
Ayunda berdiri di balkon yang ada di kamarnya, tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang hanya duduk merenungi apakah keputusannya kemarin untuk menerima lamaran Nathan adalah benar.
Keputusannya pasti akan menyakitkan Erick yang selama ini sudah mencintainya, namun dukungan semua keluarga besarnya yang membuat dia mengambil keputusan itu.
"Kak Erick maafkan aku, ini akan menyakitkan untuk kita tapi aku tidak bisa menolak keinginan keluarga besarku" Ayunda menitikkan air matanya, selama ini Erick yang selalu menemaninya dalam suka dan duka, walau dia terlambat menyadari ada cintanya untuk Erick.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" suara Nathan mengejutkan Ayunda.
"Tidak ada" jawab Ayunda dan segera menghapus buliran air matanya yang tersisa.
Nathan mendekati Ayunda dan memeluk calon istrinya itu dari belakang, tinggi Ayunda yang hanya sebahu Nathan membuatnya dengan mudah mengecupi pucuk kepala Ayunda, menikmati wangi bunga yang melekat dirambut gadis yang mencuri hatinya.
"Aku harus kembali ke Singapura, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan sebelum hari pernikahan kita" ucap Nathan tanpa melepaskan pelukannya.
"Lakukan saja pekerjaan abang seperti biasanya, jangan terlalu memikirkan tentang pernikahan kita" jawab Ayunda yang masih mencoba menetralkan perasaanya yang baru saja memikirkan Erick. Ayunda tidak ingin Nathan mengetahuinya, cukup jadi rahasia dia dan Erick.
"Bukan pernikahan kita yang aku pikirkan, sudah ada oma dan mama kita berdua yang mengurusnya" jawab Nathan.
"Tapi kamu, calon istriku" bisik Nathan sambil memeluk erat Ayunda.
"Abang pasti akan merindukanmu" kecup nathan di pipi Ayunda yang hanya diam, tidak ada niat Ayunda untuk menanggapi ucapan Nathan.
Nathan yang dulu dia kenal sangat berbeda dengan sekarang, dia yang selalu membuat Ayunda marah dan benci padanya bahkan seringkali laki-laki ini melukainya, kini memperlakukannya dengan penuh kelembutan dan cinta.
"Cinta? Benarkah?" itu yang selalu dia pikirkan, terkadang dia tidak percaya dengan ungkapan Cinta Nathan, benarkah laki-laki yang dulu selalu usil bahkan sering membuatnya celaka ini jatuh cinta padanya.
Ayunda membalikkan tubuhnya menghadap Nathan setelah merasa hatinya sudah lebih baik, ditatapnya Nathan untuk meyakinkan hatinya yang juga menatapnya. Pandangan mereka terkunci lalu semua terjadi begitu saja, terbawa persaan dan... keduanya mengakhiri tautan bibir mereka setelah kehabisan napas.
"Aku mencintaimu" Nathan mengucapkan dengan nafas yang masih tersegal dan memeluk erat Ayunda.
"Apa dia benar-benar mencintaiku?" batin Ayunda saat dia merasakan detak jantung Nathan yang berdegup kencang,
"Apa aku juga mencintainya?" ciumannya dengan Nathan terasa lebih berbeda saat dia melakukannya dengan Erick, Nathan memberikannya dengan lembut membuatnya merasakan perasaan yang sangat dalam. Nathan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Ini untuk mu" setelah dia mengambil sebuah paper bag dan menyerahkannya pada Ayunda.
Sebuah ponsel keluaran terbaru yang dilihat Ayunda setelah dia mengeluarkan isi paper bag tersebut.
"Abang tahu kamu tidak membawa ponselmu" jawab Nathan saat Ayunda melihatnya.
"Sudah ada nomor abang juga disana" ucapnya.
"Kita butuh itu untuk berkomunikasi" jelas Nathan lagi yang hanya mendapat anggukan dari Ayunda.
"Apa tidak ada ucapan terima kasih? dan pelukan selamat jalan" goda Nathan sambil merentangkan tangannya agar Ayunda mendekat dan masuk dalam pelukannya.
Nathan mencium seluruh wajah calon istrinya itu setelah Ayunda masuk dalam pelukannya. Ayunda hanya diam membiarkan setiap kecupan yang dilakukan Nathan di wajahnya, dia bisa merasakan kalau Nathan seperti tidak ingin meninggalkannya.
Nathan melepaskan pelukannya dan meninggalkan Ayunda setelah mendengar suara Dariel yang mengetuk pintu kamar Ayunda dan memanggilnya. Sampai didepan pintu Nathan berbalik dan kembali mendekati Ayunda.
"Abang mencintaimu" ucapnya sambil menangkup wajah Ayunda dan mencium kening Ayunda.
Ayunda hanya tersenyum melepas kepergian Nathan sampai dia membuka pintu kamar dan hilang di baliknya.
"Tiara aku merindukanmu"
Erick kembali ke cafe menemui manajer cafe dan mencoba mencari tahu tentang Ayunda dan laki-laki yang membawanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan pada manager cafe, Tidak ada informasi yang bisa dia dapatkan, bahkan dia tidak bisa memeriksa CCTV cafe malam itu yang tidak berfungsi.
Erick takut semua ini adalah perbuatan Tuan Yuda, dia mengabari Ibu Tere dan Feby tentang Ayunda yang pergi di malam dimana mereka bertemu dan sampai hari ini belum kembali.
Erick meremas kepalanya, dia tidak bisa konsentrasi bekerja sejak Ayunda menghilang.
"Dimana kamu sayang?" gumamnya.
"Tidak perlu mencari Ayunda, dia sedang mengunjungi keluarganya" Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk di ponsel Erick.
"Bagaimana mereka tahu aku mencari Ayunda?" pikir Erick dan meminta orang kepercayaanya melacak dari mana pesan itu dikirim, dengan begitu dia bisa mengetahui keberadaan Ayunda.
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya?" tanya Erick saat Tony orang ke percayaannya masuk menemuinya.
"Tidak bisa dilacak, yang mengirim pesan tersebut pasti bukan orang biasa" jawab Tony dengan yakin.
"Siapa mereka?" gumam Erick yang kecewa. Kini dia hanya bisa berharap Ayunda dalam keadaan baik-baik saja.
Mama Erick datang ke perusahaan dimana Erick yang diminta papanya untuk mengelolanya sekarang, dia langsung masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan Erick.
"Kemana kamu dua malam ini tidak pulang?" tanya mamanya yang menunggu Erick dua hari ini untuk membicarakan pernikahannya.
"Ada apa mama datang? Apa sangat penting?" tanya Erick tanpa menjawab pertanyaan mamanya. Sudah dapat diketahuinya mamanya mencarinya pasti ada hal yang penting yang akan dibicarakan.
"Iya, tentang pernikahanmu" Erick terkejut mendengar ucapan mamanya.
"Pernikahan?" ulang Erick ucapan mamanya
"Iya. Mama ingin pernikahanmu dan Feby di percepat, sebelum kamu berpaling pada putri Richad" jawab mama Erick yang membuat Erick kembali meremas kepalanya. Dia belum bisa menemukan Ayunda dan mamanya sudah meminta pernikahannya dan Feby di percepat.
"Maksud mama apa?" tanya Erick tidak percayai dengan ucapan mamanya yang tahu kalau dia akan berpaling pada Ayunda.
"Mama sudah menyiapkan semuanya, dua minggu lagi kamu akan menikah dengan Feby" ucapnya
"Ma..." Erick memanggil mamanya dengan nada suara yang tinggi.
"Tidak ada bantahan apapun Erick. Ini sudah diputuskan" jelas mama Erick dengan nada yang lebih tinggi.
Mama Erick pergi meninggalkan ruangan putranya dengan senyum bahagia, dia berhasil membuat putranya mengikuti keinginannya.
"Tiara, maafkan aku. Kamu pasti akan terluka jika tahu, tapi aku tidak bisa menolak keinginan mama" Erick menundukkan wajah di meja kerjanya.
"Erick.... erick...." Feby memanggil sambil menguncang tubuh Erick karena pria itu tidak juga terbangun dari tidurnya.
"Tiara, maafkan aku, jangan pergi" ucap Erick lalu terjaga merasa tubuhnya terguncang, dia bermimpi Ayunda datang berdiri di hadapannya menangis lalu berlari pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Kamu pasti merindukan Tiara" suara Feby menyadarkan Erick kalau dia baru saja bermimpi.
...*******...