
Suasana malam yang begitu gelap dan dingin. Hembusan angin malam menerobos masuk ke dalam jendela jendela rumah.
Ze Arrabella, putri pertama keluarga Ze yang memiliki pesona kecantikan juga kelembutan hati. Arra sangat pandai dalam pelajaran dan sering mendapatkan prestasi. Orang tuanya sangat bangga karena kecerdasan putrinya.
Arra duduk di kamarnya sambil membaca novel novel yang ia beli tadi pagi. Arra hampir bosan dirumah karena libur panjang kelulusan.
"Tok.. tok.. tok.." terdengar suara ketukan pintu dari kamar Arra.
"Arra, kamu ada didalam?" ternyata Mama Arra yang mengetuk pintu.
"Iya Ma aku ada didalam, ada apa?" Arra berjalan mendekati pintu dan membukanya.
"Cepat persiapkan barang barangmu, sebentar lagi kita akan berangkat ke Amerika!"
"Hah? Amerika? Kenapa perginya mendadak Ma?"
"Iya Mama tahu ini sangat mendadak, tapi ini benar benar sangat penting. Ada beberapa urusan yang harus Mama dan Papa lakukan disana. Kamu juga akan bertemu dengan saudari mu bukan? Ayo cepat bersiap!"
Mama dan Papa Arra terlihat gugup dan mempercepat membereskan barang barang nya. Arra pun bergegas mempersiapkan semuanya. Ia sangat bersemangat karena akan bertemu dengan saudari kembarnya, Ze Ariabella.
Arra dan Aria adalah saudara kembar. Namun, karena ada beberapa masalah, Arra dan Aria harus terpisah. Mama dan Papanya membawa Arra pergi menjalankan tugas di Indonesia. Sementara Aria tetap di Amerika bersama Kakek dan Neneknya.
Setelah semuanya siap, Arra dan orang tuanya pergi menuju bandara dan langsung berangkat ke Amerika
****
__ADS_1
Amerika
Arra sangat bahagia, ia senang akhirnya kembali ke kampung halamannya. Arra hanya beberapa tahun berada di Amerika sewaktu kecil. Ia sangat takjub melihat pemandangan yang ada di kampung halamannya.
Rumah Kakek dan Nenek nya sangatlah besar bagai istana. Wajar saja Arra memang lah terlahir di kalangan orang kaya. Orang tuanya adalah pemilik perusahaan terbesar di Amerika.
Penjaga membukakan pintu rumah dan mereka pun langsung masuk. Terlihat Kakek, Nenek dan saudari nya duduk di sofa. Arra senang akhirnya bisa bertemu dengan mereka.
"Anak dan cucuku akhirnya kalian kembali" sahut Kakek dari sofa tempat ia duduk.
"Mari duduk dulu" ujar Nenek sambil tersenyum manis.
"Aria, kamu sudah besar sekarang. Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Mama kepada Aria.
"Baik" Aria hanya menjawab singkat.
"Aria, bawa Arra ke kamar dulu dan beres beres" pinta Nenek.
Aria pun membawa Arra menuju kamarnya. Sampai di kamar, Arra langsung membereskan barang bawaannya.
"Wah.. Aria kamu ternyata mahir dalam ilmu bela diri? Hebatt!" Arra terkagum kagum pada saudari kembarnya yang mahir dalam ilmu bela diri.
"Cepat tunjukkan padaku bagaimana kamu meninju, memukul, dan menendang orang orang jahat!"
"Biasa biasa saja" lagi lagi Aria membalas dengan cuek.
__ADS_1
"Hey kamu ini berkepribadian dingin sekali, aku ini saudari mu loh.." Arra menjawab dengan cemberut.
"Lalu?" Aria berkata serambi duduk di jendela.
"Aduh.. Aku kira kamu orang yang humoris dan bersemangat. Tapi ternyata dingin dan cuek" gumam Arra sambil menepuk jidat nya.
"Hey Arra, bagaimana sikap Mama dan Papa terhadapmu?" Aria bertanya sambil melihat ke arah langit.
"Hmm? Oh ya semasa kecil kan Aria tidak pernah merasakan kehangatan Mama dan Papa.." gumam Arra dalam hati.
"Mama dan Papa adalah orang yang tegas dan berpendirian kuat. Namun mereka sangatlah penuh kasih sayang. Kamu akan segera merasakannya Aria.."
"Semoga"
"Aku tahu kamu belum pernah merasakan belaian Mama dan Papa. Kamu pasti selalu menantikan nya.." Arra berjalan mendekat menuju Aria.
"Tidak" Aria berjalan keluar kamar meninggalkan Arra sendiri.
"Aria..." Arra merasa sedih melihat saudarinya terpuruk karena kehilangan waktu berharga bersama Mama dan Papanya.
"Seandainya Aria adalah aku, aku pasti akan sedih terus menerus tanpa adanya orang tua yang merawatku dengan hangat. Sedangkan Aria, ia menjadi gadis tangguh, kuat, dan mandiri. Aria.. Seberapa terpuruk nya dirimu selama ini.." Air mata Arra menetes tak tertahan.
Selesai membereskan barang-barang, Arra langsung berbaring di kasur dan ketiduran. Ia bermimpi melihat seseorang berjalan didepan nya. Dari belakang ia terlihat seperti laki laki. Tatapan Arra semakin lama semakin pudar.
"Gadis kecil, kamu sudah tumbuh besar sekarang. Tunggu aku nanti, aku akan membawamu ketempat yang kau minta hari itu." ia tersenyum kepada Arra lalu menghilang.
__ADS_1
Ara terkejut dan langsung bangun. Ia sama sekali tidak mengingat pernah bertemu dengannya.
"Pusing sekali.." Arra memegang kepalanya dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Ia masih kebingungan dengan mimpi yang ia alami barusan.