Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 89 “Tingkah Absurd Dimas”


__ADS_3

“Istri yang sholah tidak perlu cantik di mata semua orang. Istri yang sholeh itu... harus bisa memahami keinginan suami, jika dilarang tidak perlu dilakukan. Cukup melakukan apa yang di iyakan untuk mendapatkan ridho nya. Karena surga seorang istri ada pada suami.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aku benar-benar patah hati, Al. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kenyataan ini, bahwa kamu sudah dimiliki oleh lelaki lain. Haruskah malam ini aku...”


Malam itu tepat pukul tujuh, Dimas berdiri di sebuah jembatan dan seakan siap untuk melompat. Kakinya menaiki tiang jembatan, bersiap untuk segera terjun ke sungai yang arusnya cukup deras.


“Jika aku tidak bisa memilikimu, aku akan melompat saja. Lebih baik aku mati daripada melihatmu dengan lelaki itu, Al. Hiks... hiks...”


“Satu...”


“Dua...”


“Tiga...”


Dimas melompati tiang itu, tetapi saat tubuhnya bersiap untuk terjun seseorang menahannya dengan menarik kemeja yang dipakai malam itu.


‘Kenapa seperti ada yang menarik bajuku?’ batin Dimas.


Benar-benar tingkah absurd dari orang ternama.


“Kenapa Anda melakukan ini? Bukankah Anda direktur utama dari rumah sakit Siloam Hospitals?” tanya Keenan seusai menarik tubuh Dimas ke sisi jembatan.


Mata Dimas terbelalak dengan lebar, ia tidak tahu jika aksi bunuh dirinya telah diketahui oleh beberapa tentara yang beejaga malam di sekitar sana. Dan ingin rasanya Dimas menenggelamkan wajahnya ke bumi setelah tahu Keenan lah yang menariknya ke sisi jembatan.


Dimas hanya diam saat Keenan melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya. Bukan tak ingin menjawab, tapi jika Dimas mengaku kepada Keenan bahwa ia tengah merasa cemburu buta atas pernikahan Aletha dengan Keenan maka saat itu juga bisa saja Keenan membuatnya hanya tinggal nama.


“Baiklah, jika tidak mau menjawab tak apa. Saya juga tidak akan memaksa. Tapi saya mohon, jangan persulit tugas kami hanya dengan meladeni Anda. Permisi!”


Keenan dan pasukan berani mati kembali berpatroli. Saat Keenan menaiki motor CBR cc seribu miliknya tiba-tiba Dimas ikut naik di bangku belakang. Membuat Keenan merasa heran dengan tingkah absurd pemilik rumah sakit tempat istrinya bekerja.


“Kenapa Anda ikut naik? Saya itu mau berpatroli malam.” Tegas Keenan.


“Saya ingin ikut dengan Anda. Namaku Dimas, namamu Kapten Keenan, kan? Tolong ijinkan aku ikut denganmu.”


”Turun. Saya tidak punya banyak waktu meladeni Anda.”


“Tidak mau. Saya ikut denganmu, berpatroli malam.” Dimas terus bersikukuh ingin ikut Keenan berpatroli malam.


Keenan mendesah kesal, ia sebenarnya tidak mau membawa warga sipil saat melakukan patroli malam. Akan merepotkan jika ada yang mencurigakan saat berpatroli, apalagi warga sipil tidak mengerti bagaimana strategi pasukan berani mati.


Dimas yang tetap tidak mau turun dari motor Keenan, mau tidak mau Keenan pun harus membawa Dimas saat berpatroli malam. Bahkan setelah usai berpatroli saja Dimas tetap tidak mau turun dari motornya.


”Ini sudah jam tiga malam. Anda sudah ikut dengan saya berjam-jam, masa iya mau nampol terus sama saya? Saya masih waras, Pak.” Cicit Keenan.


“Saya ingin ikut kamu pulang ke rumah kamu. Ijinkan aku untuk ikut denganmu, saya mohon!”


Keenan mengusap wajahnya gusar, ia benar-benar tidak habis pikir dan tidak tahu bagaimana jalan pikir seorang direktur yang jelas berbeda dengan tentara. Dan biarpun Keenan menolak pasti hasilnya nihil, Dimas akan tetap bersikukuh ikut dengannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Sudah jam tiga, hampir jam setengah empat. Kenapa Aa' Keenan belum pulang juga ya?”

__ADS_1


“Brummmm... Brummm...”


Aletha akhirnya mendengar deru motor Keenan yang memakirkan motornya di garasi. Karena Aletha sudah bangun sedari jam tiga tadi dan saat ini melakukan tugas di dapur, tetapi setelah mendengar deru motor Keenan seketika ia menghentikan aktivitas nya untuk menyambut Keenan.


“Aa', sudah pulang.” Sapa Aletha dengan lembut.


Aletha meraih tangan Keenan untuk mencium punggung tangannya. Begitupun dengan Keenan yang mengecup kening Aletha sebagai tanda kasih sayang seorang suami terhadap istri. Namun, saat Aletha menyadari keberadaan Dimas di sana sontak ia dibuat terkejut.


“Kamu? Kenapa Aa' bisa bersama pak Dimas?”


“Ceritanya panjang Neng. Coba tanya saja sama nih orang, Aa' mau mandi dulu.” Keenan mengusap lembut puncak kepala Aletha.


Aletha meminta Dimas untuk masuk ke rumahnya. Untung saja Aletha sudah pindah ke rumahnya sendiri, sehingga tidak ada Bagas Kara maupun Garda di sana yang siap menodongkan pistol saat orang bersikap absurd seperti Dimas bertamu di rumahnya.


“Mau minum apa, Pak? Tapi kebetulan di rumah saya tidak ada buah-buahan, tidak menyediakan kopi ataupun teh, karena kami baru pindahan. Hanya ada... air putih.” Aletha nyengir.


“E... air putih saja.”


Begitu dong Dimas, tahu diri dikit kalau mau bertamu? Lihat waktu, malu kan kalau cuma disuguhi air putih doang. Wkwkwk...


“Aa', ceritain dong kenapa bisa tuh orang semprul ikut dengan Aa'? Mana ikut pulang segala lagi, ganggu orang saja.” Ketus Aletha.


“Neng... tidak baik berkata seperti itu, apalagi Dia atasan Neng di rumah sakit. Kalau Neng dipecat bagaimana?”


“Neng tidak takut dipecat, Aa'. Neng saja suka risih jika bertemu sama Dia...”


Aletha menceritakan kejadian saat di rumah sakit kepada Keenan. Karena Aletha tidak mau jika Keenan akan salah paham saat tidak sengaja melihatnya bersama Dimas. Namun, Keenan hanya terkekeh geli saat mendengar celoteh panjang Aletha.


Sedangkan Aletha terlihat jelas tengah menampakkan wajah kesalnya saat nama Dimas tetus ia sebut. Apalagi saat mengingat rasa cemburu yang ujungnya membuat Dimas malu atas kecemburuan nya itu.


“Istri yang sholah tidak perlu cantik di mata semua orang. Istri yang sholeh itu... harus bisa memahami keinginan suami, jika dilarang tidak perlu dilakukan. Cukup melakukan apa yang di iyakan untuk mendapatkan ridho nya. Karena surga seorang istri ada pada suami.”


Keenan tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Aletha. Sedikit perubahan Aletha sudah mulai kentara, bangun tidak kesiangan sehingga Aletha bisa menjalankan tugasnya sebagai umat muslim yang taat. Namun Aletha harus berlajar terus karena manusia akan selalu ada banyak kurangnya.


Dan Aletha masih berceloteh panjang hingga adzan subuh pun telah berkumandang, sehingga Keenan tidak ada waktu untuk sekedar memejamkan matanya. Namun hal itulah yang membuat Keenan suka, karena mendengar celoteh panjang seorang istri adalah hal yang bisa menghargai istri.


“Kita sholat berjamaah ya, Neng.” Ajak Keenan.


Aletha hanya mengangguk, karena kesempatan seperti itu tidak akan bisa terulang lagi jika keduanya akan sibuk bertugas dalam bidang masing-masing.


Dua sajadah telah dibentangkan. Aletha pun mengikuti Keenan yang sebagai imam. Dan saat melangitkan do'a tangan Aletha menengadah, mengaminkan setiap do'a dari Keenan.


“Bismillah... Walqoytu a'laika mahabbatam minii wa litusna'a 'alaa 'aini.”


“Do'a apa itu Aa’?” tanya Aletha dengan nada manja.


”Doa meminta kepada Allah agar istri Aa' ini setia pada Aa'.”


“Dan artinya... ’Aku telah memberikan kepada-Mu sebuah kasih dan sayang yang datang dari-Ku, dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.’ Neng suka tak dengan do'anya?”


Aletha mengangguk, lalu Aletha merebahkan kepalanya di atas pangkuan Keenan dengan masih berbalut mukena putih yang ia kenakan. Dan pagi itu Aletha bergelayut manja, tapi hal itu membuat Keenan menyukainya.


Beberapa kali Keenan menguap, karena dari semalam ia belum menyempatkan diri untuk memejamkan mata beberapa menit saja. Namun rasa kantuk ia tahan, demi menjaga perasaan Aletha yang masih ingin dibelai manja dengan kasih sayangnya.

__ADS_1


“Aa'... Aa' tidak mau...” Aletha menggantungkan ucapannya ke udara.


“Mau apa, hmm?” Keenan menatap mata Aletha yang berbinar.


“Mau... berkembang biak.” Ujar Aletha dengan malu-malu.


Keenan tekekeh geli saat mendengar bisikan Aletha yang membuat tubuh Keenan seketika berdesir hebat. Ada aura panas yang membuat Keenan tidak bisa menahannya. Sehingga sebelum fajar menyingsing Keenan melakukan aksinya.


SENSOR... SENSOR... SENSOR...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


”Kenapa nih orang semprul malah tidur di sofa?”


Aletha melihat Dimas yang tertidur di atas sofa ruang tamu. Dan tingkah Dimas yang Absurd membuat Aletha semakin tidak suka saja dengannya. Apalagi melihat Dimas yang tidur dengan kaki kanan di atas dan sedangkan kaki kirinya berada di bawah. Bahkan dengkuran pun terdengar begitu keras, membuat Aletha merasa geli sendiri dengan tingkah Dimas.


“Bangun woi... pak direktur.” teriak Aletha.


“Biar Aa' saja yang membangunkannya, Neng.”


Aletha mundur dari sisi kanan sofa. Lalu beranjak ke dapur untuk menghidangkan makanan yang sudah di masak tadi ke atas meja makan. Sedangkan Keenan harus melakukan taktik kecil saat ingin membangunkan direktur rumah sakit yang terhormat.


“Pak... cepat bangun! Ada gempa besar!”


Keenan menggoyangkan tubuh Dimas dengan kasar. Sehingga membuat Dimas seketika terbangun dan beranjak dari sofa, lalu berlari dan keluar dari rumah Aletha. Dan setelah melihat Dimas lari terbirit-birit keluar, seketika itu Keenan mengunci pintu utama.


Keenan teekekeh geli, mungkin hal itu adalah kesalahan besar. Akan tetapi sesekali Dimas harus diberi pelajaran, agar tidak melakukan hal itu lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aa' bertugas lagi ya, Neng.”


“Iya Aa', hati-hati ya saat bertugas. Jangan kelayapan matanya, awas saja kalau Neng lihat.”


Keenan terkekeh, baru kali ini ada seorang wanita yang merasa cemburu saat ia melakukan tugas. Apalagi wanita itu adalah dokter yang terkenal akan kecantikannya, kejeniusan nya dan juga dokter yang namanya terpatri di hatinya.


“Ke, kita akan melakukan pembedahan di jam sembilan. Siapkan dokter junior untuk ikut menjalankan operasi. Karena mereka di bawah naungan mu.”


“Baiklah, aku akan siapkan. Perlukah mereka di breafeng terlebih dahulu?” tanya Aletha


”Aku rasa tidak, mereka pasti sudah tahu.”


Aletha manggut-manggut, membenarkan apa yang dikatakan Ilham. Dan selama Maya mengandung anak ke dua, ia mengundurkan diri dari ruang operasi. Sehingga Aletha harus memulai merekrut anggota baru dari dokter junior untuk melakukan tim pembedahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aletha membawa beberapa data pasien yang membutuhkan bantuan dana dalam perawatan ke ruangan Dimas. Sekitar sepuluh orang yang membutuhkan bantuan dana, dan pasien itu akan dialihkan ke jalur relawan. Di mana Dimas telah membangun rumah sakit kecil yang dinamakan rumah sakit relawan. Di sana ada beberapa dokter bedah jantung dan beberapa dokter bedah syaraf yang dipekerjakan di sana.


“Tok... tok...”


Aletha mengetuk pelan pintu ruangan Dimas.


“Kenapa ada plastik yang berserakan? Dan sepertinya... bekas bungkus cilok. Masa iya Dimas suka makan cilok, kayak anak kecil saja.”

__ADS_1


Aletha tidak mendapati Dimas di ruangan itu. Tapi sebuah plastik bekas bungkus cilok telah dilempar begitu saja dari balik kursi yang memiliki sandaran tinggi.


Sontak Dimas terkejut saat Aletha tahu tingkah absurd nya. Dimana ia akan memakan cilok dengan sambal pedas untuk menghilangkan rasa suntuk yang membuat penat kepalanya.


__ADS_2