
“Rasa takut itu akan hilang dengan seiringnya waktu, karena kita akan merasa terbiasa menghadapi segala ujian apapun jika kita mengingat Allah. Maha Cinta, Maha kasih dan Maha dari segala Maha.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Garda, apa kamu tidak ingin berpindah ke rumah dinas saja? Di sana kita bisa leluasa melakukan apapun, termasuk pulang malam seperti ini. Aku... merasa tidak enak jika Brigjen Bagas Kara mengetahui kita.”
”Yaelah, bilang saja kalau maunya hanya berdua saja. Lagian malah bagus jika Brigjen Bagas Kara tahu, kita bisa naik pangkat karena kita sigap dalam menjalankan tugas.” Garda menggerakkan alisnya naik turun.
Dor... Dor... Dor...
Tiba-tiba saja ada suara peluru diluncurkan dan mengenai ban motor Keenan. Hingga membuat motor itu tidak bisa dikendalikan oleh Keenan. Dan membuat Keenan harus berhenti, begitu juga dengan Garda. Karena tidak mungkin jika mereka akan meninggalkan satu sama lain.
“Kita... terjebak.”
“Mereka terlalu banyak untuk kita lawan saat ini.”
“Satu... Dua... Tiga.. Empat... Lima... Enam.” Keenan menghitung geng motor yang menyerangnya tadi.
“Ada enam orang, Garda. Pasti kita bisa membekuk mereka semua.” Keenan mengepalkan erat tangannya.
“Kalau itu pilihanmu maka... kita serang saja.”
Dengan gagah berani Keenan dan Garda membiarkan enam orang dari geng motor itu mendekat ke arah mereka. Dan pistol pun siap dalam genggaman untuk berjaga jika salah satu dari mereka meluncurkan kembali pelurunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Akhirnya kita bisa kembali pulang dengan selamat. Sialnya... motorku tertinggal.” Desah Keenan.
Setelah berhasil melumpuhkan enam orang dari geng motor itu, kini Keenan dan Garda berhasil kembali pulang dengan selamat. Hanya saja motor Keenan terpaksa ditinggal di area itu karena ban motor nya kempes akibat terkena peluru. Hingga membuat Keenan merasa kesal karena itu adalah motor kesayangannya.
“Sudahlah, tidak mungkin juga jika mereka membawa motormu itu. Besok kita kembali ke lokasi itu untuk mencari tahu motormu dicuri atau tidak.” Garda menepuk pundak Keenan.
Garda masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, sedangkan Keenan masih membersihkan tangannya karena bekas luka gigitan ular itu kembali mengeluarkan darah.
“Ternyata Dia sudah tidur. Syukurlah, Dia tidak terlalu mengkhawatirkan aku dan aku juga berhasil melawan mereka tanpa terluka sedikitpun.”
Keenan menyingkap rambut Aletha yang menutupi sebagian wajahnya, lalu mengecup kening Aletha dengan begitu pelan agar Aletha tidak terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
“Mandi dulu saja, setelah itu aku akan... menyusulnya tidur.” Keenan tertawa dalam hati.
Saat Keenan masih berada di dalam kamar mandi Aletha terbangun, ia mendengar suara orang yang sedang mandi di dalam kamar mandi. Dan Aletha merasa yakin jika itu adalah Keenan, sehingga ia pun berinisiatif untuk menyiapkan pakaian tidur Keenan malam itu.
“Neng, kok sudah bangun? Apa Aa yang sudah membangunkan Neng?”
“Tidak kok, Aa. Bukannya seorang istri itu memang merasakan kehadiran suaminya? Karena Neng merasa seperti itu.” Aletha menyunggingkan senyum.
“Ada-ada saja Neng ini ya. Tapi ya syukurlah kalua Neg bisa merasakan kehadiran Aa. Itu tandanya... Neng separuh nyawa Aa.”
Bualan yang sangat receh dari Keenan sukses membuat Aletha merasa malu, dan Aletha menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa malunya itu. Apalagi saat Keenan masih memakai handuk saja.
‘Aa... ternyata seksi ya! Berotot, bikin Neng tambah sayang dan cinta.’ Aletha bermonolog dalam hati.
“Kenapa Neng lihatin Aa seperti itu, hmm? Apa... ada yang aneh dari penampilan Aa?”
Aletha menggeleng, tapi masih menundukkan kepalanya menyimpan rasa malu. Bahkan pipinya pun memerah, tidak tahan rasa jika Keenan akan membuka handuk itu di depannya.
“Jangan menundukkan kepala terus menerus seperti itu, Neng. Nanti tidak bisa melihat ketampanan Aa loh.” Keenan terkekeh.
Aletha mendongakkan kepalanya, menatap Keenan dengan tatapan penuh cinta. Dan Keenan berusaha untuk meraih tangan Aletha lalu merengkuh nya dalam pelukan.
Aletha segera melerai pelukannya untuk melihat apa yang terjadi dengan Keenan. Dan darah kembali mengucur dari tangan Keenan, tetapi dengan sigap Aletha mengambil kotak P3K untuk mengobati lukanya.
“Bagaimana bisa tangan Aa seperti ini lagi? Apa Aa tidak meminum obat yang diberikan dokter?”
Aletha membersihkan darah itu dengan kain kaksa yang sudah diberi alkohol. Setelah itu Aletha menutup luka itu dengan perban agar darahnya tidak keluar terus menerus.
“Emm... tidak. Aa rasa tidak perlu minum obat secara berlebihan. Bukannya sudah ada dokter dalam hidup Aa yang selalu siap mengobati Aa?”
“Tapi Aa harus mengikuti anjuran dokter yang ahli dalam toksikologi, bukan Neng yang ahli dalam ilmu kedokteran kardiologi. Beda jauh itu Aa.”
“Sudah, sekarang Aa minum dulu obat yang diberikan dokter Fahri. Setelah itu, Aa tidur saja.”
“Tapi dipeluk. Neng mau kan?”
Kembali Aletha menundukkan kepalanya lalu mengangguk. Aletha memang merindukan momen kebersyitu dengan Keenan. Karena selama di rumah sakit Aletha tidak bisa melakukan secara bebas seperti itu. Dan malam itu Aletha menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Keenan untuk mencari kenyamanan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Buat apa itu, Ma? Boleh Aletha bantu?”
“Mama mau buat panekuk, kalau kamu mau bantu coba saja. Siapa tahu... Keenan suka.” Mama Nina menyunggingkan senyum.
Aletha mulai membantu Mama Nina membuat panekuk, semua bahan dimasukkan ke dalam wadah baskom sesuai dengan apa yang di paparkan oleh Mama Nina. Dan setelah dicampurkan semua bahannya Aletha mulai mengaduk semua bahan sampai merata.
Setelah lima belas menit kemudian bau aroma panekuk telah menguar ke udara membuat Aletha tidak sabar ingin mencicipi nya. Dan jika lezat, maka tidak akan sia-sia dan membuatnya malu untuk dihidangkan kepada Keenan sebagai makanan sarapan pagi.
“Bagaimana, Ma?”
“Lezat, enak dan renyah banget. Kalau begitu ambilkan untuk Keenan.” Mama Nina manggut-manggut, merasakan gurihnya panekuk yang dibuat Aletha.
Dengan rasa semangat Aletha mewadahi satu piring kecil panekuk yang sudah dibuatnya tadi. Setelah itu tak lupa secangkir kopi sebagai minuman pelengkap pagi itu.
“Sudahlah Aa olahraga nya, sudah dari subuh juga masa belum selesai juga. Apalagi sih yang mau dibuat ok? Body sudah ok, perut juga berotot dan wajah juga sudah glowing,” cicit Aletha.
“Bukan begitu juga, Neng. Tapi Aa lagi latihan fisik, jika fisik seorang Kapten lemah bagaimana prajurit yang lainnnya menjalankan tugas? Sedangkan Kapten nya saja lemah.” Keenan masih melanjutkan olaraga ringannya.
“Iya... iya... tapi istirahat dulu gih, Neng sudah bawakan panekuk dan kopi hangat. Sarapan dulu yuk!”
Keenan menghentikan aktivitas olahraga nya, setelah itu menghampiri Aletha yang berada di balkon. Di balkon itu Aletha berdiri, karena tidak bisa duduk di lantai selama kurang lebih lima hari sebelum jahitan di perutnya sudah benar-benar mengering.
“Neng, boleh jika Aa bertanya sesuatu kepada Neng?”
“Iya Aa, boleh.” Aletha mengangguk.
“Apa Neng tidak pernah takut menjadi istri seorang abdi negara?”
Pertanyaan itu seketika membuat Aletha menoleh, menatap lekat sepasang mata elang Keenan.
”Rasa takut itu akan hilang dengan seiringnya waktu, karena kita akan merasa terbiasa menghadapi segala ujian apapun jika kita mengingat Allah. Maha Cinta, Maha kasih dan Maha dari segala Maha.”
“Jika Neng merasa takut, mungkin dari awal Neng akan... menolak khitbah yang Aa ajukan. Lagipula ayah Neng itu kan jiga abdi negara, ke apa jiga harus takut coba?”
Ada hati yang berbunga-bunga saat Aletha mengungkapkan rasa itu...
__ADS_1
Bersambung...