KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Kembali berulah


__ADS_3

"Alleta, apa kamu mendengar suara kakak.?" Tanya Arkana berhenti menarik rambut Alleta, begitupun dengan Alleta.


"Aku juga mendengarnya."


"Alleta, Anastasia.! Arkana Dylan Gtamentha." Teriak Gavano semakin emosi yang berjarak sekitar empat meter dari arah Alleta dan Arkana, namun kedua orang yang diteriaki masih belum sadar juga karna masih belum berbalik ke arah Gavano, mereka masih saling berhadapan sambil menggaruk kepala masing-masing yang tidak terasa gatal.


"Benarkan, aku mendengar suara kakak memanggil kita."


"Aku juga mendengarnya."


Gavano semakin mendekat dan kembali meneriaki kedua orang yang penampilannya sudah acak-acakan.


"Alleta, Arkana.!"


Serentak kedua orang yang bertikai tadi berbalik dan mendapati Gavano sedang marah besar dan menatap mereka dengan tajam.


"Kakak.!"


"Tu..tuan Vano.!"


"Semua ini karna kamu, dasar kodok betina.!"


"Kamu yang terlebih dahulu mengangguku,"


"Kamu.!"


"Kamu.!"


Baru saja hendak saling menerkam, Gavano kembali berteriak, membuat meraka berdua berhenti.


"Kalian berdua. Ikut aku masuk."


Gavano terlebih dahulu masuk ke dalam rumah, sedang Alleta dan Arkana mengekor di belakang lelaki yang sudah emosi itu. Gavano lalu membawa mereka berdua ke perpustakaan yang ada di kediaman itu. Lalu mengambil dua buah buku dari rak kemudian berbalik dan melangkah mendekati istri dan adiknya.


"Kau Alleta, Ringkas isi buku ini, dan kau Arkana.! Hafalkan kalimat yang sudah diberi tanda stabilo di dalam buku ini." Ucap Gavano sambil menyodorkan buku pedoman hidup pada Alleta, dan buku pentingnya ilmu sosial pada Arkana.


Alleta dan Arkan hanya meraih buku yang diberikan pada mereka. Meskipun mereka tidak yakin bisa memenuhi permintaan Gavano, tapi tetap saja tidak ada keberanian untuk menolak.


"Kakak, hari ini aku ada syuting."


"Masalah itu aku akan menghubungi menejermu. Kalian lakukan saja apa yang aku perintahkan, tidak selesai, tidak boleh keluar dari ruangan ini." Ucapnya tegas.


Setelah memberikan buku pada Alleta dan Arkana, lelaki itu kemudian berlalu dan keluar dari ruangan, tapi sebelum itu, Gavano mengambil remot AC yang terletak di meja dan menurunkan suhu AC tersebut, bertujuan menambah hukuman meraka. Dan memasukkan remot AC ke dalam saku celananya.' Biar saja mereka kepanasan.'

__ADS_1


"Nanti siang, pelayan akan mengantarkan makanan pada kalian, ingat jangan meninggalkan ruangan ini sebelum selesai." Yegas Gavanno pada kalimat terakhirnya.


Sebentar setelah Gavano berlalu dan menutup pintu, Arkana melirik Alleta yang lengan baju sebelah kanannya sobek, ditambah lagi dengan sebuah syal yang berkalung di leher Alleta, ia lalu menertawai gadis itu.


"Berhenti menertawaiku."


"Kau seperti itu, mirip gembel. hahahah.!" Ejek Arkana


"Arkana, sebaiknya kamu berkaca dulu.! bukankah kamu lebih parah, lihat saja bajumu. Kau sudah seperti pengemis.!"


"Kamu..."


"Apa.?"


Baru saja mereka mau kembali bercekcok, Gavano kembali membuka pintu dan melihat adik dan istrinya tetap pada aktivitasnya, seperti tidak ada yang terjadi. Baru kemudian lelaki itu mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja, dan kembali keluar tampa berkata apa-apa.


Kembalinya Gavano ke perpustakaan tadi, membuat suasana menjadi tegang, dan kembali rileks setelah Gavano keluar. Tak mau mendapat tambahan hukuman, Arkan dan Alleta tidak lagi melanjutkan percekcokan, mereka berdua lebih memilih melakukan apa yang di perintahkan oleh Gavano, meskipun sebenarnya mereka sudah mulai kepanasan lantaran suhu AC yang rendah. Terlebih lagi dengan Alleta yang mengenakan syal.


Ingin sekali rasanya gadis itu melepaskan syalnya, namun dirinya tak ingin Arkana melihat tanda yang ditinggalkan oleh Gavano, dan pada akhirnya gadis itu memutuskan tetap memakainya, tentunya dengan keringat yang mulai membasahi syal tersebut.


******


"Fia, Faiq..." Panggil Gavano pada si kembar yang sedang asik bermain ditemani para pelayan.


Gavano menggendong kedua anak itu dan membawanya ke sebuah ruangan yang di penuhi barang permainan anak-anak. Barang mainan itu sengaja Gavano sediakan lantaran si kembar memang selalu di titipkan di kediamannya. Tak lupa di ruangan itu juga sudah tersedia sebuah meja dan kursi beserta sofa, tempat Gavano memeriksa pekerjaannya melalui laptop yang ada di meja itu, sambil mengawasi Fia dan Faiq bermain.


"Kakak." Panggil Fia"


"Ya, ada apa sayang.?"


"Kakak cantik yang tidak berpakaian tadi itu siapa.?"


Gavano terkejut, ternyata Fia sempat melihat Alleta yang tidak berpakaian.


"Aku tidak lihat." Sergah Faiq."


"Kalau begitu aku beruntung. heheh.!"


"Kelak kalian harus memanggil kakak itu, kakak ipar, dia istri kakak, namanya Alleta. Apa kalian mengerti sayang.?" Jelas Gavano dengan hati-hati.


"Kakak Vano.!"


"Ada apa Fia.?"

__ADS_1


"Aku juga sering melihat ibu dan ayah tidak berpakaian seperti itu."


"sudah yah Fia, kakak ingin mengecek pekerjaan kakak, kamu lanjutkan bermain saja."


Fia menuruti apa yang dikatakan Gavano padanya, anak perempuan itu, melanjutkan bermain. Berbeda dengan Fia, Faiq cenderung lebih memilih membolak-balik buku-buku yang sengaja Gavano letakkan di ruangan itu. Tidak ada yang tahu, apakah anak itu bisa membacanya atau tidak.


Matahari mulai menenggelamkan sinarnya, senja sudah mualai terlihat di langit yang tadinya cerah, Gavano masih tetap bekerja di depan laptopnya. Sebenarnya hari itu Gavano berencana bekerja di perusahaan, dan menitipkan si kembar pada Alleta, namun Adik dan istrinya justru membuat masalah, yang menjadikan lelaki itu harus bekerja di rumah sambil mengawasi dua anak yang usianya masih lima tahun itu.


Gavano melirik jam di tangannya, dan waktu menunjukan pukul sembilan belas nol nol, lalu beralih pandang pada kedua anak kecil yang sudah tertidur di sofa setelah di berikan makan oleh pelayan. Tentunya Gavano juga tidak melupakan memerintahkan pelayan memberi makan pada Alleta dan Arkana.


Pelan-pelan, lelaki itu menggendong Fia dan Faiq menuju kamar yang sudah di sediakan untuk mereka. Setelah menidurkan Fia dan Faiq, Gavano keluar dan berjalan melewati ruangan di mana dirinya menghukum adik dan istrinya.


Gavano membuka pintu ruangan itu, dan mendapati Arkana dan Alleta sudah tertidur, perlahan lelaki itu mendekati Alleta dan melepaskan syal yang ada di lehernya, karna capek seharian meringkas isi buku, Alleta tidak merasakan syal itu sudah tidak berada di lehernya.


Tatapan Gavano pada Alleta seketika berubah menjadi lembut. lelaki itu membawa Alleta keluar meninggalkan Arkana yang juga sudah tertidur lelap tampa mandi seharian, dan mengeluarkan remot AC dari saku celananya kemudian menambah suhu agar Arkana tidak kepanasan. Di perpustakaan juga sudah ada toiletnya, jadi jika Arkana dan Alleta seharian berada dalam perpustakaan, itu tidak ada masalah jika sewaktu-waktu mereka memerlukan toilet.


Di kamar Gavano meletakkan tubuh Alleta dengan perlahan, takut jika gadis itu terbangun, Ia lalu duduk di tepi pembaringan sambil menatap wajah cantik istrinya seraya mengelus pipi mulus Alleta dan membelai rambut yang acak-acakan karna Arkana berulang kali menjambaknya.


Tatapan Gavano semakin lembut, tak butuh waktu lama bagi Gavano untuk menjatuhkan sebuah ciuman hangat di bibir gadis itu, m*lumatnya dengan sangat hati-hati dan lembut.


"Ugh...!" Leguh Alleta dalam tidurnya karna gadis itu merasakan ada sesuatu yang menimpa bibir mungilnya, namun ia tidak terbangun.


Alih-alih menghentikan l*matannya, Gavano justru meremas d*da kenyal Alleta. 'Sial, aku tidak bisa berhenti' Ucap Gavano dalam hati yang sudah mulai bergejolak, dan sesuatu di balik celananya mulai menegang.


"Ah...!" Desah Alleta, gadis itu tetap terlelap.


Mendengar ******* Alleta yang terasa berat, Gavano menghentikan kegilaannya.


"Tidak,! aku harus berhenti, gadis ini kelihatannya sangat lelah setelah semalaman membiarkanku m*nggaulinya sampai aku puas, ditambah dengan hukuman yang ku berikan padanya. Sebaiknya aku mandi air dingin."


Satu jam berada di kamar mandi untuk menghilangkan gairahnya, Gavano keluar dan kembali duduk di samping Alleta, menyapu pandang tubuh Alleta, hingga pandangannya tertuju pada lengan baju yang sobek.


"Entah ada masalah apa di antara kalian berdua. Jujur saja, aku sangat pusing dengang kelakuan kalian." Keluh Gavano.


Alleta tiba-tiba berganti posisi membelakangi Gavano, hingga tanda lahir cantik yang seperti tatto kupu-kupu di lehernya tetlihat oleh Gavano


"Andai saja mereka tau kau ada di sini bersamaku"


Bersambung....


*****


...TANDA LAHIR ALLETA...

__ADS_1



__ADS_2