Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 82 “Kejadian Pagi”


__ADS_3

“Manusia itu tidak ada yang sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Hanya saja... manusia telah diciptakan dengan akal yang sehat, hati yang mudah perasa dan nafas untuk menghirup udara. Bahkan masih ada banyak lagi yang patut kita syukuri sebagai manusia.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di rumah Aletha langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk menghilangkan rasa lelah yang mendera setelah menghadiri acara pernikahan Edbert dan Catrina yang digelar dengan megahnya.


Saat mata Aletha mulai terpejam tiba-tiba saja ponselnya berdering, yang membuatnya tidak jadi tertidur dan membangun mimpi di alam yang berbeda.


“Selamat beristirahat, jangan lupa sholat tepat waktu. Dan kutunggu kedatanganmu esok hari.”


“Siap, Kapten!”


Tiada hentinya Aletha tersenyum sendiri saat mengingat kembali pesan singkat dari Keenan. Ingin rasanya ia melambung tinggi ke udara saat bayangan romantis kala itu menari-nari dalam pelupuk matanya. Tidak menyangka jika Keenan bisa seromantis dan so sweet ala lelaki bucin lainnya.


Pagi itu mentari pagi tidak kentara untuk menyambut kota Jakarta. Dan membuat para manusia merasa malas melakukan segala aktivitas saat rintikan hujan mulai menyerbu kota Jakarta. Inginnya hanya berbalut selimut tebal dan tidur seharian, sampai hujan mereda. Begitu halnya dengan Aletha, ia merasa malas untuk melakukan aktivitas paginya. Hanya bergelut dengan selimut tebalnya di atas ranjang.


“Al... bangun!” Teriak Mama Nina dibalik pintu kamar Aletha.


Tidak ada suara yang membalas dari dalam kamar, hanya suara dengkuran yang cukup didengar oleh telinga Mama Nina. Meskipun sudah berkali-kali mengetuk pintu, tetap saja Aletha tak bergeming sedikitpun.


“Oma, ngapain di depan kamar aunty Aletha?”


“Oma mau bangunin aunty kamu itu, tapi tidak ada jawaban.” Mama Nina menggelengkan kepalanya.


“Sini Oma, biar Larisa saja yang bangunin aunty nya. Oma pergi saja tidak apa-apa.”


“Baiklah, Oma akan pergi. Oma mau siapin sarapan dulu.”


Mama Nina pun pergi meninggalkan Larisa yang masih berdiri di depan pintu kamar Aletha. Larisa yang masih berusia tujuh tahun tengah melakukan aksi jahilnya. Beberapa kali Larisa menggedor pintu dengan keras, tetapi tidak ada jawaban apapun dari dalam sana.


“Ceklek.” Larisa menarik gagang pintu.


“Tidak dikunci.” Larisa nyengir.


Larisa masuk ke dalam kamar Aletha begitu saja. Ia memeriksa Aletha kenapa tidak menyahut teriakannya yang keras dan cempreng.

__ADS_1


“Pantesan nggak denger, telinganya saja di tutupin begitu. Tidur juga kayak kebo, mana mendengkur lagi. Punya aunty kok jorok.” Cicit Larisa.


Aletha memang memasang ear phone di telinganya. Dan musik yang didengarkan begitu merdu, hingga membuat Aletha terlelap dalam tidurnya. Andai para pembaca tahu lagi apa itu, lagu yang menjadi favorit Aletha setelah menghadiri acara pernikahan Edbert dan Catrina.


Lagu yang dinyanyikan Keenan telah diputar beberapa kali oleh Aletha setelah Wilona mengirimkan video yang tersimpan di handphone nya. Serasa tak bosan mendengar lagu itu, yang membuat Aletha terbuai, terpaku dan terpukau saat mengingat Keenan dengan sejuta pesona.


“Mending dilepas saja. Larisa juga mau dengar lagu apa yang didengar aunty.”


“Pantesan tidurnya nyenyak, sampai ileran begitu. Ternyata ... suara Om Keenan yang didengerin.” Larisa terkekeh.


Setelah melepas ear phone, Larisa berteriak di dekat telinga Aletha dengan suara cempreng nya. Hingga membuat Aletha terkejut dan seketika beranjak dari tempat tidurnya.


Cukup diakui sama penulis, Larisa yang masih kecil memiliki kejahilan seperti Juan. Dan ketika melihat Aletha yang sudah berdiri di depannya, Larisa hanya tertawa lepas.


“Bwa ... ha ... ha...”


“Puas ketawanya, hmm?”


“Lucu aunty, rambutnya tolong dikondisikan. Oh iya, aunty cepetan mandi gih, ada Om Keenan yang nunggu di bawah.” Larisa berlari.


Mendengar nama Keenan dari bibir Larisa, seketika Aletha menghadap layar kaca. Melihat betul bagaimana kondisinya saat itu. Dan hanya satu kata yang mewakili penampilan Aletha pagi itu, hancur.


Aletha mengambil handuk dan segera melakukan aktivitas di dalam kamar mandi. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Aletha melakukan ritualnya di dalam sana.


Aletha berdiri di depan almari nya yang cantik. Ia memilih baju yang pas untuk bertemu Keenan yang akan melakukan pengajuan. Hanya sekitar satu minggu saja untuk melakukan pengajuan. Setelah itu, Aletha dan Keenan akan melangsungkan pernikahan.


“Aku tidak memiliki gamis ataupun hijab. Hanya pakaian ini yang cukup sopan saat dipandang.”


Aletha menenteng baju longgar dan rok panjang. Namun Aletha tidak memiliki hijab untuk ia kenakan, sehingga ia mengurai rambutnya yang lurus dan indah.


“Semoga saja ok,” ujar Aletha.


Setelah berdiri cukup lama di depan layar kaca untuk meneliti pakaiannya dengan benar, kini Aletha menuruni tangga dan siap untuk bertemu Keenan.


...----------------...

__ADS_1


“Aunty kamu sudah bangun, Kak?” tanya Luna.


“Sudah, Bun. Pasti sebentar lagi juga turun.”


Luna hanya mengangguk. Ia senang kembali berkumpul dengan keluarganya, ditambah lagi dengan kehadiran Ravva yang kini sudah berusia enam bulan. Bikin gemes semua orang termasuk Aletha sendiri. Dan mungkin akan ditambah lagi anggota baru dalam keluarga Bagas Kara, karena Luna tengah mangndung lima bulan. Sehingga panggilan kepada Larisa dibiasakan dengan Kakak.


Aletha menuruni anak tangga dan langsung menuju ke ruang depan. Namun sesampainya di sana tidak ada siapapun yang duduk dan mengisi ruang itu.


“Wah, dasar ... Larisa. Dia sudah berani bohongin orang tua.” Aletha senyum smirik.


Dengan segera Aletha menghampiri Larisa yang tengah menyantap sarapan pagi bersama Juan. Sedangkan yang lain masih nanti, karena hanya Juan dan Larisa yang harus berangkat pagi kecuali, Bagas Kara dan Garda. Dari semalam mereka tidak pulang, ada tugas militer yang harus dikerjakan segera.


“Wah, enak banget ya masakannya.” Sapa Aletha.


“Uhuk ... uhuk. Aunty ... sejak kapan berdiri disitu?” Larisa tersedak.


“Tidak perlu tahu. Sekarang, cepat minta maaf sama aunty karena sudah jahil.”


“Baiklah, aunty... Larisa minta maaf ya! Tapi... lain kali aunty kalau tidur jangan ngorok, ileran dan juga... jangan pakai ear phone, biar denger kalau dibangunin sama Oma.” Pekik Larisa.


Sontak Luna, Mama Nina dan Juan tertawa saat Larisa mengatakan dengan kejujuran. Karena anak kecil tidak mudah berbohong. Dan jelas kejujuran Larisa membuat Aletha malu, karena aib nya sudah dibongkar oleh keponakannya sendiri.


“Al, kamu tidak salah memakai baju, kan?” tanya Juan.


Meskipun saudara ipar, Juan dan Aletha selalu menganggap saudara kandung. Bahkan Juan tahu betul bagaimana Aletha berpakaian. Sehingga begitu aneh saat melihat Aletha tengah memakai baju longgar dan rok panjang.


“Tidak, Kak. Bagaimana penampilanku?” Aletha berputar.


“Nihil, kak Juan tidak suka.”


“Iya, kak Luna juga tidak suka. Ini aneh jika dipandang mata, Al.”


“Tapi kan... ini menutup aurat, kak. Aletha hanya ingin terlihat sempurna sebagai wanita, meskipun masih belum mengenakan hijab.” Aletha menunduk malu.


“Al, manusia itu tidak ada yang sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Hanya saja... manusia telah diciptakan dengan akal yang sehat, hati yang mudah perasa dan nafas untuk menghirup udara. Bahkan masih ada banyak lagi yang patut kita syukuri sebagai manusia.”

__ADS_1


“Jika kamu ingin menutup aurat, jangan memakai yang model pakaiannya seperti itu. Coba kalau dirubah sedikit, pasti akan lebih cantik. Kembali gih ke kamar dan rubah dulu pakaiannya. Kalau tidak punya gamis, pakai kemeja panjang dan rok itu. Hijab nya bisa pinjam Laura atau kakak kamu.”


Tak biasa Juan bertutur dengan lembut. Bahkan mengatakan kata-kata bijak yang membuat Luna berdecak kagum dengan sikap suaminya itu.


__ADS_2