KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Hubungan yang disembunyikan


__ADS_3

"Kakak, besok kita kembali ke kota S. yah.!" Pinta Alexa sambil mengamati Riko sedang membut sarapan roti bakar, karna hanya itu yang tersedia di hotel yang ia tempati.


Ingin memesan makanan juga tidak sempat, karna Alexa sudah sangat kelaparan.


"Baik, sesuai permintaanmu.! kita kembali besok."


Setelah Riko membakar roti, lelaki itu mengajak Alexa untuk makan, tapi lantran Alexa yang memang cenderung agresif segera berjalan cepat dan naik ke pangkuan Riko yang sudah terlebih dahulu di duduk di kursi.


"Alexa,!" Ucap Riko terkejut.


"Lexa ingin makan di pangkuan kakak, dan di suapi oleh kakak.!"


Mau tak mau Riko melakukan apa yang di minta oleh Alexa. Gadis kecil itu makan disuapi Riko dengan lahap hingga pada potongan terakhir, Alexa mengambil sendok garpu di tangan Riko dan menyuapi Riko.


"Kakak...!"


"Em..." Sahut Riko sambil mengunyah.


"Bagaimana cara kakak memberi tahu kelurgaku tentang hubungan ini.?"


Pertanyaan Alexa membuat Riko terdiam. sesungguhnya ingin sekali rasanya lelaki itu mengungkap hubungannya dengan gadis kecil itu.


Namun ia takut jika kelurga Alexa tidak menerima hubungan mereka, dan akan menjauhkan Alexa darinya.


Alexa yang melihat Riko hanya terdiam tampa kata segera memeluk hangat lelaki yang memangkunya itu, dan berbisik di telingannya.


"Lexa akan menunggu sampai kakak Riko siap untuk memberi tahu mereka tentang hubungan kita." Bisik Alexa yang paham dengan kediaman Riko.


"Maafkan aku Alexa."


"Tak apa kakak, Asalkan Lexa bisa bersama kakak, meskipun itu secara diam-diam, Lexa sungguh sudah bahagia sekali."


Mendengar penuturan gadis kecil itu, Riko membalas pelukan Alexa. Dan berjanji akan berusaha dan mencari bagaimana caranya untuk memberitahu keluarga Alexa.


Esok hari, seperti yang sudah Alexa dan Riko sepakati, mereka kembali lebih cepat dari dugaan Alexa.


"Kakak..., kakak ipar,...!" Teriak Alexa menghampiri Gavano dan Alleta yang bersantai di ruang tamu di kediaman Revandra setelah turun dari mobil dan masuk ke rumah di susul Riko.


Semenjak kejadian tempo hari, Gavano tidak berani membawa Alleta kembali ke kediamannya. Ia lebih memilih untuk tinggal di rumah Revandra.


"Kakak, tadi aku ke rumah kita, terus kepala pelayan bilang bahwa untuk sementara kita harus tinggal di rumah ibu dan ayah.!"


"Seperti yang sudah kamu dengar.


"lalu di mana ibu dan ayah.?" Tanya Alexa yang tidak melihat ibunya.


"Kemu tau sendiri bagaimana sifat ibu. di mana lagi kalau tidak berbelanja sesuatu yang tidak penting.!" Jawab Gavano


"Pantas saja di rumah kita, banyak sekali kotak hadiah, bahkan menumpuk."


"Gavano, sebaiknya aku kembali ke apartemenku dulu," Sela Riko yang sejak tadi diam berdiri di belakang Alexa.


"Kenapa harus kembali.? tidak menunggu ayah dan ibu, baru kita makan malam bersama.!"


"Sepertinya tidak perlu, aku sungguh lelah, menemani gadis kecil ini."


"Baiklah jika itu maumu, oh.. sebelum pergi aku ingin bertanya.!"


"Apa itu Vano.?"


"Kenapa tidak membalas pesanku.!"


"Pesan apa.?"


"Lihat saja ponselmu, segitu bersenang-senangnya kah kamu di Spanyol hingga lupa untuk membalas pesan dariku."


"Oh... maaf, aku terlalu fokus untuk menjaga gadis kecil ini."


"It is ok, kembalilah, dan istirahat, lalu fokus pada pernikahanku, aku tidak mau ada sesuatu yang tidak di inginkan terjadi."

__ADS_1


"Ok, Alexa, Alleta, aku pamit."


"Baiklah."


Setelah Riko berlalu, Alexa juga meninggalkan ruangan itu dan masuk ke kamar yang sudah di siapkan oleh pelayan sejak tadi ia datang.


Sebentar setelah Alexa berlalu, Alleta yang hanya diam saja sejak tadi, berbalik menatap Gavano yang sedang asik menyulut rokoknya.


"Vano...!"


"Em..."


"Ada yang ingin aku katakan padamu.!"


"Apa itu.?" Jawab Gavano tidak mengubah posisinya dan tetap menyulut rokonya.


"Tapi sebelum itu matikan rokokmu...!" Teriak Alleta di telinga Gavano.


"Siluman kecil, kamu mengejutkanku, kenapa berteriak seperti itu.?"


"Kamu, aku itu sedang ingin mengatakan sesuatu, tapi kamu tidak menatapku dan tetap menyulut roko."


Melihat Alleta tampak kesal Gavano cepat-cepat mematikan rokonya dan berbalik menatap istrinya.


"Maaf... maafkan aku, Tapi kenapa.? bukankah selama ini kamu tidak masalah dengan bau asap rokok.?"


"Vano.! jangan banyak bertanya ya.! pokoknya, mulai saat ini, detik ini waktu ini, kami tidak diperbolehkan merokok." Ketus Alleta berpaling dan merajuk pada Gavano.


Tak mau membuat istrinya semakin kesal, Gavano menerima saja permintaan Alleta itu, meskipun sangat sulit baginya untuk tidak merok.


"Lalu apa yang ingin kamu katakan tadi.?"


"Ah... hampir saja aku lupa, Vano.!"


"Em..."


"Jangan terlalu banyak berfikir, Riko hanya menganggap Alexa seperti afiknya sendiri, sebaiknya kamu bersiap, Seminggu lagi kita akan mengadakan resepsi."


"Baiklah." Ucapa Alleta bersimpuh ke dalam pelukan suaminya.


***


Di apartemen Riko sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba ponselnya berbunyi


"Hallo ibu.!" Sahut Riko setelah panggilan tersambung.


"Nak, bagaimana kabarmu.?"


"Riko baik-baik saja bu, lalu bagaimana ayah dan ibu apakah baik-baik saja.?"


"Ibu dan ayah baik-baik saja."


"Kapan ibu akan kembali.?"


"Mungkin tiga atau dua hari sebelum resepsi pernikahan Gavano."


"Baiklah."


"Tapi nak, ibu ingin bertanya sesuatu padamu.!"


"Apa itu ibu.?"


"Kapan kamu akan menyusul Gavano.? umurmu sudah tidak muda lagi."


Tersentak hati Riko mendengar pertanyaan ibunya. Betapa tidak, sebenarnya ia juga ingin segera menikah, namun mengingat hubungannya dan Alexa masih belum diberitahu pada siapapun, untuk menikah dengan segera, sepertinya itu tidak mungkin, terlebih lagi Allexa masih terlalu muda.


"Nak... nak..." Panggil ibunya Riko, Aren saat putranya tidak menjawab pertanyaannya.


"Ah... ibu, maafkan Riko, tadi Riko sedang memikirkan sesuatu.!"

__ADS_1


"Ada apa nak.?"


"Tidak ada bu, Riko hanya sedikit lelah."


"Kalau begitu, ibu tutup telfon dulu."


"Baik bu."


Di waktu yang bersamaan, Aliya yang baru saja kembali dari berbelanja, segera menemui Alleta di kamarnya yang sedang tertidur di dalam pelukan Gavano.


"Ibu tolong jangan berisik." Ucap Gavano saat ibunya masuk ke kamar mereka dan memanggil Alleta.


"Maafkan ibu nak, ibu tidak tahu jika Alleta sedang tertidur."


Gavano yang tadi memeluk Alleta, pelan-pelan bangit dan menarik lengannya, agar Alleta tidak terbangun


"Ada apa.? kenapa ibu seperti tergesa-gesa sekali."


"Oh anu... itu, heheh.!"


"Lalu apa yang ada di tangan ibu itu.?"


"Ini adalah obat kuat, dan bubur ikan salmon untuk Alleta.!"


"Itu untuk apa.?" Tanya Gavano mulai serius


"Ini untuk kamu, sudah lama kamu menikah, tapi belum bisa menghamili istrimu."


"Ibu... " Bentak Gavano lembut


Meskipun suara bentakan Gavano terdengar lembut, tapi tetap saja membangunkan Alleta yang sedang tidur.


Gadis itu terbangun dan duduk di pembaringan sambil mengucek matanya.


"Ada apa.?"


Melihat Alleta sudah terbangun, segera saja Aliya memberikan obat yang ia bawa untuk Gavano, dan berjalan ke arah pembaringan dengan ikan salmon di tangannya.


"Sayangku Alleta, kamu sudah bangun.!"


"ah... ibu, maaf, Alleta tidak tahu ibu ada di sini."


"Tidak apa-apa sayang, ini, ibu buatkan bubur ikan salmon, ibu lihat akhir-akhir ini, kamu tampak lelah."


"Terimah kasih ibu,"


Alleta segera meraih bubur yang di berikan Aliya padanya, dan langsung menyantapnya dengan lahap.


Hingga pada sendok terakhir, tiba-tiba Alleta merasa pusing, membuat Aliya dan Gavano seketika panik.


"Alleta kamu kenapa nak.?" Tanya Aliya.


"Kepalaku pusing,l.!"


"Apa kamu tidak apa-apa Alleta.?" Sambung Gavano bertanya.


"Apa kamu alergi dengan ikan salmon.?"


"Tidak bu.!"


"Lalu ada apa denganmu sayang.?"


"Aku tidak tau, ibu, Vano.! kepalaku sungguh sangat pusing."


Tak lama kemudian, Alleta tiba-tiba tidak sadarkan diri. Membuat kedua ibu dan anak itu semakin panik.


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2