Lentera Cinta

Lentera Cinta
34. Rara


__ADS_3

"Sayang... apa yang kamu pikirkan? Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan kita"


"Kita sudah menikah?" Bagaimana bisa aku tidak tahu pikirnya dalam hati.


"Bang Nathan tidak sedang berbohongkan?"


"Nda... Yunda..." Alisa mencoba membangunkan Ayunda yang meracau. "Ayunda... Ayunda Tiara" kini suaranya lebih keras karena panggilan pertamanya tidak berhasil membangunkan Ayunda.


Usaha Alisa berhasil, Ayunda sudah membuka matanya. "Bang Nathan.... Bang Nathan..." ucap Alisa mengulangi apa yang tadi diucapkan Ayunda.


"Katanya tidak punya hubungan apa-apa tapi udah panggil-panggil abang" jelas Alisa maksud ucapannya.


Ayunda hanya diam, dia masih mencerna apa yang terjadi sampai dia bisa menjawab ucapan Alisa.


"Itu Nathan yang berbeda, dia Nathan yang ada dalam tidur panjangku" jawab Ayunda mencoba menjelaskan.


"Aku tidak tahu kenapa cerita itu bisa berlanjut bahkan aku sudah menikah dengannya" Ayunda memijat kepalanya merasakan sakit.


Alisa diam, dia sudah diberitahu Erick kalau Ayunda bisa berada di dunia yang berbeda bila dia tidur atau tidak sadarkan diri. Melihat ini amarah Alisa kepada Kevin semakin besar, selama ini Ayunda tidak menceritakan penyebab dia berpisah dengan Kevin, dia hanya bilang kalau sudah tidak bisa bersama.


Alisa berpikir kalau Ayundalah yang menghianati Kevin karena jatuh cinta pada Nathan, tapi Ayunda selalu membantah itu. Cerita Erick tentang Kevin yang membuat Ayunda akhirnya mengalami kecelakaan membenarkan ucapan Ayunda, dialah yang tersakiti dengan keadaan ini.


"Aku akan berusaha membuat Ayunda benar-benar melupakannmu Kevin" gumam Alisa dalam hati sambil mengepalkan tangannya.


"Lisa kenapa kamu hanya diam disana? ayo kembali tidur! ini masih tengah malam" Alisa mengikuti ajakan Ayunda dan kembali berbaring disisi sahabatnya itu.


"Maaf mengganggu tidurmu Lis"


"Hemm"


Ayunda pagi-pagi sekali sudah ada diruangannya, dia berangkat kerja berdua Alisa yang pagi ini ada rapat di divisinya.


"Lisa... kamu mengajakku kekantor terlalu pagi" kesal Ayunda saat mereka sampai di lobby yang tampak sepi.


Alisa hanya menyengir, dia belum menyiapakan bahan untuk rapat pagi ini. Kemarin sepulang dari rumah sakit Dariel mengajaknya untuk makan malam sepulang kerja, tanpa pikir panjang Alisa menyetujui ajakan Dariel. Sampai sore pekerjaanya belum juga selesai tapi Dariel sudah mengirimkan pesan kalau dia sudah menunggu di mobil, akhirnya Alisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja setelah menerima pesan Dariel.

__ADS_1


"Baiklah kita mulai bekerja saja" ucap Ayunda menghibur dirinya sendiri lalu menyibukkan dirinya dengan komputer yang ada dihadapannya.


"Selamat pagi Pak Nathan, Pak El" sapa Ayunda saat keduanya sudah berdiri dihadapannya.


Nathan tersenyum dengan pancaran mata yang tajam menatap Ayunda. "Akhirnya ada senyum diwajahnya untuk wanita" ucap Dariel dalam hati, melihat sahabat dan juga atasannya tersenyum. Entah sudah berapa lama senyum itu hilang bila berhadapan dengan wanita.


"Keruangan" jawab Nathan dan mendapat anggukan oleh Ayunda.


Nathan berjalan di depan Ayunda dan Dariel yang bersisian sampai mereka masuk keruangan pimpinan tertinggi di Adhipramana Group.


"Apa ada yang ingin kamu sampaikan El?" Nathan melihat ke arah Dariel.


"Tidak ada, aku balik keruangan" Dariel meninggalkan Ayunda dan Nathan.


"Duduk" tepuk Nathan meminta Ayunda duduk disampingnya yang sedang bersandar disofa.


"Apa jadwalku hari ini?" tanya Nathan setelah Ayunda duduk disampingnya.


Ayunda menjelaskan semua agenda Nathan hari ini, untung saja dia datang pagi-pagi sekali sehingga bisa menyelesaikan semua dokumen-dokumen yang diperlukan.


"Kita bisa bicara" kini Nathan menatap wajah Ayunda yang terlihat lebih cantik dengan atasan yang warnanya hampir sama dengan yang Nathan kenakan.


"Saya akan siapkan bahan untuk pertemuan pagi ini pak" elak Ayunda yang tidak ingin hanya berdua dengan Nathan.


Belum sempat Ayunda berdiri untuk meninggalkan Nathan, suara pria itu menghentikan gerakannya.


"Rara" Ayunda menatap Nathan, panggilan itu menginggatkannya pada sang papa satu-satunya orang yang memanggilnya Rara.


"Hei... kamu sedang apa?" tanya anak laki-laki yang sedari tadi memperhatikan anak perempuan duduk dipinggiran teras tanpa bergeming.


"Aku lihat itu kak" tunjuknya pada semut yang berbaris.


"Semut?" anak laki-laki itu merasa heran, tidak ada yang istimewah dari semut yang jalan berbaris, tapi anak perempuan itu tidak berpaling sedikitpun.


"Lihat kak, mereka saling menyayangi dan bekerja bersama-sama" anak perempuan itu kembali menunjuk semut yang bersama-sama membawa potongan kue.

__ADS_1


"Coba lihat aku kasih potongan kue tapi tidak langsung dimakan malah dibawa kelobang kecil yang disana" tunjuknya pada lobang yang tempat semut menghilang.


"Terus kenapa?" tanya anak laki-laki itu.


"Kata bu guru... semut itu saling menghormati, suka bekerjasama, saling tolong menolong dan selalu bersama-sama melakukan apapun" jelas anak itu mengikuti penjelasan gurunya.


"Jadi aku lihati, ternyata bu guru bener, katanya kita manusia juga harus bisa seperti semut, saling menyayangi, saling menghormati, saling bekerjasama dan membantu" anak perempuan itu tersenyum senang bisa menginggat apa yang dijelaskan gurunya beberapa hari yang lalu.


Anak laki-laki itu mengagumi anak perempuan itu dan ikut duduk disisinya, ikut memperhatikan semut yang berbaris.


"Rara... ayo kita pulang" ajak pria gagah yang dipanggil papa oleh anak perempuan itu.


"Pamit sama om dulu" pinta papanya dan dituruti Rara dengan menyentuh tangan sahabat papanya lalu mencium tangan itu. "Rara pulang om" ucapnya.


Pandangannya beralih pada anak laki-laki yang sedang berada dihadapan papanya. "Rara pulang kakak yang baik, jangan lupa seperti semut ya..." dia melambaikan tangannya lalu berbalik meninggalkan anak laki-laki yang membalas lambaian tangannya.


"Bagaimana bapak tahu saya dipanggil Rara?" pertanyaan Ayunda menyadarkan lamunan Nathan yang menggingat pertemuan pertamanya dengan Ayunda.


"Saya mencoba mengikuti saranmu untuk bisa seperti semut" jawab Nathan membuat Ayunda mencoba menginggat kembali kenangan masa lalunya.


"Bapak..." ucapan Ayunda terhenti, adalah kakak baik itu lanjutnya dalam hati karena ucapannya terpotong Nathan.


"Kamu tidak berubah, mengemaskan" sela Nathan yang mengunci tatapannya pada mata Ayunda, Nathan mendekatkan wajahnya jarak mereka hanya beberapa mili saja.


Tok.. tok... ketukan pintu membuat Ayunda menjauh, lalu berdiri membukakan pintu.


Terlihat gadis seksi berdiri didepan pintu menerobos masuk setelah Ayunda membukakan pintu lalu menutupnya kembali setelah dia berdiri diluar berjalan kembali ke mejanya tanpa pamit pada Nathan.


"Siapa gadis seksi itu?" pikirnya. Ayunda menggelengkan kepala, mengapa dia harus memikirkan siapa gadis itu. Bukannya sudah biasa orang seperti Nathan didatangi gadis seperti itu.


Membuang jauh pikirannya tentang gadis seksi itu, ingatan Ayunda kembali saat Nathan memanggilnya Rara, dia seakan terhipnotis karena itu adalah panggilan sayang papanya.


"Papa.... Rara merindukanmu"


...*****...

__ADS_1


__ADS_2