
...🌹HAPPY READING🌹...
"Alleta... apa kamu menyuakianya.?" kembali Gavano bertanya setelah melihat Alleta hanya diam saja.
Lelaki itu kemudian membelai rambut yang terurai sebatas pinggang, milik Alleta.
"Aku suka.! terimah kasih.!
"Bguslah jika kamu menyukainya, anggap saja itu adalah cincin pernikahan kita, yang tidak sempat aku berikan padamu.?"
"Vano.!"
"Emm.."
"Mengapa dulu kamu menikahiku.?"
"Itu karna permintaan ayah dan ibu untuk segera menikah,"
"Lalu bagaimana dengan sekarang.?"
"Tentu saja karna aku menginginkanmu." Jawab Gavano tampa keraguan.
"Tapi bagaimana dengan kontrak.?"
"Aku sudah menyobeknya.!"
Alleta terkejut dengan jawaban yang keluar dari bibir Gavano, Jantungnya kembali berdebar kencang,
"Apa maksudmu.?"
"Ya... seperti yang aku katakan tadi.!"
"Kapan kamu menyobeknya.?"
"Sehari setelah aku mengambil kesucianmu.!"
"Lalu mengapa kamu tidak memberitahuku.?"
"Tentu saja agar kamu tidak bisa berbuat sesuka hati padaku.!"
"Hum... sungguh lelaki jahat." Delik Alleta.
"Tapi kamu suka kan, Siluman kecil.?"
Alleta tak menjawab, gadis itu hanya memukul-mukul manja dada bidang suaminya. 'Ternyata lelaki ini sungguh mencintaiku' Gemuru gejolak dalam hati gadis muda nan cantik itu.
"Lalu bagaimana dengan jawabanmu siluman kecil.?"
"Jawaban apa.?" kata Alleta pura-pura tidak tahu.
Lantaran tak mau jawab, Gavano kemudian mendorong Alleta hingga berbaring di pembaringan sementara Gavano mulai merubah posiainya ke atas Alleta.
"Vano.! apa yang ingin kamu lakukan.?" Tanya Alleta panik disertai wajahnya yang memerah.
"Tentu saja membuatmu menjawab pertanyaanku."
Tampa menunggu waktu lama, Gavano sengaja me..ngesek cambangnya ke leher Alleta hingga gadis itu merasa begitu geli, sampai-sampai bulu di lengannya semua merinding.
"he.. hentikan, kumohon hentikan" Pinta Alleta sudah tidak tahan dengan rasa geli dari tusukan cambang-cambang Gavano.
"Masih tidak mau menjawab.?"
"Baik... baik, aku akan menjawab."
"Lalu apa kamu mencintaiku.?"
"Tidak." Jawab Alleta berbohong menggoda Gavano.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan mengelitikmu sampai kamu mencintaiku." Kembali me..gesek cambannya di lehet Alleta.
"Aku mencintaimu.!" Jawab Alleta tampa keraguan.
Gavano menghentikan tindakannya beralih menatap wajah Alleta yang sudah merona.
"Cium aku pembohong.!" Ucap Gavano seraya melayangkan ciumannya pada bibir istrinya.
Hingga beberapa saat berciuman, Gavano menghentikannya, Jika saja ia tidak berhenti, maka ga..irahnya akan timbul, dan tidak mudah baginya untuk meredam ga..irah itu, terlebih lagi Alleta masih belum selesai me..nstruasinya.
"Bagaimana dengan orang tua ku."
"Tentang itu, aku sudah mempersiapkannya, aku akan memberimu sebuah kejutan saat pesta ulang tahunmu yang ke delapan belas."
"Benarkah.?" Tanya Alleta gembira.
"Tentu saja.!"
Alleta yang begitu senang, berinisiatif mencium Gavano.
"Dan... persiapkan dirimu, minggu depan adalah ulang tahunku yang kedua puluh tujuh bersamaan dengan ulang tahun perusahaan."
"Baiklah..."
***
"Kau perempuan ja..lang, berani sekali kamu melakukan itu padaku.?" Teriak Luna menarik rambut Felisa yang hendak masuk ke perusahaan.
"Auuw...! apa maksudmu.?"
"Kamu kan yang memberitahu Gavano bahwa aku yang memberimu pil aborsi itu.?"
"He... wanita ja..lang.! jaga ucapanmu, Aku sama sakali tidak memberitahu siapapun. Itu salahmu sendiri jika kamu ketahuan. Aku hanya membantumu."
Tak mau terima, Luna menjambak rambut Felisa dengan kedua tangannya, begitu pula dengan Felisa. Pertikaian mereka di saksikan oleh, beberapa karyawan.
"Lihat kedua wanita itu.!"
"Benar sekali,"
Ucap para karyawan yang menyaksikan perkelahian antara dua wanita cantik memperebutkan Gavano.
"Berhenti..." Tegas Gavano baru saja keluar dari peruasaah yang hendak pulang bertemu Alleta.
"Vano.!" Bersamaan kedua wanita itu menyahut.
"Apa yang kalian lakukan di sini.?"
"Ah... tidak, aku hanya meminta Luna membantuku berlatih memainkan peran dalam drama yang akan datang" Jawab Felisa seraya memberi isyarat pada Luna untuk mengikuti perkataannya.
"Benar...kami hanya sedang memainkan peran." Sambung Luna
"Baiklah." Ucap Gavano berbalik meninggalkn mereka.
Namun Luna berlari dan memeluk Gavano dari belakang.
"Vano..!"
"Lepaskan aku.!"
"Tidak."
Perbuatan Luna, membut Gavano seketika kesal, lelaki dingin itu berbalik sembari mencengkram leher Luna.
"Aku sudah memperingatkanmu berulang kali, jangan muncul di depanku, dan meskipun apapun yang kamu lakukan, aku juga tidak akan kembali pada sesuatu yang sudah ternoda oleh orang lain, kamu bagiku hanyalah seengok sampah.!" Melepaskan cengramannya dan meninggalkan Luna yang tersungkur ke tanah.
Sebentar setelah Gavano berlalu, Felisa mendekat pada Luna seraya memberikan senyum mengejeknya.
__ADS_1
"Sampah.!" Ucap Felisa juga berlalu meninggalkan Luna yang terlihat sangat frustasi,
Luna kemudian bangkit dan menatap karyawan yang menyaksikannya, lalu memberi isyarat mengancam pada mereka. Bukan karna takut mereka bubur, melainkan tak mau berurusan dengan wanita yang sudah terlihat sangat frustasi itu.
"Baik, jika kamu tidak menyukai sesuatu yang sudah ternoda, maka sesuatu yang menurutmu sangat suci dan berharga akan ternoda Vano,! tunggu saja." Ancam Luna.
***
"Vano...!" Teriak Alleta berlari memeluk Gavano yang baru saja pulang.!"
"Sudah makan.?" Tanya Gavano mencubit puncuk hidung istrinya.
"Sudah, kamu.?"
"Sudah,"
"Hari masih siang.! lalu ke mana kita akan pergi kali ini.?" Tanya Alleta bermanja pada Gavano.
"Ke dokter kandungan.!"
"Baik...!"
Semalam sebelum tertidur Gavano menyarankan untuk memilik seorang bayi lebih awal, dan Alleta baik-baik saja dengan saran itu. Untuk itu, Gavano ingin membawa Alleta ke dokter kandungan untuk pemeriksaan dan pemulihan sisa-sisa akibat obat aborsi yang di berikan Helen.
Di rumah sakit, Alleta melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan
"Aaa..." teriak Alleta dari balik horden yang mengahalangi agar pemeriksaan tidak terlihat oleh orang lain.
"Alleta..." Jawab Gavano khawatir dan menyingkirkan horden tersebut.
Mata Alleta mengeluarkan sedikit butiran-butiran air mata
"Vano...!"
"Ada apa.?"
"Dia memasukkan sesuatu yang tebal dan panjang ke dalam pan..tatku dia bahkan menyemprotkan air di dalamnya, dan rasanya sangat sakit."
Mendengar penuturan Alleta, Gavano berbalik dengan wajah dinginya tak lupa dengan sikap mendominasi dan menekannya menatap dokter laki-laki yang tadi memeriksa Alleta.
"Kamu... apa yang kamu lakukan padanya.?dengan emosi yang sudah mulai meluap
Sementara dokter laki-laki itu mersa tertekan dan ketakutan melihat ekspresi wajah Gavano yang seperti ingin melahapnya hidup-hidup.
"Ini... ini Peresedir Gavano hanya suntikan, itu baik untuk nyonya."
"Oh..!"
"Hehehe... itu, aku hanya menggodamu saja." Sergah Alleta yang tadi sengaja ingin bermain dengan emosi Gavano.
"Siluman kecil, tunggu sampai tubuhmu mebaik, maka kamu akan menyesal telah menggodaku." Ucap Gavano membawa Alleta keluar dari ruangan pemeriksaan
"Maaf..."
"Sekarang kembalilah ke universitas. aku juga sudah akan kembali bekerja.! Titah Gavano.
"Baiklah."
"Tunggu aku di rumah.!" Melayangkan kecupan hangat pada dahi istrinya, baru kemudian berlalu, sementara Alleta di antar oleh sopir ke universitas yang kebetulan Alleta memiliki kelas siang hari itu.
Hingga pelajaran selesai, Alleta hendak pulang dan meminta sopir menjemputnya, namun karna tadi terburu-buru Alleta melupakan ponselnya di mobil, Ingin ikut Arkana pulang, akan tetapi Arkana sudah pulang sejak tadi.
Alleta tak tahu harus berbuaat apa lagi, sementara hujan tiba-tiba saja turun begitu lebat. Lantaran tak punya payung, mau tidak mau Alleta harus menunggu hingga hujan reda, baru memanggil taksi.
"Selamat sore nona...! ingin ikut bersamaku.?"
"Kamu...!" Sahut Alleta terkejut saat melihat siapa yang menyapanya.
__ADS_1
Bersambung...
******