Lentera Cinta

Lentera Cinta
50. Posesif


__ADS_3

Nathan yang baru masuk, langsung memeluk Ayunda dari belakang, gadis kecilnya itu sedikit terkejut, karena tidak mendengar ada langkah mendekat. Mungkin terlalu fokus menyuapi Ibu Siska, calon mertuanya, atau pikirannya yang sedang ditempat lain. Sementara Ibu Siska hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tersenyum bahagia, Nathan sudah kembali berubah, dia sudah menemukan lentera cintanya yang hilang.


"Ma, Om Richad pindah kemana?" tanya Nathan kecil pada Ibu Siska


"Kenapa kamu tiba-tiba menayakan om Richad?" Ibu Siska balik bertanya.


"Om Richad pergi membawa sesuatu yang berharga dari Nath Ma"


"Maksudmu?" tanya Ibu Siska tidak mengerti.


"Tidak apa-apa ma, aku pasti bisa mendapatkanya kembali"


Sekarang Nathan membuktikan kalau dia bisa menemukan Ayunda, lentera cintanya yang hilang, yang kini kembali bersinar. Karena itu juga, melihat kebahagian Nathan akhir-akhir ini, membuat Ibu Siska tidak merestui Luna, saat gadis itu merenggek minta dinikahkan dengan Nathan. Dengan segala bujuk rayu Luna memohon dan memaksa, namun Ibu Siska tetap dengan jawaban menuruti pilihan Nathan. Tidak mendapatkan restu, Luna nekat meracuninya.


"Maaf" ucap Nathan sambil berbisik ditelinga Ayunda yang menerima permintaan maaf Nathan dengan menganggukan kepalanya.


"Mas, aku masih menyuapi Ibu" tunjuk Ayunda pada piring yang dipegangnya. Suara Ayunda yang bicara dengan Nathan, menyadarkan Ibu Siska dari lamunannya.


"Baiklah, selesai ini kamu istirahat" Nathan mengecup pucuk kepala Ayunda.


Tidak disadari Nathan, dibelakangnya tampak Kevin menahan sesak menyaksikan kemesraan itu, merutuki kebodohannya melepas gadis secantik dan sebaik Ayunda.


Nathan melepaskan pelukannya, lalu berbalik akan berjalan ke sofa. "Kapan kamu datang Kev?" tanya Nathan menghilangkan keterkejutannya saat menyadari sudah ada Kevin duduk disofa bersama Mama Mira.


"Baru saja" jawab Kevin berbohong.


Nathan mendekati Mama Mira dan mencium tangan calon mertuanya itu, lalu duduk disofa disamping Kevin.

__ADS_1


"Ada apa dengan Luna?" tanya Kevin untuk menghilangkan kecanggungan antara mereka.


"Seperti yang kamu tahu" jawab Nathan singkat.


"Mengapa tante Siska bisa terlibat?" tanya Kevin lagi.


Nathan menggelengkan kepalanya, "Belum ada yang bertanya sama Mama, mengapa Luna melakukan ini semua" jawabnya. Baik Nathan maupun Pak Robert belum ada yang tahu penyebab Luna tega meracuni Ibu Siska, wanita yang selama ini menyayanginya seperti anaknya sendiri.


"Aku harap bukan karena hubunganmu dengan Ayunda" ucap Kevin.


"Jangan asal bicara" bantah Nathan.


"Mas, kita berdua dan El sangat tahu perasaan Luna padamu, dan bagaimana gilanya dia untuk bisa mendapatkan sesuatu yang dinginkannya" Kevin diam sejenak, dia memperhatikan reaksi Nathan. Hubungannya dengan Nathan sebagai sepupu sangat baik, tidak pernah ada masalah diantara mereka. Sampai akhirnya kehadiran Ayunda diantara mereka berdua, membuat suasana sedikit canggung, terutama hati mereka.


Nathan hanya diam mendengar ucapan Kevin. Luna dapat melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, selama ini dia akan membantu Luna untuk mendapatkan keinginannya. Sekarang Luna menginginkan dirinya, karena itu Luna tega menghabisi siapapun yang menghalanginya, termasuk itu mamanya. "Mama" gumam Nathan yang hanya bisa didengar dia sendiri. Mama pasti sudah tahu tentang keinginan Luna, dan mamanya pasti menentang itu, karena itu Luna menyakiti mamanya.


"Tante, Kevin pamit" Kevin mendekati Ibu Siska, Mama Mira dan Ayunda.


Mendengar suara Kevin yang pamit, Nathan tersadar dari lamunanya lalu mendekati Ayunda, dia langsung menggenggam tangan gadis kecilnya. Melarang Ayunda bersentuhan dengan Kevin. Sifat posesif Nathan menjadi perhatian Ibu Siska, yang tidak pernah tahu hubungan antara Ayunda dan Kevin sebelumnya. Sementara Mama Mira bisa mengerti mengapa Nathan seperti itu. Sedangkan Kevin tetap tersenyum walaupun kesal. Ayunda sendiri, hanya diam, membiarkan semuanya berlalu.


Satu jam berlalu dari kepulangan Kevin, kini Ayunda dan Mama Mira juga pamit pulang. Nathan mengatar mereka sampai di parkiran. "Titip Ayunda tante" ucap Nathan setelah mencium tangan Mama Mira. "Jangan khawatir" goda Mama Mira lalu masuk kedalam mobil


"Sampai rumah langsung istirahat, jangan lupa, obat dari dokter Sam diminum" nasehat Nathan sambil memainkan hidung Ayunda.


"Akh... iya, obatnya belum ditebus. Lupa, mana resepnya Mas?" pinta Ayunda.


Nathan tertawa, membuat Ayunda heran. "Obatnya sudah ada di mobil" jawab Nathan. "Ka..." Ayunda baru mau bicara tapi sudah dipotong Nathan terlebih dahulu. "Masuk, sudah ditunggu Mama" Nathan membukakan pintu, agar Ayunda segera masuk.

__ADS_1


"I love you, gadis kecil" goda Nathan saat Ayunda berlalu dihadapannya dan masuk kedalam mobil. Ayunda yang tadinya akan marah jadi tersenyum mendengar ucapan Nathan.


Sepanjang jalan Ayunda mengurai satu-persatu kejadian yang membuatnya semakin dekat dengan Nathan. Sejak mengucapkan perasaanya, Nathan tidak pernah membiarkan Ayunda lepas darinya. Kemana Nathan pergi selalu membawa Ayunda sebagai sekertarisnya, tapi bukan itu tujuan Nathan. Yang dia inginkan gadis kecilnya selalu didekatnya. Pria itu tidak mau berhenti, melakukan apapun yang bisa membuat Ayunda merindukan kehadirannya.


Nathan selalu bisa memaksakan keinginannya, walau harus melihat wajah Ayunda yang cemberut. Nathan tidak akan kehilangan akal, kalau sudah begitu, tentu dia akan melakukan sesuatu yang membuat Ayunda melupakan rasa kesalnya dan kembali tersenyum.


Pelukan hangat dan kecupan sayang dikeningnya, sudah seperti kewajiban Nathan melakukannya pada Ayunda, walau Ayunda belum pernah menjawab menerima cinta Nathan.


Terlebih lagi saat dia dirumah sakit, Nathan benar-benar memberikan perhatian dan kasih sayangnya, membuat Ayunda akhirnya luluh dan menerima Nathan dihadapan mahkam Papa Richad. Setelah Ayunda menerima cinta Nathan, Kakak baik hatinya semakin berani menunjukkan kepemilikannya, bahkan sedikit posesif.


Ayunda ingat perdebatan pertama mereka, diluar masalah pekerjaan kantor, ialah disaat memutuskan drama korea apa yang akan mereka tonton terlebih dulu, yang akhirnya dimenangkan Ayunda. Dia tertawa sendiri menggingat hari itu, mereka yang akhirnya menonton serial drakor Alice, sesuai keinginan Ayunda. Dia puas meledek Nathan, "Kak, wajah kakak yang dulu sangat mirip dengan Park Jin Gyeom, mukanya datar tanpa ekspresi, kaku dan tidak pernah tersenyum. Menakutkan" ucap Ayunda.


Bukan marah tapi Nathan malah menggodanya, "Tapi kamu sukakan?"


"Siapa bilang, aku sukanya sama yang murah senyum kak, selain baik hati" jawab Ayunda.


"Sayang, bisa jangan memanggil kakak lagi?" pinta Nathan, Ayunda mengerutkan dahinya, "Mengapa?"


"Kamu memanggil orang yang kamu sayang dimasa lalu dengan kakak, jadi memanggilku jangan samakan dengannya" Ayunda melihat wajah Nathan tampak serius.


"Baiklah, aku panggil Mas aja ya, sama kayak mama, manggil Mas Nathan"


"Mas Nathan, lumayan enak didengar, tapi lebih enak lagi kalau dipanggil sayang" jawab Nathan.


"Mas sayang" panggil Ayunda.


Nathan tersenyum senang "Not bad. Merasa lebih istimewah mendengarnya" Nathan mengecup pucuk kepala Ayunda, lalu mereka melanjutkan menonton. Ayunda yang nonton sambil berbaring dibahu Nathan terlelap, melihat itu, Nathan membaringkan Ayunda disofa, sedangkan dia duduk di lantai yang beralaskan karpet, bersandar pada sofa, dimana Ayunda berbaring. Tidak menunggu lama, Nathan yang kesepian ikut terlelap sambil duduk.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2