KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Kebahagian Axcel dan Julia


__ADS_3

Axcel kaget tiba-tiba Julia tidak sadarkan diri, dan kecemasan meliputinya.


"Julia... Julia..." Panggilnya sambil menepuk pipi Julia.


Namun julia tidak juga sadarkan diri, dan pada akhirnya, Axcel segera membawa Julia ke rumah sakit.


Axcel begitu khawatir pada Julia, dan semakin khawatir saat dokter keluar dari ruangan pemeriksaan, dia takut kalau-kalau Julia menderita penyakit yang serius.


"Bagaiman istri saya.?"


"Tenang Tuan. Istri anda baik-baik saja."


"Tapi dia pingsan. Apa yang terjadi sebenarnya.?"


"Tidak apa-apa, dia hanya terlalu capek. Dan satu lagi."


"Apa itu.?"


"Dia hamil dua minggu.!"


Kekhawatiran yang Axcel rasakan berganti dengan rasa bahagia. Tidak menunggu lama lagi, dia segera menemui Julia di ruang pemeriksaan yang sudah sadar sejak dokter memeriksanya.


Julia tersenyum pada Axcel, begitu pula sebaliknya, laki-laki itu meraih tangan Julia, menjatukan ciuman di sana, kemudian berpindah ke dahi Julia.


"Sayang...!" Panggil Julia.


Karna tak dapat membendung rasa bahagianya, Axcel memeluk Julia yang masih terbaring. Hingga Julia tiba-tiba membisikkan sesutu pada Axcel. Lalu Axcel mengangguk.


Betapa bahagianya Julia melihat anggukan Axcel.


"Sayang...!"


"Em...!"


"Aku masih ingin melanjutkan sekolahku, hanya tersisa enam bulan lagi. Apa boleh.?"


"Tapi kamu sedang mengandung.!"


"Tolong...!" Kata Julia memelas.


"Baik, tapi tidak di sini, kita akan pulang ke kota S. aku akan mengurus semuanya."


"Baik...!"


Julia menurut saja apa yang Axcel inginkan. Meski telah mengandung Julia tetap ungin melanjutkan sekolahnya, karna dia merasa itu sangat penting,


Seperti yang di katakan Axcel, dia membawa Julia pulang ke kota S, dan memberi kabar bahagia itu pada keluarganya maupun keluarga Julia.


Ayah dan ibu Julia begitu senang, sebentar lagi mereka akan memiliki seorang cucu, namun berbeda dengan Helen, dia sangat kesal. 'Kenapa semua hal baik hrus datang padanya.' Kata Helen dalam hati.


Malam itu Axcel mengundang Daniel dan Revandra makan malam di rumahnya untuk merayakan kebahagiannya. Tentunya Aliya dan anaknya yang sudah setahun lebih juga ada di sana


"Selamat kak Axcel." Kata Aliya memberi sebuah hadiah pada Axcel dan Julia.


"Terimah kasih ibu Gavano." Jawab Julia tersenyum hangat.


Julia tidak menyangka ternyata Axcel mengenal baik sang penguasa kota S. bahkan wanita yang selama ini Axcel cintai adalah istrinya.


"Kenapa melamun.?" Tanya Axcel membuyarkan lamunan Julia.

__ADS_1


"Ah.. tidak apa-apa."


Ruangan itu, di penuhi canda tawa dari mereka, hanya Helen yang tampak tidak menikmati kebahagiaan itu. Kesal lantaran nasib mempermainkannya, pertama dia bukan anak kandung dari Ganendra, kedua dia tidak dapat memberi keturunan pada suaminya.


Kekesalan Helen tidak ada yang memperhtikan karna mereka semua larut dalam kebahagian.


Plok...Plok... Seseorang tiba-tiba masuk menyela kebahagian itu. Mereka semua menoleh ke sumber suara tepukan tangan.


"Ada kabar bahagia, tapi tidak mengundangku." Kata paman Axcel.


"Atman, untuk apa kamu ke sini.?" Tanya Atmaja bangkit menunjuk paman Axcel.


"Aku masih punya hak, dia masih keponakanku."


"Kamu...!"


"Ayah sudahlah, biarkan saja paman bergabung." Sela Julia.


Terpaksa Atmaja membiarkan saja, namun baru saja mereka ingin mulai makan, tiba-tiba ada lagi satu orang yang datang menyela.


Sipa lagi kalu bukan Emely, tak bisa Daniel pungkiri bahwa Emely sangat cantik, hanya saja Emely bukanlah tipenya.


"Apa kalian akan membiarkanku berdiri saja.?"


"Lakukan sesukamu Emely." Kata Axcel.


Aliya meminta pulang pada Revandra lantaran merasa sudah seharunya meninggalkan keluarga Axcel, mungkin saja mereka akan membicarakan masalah keluarga.


Seperti yang diminta Aliya, Revandra pamit pulang, begitu pula Daniel.


"Bagus jika kalian mengerti." Kata Paman Axcel arogan.


Revandra menggepalkan tangannya, hampir saja dia mengamuk andai Aliya tidak meremas tangannya. Meminta agar tidak melakukan sesuatu.


"Rupanya kamu gadis yang cantik, bokongmu terbentuk sempurna, boleh minta kontaknya.?" Kata paman Axcel menatap Aliya penuh nafsu.


Revandra benar-benar sudah kehabisan kesabran. Maka dia tidak perduli lagi dan segera menghantam paman Axcel dengan tinjunya.


"Sialan... kamu berani memukulku.!"


"Bajingan...!" Kata Revandra dan kembali memberi hantaman pada paman Axcel.


"Hey... kenapa tidak ada yang membantuku.?"


Mereka yang ada di ruangan itu hanya diam, tak ada yang berani menolong. Lantaran mereka semua tahu siapa Revandra dan bagaimana jika dia sedang marah.


Hanya Aliya yang bisa menghentikan itu, dia meminta Revandra mengakhirinya dan segera meningalkan rumah Axcel setelah puas menghantam paman Axcel.


***


"Ay...!" Panggil Aliya setelah sampai di kediamannya dan menidurkan si kecil Gavano.


"Em..."


"Ay...! Aku tidak ingin ini terulang lagi, lihat Gavano, dia tampak ketakutan tadi melihatmu menggila seperti itu."


"Maafkan aku, aku hilang kendali, jika saja dia hanya menghinaku, aku tidak perduli, tapi dia menatapmu seperti sedang mentap wanita murahan, yang aku saya tidak pernah melakukanya."


Aliya segera memeluk Revandra, memberinya ketenangan batin.

__ADS_1


Kembali di kediaman Atmaja, paman Axcel memperbaiki duduknya, dan tampak sangat geram sambil menyeka bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.


"Kenapa diam saja, tidak ada yang membantuku."


"Kamu tahu siapa dia Atman.?" Tanya ayah Axcel datar


"Mana aku tahu, aku baru kembali ke kota S beberapa waktu lalu."


"Revandra Gramentha, pmilik Gramentha Grup, sekaligus penguasa di kota S, dan wanita yang kamu tatap seperti wanita murahan itu adalah istrinya." Jelas Ayah Axcel.


"Sial... kenapa tidak memberitahu dari awal."


"Lain kali, jika ingin menghina, sebaiknya paman harus lihat dulu." Kata Julia menyela.


Gio juga akhirnya mengajak Helen pulang, tapi Julia menahannya. Dia masih ingin menikmati waktu bersama Helen lantaran begitu merindukannya. Terpaksa Gio tetap tinggal.


"Lalu kapan kamu akan menikahiku Axcel.?" Kata Emely.


Axcel berhenti mengunyah.


"Apakah kurang jelas yang aku katakan kemarin.?"


"Apakah juga kerang jelas jawabanku.?"


Pria tua Atmaja langsung emosi karna Emely membicarakan hal itu di saat mereka merasakan kebahagiaan itu, begitu kesalnya, penyakit jantungnya kumat dan di larikan ke rumah sakit.


Axcel dan Julia sangat khawatir. Sementara paman Axcel tersenyum iblis. Axcel dan Julia mengatar pria tua Atmaja ke rumah sakit, dan tinggal untuk menemaninya di sana.


Sedang Gio dan Helen pulang, karna di kediman Atmaja juga tidak ada Julia. Hanya paman Axcel dan Emely yang masih betah berdiam di meja makan menikmati makanan itu.


Di waktu yang bersamaan, di kediaman Mintle, Daniel termenung sendiri lantaran Reyno dan Selly sudah pindah dari rumah itu.


"Kakak Danie...!"


Seseorang memanggilnya, Daniel menoleh ke sumber suara. Dia begitu bahagia kedatangan sepupunya.


"Kakak Daniel aku merindukanmu." Kata Alvaro yang baru saja datang.


"Hampir tiga tahun aku tidak melihatmu, kamu sudah dewasa."


"Sungguh.?"


"Ya... Lalu apa yang membawamu ke kota S.?"


"Ibu memintaku untuk menemanimu, kamu sekarang sudah sendiri di rumah, Ibu juga meminta kakak untuk segera memberiku tempat di perusahaan.!"


"Baik... aku akan mengurus itu."


"Terimah kasih kakak."


Alvaro adalah anak dari bibinya Daniel yang waktu itu tempat Danile di titipkan semasa di New York. Daneil begitu sayang pada sepupunya itu. Seperti rasa sayangnya pada Aliya.


Tiba-tiba ponsel Alvaro berdering, dan meminta waktu untuk menerima panggilan itu sebentar.


"Siapa.?" Tanya Daniel.


"Kekasihku, itu juga yang membuatku datang ke kota S, aku sudah tidak bisa berhubungan jarak jauh lagi."


Satu hal lagi yang ada pada diri Alvaro, yaitu wajahnya begitu mirip dengan Daniel, bahkan siapapun yang melihat mereka, akan mengatakan mereka saudara kembar. Bahkan potongan rambutpun begitu mirip, Hanya saja, Daniel lebih tinggi 3cm dari pada Alvaro.

__ADS_1


Bersambung...


******


__ADS_2