KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Ciuman Anya


__ADS_3

"Tujuanku membalas setiap perbuatan yang kau lakukan pada kelurga kakakku." Jawaban Clara membuat Atman bertanya-tanya, siapa kakaknya.?.


"Siapa kau sebenarnya.?" Tanya Atman lagi.


"Kau tak perlu tahu siapa aku, intinya, kau harus menerima semua kebalikan dari perbuatan jahatmu."


Clara berbalik dan meninggalkan Atman dan memerintahkan orangnya untuk melakukan sesuatu pada Atman. Gadis cantik itu keluar dari ruangan di mana Atman berada dan mnutup pintu. Suara teriakan penyiksaan terdengar dari dalam, Clara tersenyum puas mendengar rintihan dari dalam rungan.


Sementara itu, di kediaman Axcel, Julia menatap Reygan yang tertidur pulas. Sebuah tangan hangat tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Juli, maafkan aku." Kata Axcel penuh dengan penyesalan.


"Sayang, jangan mengatakan seperti itu."


"Tidak Juli, semua karnaku, karnaku yang tidak siaga menjaga kalian."


Julia melepaskan pelukan tangan Axcel, berbalik menghadapnya, baru kemudian meraih pipi Axcel dengan kedua tengannya.


"Sayang, berhentilah, sebaiknya kejadian ini kita jadikan sebuah pelajaran untuk kedepannya, agar kita lebih siaga menjaga putra kita."


"Sekali lagi maafkan aku."


Julia memeluk Axcel seraya mencium ubun-ubun laki-laki itu.


Setelah itu Axcel termenung di ruang kerjanya, dia tidak bisa menerima semuanya, terlebih dia belum tahu siapa yang melakukan itu pada Reygan dan Anya, dan siapa Clara sebenarnya. Semua itu membuat Axcel bingung,


Di rumah sakit, Anya telah sadar, dia melihat sekeliling, dan tersenyum saat mendapatiti Daniel tengah tertidur di sofa yang sudah di sediakan di ruangan di mana Anya di rawat.


Anya bangkit dari pembaringan, melangkah ke arah Daniel yang teertidur pulas. Wanita cantik nan manis itu duduk di samping Daniel, menatapnya. Tatapan itu singgah di bibir Daniel. Lagi-lagi jantungnya berdegup kencang. Ada sesutu yang mendorongnya untuk mengecup bibir Daniel.


Merasa ada yang menimpa bibirnya, Daniel membuka mata tiba-tiba, membuat Anya tetkejut, mata mereka saling berpadu, kejadian itu terjadi beberapa detik sebelum Anya menarik diri dari Daniel.


"Tn.Daniel, maafkan aku."


Daniel tidak menjawab, dia hanya menatap Anya sebentar,vbaru kemudian meninggalkan Anya tampa sekatapun.


Anya juga sedikit malu, dia baru menyadari apa yang telah dia lakukan tadi. Wajahnya merona sepeninggal Daniel.

__ADS_1


Bukan cuma Anya yang wajahnya merona. Daniel juga merasakan hal yang sama. Di balik pintu ruangan di mana Anya dirawat. Daniel bersandar menatap langit-langit rumah sakit. Dia mencoba mengatur nafasnya sembari mengelus dadanya.


"Sial...! Apa yang terjadi padaku.? mengapa seperti ini." Maki Daniel pada dirinya sendiri lalu meninggalkan rumah sakit.


Untuk menenangkan pikiranya, Daniel memilih ke sebuah Club malam, di sana juga sudah ada Axcel yang baru saja tiba, setelah tadi Daniel menghubunginya meminta untuk bertemu.


"Ayah Reygan, Maafkan aku.!" Ucap Daniel setelah meneguk wine di tangannya.


Hal itu membuat Axcel bingung, mengapa Daniel tiba-tiba meminta maaf padanya, sementara Daniel tidak punya kesalahan apapun padanya.


"Kau salah jika berfikir aku tidak memiliki kesalahan apapun padamu." Kata Daniel lagi yang hampir sepenuhnya di kuasai Alcohol.


"Apa maksudmu.?" Tanya Axcel.


"Ini tentang Anya, dan juga perusahaan."


"Apa hubungannya.?".


Daniel menceritakan apa yang terjadi padanya dan Anya serta apa sangkut pautnya perusahaan dengan Anya dan Daniel. Hal itu membuat Axcel sangat geram saat Daniel meceritakan semuanya. Namun, masih ada sedikit rasa sabar yang tersisa pada diri Daniel.


***


Buk...Sebuah tinju mendarat di wajah Daniel, Axcel yang sudah tidak tahan, memberinya sebuah pukulan, terdapat sedikit percikan darah di pinggir bibi Daniel.


"Bajingan..." Kata Axcel kembali memberi sebuah tinju pada wajah Daniel.


Daniel hanya bisah pasrah, ingin melawanpun juga tidak bisa, di sini dia yang bersalah, seandainya waktu itu dia menolak Anya yang di kuasai alcohol dan menawarkan diri, mungkin saja semua ini tidak akan terjadi, Alvaro juga pasti tidak akan sakit hati.


"Maaf." Ucap Daniel menyeka bekas darah di pinggir bibirnya.


"Maaf.? Jika ingin maaf, maka aku bukan orangnya. Mintalah pada Anya dan Alvaro. Mereka berdua adalah korban dari keegoisanmu.


Sekali lagi Axcel melayangkan sebuah tinju di wajah Daniel sebelum dia meninggalkan Daniel.


Sebentar setelah Axcel berlalu, Daniel kembali duduk di konter dan meneguk wine yang tersisa, sesaat Daniel berfikir sebelum meninggalkan Club itu dan kembali ke rumah sakit. Namun, saat Daniel sampai, dia tidak melihat keberadaan Anya, dia mencoba mencari ke sekeliling, dan baru tau bahwa Anya telah pergi setelah bertanya pada perawat yang merawat Anya.


Daniel menghembuskan nafas khawatir lantaran Anya meninggalkan rumah sakit tampa memberitahunya.

__ADS_1


Daniel bergegas meninggalkan rumah sakit, meski perawat tempatnya bertanya memintanya untuk merawat luka-luka di wajahnya bekas tinju yang diberikan oleh Axcel tadi.


Malam kian larut, Daniel mencari Anya ke manapun yang dia bisa, rasa khawatinya semakin besar saat langit mula menitikkan rintik hujan, yang semakin lama semakin deras.


Hingga Sebuah mobil hitam berlari dengan kecepatan tinggi menuju rumah tua di pinggiran kota S. Rumah itu agak tua dan tampaknya tidak ada yang tinggal di sana tetapi dirawat dengan baik. Hanya beberapa lampu di pintu masuk yang menyala. Rumah itu adalah rumah peninggalan keluarga Anya.


Tadi Daniel tiba-tiba terfikir untuk ke rumah itu. Dia tahu alamat itu lantaran Anya pernah sekali membawanya ke situ saat keluarga Anya satu-satunya meninggal yaitu nenek Anya. Dan itu terjadi beberapa bulan yang lalu.


Mobil berhenti di depan kayu. Sebuah pintu mobil terbuka, dan Daniel keluar dari sana. Dia sangat terburu-buru dan sedang mencari seseorang. Dia masuk melalui gerbang dan berlari ke dalam untuk melewati hujan.


Daniel tampak khawatir dan cemas sambil berlari ke dalam, dan berhenti di depan pintu rumah tua, dia mulai berlari di jalana yang mengarah ke taman yang ada di belakang rumah tua itu. Setelah melewati beberapa pohon, dia berhenti pada jarak tertentu dari sebuah teras, yang berada di tengah taman


Ekspresi Daniel berubah seolah-olah dia menemukan apa yang dia cari dan menjadi santai sambil terengah-engah. Di bawah naungan itu, ada sosok yang menghadap ke arah yang berlawanan. Dia adalah Anya yang masih mengenakan pakaian pasien rumah sakit.


pakainnya basah menampakkan lekuk tubuh Anya. Rambutnya juga basah dan berantakan karena air hujan. Ekspresinya kosong dengan matanya menatap gelap tanpa emosi.


Daniel berjalan maju dan berhenti di belakang, beberapa langkah darinya dan memanggil namanya.


"Anya...!"


Anya berbalik tapi tidak menjawab. Daniel kembali berkata bahwa dia sangat khawati terhadap Anya dan memintanya untuk kembali.


"Aku tidak mau." Jawab Anya.


Daniel semakin mendekat pada Anya, menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Meski Anya meronta bahkan memukul dada Daniel, Daniel tidak melepasakannya.


"Anya aku khawatir."


"Untuk apa kamu kahwatir, kita hanya sebatas rekan kerja." Tanya Anya mencoba melepaskan diri.


Beberapa kali Anya mencoba melepaskan diri dari pelukan Daniel dan berhenti saat sebuah kalimat keluar dari mulut Daniel.


"Aku memcintaimu."


Bersambung...


****

__ADS_1


__ADS_2