
“Ajarkan aku untuk menjadi seorang istri yang taat akan perintahmu dan yang taat akan agama ... agar kita bisa hidup sesurga.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha tidak mendapati Dimas di ruangan itu. Tapi sebuah plastik bekas bungkus cilok telah dilempar begitu saja dari balik kursi yang memiliki sandaran tinggi.
Sontak Dimas terkejut saat Aletha tahu tingkah absurd nya. Dimana ia akan memakan cilok dengan sambal pedas untuk menghilangkan rasa suntuk yang membuat penat kepalanya.
“Maafkan aku, Al. Kamu bisa ikut makan jika ingin cilok.” Dimas menyodorkan satu bungkus cilok.
“Heee.... tidak, terima kasih. Saya datang kesini ingin melaporkan data pasien yang harus diberikan perawatan di rumah sakit Bapak, rumah sakit Relawan.”
“Baiklah, aku akan atur segera. Apa... ada lagi yang perlu dibicarakan?” tanya Dimas seraya mengunyah cilok yang masih tersisa di mulutnya.
”Saya rasa tidak ada, Pak. Kalau begitu saya permisi!”
Aletha menundukkan kepalanya sejenak, lalu melangkah pergi dan kembali bertugas. Karena harus menjalani tugas di ruang operasi bersama Ilham dan dua dokter junior.
‘Hatimu... memang hanya untuknya, Al. Aku tak akan pernah berarti apapun di mata kamu. Tapi hanya satu do'a ku, semoga kau tetap bersinar.’
Dimas menatap punggung Aletha yang kian menghilang.
Aletha meminta perawat operasi jantung untuk. menyiapkan peralatan yang dibutuhkan sebelum operasi dilangsungkan. Dan operasi kali ini hanya membutuhkan waktu tiga jam lamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kita berlima harus berada di titik yang berbeda. Misi kali ini tidak boleh gagal, kita harus bisa menangkap penjahat itu. Tanpa kita sadari kita telah tertipu dengan Bayu.”
Kasus bandar narkoba dan pembunuhan wanita untuk diambil organ nya masih meraja lela. Bukan Bayu ketua dari tim pelaksana itu dan masih belum terungkap siapa bos besar mereka.
Kasus yang harus dijalani Keenan kali ini begitu rumit, bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Belum mendapatkan titik temu dimana keberadaan bos besar mereka.
“Apa kita akan ditugaskan ke luar kota atau... ke luar negeri? Seperti kita mendapatkan keberadaan Bayu di Afrika kemaren?”
”Kita harus mencoba dengan patroli malam lagi, jika kita tidak mendapatkan titik temu di sini... maka kita akan merundingkan lagi dengan Brigadir.” terang Keenan yang mengakhiri rapat pasukan berani mati.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, dan tepat di jam itu Aletha beserta tim medis sudah menuntaskan tugas mereka di ruang operasi. Dan operasi kali ini tetap membuahkan hasil yang sama, keberhasilan dalam setiap penanganan.
Aletha melepaskan sarum tangan nya, lalu mencuci tangan dan berlanjut berganti pakaian. Selepas berganti pakaian ia memutuskan untuk pergi ke mushola rumah sakit dan menunaikan ibadah sholat dzuhur. Karena waktu yang ditentukan untuk sholat dzuhur hanya sekitar tiga jam saja. Dan Aletha tidak mau melewatkan waktu itu.
“Ya Allah... Ya Tuhanku, terima kasih hamba ucapkan kepada Engkau yang telah memberikan kesempatan kepada hamba untuk menjadi seorang yang lebih baik lagi. Lewat kehadiran Aa' Keenan, yang kini menjadi suami hamba ... kini hamba tahu bagaimana dosa itu tercipta. Bagaimana Engkau Tuhan yang selalu memberi ampunan kepada setiap umat-Nya.”
”Ya Allah... semoga Engkau selalu menjaga Aa' Keenan. Permudahkanlah dalam setiap langkahnya saat menjalankan misi untuk melindungi Ibu Pertiwi. Aamiin...”
Aletha menitihkan air matanya saat mukena berwarna putih masih membalut tubuhnya.
“Dokter Aletha...” teriak dokter Karina.
“Iya, ada apa Dokter Karina?”
“Apa Dokter Aletha sudah makan siang?”
“Belum.” Aletha menggeleng. “Memangnya ada apa, Dok?”
__ADS_1
Niat hati Karina ingin mengajak Aletha makan siang bersamanya di sebuah kafe dekat rumah sakit tempat mereka bekerja. Dan Maxx Coffee lah yang dekat dengan rumah sakit Siloam Hospitals.
Dan Aletha tidak enak rasanya jika menolak ajakan dokter junior itu, takutnya akan di cap sebagai dokter yang sombong dan angkuh. Meksipun itu adalah dirinya yang dulu, tetapi setelah mendapatkan tambatan hati yang mampu dijadikan sebagai sandaran, Aletha merubah sikapnya.
“Baiklah, kita kesana ...”
”Kita jalan kaki saja, itupun... kalau Dokter Aletha mau.”
Aletha cukup tertarik dengan ajakan Karina, berjalan kaki adalah salah satu olahraga yang akan menjaga otot tulang kaki. Jadi, tak ada salahnya jika menerima ajakan Karina lagi.
Aletha dan Karina berjalan bersisihan, yang membuat rasa bahagia telah menbuncah dada Karina. Karena ia bisa berjalan bersisihan dengan dokter yang selama ini ia kagumi. Banyak hal yang membuat Karina merasa ngefans bahkan bisa dibilang Karina penggemar Aletha.
“Dok, Dokter itu... cantik dan keren. Saya, suka dengan Dokter.”
Aletha terkekeh, seolah ia tengah merasa ada seseorang yang menyatakan cinta kepadanya.
“Maaf sebelumnya, Dokter Karina... normal, kan? Maksudnya... tidak suka dengan sejenis?” tanya Aletha merasa heran.
“Iya... Saya nomal kok, Dok. Tapi bukan itu maksud saya, hanya saja saya kagum dengan Anda, Dok. Selain cantik dan jenius, dokter keren dalam operasi dan juga dunia kemiliteran.” Karina berdecak kagum.
Obrolan ringan bergulir begitu saja menemani waktu mereka saat masih menyeduh kopi dan memakan makanan ringan yang sudah mereka pesan tadi. Dan pertemuan itu membuat Karina mengerti akan banyak hal seperti yang sudah di alami oleh Aletha. Sebagai dokter ahli bedah jantung adalah cita-citanya, tetapi darah yang mengalir di dalam tubuh Aletha... ada darah yang mengalir dari seorang tentara sejati.
Ketajaman mata pun dimilikinya, sehingga dengan cepat ia dapat menyelesaikan operasi sesulit apapun itu. Bahkan nama Aletha melejit setelah menjadi dokter relawan di Mercy Ship beberapa bukan lalu. Sehingga kini ia dikagumi oleh dokter junior yang baru magang di rumah sakit Siloam Hospitals dan juga pasien yang di rawat maupun hanya berobat.
“Sebenarnya menjadi dokter itu memang tidak mudah. Njelimet dengan berbagai peralatan, benda kimia, harus belajar data pasien dengan benar dan juga... sabar. Itu kunci utama seorang dokter yang mampu memberikan kenyamanan terhadap pasien.”
“Tetaplah bersinar seperti cahaya mentari. Tetaplah bersinar seperti cahaya lampu, meskipun sekecil apapun lampu itu jika bersinar dengan terang maka akan memberikan keindahan dan kenyamanan orang itu sendiri, seperti lampu lentera.”
Karina manggut-manggut, ia memahami maksud Aletha. Meskipun panjang dan datar, tetapi begitu mudah untuk memahami nya dan juga mendapatkan kunci jawabannya.
Mungkin ada kali ya dokter model begitu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak terasa hari sudah berganti sore, Aletha sudah waktunya untuk kembali pulang. Karena jaga shift nya sudah berakhir. Namun, saat menghubungi nomor Keenan justru tidak ada jawaban.
‘Mungkin... Aa' lagi sibuk tugas. Apa sebaiknya aku panggil taxi online saja, ya.’
Aletha memencet nomor taxi online yang akan menjadi kendaraannya untuk pulang. Tetapi sebelum memesan taxi tersebut, ada sebuah motor sport yang berhenti di hadapannya.
“Aa'...” pekik Aletha setelah tahu siapa pengendara motor sport itu.
“Assalamu'alaikum, Neng Aletha.”
“Wa'alaikumsalam, Aa'.”
Dengan segera Aletha meraih tangan Keenan untuk menciun punggung tangannya. Keenan pun membalas apa yang dilakukan Aletha, seperti biasa mencium kening Aletha dengan lembut.
“Aa', ini motor siapa? Baru... beli atau... baru minjem?”
“Hiks...”
Seketika Keenan meraba dadanya saat kalimat terakhir Aletha menghunus hatinya. Mungkin dilontarkan secara halus, tapi tetap saja terasa sakit.
__ADS_1
“Ini... hadiah dari Papa Bagas Kara. Bagus kan?”
“Waw... Aa', ini memang bagus loh. Tapi... dalam rangka apa kok Papa memberi hadiah?”
“Dalam rangka... Aa' harus bertugas ke luar kota, Neng.”
Seketika Aletha menatap Keenan dengan mata tajamnya. Binar mata Aletha meminta kejelasan akan tugas Keenan yang mendadak. Haruskah perpisahan kembali terjadi setelah pernikahan sudah dilangsungkan.
Aletha tidak mau membahas tugas itu. Yang Aletha inginkan hanya menikmati masa berdua sebelum Keenan berangkat yang entah kapan jadwal itu ditetapkan.
“Ajarkan aku untuk menjadi seorang istri yang taat akan perintahmu dan yang taat akan agama ... agar kita bisa hidup sesurga.” Ujar Aletha setelah meminta Keenan menghentikan motor sport di depan mall.
“Aku akan mengajarkan hal itu, Neng. Itu wajib bagi Aa' sebagai seorang kepala rumah tangga. Tapi untuk apa Neng minta Aa' berhenti disini? Apa Neng mau beli sesuatu, hmm?”
“Neng... mu berhijab dan memakai gamis. Boleh kan, Neng beli beberapa gamis dan hijab itu?”
“Tentu.” Keenan mengangguk.
Dengan semangat dan antusias yang tinggi Aletha menarik lengan Keenan menuju ke sebuah toko yang hanya menjual baju gamis dan jilbab. Beberapa kali Aletha meminta pendapat tentang baju yang ia pilih. Dan seringkali Keenan memberi anggukan untuk memgiyakannya.
Setelah puas membeli beberapa pakaian dan jilbab, kini waktunya ke sesi mengisi perut. Karena Aletha tiba-tiba merasa sangat lapar. Namun Aletha tidak ingin makan di mall itu, dan ia memilih untuk makan di warung seblak ceker sayap mercon "86".
“Neng, ini hampir maghrib. Bagaimana kalau bingkus saja makannya? Lagipula kita belum mandi loh dari tadi.”
Aletha mengangguk dengan terpaksa, karena di dasar hatinya iangin sekali ia makan di warung itu secara langsung. Namun, apa yang dikatakan Keenan ada benarnya juga, ia tidak ingin meninggalkan sholat. Sedangkan waktu maghrib hanya sedikit, hanya setengah jam saja.
“Neng mau mandi dulu kalau begitu, sekalian nanti Neng siapin air hangatnya untuk Aa'.”
Keenan mengangguk. Dan duduk di sofa sembari menyusun strategi untuk misi yang akan dijalankan. Misi rahasia, hanya dilakukan oleh pasukan berani mati saja.
“Aa', air hangatnya sudah siap. Mandi sana gih, Neng tunggu untuk sholat maghrib berjamaah.”
“Ya sudah, Aa' mandi dulu sebentar.”
Setelah memakai baju koko dengan sarung beserta peci, Keenan lanjut membentangkan sajadah yang diikuti Aletha dari belakang sisi kiri.
Dan tiga rakaat pun telah mereka tunaikan bersama.
Makan malam telah digelar hanya dua orang saja sebagai penghuni di meja makan. Seblak ceker adalah menu makan malam Aletha dan Keenan. Terlihat dengan jelas dalam setiap suapan Aletha menikmati dengan penuh rasa syukur.
“Apa senikmat itu Neng, hmm?” tanya Keenan karena heran.
Aletha hanya mengangguk, lalu kembali menyuap seblak ceker yang super pedas itu. Sedangkan Keenan, ia menyudahi makannya karena ia tidak kuat akan rasa pedas bak mercon, sesuai dengan nama warungnya.
Setelah usai makan malam tak lupa keduanya mengucapkan hamdalah.
“Alhamdulillah...” ujar keduanya bersamaan.
Tepat pukul delapan Aletha membantu Keenan untuk menyiapkan apa saja yang diperlukan saat berada di luar kota. Karena sehabis subuh Keenan harus sudah berada di markas Taruna untuk melakukan absen. Jika tidak dipersiapkan malam hari maka akan tergesa-gesa di pagi harinya.
“Meskipun Aa' sedang bertugas di luar kota, Aa' minta kepada Neng untuk tetap bersinar terang seperti mentari. Menebar senyum seperti senyum pepsodent, biar gigi mengering pun jangan diperdulikan.”
Aletha seketika tertawa lepas, ia tidak bisa menahan tawanya saat Keenan meminta untuk terus senyum unjuk gigi. Yang ada malah di sangka gila, dokter yang tidak waras sudah nyasar di bagian dokter ahli bedah jantung.
__ADS_1
Bersambung...