Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 84 “Persiapan Yang Matang”


__ADS_3

“Sejatinya suami istri itu bukanlah mencari pasangan yang sempurna, melainkan saling menyempurnakan satu sama lain... dan selalu ada di saat membutuhkan.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“SAH...” Pekik semua orang.


Setelah itu penghulu membacakan do'a untuk kedua pengantin, lalu dilanjutkan Aletha mencium punggung tangan Keenan. Dan Keenan membalasnya dengan mengusap ubun-ubun Aletha serta tak lupa membacakan do'a untuk istri.


“Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li-ahli fiyya warzuqhum minni warzuqniy minhum.”


Yang artinya: “Ya Allah ya Tuhan, berkahilah aku dalam permasalahan keluargaku. Berkahilah keluargaku dalam permasalahanku, berilah keluargaku (istri dan keturunan) rezeki dariku, dan berilah aku rezeki dari mereka.”


Tangis haru pun menyelimuti mereka semua. Akhirnya pernikahan mampu digelar dengan megah, Aletha mampu menemukan lelaki sebagai tempat untuk melabuhkan hatinya.


Bagas Kara selalu menanti datangnya kebahagian untuk putri nya itu. Terkadang perih dan khawatir membuat pikirannya terkecai, jika saja Aletha tidak ingin jatuh cinta lagi bahkan tidak menginginkan adanya pernikahan, maka Bagas Kara akan merasakan sesal. Namun kini, semua di atas kehendaknya, Allah telah mempertemukan Keenan dengan Aletha melalui jalur langit. Karena tak hentinya Keenan menyebut nama Aletha saat melangitkan do'a setiap sholat tahajud nya.


Setelah melakukan akad nikah Aletha berganti baju dengan dress berwarna hijau. Dan Keenan benar-benar terpukau melihat kecantikan Aletha dengan dress panjang yang dikenakan untuk memeriahkan pesta pedang pora.


“Al, aku akan menata gaunnya dari belakang. Kamu jangan lupa bawa bunganya.” Ucap Wilona.


“Dan Keenan, kamu harus menggandeng Aletha.” Ucap Garda memberi intruksi.


Meskipun Keenan atasannya, tetapi umur mereka tak jauh berbeda. Sehingga di cukup di jam bertugas Garda menghormati Keenan sebagai atasan, di luar itu mereka sahabat karib.


“Aku tahu akan hal itu, tenang saja!”


Keenan bersiap dengan seragam hijaunya, tak lupa dengan topi kabaret di kepalanya. Benar-benar perfect, begitu tampan dengan kulit putihnya, gagah berani sesuai dengan pangkatnya.


“Al, sudah siap, kan?” tanya Keenan.


“Insyaa Allah sudah, tapi ... aku kok sedikit nervous ya!”


Beberapa kali Aletha menghembuskan nafasnya dengan pelan.


“Jangan nervous, ada aku disampingmu. Kita akan maju bersama. Dan cukup satu kali seumur hidupku denganmu saja.” Keenan mengulas senyum merekah.


Aletha mengangguk, lalu ia menatap mata teduh Keenan. Sehingga ia mendapatkan ketenangan dan kenyamanan saat menatapnya.


“Gandeng tanganku, kita bersiap untuk melangkah maju ke pelaminan.” Pinta Keenan.


Aletha melingkarkan tangannya ke tangan Keenan. Dan setelah inspektur upacara memberi tanda kehormatan kepada mempelai maka prosesi selanjutnya adalah mengantar mempelai ke pelaminan.

__ADS_1


Aletha dan Keenan mulai melangkahkan kaki di bawah pedang pora dan di atas karpet merah sebagai alas. Keluarga inti pun ikut mengantar mempelai dari belakang.


‘Aletha, putri Papa. Akhirnya ... Papa bisa menghadiri pesta pedang pora untukmu. Terima kasih, Ya Allah...’ batin Bagas Kara.


Di belakang Aletha, Bagas Kara menyimpan segunduk rasa bahagia dan rasa haru. Bahkan air mata menggenang di pelupuk matanya.


“Papa...” panggil lirih Aletha.


Aletha tidak bisa membendung air matanya. Ia langsung melayangkan pelukan kepada Bagas Kara saat sesi berswafoto dengan sanak keluarga.


“Jangan menangis, kamu putri Papa. Dan Papa bersyukur, hatimu tidak membeku untuk selamanya. Hadirnya Keenan mampu mencairkannya.” Bagas Kara mengusap punggung Aletha.


“Mungkin ini yang namanya takdir, Pa. Allah yang sudah merencanakan takdir indah ini. Aletha juga bersyukur Aletha dipertemukan dengan Keenan.”


Sesi foto dilanjutkan kembali. Selain kerabat terdekat tak lupa para sahabat keduanya ikut berswafoto untuk mengabadikan momen yang akan dilakukan hanya satu kali seumur hidup.


“Kita duluan ya! Yang jomblo ngalah dulu!” Garda nyengir.


“Ya... aku nyadar diri kalau JOM... BLO...” Leon mencebik.


Pertama kali yang berswafoto pasangan Garda dan Laura. Setelah itu dilanjutkan dengan pasangan Ilham dan Maya bersama anaknya yang kini sudah berusia lima tahun. Lalu kembali dilanjut pasangan Edbert dan Catrina. Dan yang terakhir Leon dengan Wilona, karena mereka sama-sama jomblo ngenes. Wkwkwk...


Setelah sesi berswafoto selesai, inspektur upacara memberikan laporan kepada komandan pasukan bahwa acara pedang pora sudah selesai. Dan upacara pun telah berakhir. Kini dilanjut dengan makan yang sudah dihidangkan.


Karena jam makan siang sudah tiba, Keenan tak ingin jika Aletha telat makan.


“Boleh, tapi kue saja ya! Aku ... masih belum pengen makan makanan yang berat. Tak apa, kan?”


Keenan pun mengangguk. Lalu melangkah dan berhenti di meja makan. Dan di sana ada beberapa makanan dari yang ringan hingga berat. Sesuai yang diminta Aletha, Keenan mengambil beberapa potong kue untuk mengganjal perutnya sendiri dan juga Aletha.


“Nih, dimakan!” Begitu datar, tetapi tetap memperlihatkan sisi romantisnya.


“Kenapa banyak? Mana muat perutku menampungnya?”


“Kan, aku juga lapar. Masa tak boleh ikut makan kue coklat nya?”


Aletha tertawa saat melihat muka Keenan yang sedikit memelas.


“Boleh kok, siapa juga yang mau larang kamu makan, Ke?”


“Kalau aku mau kamu yang suapin, bagaimana?”

__ADS_1


Mata Aletha membulat dengan sempurna. Aletha terkejut dengan permintaan Keenan yang secara tiba-tiba. Dalam hati ingin melakukannya, tapi Aletha merasa malu saat tamu dan keluarga bahkan para sahabat masih mengikuti acara pesta.


“Malu, Ke. Lihat tuh, masih ada banyak orang loh!” Aletha mengedarkan pandangannya.


”Hmm... tidak seru itu namanya. Kalau begitu... bagaimana kalau kita ke kamar saja. Cepat gih, tunjukkan kamar kamu dimana?”


Aletha kali ini mengerutkan kenignya. Ia tidak mengerti dengan sikap Keenan yang absurd.


“Mau ngapain juga ke kamar? Kan, belum selesai acaranya.”


“Kita kabur saja dan setelah itu ... memadu kasih berdua. Mau, kan?”


Aletha tidak menjawab, tapi begitu kentara saat pipinya memerah. Ia malu tapi juga suka dengan candaan yang diberikan Keenan. Dan Aletha baru menyadari bahwa Keenan lelaki yang memiliki otak mesum.


...----------------...


“Lelah kah?” tanya Keenan saat acara pesta sudah selesai.


“Sedikit. Ini lebih dari empat jam berdiri dan selalu menebar senyum. Sampai-sampai gigiku mengering.” Aletha nyengir.


“Ya sudah, istirahat dulu gih!”


“Memangnya ... kamu tidak ikut?”


“Pengen sih, tapi tuh lihat. Pasukan berani mati masih bertahan, pasti mereka sengaja melakukan itu. Kamu istirahat saja kalau merasa capek.”


Aletha mengangguk, ia mengiyakan ucapan Keenan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa ia benar-benar merasa lelah, apalagi dengan dandanan yang cukup menor. Membuat Aletha merasa risih, karena jarang sekali Aletha memakai lipstik yang warnanya sedikit mencolok.


Sesampai di kamar Aletha melepas satu persatu riasannya. Dan meraih handuk untuk mandi, agar tubuhnya tidak lengket karena keringat yang membasahi tubuhnya.


Pukul dia belas malam Aletha sudah terlelap dalam tidurnya, sedangkan Keenan masih mengobrol dengan pasukan berani mati yang memang sengaja ingin pulang larut. Hingga akhirnya pukul satu malam mereka pun kembali ke rumah masing-masing.


“Akhirnya, mereka pulang juga. Kenapa tak dari tadi sih pulangnya.” Keenan berdecak kesal.


‘Mungkinkah Aletha sudah tidur? Pasti sudahlah, Ke. Lihat, ini sudah jam satu malam.’ batin Keenan saat melihat jam yang melingkar di tangannya.


Keenan menuju ke kamar Aletha, dan sesampai di sana memang benar bahwa Aletha sudah tidur. Bahkan tidurnya begitu lelap, sehingga saat Keenan masuk ke kamar pun Aletha tidak mendengarnya.


“Ternyata benar saja Dia sudah tidur. Dan malam ini persiapan yang sudah matang telah musnah dengan sia-sia sebelum mencoba. Dan ini namanya... apes. Malam pertama masih belum terlaksana.” Keenan tepok jidat.


“Sejatinya suami istri itu bukanlah mencari pasangan yang sempurna, melainkan saling menyempurnakan satu sama lain... dan selalu ada di saat membutuhkan. Itulah tujuan ku menikahimu, Al. Dan jika malam ini aku belum mendapatkan hak ku, maka aku akan menunggu sampai kamu menyerahkannya sendiri kepadaku tanpa aku meminta.”

__ADS_1


Keenan menatap wajah teduh Aletha saat tertidur. Ingin rasanya Keenan membenarkan rambut panjang Aletha yang menutupi wajahnya. Tetapi niat itu ia urungkan, karena ia tidak mau membuat Aletha terbangun. Cukup memandangi saja.


__ADS_2