Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 103 ”Panggil Saja Aku Aletha”


__ADS_3

“Jangan pernah sungkan atau merasa malu untuk bertanya kepada seseorang daripada nanti akan sesat di jalan.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam, rasa kantuk pun sudah mendera Aletha sedari tadi. Dan apa boleh buat, Aletha harus meninggalkan beberapa lembar data pasien yang belum sempat dilihatnya.


“Selamat malam Aa Keenan nya Neng Aletha. Ana uhibbuki fillah.” Sejenak bayangan Keenan yang tengah tersenyum berlayar di pelupuk mata Aletha.


Mata Aletha pun terpejam saking beratnya. Dan ia pun tidak lagi memikirkan Keenan dengan rasa khawatir yang berlebihan. Semua sudah Aletha serahkan kepada Tuhan sang Pencipta alam.


...----------------...


Cahaya mentari pagi mulai menyingsing, memancarkan energi yang positif untuk memulai segala aktivitas pada hari itu. Begitu halnya dengan Aletha, ia sudah bersiap dengan snelinya. Meskipun perutnya sudah mulai membesar tetapi tidak akan dijadikan alasan untuk bermalas-malasan menjadi seorang dokter. Apalagi perannya dalam bidang ahli bedah jantung sangat diperlukan di rumah sakit tempatnya bekerja. Karena hanya Aletha yang mampu menjadi dokter cekatan, tenang dalam situasi apapun dan juga dokter yang mampu mengakrabkan diri dengan pasien.


“Al, bagaimana dengan acara tujuh bulannya? Apa sudah kamu rancang?” tanya Luna mengawali percakapan di pagi itu.


“Aku terserah Mama saja, aku sibuk kak. Tidak ada waktu untuk merancang nya, lagipula aku juga kurang tahu apa saja yang diperlukan dalam acara itu. Takut salah kalau aku yang merancang, nanti kalau aku nyebutin pisau bedah bagaimana.” Aletha terkekeh.


“Kalau itu namanya calon ibu gemblung. Masa iya mau nyebutin pisau bedah segala.” Umpat Luna kesal.


Aletha semakin melepas tawanya saat Luna merasa kesal dengan tingkahnya itu. Sedangkan Mama Nina yang mendengar percakapan mereka hanya geleng-geleng saja. Karena Mama Nina merasa Luna dan Aletha masih anak remaja yang harus dididik dibawah asuhannya. Padahal kini mereka sudah menjadi seorang ibu, tapi mereka tidak menampakkan sikap dewasa saat canda tawa dan kejahilan menemani mereka.


“Al,” sapa Laura.


“Iya, Ra. Ada apa?”


“Kamu kelihatannya bahagia banget hari ini? Ada apa?”


“Bahagianya seseorang itu diciptakan dari orang itu sendiri, Ra. Kalau dibilang bahagia aku juga tidak terlalu bahagia, karena separuh nyawaku belum lengkap. Tetapi, ini resiko yang memang harus kita hadapi sebagai istri abdi negara. Iya, kan?”


Laura pun mengangguk dan membenarkan apa yang sudah dikatakan Aletha. Dan mereka juga harus siap jika suatu saat nanti Keenan ataupun Garda akan gugur dalam menjalankan tugas negara. Meskipun terasa berat nantinya, tapi yang namanya resiko harus tetap dijalani.


“Ayo kita sarapan. Tapi...” Aletha menggantungkan perkataannya ke udara.


Aletha segera berlari menuju ke kamar mandi. Seperti biasa, pukul setengah tujuh pagi Aletha harus setia di depan wastafel.


“Uwek... Uwek... Uwek...”


Dengan setia Mama Nina memijat tengkuk Aletha untuk meringankan rasa mualnya. Setelah di rasa cukup lama di depan wastafel Aletha dituntun ke meja makan oleh Mama Nina.


“Minumlah teh hangatnya dulu, lalu lanjut makan.” Mama Nina memberikan teh hangat kepada Aletha.

__ADS_1


Aletha meminum segelas teh hangat itu untuk meredakan rasa tidak enak di perutnya. Setelah itu Mama Nina begitu telaten menyuapi Aletha dengan nasi dan sayur bayam yang baik untuk gizi sang buah hati. Dan baru juga beberapa suap Aletha sudah meminta Mama Nina untuk menghentikan suapan itu.


“Pa, Aletha mau bertanya. Apa... Aa Keenan akan lama bertugas nya? Apa... waktu tujuh bulanan nanti Dia sudah kembali? Karena nomornya tidak bisa Aletha hubungi, dan Aa Keenan juga tidak menghubungi Aletha balik.” Aletha memperlihatkan binar mata yang sendu.


Tidak dipungkiri bahwa Aletha memang masih merasa khawatir, apalagi acara tujuh bukan tinggal beberapa minggu lagi. Aletha juga ingin merayakan acara tujuh bulan bersama sang suami, tetapi Aletha juga tidak tahu kapan Keenan akan kembali.


“Papa tidak bisa mengatakan apapun kepada kamu. Do'a kan saja supaya tidak terjadi gempa susulan dan juga korban segera ditemukan.” Bagas Kara mengulas senyum.


Aletha mengangguk, lalu ia beranjak dari kursi untuk berpamitan hendak bekerja. Karena hari itu Aletha harus membantu anak koas sampai kurang lebih satu setengah tahun.


“Al, kamu serius mau berangkat sendiri?” tanya Juan memastikan.


“Of course. Kak, aku bisa sendiri kok nyetir mobilnya. Sudah lama juga aku tidak mengendarai mobil sport ku ini. Jadi, tidak masalah kan jika aku kembali mengedalikannya.” Aletha tersenyum dengan begitu manis.


“Tapi kamu sedang hamil besar, Al. Lebih baik kamu naik ke mobil Kakak saja.”


“Tidak. Kak Juan tenang saja,”


Aletha bersikukuh untuk tetap mengendarai mobilnya sendiri. Dan tidak ada orang lain yang bisa mencegah keinginan seorang Aletha.


Dengan kecepatan sedang Aletha melakukan mobil sport nya. Meskipun jalan raya tidak terlalu ramai tetapi Aletha tetap berhati-hati dalam mengendarai mobilnya. Karena ia harus menjaga bayi yang ada di dalam kandungannya itu.


“Sayangnya Bunda, kita harus kuat tanpa ada Ayah di samping kita. Tapi kita harus tetap mendoakan Ayah agar selalu dipermudahkan dalam menjalankan tugasnya.” Aletha mengusap lembut perut buncit nya.


Di sepanjang jalan Aletha juga memutar lagu khas tentara yang memiliki jiwa ksatria sang merah putih. Dan bayangan Keenan dua puluh tahun lalu kembali menari-nari dalam pelupuk matanya.


“Aa, Neng tidak pernah menyangka kalau Aa yang dulu takut dengan preman-preman itu sekarang menjadi lelaki dewasa yang pemberani. Bahkan... kita sudah saling mengikat satu sama lain.” Aletha tersenyum.


Saat di pertigaan dekat rumah sakit Siloam Hospitals tiba-tiba Aletha menghentikan mobilnya. Lalu ia turun dari mobil itu dan membantu seorang anak remaja yang tengah dihadang tiga preman.


“Hentikan!” teriak Aletha dengan lantang.


Seketika tatapan mengerikan dari ketiga preman itu beralih ke arah Aletha dengan senyum smirk yang mereka berikan. Sedangkan anak remaja itu terlihat sudah merasa ketakutan, bahkan celana panjangnya sudah basah karena saking takutnya anak remaja itu pipis di celana.


“Siapa kamu? Wanita hamil besar begitu saja sok berani. Ingat tuh anak yang ada di dalam kandungan.” Ketiga preman itupun tertawa.


“Dek, tolong mundur sebentar ya! Dan kalian, panggil saja aku Aletha.” Aletha memperlihatkan senyum manis untuk menyambut preman itu.


‘Kalian boleh tertawa untuk saat ini, tapi tidak setelah aku melakukan aksi.’


Arga mengikuti perintah Aletha, mundur sekitar satu meter di belakang Aletha. Dan Aletha siap melakukan aksinya, ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan ketiga preman itu. Karena Aletha yakin, Allah akan memudahkannya dalam membantu Arga.

__ADS_1


“Bismillah,” ucap Aletha lirih.


Aletha maju sedikit dan mendekati ketiga preman itu dengan berani.


“Mau apa kamu, ha? Sudahlah, berikan kami uang setoran sekarang jika kamu ingin menyelamatkan anak itu.” Salah satu preman itu menunjuk ke arah Arga dengan sangat lantang.


“Turunkan tangan Anda, Tuan! Saya rasa tidak pantas jika kalian semua melakukan hal bodoh seperti ini. Apa kalian tidak malu dengan bapak-bapak yang bekerja dengan layak? Seharusnya kalian menjaga sikap agar anak-anak kalian bisa meniru hal baik dan perbuatan yang terpuji dari ayahnya.”


“Sudah, jangan banyak bacot! Serang wanita hamil ini!”


Ketiga preman itupun mulai mneyerang Aletha, tetapi dengan cekatan Aletha mampu menangkis setiap pukulan. Bahkan ketiganya merasa kwalahan saat menghadapi aksi brutal Aletha. Lagipula sudah lama juga Aletha tidak melakukan pemanasan seperti itu.


Lima belas menit kemudian Aletha mampu membuat ketiga preman itu tergeletak di jalan. Bahkan preman itu merasa takut dengan Aletha dan mereka berjanji tidak akan lagi melakukan hal seperti itu terhadap siapapun yang hendak lewat di pertigaan jalan dekat rumah sakit tempat Aletha bekerja.


“Pergilah kalian, cari pekerjaan yang halal untuk menghidupi istri dan anak kalian.”


“Baik, kami akan pergi. Ampuni kami, Dokter cantik.” Ujar ketiga preman itu seraya menangkup kan tangan mereka.


Aletha pun mengangguk dan ketiga preman itu pergi dengan langkah cepat, bahkan mereka sampai terseyok-seyok karena saking takutnya dengan Aletha. Dan itu membuat Arga terkekeh geli.


“Hai, siapa nama kamu?”


“Saya Arga, Dok. Dokter cantik benar-benar tangguh dan berani.” Arga mengacungkan dua jempolnya.


Seketika Aletha dibuat tertawa oleh Arga. Dan sejenak ingatan tentang Keenan dengannya kembali melintas saat melihat Arga yang memakai seragam biru putih.


“Jangan panggil aku dengan Dokter cantik, cukup panggil saja aku Aletha.” Aletha mengulurkan tangannya.


Arga menyalami tangan Aletha dengan rasa bangga. Karena bagi Arga baru kali pertama itu ia ditolong oleh wanita yang tengah hamil besar dengan sejuta keberanian. Dan Arga juga tidak sungkan ingin meminta Aletha untuk mengajarkannya gerakan bela diri.


“Boleh saja jika kamu ingin. Temui aku di alamat itu, Arga.”


“Dan oh iya, jika kamu tidak tahu alamat itu, jangan pernah sungkan atau merasa malu untuk bertanya kepada seseorang, daripada nanti akan sesat di jalan.” Aletha mengulas senyum.


Dengan semangat yang tinggi Arga megangguk penuh kemantapan. Dan hal itu membuat Aletha bangga, karena dirinya sudah menjadi motivasi untuk seorang anak remaja yang bernama Arga. Dan berhubung jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Aletha segera menancapkan gas agar cepat sampai ke rumah sakit. Sedangkan Arga, ia berjalan kaki menuju ke sekolahan nya. Masalah celana Arga yang basah, Aletha sudah menyiapkan celana ganti.


“Selamat pagi Dokter Aletha,” sapa perawat dan dokter yang lainnya.


Aletha terus menebarkan senyum merekah kepada setiap orang yang berjumpa dengannya. sampai ia pun memasuki ruang kerjanya. Dan saat sudah masuk ke dalam Aletha dikejutkan dengan adanya Ilham dan Maya yang duduk santai di sana.


”Kalian ngapain di sini sepagi ini?” tanya Aletha penasaran.

__ADS_1


“Kami mau bicara sesuatu hal dengan kamu, Al. Sini cepatlah kamu duduk.” Maya menarik lengan Aletha.


Bersambung...


__ADS_2