
“Jantungku telah berdetak kembali setelah ku temukan cinta yang berarti. Rindu yang membuncah dada telah terobati dengan adanya pertemuan setelah perpisahan. Hasrat yang terpendam kian menggebu, yang membuat ku ingin mengecup bibir merahmu.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha menghubungi perawat di rumah sakit untuk segera menyambut kedatangannya bersama rombongan.
“Siapkan dua brankar untuk korban ... kecelakaan.” Sungguh tidak terpikirkan oleh Aletha bagaimana memberitahu perawat yang sedang bertugas malam itu.
Keadaan darurat dan mendesak membuat Aletha tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya dengan apa yang terjadi dan apa yang sudah dialami.
‘Ya Allah... ketegaran dan ketangguhan ku telah meluruh sebagai seorang istri. Hati ini kian merapuh melihat wajahnya yang lebam membiru. Seolah belati tajam telah menghunus ke dasar hati.’
‘Ya Allah... berikanlah suamiku kekuatan sebagaimana Engkau memberinya kekuatan untuk bertahan sebagai seorang prajurit sejati.’
Tiada hati seorang istri yang tidak menangis jika melihat suaminya telah terluka, bahkan wajah Keenan sampai tidak mampu dikenali karena bekas luka yang membiru di ujung pelupuk mata, di sudut bibirnya dan beberapa di bagian pipi serta pelipisnya. Hal sama pun juga terjadi dengan Garda.
Tes...
Air mata menetes begitu saja, membasahi pipi Aletha saat ia membuka baju Keenan. Luka yang membekas bukan hanya di bagian wajah saja, bahkan di bagian perut Keenan juka terluka.
‘Al, akhirnya... pertahanan mu untuk berusaha tetap tegar telah luluh lantah setelah perjumpaan yang memilukan.’ Ilham bermonolog dalam hati.
Ilham yang tahu bagaimana Aletha yang selalu ceria, saat menjadi seorang wanita, seorang istri, seorang ibu dan juga seorang dokter, kini Ilham tidak bisa membiarkan kesedihan akan dialami Aletha. Ilham akan selalu mengingat bagaimana Aletha yang selalu ada untuknya saat merasa rapuh karena telah kehilangan Maya.
“Lakukan yang terbaik untuknya! Dan seorang dokter di larang untuk menangis saat menangani pasiennya.” Ilham merengkuh jemari Aletha untuk sekedar menguatkan Aletha yang bersedih.
Aletha menoleh, ia menatap Ilham dengan binar mata kesedihan yang tidak bisa menipu seorang Ilham. Karena dulu Ilham juga pernah melihat hal yang sama dari dalam diri Aletha setelah kehilangan Fajar.
“Kak Ilham benar, aku harus bisa!” ucap Aletha dengan senyum tipis di bibirnya.
Setelah kurang lebih satu jam melakukan penerbangan dengan helikopter akhirnya Aletha, Keenan, Garda dan Ilham sampai juga di rumah sakit Siloam Hospitals. Dan kedatangan mereka sudah disambut oleh dua perawat yang siaga dengan brankar mereka.
“Kita angkat secara perlahan!” perintah Aletha.
__ADS_1
Aletha memindahkan Keenan dan Garda ke brankar rumah sakit yang dibantu oleh dua perawat tersebut dan juga Ilham.
Setelah keduanya sudah dipindahkan di atas brankar dengan segera Aletha mendorong brankar Keenan ke ruang UGD, begitu juga dengan Garda. Keenan diperiksa oleh Aletha secara intensif dan menyeluruh, karena Aletha takut jika saja Keenan mengalami cedera di bagian organ dalam. Hal sama juga dilakukan Ilham sebagai dokter ahli bedah jantung, karena Garda juga mengalami luka yang sama.
“Jika saja kamu bukan seorang prajurit sejati, maka aku tak akan biarkan kamu pergi. Tetapi takdir telah berkata lain, di mana aku harus menjadi seorang istri dari seorang prajurit sejati. Bahkan aku harus dituntut untuk kuat dan tegar jika saja kematian merenggut nyawamu saat kamu menjalankan misi.”
Aletha terus berusaha untuk menegakkan hatinya kembali, meskipun rasa pilu di hatinya masih begitu terasa.
”Bagaimana Sus, apakah sudah keluar hasil pemeriksaan dari Pak Keenan dan juga Pak Garda?”
”Sudah, Dok. Ini hasilnya.” Suster Ana memberikan dua lembar kertas hasil dari pemeriksaan Keenan dan Garda.
Aletha meneliti hasil pemeriksaan itu, rasa syukur pun telah terucap dari dasar hatinya. Karena hasil pemeriksaan Keenan maupun Garda tidak terlalu mengancam organ tubuh mereka. Sehingga membuat Aletha mampu bernafas lega.
Setelah memberikan perawatan kepada Keenan dan Garda, Aletha segera mengubungi nomor Bagas Kara dan juga Mama Nina. Karena bagaimana pun mereka wajib tahu bagaimana kondisi Keenan dan juga Garda.
“Al, terimakasih!” ucap Laura yang ikut bicara melalui video call saat Aletha mengubungi Mama Nina.
“Aletha, kalau begitu Mama, Laura dan Juan akan ke rumah sakit sekarang!”
Aletha mengangguk secara pelan, dengan ucapan salam mereka mengakhiri perbincangan yang hanya melalui udara.
Dengan kesetiaannya Aletha menemani Keenan sembari mengobati luka lebam di wajah Keenan. Sesekali Aletha menarik nafas panjangnya saat membayangkan bagaimana ketua penjahat itu meminta bawahannya untuk memukul Keenan dan Garda secara tragis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
”Maaf, Komandan mau kemana setelah ini?” tanya Bian.
“Saya mau ke rumah sakit. Karena informasi yang saya dapat Keenan dan Garda di bawa ke rumah sakit.” Bagas Kara yang masih mengenakan seragam hitamnya yang sama persis dengan yang dipakai Aletha masuk ke dalam mobil.
“Emm... apa boleh kita ikut jiga kesana, Komandan?” tanya Kaina tampak ragu.
“Tidak masalah, saya tidak akan melarang kalian. Mereka sahabat dan juga saudara kita, kalau begitu kalian cepat naik jika tidak mau saya tinggal.” Bagas Kara menyalakan mesin mobil yang akan di sopir olehnya.
__ADS_1
Tawa ketiganya lepas saat tahu bahwa Komandan mereka juga bisa mengeluarkan kata candaan. Dan segera Bian, Bayu dan Naina masuk ke dalam mobil Bagas Kara. Dengan kecepatan sedang Bagas Kara mengendarai mobil itu.
“Halo, Rania. Assalamu'alaikum,” ucapan Bagas Kara setelah terhubung dengan Rania.
“Wa'alaikumsalam, Pa. Ada apa. Papa menelpon Rania? Apa ada tugas untuk Rania?”
“Tidak. Papa hanya ingin bertanya bagaimana Alina? Apa baik-baik saja di rumah?”
“Alhamdulillah, Alina tidak rewel kok Pa, meskipun sesekali terbangun.” Terang Rania.
“Baiklah! Jaga rahasia jangan sampai bocor ke Ibu mu, kecuali... Ghost Rider sendiri yang akan mengatakannya.” Bagas Kara mempercayakan semuanya kepada Rania yang sudah dilatih olehnya.
“Siap! Komandan.”
Obrolan telah diakhiri. Tidak lama kemudian mobil Bagas Kara memasuki area parkir rumah sakit Siloam Hospitals dan bersamaan pula dengan mobil Juan.
“Al,” panggil Laura dengan lirih.
“Laura, kamu ... pasti ingin bertemu kak Garda, kan? Biliknya ada di sebelah.” Tunjuk Aletha di sisi kanan yang tertutupi sebuah gorden lebar berwarna hijau.”
Laura mengangguk, lalu ia mendorong kursi rodanya dan ketika melihat kondisi Garda yang dipenuhi luka, hati Laura merasa teriris. Begitu juga saat melihat kakak tersayangnya, Laura tidak bisa menipu jika kesedihan dan haru tengah dirasakannya.
Aletha dan Laura saling menguatkan satu sama lain dengan saling peluk. Hingga rasa haru melebur menjadi satu.
Setelah cukup puas saling peluk, kini Aletha dan Laura memutuskan untuk menemani suami mereka di sisi brankar.
“Jantungku telah berdetak kembali setelah ku temukan cinta yang berarti. Rindu yang membuncah dada telah terobati dengan adanya pertemuan setelah perpisahan. Hasrat yang terpendam kian menggebu, yang membuat ku ingin mengecup bibir merahmu.”
“Aa Keenan, apakah Aa juga merasakan hal yang sama dengan Neng?”
Satu kecupan telah dilayangkan Aletha di bibir Keenan.
Bersambung...
__ADS_1