Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 97 “Maaf tidak lengkap”


__ADS_3

Bagas Kara memeluk Brigjen Carlos. Karena setelah mendapat kabar dari Garda tentang kejadian yang menimpa Aletha dan Keenan, dengan segera Brigjen Carlos meluncur ke Indonesia bersama Wilona. Dan tidak lama kemudian keluarga tercinta Bagas Kara tiba di rumah sakit.


”Assalamu'alaikum,”


“Wa'alaikumsalam, sayang.”


Mama Nina segera memberikan pelukan kepada Bagas Kara sebagai penguat setelah kejadian ini menimpa putri dan menantu mereka. Dan jelas terlihat betapa hancurnya Bagas Kara, seolah batu yang besar telah menghantamnya saat mendapati Aletha dan Keenan tidak sadarkan diri dengan kondisi kritis. Untung saja kedatangannya bisa tepat waktu, sehingga kini Aletha dan Keenan bisa melewati masa kritisnya.


“Alhamdulillah, kita bisa melihat mereka kembali, Pa.” Ujar Mama Nina saat melihat Aletha dan Keenan yang berbeda ruangan secara bergantian.


“Iya, Ma. Tanpa kita sadari mereka memiliki ikatan yang kuat. Mereka mampu berjuang bersama dalam melewati masa sulit ini.”


Saat obrolan penuh haru tengah menemani seluruh anggota keluarga Bagas Kara bersama Brigjen Carlos dan juga Wilona, tiba-tiba saja Luna merasakan mules di perutnya. Membuat semua panik saat itu juga, tetapi tidak dengan Juan. Karena ia bisa bersikap sebagai dokter tanpa ada rasa panik jika ada pasien yang akan melahirkan. Meskipun bidangnya adalah sebagai seorang dokter anak, tetapi ia sudah siap siaga menjadi suami.


“Jangan panik ya semuanya! Sayang, Luna kamu harus tarik nafas dalam-dalam. Atur nafas kamu, karena kamu adalah dokternya.” Juan mengangguk meyakinkan Luna.

__ADS_1


Luna tidak bisa berkata apapun, yang bisa dilakukannya hanya mengangguk pelan. Lalu, ia mencoba untuk mengatur nafas panjang sesuai intruksi dari dokter, tak lain ia sendiri.


Di ruang bersalin hanya Juan yang menemani Luna dan mama Nina berada di luar ruangan, sedangkan Bagas Kara sedang berada di ruangan Aletha. Karena beberapa menit lalu dokter memberitahukan bahwa Aletha sudah sadarkan diri.


”A... Aa...” Ujar Aletha terbata-bata.


“Sayang, Papa ada disini. Papa akan selalu menemani kamu, Nak.” Air mata Bagas Kara kembali meluruh.


Bagas Kara mengusap lembut puncak kepala Aletha dan kasih sayangnya tidak akan pernah luntur sedikitpun. Meskipun Bagas Kara tahu betul bahwa Aletha sudah menikah. Akan tetapi, sampai kapanpun bagi Bagas Kara Aletha adalah putrinya yang masih kecil.


“Kamu tenang saja sayang, Keenan tidak apa-apa. Haya saja... Keenan belum sadarkan diri. Kamu yang tenang, ya!”


“Antarkan Aletha sekarang juga ke ruangannya, Pa. Aletha sangat memohon kepada Papa.” Pinta Aletha berkali-kali.


Dan mau tidak mau Bagas Kara tetap memenuhi keinginan Aletha. Seorang Bagas Kara cukup mengerti betul bagaimana perasaan Aletha yang begitu mengkhawatirkan Keenan. Dan hal itu begitu jelas terlihat di dalam wajah Aletha.

__ADS_1


Bagas Kara mendorong kursi roda yang akan dijadikan tempat duduk oleh Aletha sampai ke ruang Keenan. Dan setelah tiba di ruangan Keenan, Aletha berada di samping Keenan seraya memegang erat jemari Keenan.


“Aa... Neng tidak akan pernah meninggalkan Aa sendirian. Cepatlah bangun Aa, Neng sudah berada di samping Aa bersama calon buah hati kita.” Aletha berceloteh panjang.


Perlahan jemari Keenan bergerak dengan sangat pelan. Dan Aletha menyadari akan hal itu, seketika ia menekan serta mendorong rodanya untuk keluar dan memanggil dokter.


“Dokter...”


“Dokter...”


.


Teriak Aletha berulang kali untuk memanggil Dokter. Dan tidak lama kemudian seorang dokter yang menangani Keenan tadi kembali hadir untuk memeriksa bagaimana kondisi Keenan saat itu.


Perlahan netra Keenan yang terpejam dengan rapat kini telah terbuka. Dengan segera dokter menempelkan stetoskopnya ke dada Keenan dan mem

__ADS_1


__ADS_2