
Nathan belum mengijinkan Ayunda untuk kembali ke perusahaan membantunya sebagai sekertaris, dia meminta gadis kecilnya memulihkan kesehatannya dengan istirahat dirumah. Baik menurut Nathan, tapi tidak baik bagi Ayunda, dia tidak terbiasa sendiri dirumah tanpa melakukan apa-apa.
Untuk membuang rasa jenuh dan kesepiannya, Ayunda pergi ke toko kue milik Mama Mira. Kebetulan hari ini, salah satu karyawan ijin menjaga ibunya yang sedang sakit.
Kevin sedang memeriksa berkas diruangannya, sekertarisnya mengetuk pintu lalu masuk, membawakan kopi untuknya. "Pak kopinya" sekertaris itu meletakkan kopi dihadapan Kevin. "Terima kasih" balas Kevin sambil melihat sebentar pada sekertarisnya.
Sekertarisnya tersenyum membalas ucapan terima kasih Kevin, lalu berjalan keluar. Belum sempat keluar, Kevin memanggilnya. "Vina".
Vina berbalik menghadap Kevin "Ada yang bisa saya bantu lagi Pak?" tanyanya.
"Kamu tahu toko kue Rara?" tanya Kevin.
"Saya tahu. Apa Bapak mau saya siapkan kue dari sana?" tawar Vina.
"Tidak. Lain kali saja" jawab Kevin.
"Baik Pak" jawab Vina lalu keluar dari ruangan.
Kevin mengusap wajanya, disaat Vina ada di dekatnya dia merasakan ada Ayunda yang didekatnya. Jantungnya berdebar, dan dia tidak berani menatap sekertarisnya lama-lama. Vina baru satu bulan jadi sekertarisnya, karena sekertarisnya yang lama mengundurkan diri setelah menikah. Sejak satu bulan ini juga dia merasa, ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya bila berhadapan dengan Vina.
Kevin menyesap kopi yang dibuatkan Vina, "Kopi ini akan sempurna bila ada cheesecake buatan Ayunda" batinnya. Tanpa pikir panjang, Kevin meraih kunci mobilnya dan pergi meninggalkan Hotel dan Mall Galaxy.
Vina melihat Kevin yang keluar begitu saja, tidak memberi pesan apapun padanya. "Kebiasaan" gumamnya lalu kembali mengerjakan tugasnya. Namun belum sempat memegang berkas yang harus dia siapkan, ponselnya berdering. Melihat kontak yang tertera dilayar ponselnya, Vina langsung mengeser tombol hijau.
"Assalamualaikum, gantengnya Tante Vina" Vina langsung menyapa keponakannya.
"Waalaikumsalam Tante Vina. Tante, hari sabtu ke Bandung ya" jawab keponakannya dari seberang sana.
"Iya sayang, keponakan tante yang paling ganteng sedunia" balas Vina sambil tertawa menggoda.
"Janji ya tante, Kakak tunggu"
"Iya, Tante Vina janji. Kakak mau tante bawakan sesuatu?" tanya Vina setelah dia berjanji akan mengunjungi keponakannya.
"Tidak perlu, yang penting tante datang. okey!" jawab keponakannya dengan suara khas anak-anak.
__ADS_1
"Baiklah, Tante tutup ya, masih ada yang harus tante kerjakan. Bye... sayang tante" Vina mengakhiri panggilannya.
"Selamat datang" pelayan toko kue Rara menyapa pengunjung yang baru saja masuk. Dia memberikan senyum terbaiknya, terlebih lagi yang masuk kali ini adalah pria tampan, yang dari penampilanya sudah dapat ditebak kalau dia orang-orang dari kelas atas.
"Saya minta Cheesecake" ucap Kevin pada karyawan tersebut.
Kevin menerima pesananya yang diberikan pelayan toko, lalu berjalan ke meja kasir. "Kak" sapa Ayunda saat menyadari yang datang ke kasir adalah Kevin.
"Nda" balas kevin, dia tersenyum lebar, tidak menyangka Ayunda sendiri yang berada dimeja kasir.
"Kak, kebetulan sekali kita bertemu. Bisa bicara sebentar?" tanya Ayunda. Tidak perlu berpikir lama Kevin menjawab "Tentu saja"
Kevin berjalan kemeja, dimana dia biasa menunggu Ayunda. Tempat ini tidak banyak berubah. Meja ini tempat pavoritenya, dia bisa menunggu Ayunda berjam-jam disini, dulu, dimana hari-hari bahagianya bersama Ayunda.
Ayunda menemui Kevin sambil membawa sepotong cheeeecake dan kopi. "Silakan dinikmati" ucap Ayunda.
Kevin tersenyum "Terima kasih Nda" jawabnya lalu menikmati cheesecake dihadapannya. "Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Kevin.
Ayunda diam, dia sedikit ragu menanyakannya. Kevin tahu, Ayunda sepertinya ragu untuk membicarakannya, dia sangat tahu Ayunda, biasanya ini adalah pembicaraan yang tidak begitu menyenangkan. "Katakan saja" ucap Kevin.
Kevin diam, mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pada Ayunda. Dia tahu, suatu saat Ayunda akan menyadarinya dan bertanya padanya.
"Maaf, tidak memberitahumu sebelumnya" ucap Kevin dengan rasa menyesal.
"Kakak menyelidikinya saat kamu koma. Semua sepertinya sudah direncanakan, dan Kakak pun terjebak dalam rencana itu" jawab Kevin.
"Kak Kevin tahu siapa orangnya?" tanya Ayunda lagi.
"Iya" jawab Kevin dengan yakin. "Siapa kak?"
"Maaf menyusahkanmu. Itu perbuatan papa" jawab Kevin jujur.
"Kenapa Kak?" mata Ayunda berkabut "Mengapa papa Kak Kevin sangat membenci Yunda?" tanyanya.
Kevin menggenggam tangan Ayunda. "Maafkan Kakak" ucapnya. "Seharusnya kamu tidak perlu menerima semua ini, kalau saja Kakak tahu dari dulu, sehingga kita tidak perlu dekat dan bersama dan kamu tidak perlu menderita seperti sekarang"
__ADS_1
"Kak Kevin menyesalinya?" tanya Ayunda, tidak mengerti maksud Kevin.
"Bukan begitu, Nda, hari-hari kita bersama adalah hari yang selalu membuat kakak bahagia. Tapi kebahagiaan itu membuat kamu harus menerima semua ini" sesal Kevin.
Ayunda diam mendengar ucapan Kevin, jauh dilubuk hatinya diapun merasa sangat bahagia, Kevin tulus menyayanginya, dia selalu dilindungi, Kevin tidak pernah menyakitinya, kecuali hari itu, itupun semua hanya sebuah kebohongan untuk melindunginya, itu berarti Kevin bukan menyakitinya.
"Nda" panggilan Kevin menyadarkan Ayunda dari lamunannya.
"Satu hal yang harus kamu ketahui, semua itu karena masa lalu. Papa memiliki dendam pada Om Richad" jawaban Kevin membuat Ayunda terkejut.
"Dendam?" gumamam Ayunda yang terdengar oleh Kevin.
"Iya, karena dendam" Kevin menceritakan dan menjelaskan semua pada Ayunda. Ceritanya berawal dari awal kerjasama Papa Richad dengan Pak Robert, yang membuat Pak Anthony merasa tidak dihargai oleh kakaknya. Lalu kisah cinta kedua orang tuanya, yang membuat Pak Anthony kembali kecewa. Kevin juga menceritakan keikutsertaan papanya dalam perebutan kekuasan di perusahaan Papa Richad oleh paman Ayunda.
Ayunda tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar cerita Kevin. Pikirannya tertuju pada cinta segitiga orang tuanya. "Apa Mama tahu kalau papa Kakak mencintainya?" tanya Ayunda.
"Kakak tidak tahu, kamu bisa tanyakan pada Tante Mira" jawab Kevin.
"Ayunda" panggil Kevin. Ayunda mengangkat wajahnya lalu menatap Kevin. Mata mereka bertemu, tapi dia tidak merasakan debar seperti dulu lagi.
"Kamu mau memaafkan Kakak?" tanya Kevin dengan berharap Ayunda menerimanya.
"Kak, sejak Yunda tahu kakak melakukannya untuk kebaikan Yunda, Yunda tidak pernah membenci Kak Kevin. Hanya saja Yunda tidak mengerti, mengapa Kak Kevin tidak bicara baik-baik dengan Yunda seperti sekarang?"
"Maafkan Kakak Nda, saat itu, adalah saat terberat bagi Kakak. Sehingga tidak bisa berpikir panjang" jawab Kevin penuh penyesalan. Saat itu, dia dalam keadaan tertekan dan diancam papanya, sementara hatinya berat untuk berpisah dengan Ayunda.
"Sudahlah Kak, lupakan masa lalu yang menyakitkan" ucap Ayunda. "Kita jalani hidup kedepan agar lebih baik lagi. Semoga Kakak menemukan seseorang yang tulus mencintai Kak Kevin, dan Kakak juga mencintainya dengan tulus, Berbahagialah" Ayunda mengatakannya dengan tulus.
"Kita tetap bisa saling berhubungan seperti saudara. Kak Kevin adalah sesorang kakak bagi Yunda. Kakak mau kan?"
"Tentu, Kakak dengan senang hati menerimanya" jawab Kevin penuh rasa bahagia. Perdamaian dengan Ayunda adalah yang dia inginkan sebelum melakukan yang lainnya.
"Semoga kamu bahagia Nda. Nathan laki-laki yang baik. Dia tidak pernah mencintai wanita lain selain kamu" ucap Kevin, yang membuat senyum bahagia tercetak di wajah Ayunda. Satu masalah sudah selesai, dia dan Kevin akan baik-baik saja. Tidak perlu ada benci dan amarah lagi di hati masing-masing dan saling mendoakan kebahagiaan masing-masing dengan tulus.
"Terima kasih, Kak"
__ADS_1
...*******...