, dan akan kembali ke perusahaan."
"Baik, aku ikut denganmu.!"
Gavano berubah semakin kesal pada wanita di hadapannya. Lelaki itu menghentakan tangannya di meja,
"Dengar Felisa, jangan salah paham dengan aku yang mau menemanimu makan siang.!, semua itu kulakukan karna itu sudah menjadi kesepakatan kita, dan jangan meminta lebih." Ujar Gavano dengan gerutukan giginya.
Tiga bulan yang lalu, Gramentaha Intertaiment mengikuti lomba peragaan busana di Spanyol, dan mengirim Felisa sebagai wakil dan peragaan itu sukses besar, karna memang hanya Felisa yang cocok, terlebih lagi wanita cantik itu adalah model berharga di Gramentha Intertaimen. Tentu saja itu semua ia capai dengan kerja kerasnya selama ini.
Namun di balik itu semua, ada seauatu yang membuatnya bersemangat untuk masuk ke Gramentha Internaiment, semua itu karna Gavano, lelaki yang ia cintai dan lelaki yang pertama kali baginya.
"Aku hanya menepati janjiku sebagai balasan karna kau sudah membawa nama perusahaan." Kembali Gavano mengingatkan.
"Tapi Vano...!"
"Cukup.!" Beranjak meniggalkan wanita yang merasa tersakiti. Bahkan sudah tiga tahun ia mengejar cinta Gavano, setelah pertemuannya di sebuah bar saat Gavano sedang mabuk.
__ADS_1
Apa yang tidak di ketahui Felisa bahwa, Luna juga sedang berada di restaurant itu. Dan tidak sengaja mendengar percakapannya dengan Gavano.
"Dasar perempuan ******, kau berusaha merebut Vano dariku, tak akan kubiarkan" Kata Luna kesal sambil mengenggam kuat sendok di tangannya.
"What hepen.?" Tanya seorang lelaki asing yang sedang makan bersama Luna.
"No.!"
"Are you ok baby.?"
"Yeah, i am ok.!" Kembali tersenyum
Di perusahaan Gavano hanya termenung setelah menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan ia tidak sadar karyawan yang tadi ia suruh mengambil berkas yang telah ia tanda tangani masuk keruangannya.
Tak mau menganggu bosnya, karyawan itu kembali keluar dengan tenang. Sementara Gavano terus termenung dan memikirkan sesuatu.
"Gadis... apa yang kamu lakukan saat ini.? apakah kamu membuat masalah lagi di universitas.? Hahh...." Ucap Gavano melamun lalu menghela nafas.
"Vano.!" Panggil Riko membuyarkan lamunan lelaki dingin itu.
"Ah..! maaf, aku tidak menyadari kedatanganmu."
"Apa yang sedang kamu pikirkan.?"
"Tidak ada, hanya saja, aku berfikir tentang Alleta dan Arkana. Aku takut mereka berdua berulah kembali." Beranjak dari kursinya dan berjalan meuju rak buku yang ada di ruangan itu
"Vano.! Aku perhatikan, satu bulan ini, kamu selalu banyak memikirkan sesutu, apa itu tentang istrimu.?" Tanya Riko, yang mengantikan posisi Gavano duduk di kursi peresedir seraya menaikkan kedua kakinya ke meja dan meraih sebuah pena, baru kemudian bersandar dan memainkan pena di tangannya. Dan hal seprti itu sudah sering terjadi
"Apa maksudmu.?"
Allih-alih menjawab pertanyaan sahabatnya, Gavano justru balik bertanya.
"Presedir Gavano yang terhormat, aku perhtikan, saat membahas tentang istrimu, wajahmu berubah, bahkan tadi aku sempat melihat wajah dinginmu itu memerah saat menyebutkan nama gadis itu."
"Langsung saja pada intinya." Serga Gavano sambil meletakkan buku yang sempat ia raih dari rak, baru kemudian berbalik dan melangkah ke arah Riko yang posisinya seperti bos,
Lelaki itu merebahkan pantatnya di kursi berhadapan dengan Riko, posisi mereka saat ini terbalik, Riko masih dengan santainya duduk di kursi bos dan Gavano duduk di hadapannya.
"Baik,.! Apa kamu mencintai istrimu.?"
Bersambung...
******
Author note : Mau nanya.! Para readersku yang tercinta, yang baik dan tidak sombongπππ. Jadi gini, kalian pilih mana.? satu episode perhari, atau tiga episiode sekali dalam tiga hari...!!!
__ADS_1
Aku cuma mencari kenyamanan para pembaca yang setia.πππ Pilihannya tulis di komentr yah. Love you so much.! πΉπΉπΉ