
“Seseorang itu harus memiliki jiwa dedikasi yang tinggi dalam setiap pekerjaan yang sudah dipilih oleh orang itu sendiri. Dan kamu sebagai anak muda harus memiliki jiwa yang seperti itu untuk dijadikan motivas dan melatih diri.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Laura akan selalu mendoakan kak Garda. Kak Garda juga harus janji untuk kembali dengan keadaan tubuh yang masih bernyawa. Ini perintah dan tidak boleh dibantah.” Laura menatap lekat Garda yang duduk di hadapannya.
“InsyaAllah, kakak akan berusaha memenuhi janji itu untuk istri dan juga putra kakak.”
Malam semakin melarut, membuat Aletha dan Laura gelisah tidak menentu. Sedangkan Keenan dan Garda sudah tertidur setelah berhasil meyakinkan istri mereka dalam misi di Yahukimo.
‘Aa... Neng hanya bisa berharap kita akan bertemu kembali seperti yang Aa ucapkan kemaren, mapun dulu.’
Dengan seiringnya waktu yang terus berjalan Aletha terpejam, walau sesekali terbangun karena merasakan gerakan Alina yang meminta ASI. Dan tepat pada pukul tiga malam Aletha sengaja bangun dari tidurnya untuk meneletiti kembali beberapa keperluan Keenan sebelum berangkat ke Yahukimo.
“Emm... aku rasa sudah lengkap.” Aletha manggut-manggut.
Setelah dirasa sudah lengkap mulai dari seragam dan senjata kini Aletha membangunkan Keenan yang tengah merengkuh Alina dalam dekapannya.
“Aa... bangun sudah jam tiga loh ini!”
Aletha menggoyang-goyangkan tubuh Keenan dengan pelan hingga Keenan pun terbangun. Dan setelah mendengar apa yang diucapkan Aletha seketika Keenan beranjak dari tempat tidurnya lalu langsung menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh di pagi hari sebelum berangkat.
Aletha menyiapkan seragam yang hendak di pakai Keenan petang itu saat menuju ke Yahukimo.
“Sudah Neng siapkan seregamnya, tinggal pakai saja. Aa mau sekalian sarapan tidak?”
“Sarapan apa coba Neng kalau jam segini? Memangnya sudah ada nasi yang matang apa, hmm?”
“Emm... belum juga sih, tapi Neng sudah buatkan panekuk tuh di meja.” Aletha menunjuk meja yang ada di sisi kiri keranjangnya.
Senyum Keenan pun memgembang ketika melihat panekuk buatan Aletha yang rasanya berbeda dengan yang lain. Buatan Aletha serasa penuh cinta, membuat Keenan memiliki semangat yang tinggi untuk memakannya.
“Hmmm... Enak, Neng. Pasti Aa akan selalu merindukan panekuk buatan Neng, penuh cinta.” Keenan menikmati setiap gigitan yang renyah.
“Enak kan mana sama lambang cinta kita, Aa ... coklat batang? Tadi juga sudah Neng siapkan coklat batangnya di dalam tas Aa.” Aletha membuat Keenan seketika menatapnya.
‘Tak ku sangka kamu mengingat lambang cinta itu, coklat batang yang melumer. Meskipun panjang dan keras, tapi saat digigit dan masuk ke dalam mulut coklat itu melumer. Seperti hatiku pada saat pertama kita bertemu.’
Suara helikopter telah menderu begitu keras berada di halaman Bagas Kara yang amat luas. Seketika Keenan dan Garda keluar dengan mengangkat ransel besar yang sudah diisi dengan beberapa pakaian sekaligus senjata yang diperlukan. Tidak lama kemudian seluruh anggota keluarga Bagas Kara ikut keluar untuk mengantarkan keberangkatan Keenan dan Garda bertugas di Yahukimo.
“Aa berangkat dulu, Neng! Jaga diri baik-baik dan juga jaga Alina.” Keenan mengusap lembut pipi Aletha.
“Iya, Aa. Aa juga jaga diri baik-baik di sana. Jangan lupa selalu memberi kabar kepada Neng apapun yang terjadi. Berjanjilah untuk kembali dengan selamat, agar kita bisa berkumpul bersama lagi.” Air mata yang teetahan kian meluruh, membasahi pipi Aletha tanpa balutan make-up.
“Aa berjanji, tapi maaf jika Aa tidak bisa menepati janji itu. Karena Aa hanya manusia biasa... yang tidak pernah tahu bagaimana takdir akan membawa Aa kemana. Doa kan saja yang terbaik untuk Aa.” Keenan menyeka sisa air mata yang masih keluar dari ujung pelupuk mata Aletha.
Hal sama tengah dilakukan oleh Garda dan Laura, perpisahan dengan jarak yang amat jauh memang bukanlah hal yang mudah. Apalagi dilihat dengan jelas tugas Keenan dan Garda adalah misi yang mempertaruhkan nyawa, mengingat betapa bahayanya Jayapura.
Setelah Keenan dan Garda berpamitan dengan Aletha dan juga Laura kini mereka berganti ke Bagas Kara, Mama Nina, Luna, Juan dan juga Larisa yang berdiri di belakang Aletha dan Laura.
“Hormat, Brigjen Bagas Kara! Mohon ijin, kami selaku anggota pasukan berani mati siap untuk berangkat dan menjalankan misi!” ucap Keenan dengan tegas.
“Ijin kalian saya terima.” Bagas Kara mendekati Keenan dan Garda.
“Papa mohon, kembalilah dengan selamat.” Bagas memberikan pelukan kepada Keenan dan Garda.
“Siap, Pak!” teriak Keenan dan Garda dengan tegas.
Setelah menurunkan tangan mereka yang memberikan hormat kepada Bagas Kara tadi kini Keenan dan Garda menyalami Mama Nina dan kakak ipar mereka.
“Ma... Kak Luna dan Kak Juan... kami berangkat dulu! Minta doa kalian agar kami selamat sampai kembali nanti.” Keenan mengulas senyum tipis.
__ADS_1
“Mama dan kita semua akan selalu mendoakan kamu, Kapten. Tepatilah janjimu, jangan buat Aletha dan Alina terluka.” Juan menepuk pelan pundak Keenan.
“Dan kamu juga Lettu Garda, kembalilah dengan selamat!”
“Siap, kak Juan!”
Setelah berpamitan dengan semuanya Keenan dan Garda siap untuk naik ke helikopter yang sudah ada di depan mata. Ketika hendak menuruni anak tangga helikopter itu, tiba-tiba Larisa memanggil Keenan dan Garda lalu menghampiri mereka dengan separuh berlari. Hal itu membuat Aletha dan yang lainnya merasa heran, karena sebelumnya Larisa tidak terlihat begitu dekat dengan Keenan maupun Garda.
“Om Keenan dan Om Garda bawa ini! Jangan lupa dimakan saat berada di helikopter nanti. Ini Larisa sendiri yang buat, dijamin enak dan higenis semua bahannya.” Larisa memberikan dua paper bag kepada Keenan dan Garda.
“Apa ini, Larisa?”
“Emm... Om buka saja di dalam. Itu rahasia, yang pasti Larisa tulus memberikan itu kepada kedua Om super hero nya Larisa.” Larisa melambaikan tangan kepada Keenan dan Garda, setelah itu kembali mundur untuk bergabung dengan keluarga yang masih berada di belakang.
Helikopter siap untuk diterbangkan dengan suara yang menderu. Membawa Keenan dan Garda bertugas untuk menjalankan misi. Aletha juga merelakan Keenan menjalankan misi itu sebagai tugasnya untuk mengabdi kepada Negara. Dan dengan kekuatan cinta mereka harus saling menguatkan dan memberikan semangat satu sama lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ma, nanti Aletha harus bekerja lagi seperti biasa. Aletha titip Alina kepada Mama ya, nanti juga ada yang bantu kok. Mungkin sebentar lagi datang.”
“Siapa? Apa kamu menyewa baby sister untuk menjaga Alina, Al?” tanya Luna.
“Tidak.” Aletha menggelengkan kepalanya.
Obrolan mereka pun terpotong setelah mendengar bel rumah mereka tengah berdering. Menandakan ada tamu yang ingin bertandang ke rumah mereka. Dan dengan sigap bik Siti membukakan pintu lalu mengantar tamu itu masuk hingga ke ruang keluarga.
“Assalamu'alaikum,” ucap salam Rania dan bu Laila.
“Wa'alaikumsalam,” balas semuanya secara bersamaan.
Aletha dan yang lain seketika mengembangkan senyum meraka setelah tahu siapa tamu yang bertandang ke rumah mereka pagi itu. Tak lain adalah Ibu dan juga adik Fajar, yang dulu di angkat oleh Bagas Kara menjadi putri nya.
Semuanya saling berpelukan untuk melepas rindu yang membuncah dada. Karena sudah hampir lima tahun lebih mereka tidak saling tutur sapa.
“Baguslah kalau Mama punya teman rumpi.” Mama Nina tersenyum sumringah.
Seketika semua tertawa, menemani pagi mereka yang sebelumnya muram karena kepergian Keenan dan Garda. Kini ada anggota keluarga baru yang akan tinggal bersama mereka. Dan setelah bersekolah di AKMIL Rania kini sudah lulus dan ditugaskan di Taruna Nusantara, Jakarta.
“Bu Laila dan Rania, obrolannya kita lanjut lagi nanti ya! Aletha harus ke rumah sakit dulu, sudah mepet jam nya soalnya.” Aletha berpamitan kepada bu Laila dan lainnya.
Sebelum berangkat ke rumah sakit Aletha mencium pipi Alina. Setelah puas menciumi Alina Aletha segera berangkat, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setiba di rumah sakit Aletha langsung mengenakan sneli dan melingkarkan stetoskop di lehernya. Mengelilingi rumah sakit dan memasuki setiap ruangan untuk melakukan visite kepada pasien yang ditemani asistennya.
“Selamat pagi, Cinta! Bagaimana dengan hari ini?” tanya Aletha sembari tersenyum.
“Alhamdulillah, jauh lebih baik, Dok.”
“Saya periksa lagi ya. Coba tarik nafasnya!” pinta Aletha.
Cinta mengikuti apa yang dipinta Aletha. Dan setelah meriksa Cinta dengan kondisi jantung dan tubuh yang sudah cukup baik, Aletha ingin berbicara dengan kedua orang tua Cinta. Akan tetapi tidak ada Mommy ataupun Daddy Cinta di sana.
“Oh iya, Cinta... di mana Mommy dan Daddy kamu?” tanya Aletha dengan lembut.
“Saya tidak tahu, Dok. Saya juga tidak tahu apakah mereka perduli dengan saya atau tidak. Karena saat sadar pun saya tidak melihat mereka ada di sini. Hanya... Arga yang di sini.” Cinta menyunggingkan senyum.
“Lalu? Di mana Arga? Apa Dia sekolah?”
“Arga sedang sholat dhuha di mushol, Dok. Mungkin sebentar lagi aka kembali.”
__ADS_1
Hening...
‘Kerumitan apa ini? Bukankah kemarin mereka terlihat begitu mempedulikan Cinta, tapi... di mana mereka sekarang?’ Aletha bermonolog dalam hati.
“Kalau boleh... saya akan menunggu Arga di sini. Karena saya ingin bicara dengannya.”
Cinta mengangguk, membiarkan Aletha duduk di sofa yang disediakan di ruang VIP. Dan selang lima menit kemudian Arga masuk ke ruangan itu. Arga nampak terkejut mendapati Aletha di sana, tetapi ia jiga merasa senang melihat Aletha yang dijadikan motivasi baginya.
“Kak Aletha, sudah ... lama di sini?”
“Lumayan, tapi tak apa. Karena kakak ingin bicara sama kamu, bisa ikut dengan kakak sebentar?”
Arga mengangguk, mengebor Aletha dari belakang. Dan menghentikan langkah di taman Siloam Hospitals, kebetulan ruangan Cinta dekat dengan taman. Hal itu mempermudah Aletha mengajak bicara Arga tentang bagaimana kehidupan orang tuanya, karena Aletha merasa penasaran dengan apa yang terjadi.
“Duduklah, Arga! Kakak mau tahu satu hal dari kamu.”
Tanpa suara Arga mengikuti permintaan Aletha, duduk di sebelah Aletha dan menatap indahnya taman itu yang membuat para pasien merasa nyaman dan segar walaupun hanya memandangnya saja.
“Kakak ingin tahu apa yang terjadi dalam keluarga kamu? Kakak merasa aneh dengan perilaku kedua orang tua kamu terutama... Daddy kamu.”
“Hal itulah yang tidak aku sukai dari mereka, Kak. Papa terlalu mengekang, aku dan kak Cinta bagaikan robot yang dikontrol olehnya, sedangkan Mommy... hanya bisa diam karena merasa takut dipukul sama Daddy. Karena Daddy aku itu kejam, tidak memiliki perasaan terhadap istri mapun kedua anaknya.” Arga mengepal erat.
“Lalu, kenapa kamu hari ini tidak sekolah?”
“Arga ijin sama wali sekolah Arga, karena Arga ingin menemani kak Cinta.”
“Arga... dengarkan Kakak! Kamu harus tetap bersekolah hari ini, biarkan kakak kamu di sini sama Kak Aletha. Karena kak Aletha akan menjaganya.”
“Kak Aletha itu sibuk, mana mungkin bisa menemani kak Cinta?”
“Arga, kamu harus tahu... membuat nyaman pasien itu adalah salah satu tugas kakak sebagai dokter. Dan seorang dokter itu harus memiliki jiwa dedikasi yang tinggi dalam setiap pekerjaan yang sudah dipilih oleh dokter itu sendiri. Dan kamu sebagai anak muda harus memiliki jiwa yang seperti itu untuk dijadikan motivas dan melatih diri.”
Arga menatap dalam Aletha, binar matanya menggambarkan kekaguman terhadap Aletha yang selalu memberinya akan motivasi yang membuat rasa semangat dalam dirinya kembali.
Tak hentinya Arga membenarkan ucapan Aletha, jiwa semuda dirinya harus memiliki dedikasi yang tinggi, memperjuangkan dan belajar untuk menjadi diri yang lebih baik lagi.
“Baiklah, Arga akan sekolah. Terimakasih, karena kak Aletha selalu bersikap baik kepada Arga.” Arga mengulurkan tangannya hendak bersalaman.
Aletha pun membalas tangan Arga dan memberikan senyuman, sekaligus keceriaan yang seakan memberikan support kepada Arga. Dan saat itu pula Ilham dan Maya menghampiri mereka.
“Aletha,” teriak Ilham dan Maya.
Seketika Aletha dan Arga menoleh ke arah Ilham dan Maya yang berdiri di belakangnya.
“Kenapa kamu tidak bilang apapun tentang Kapten Keenan? Memangnya kamu tidak butuh doa dari kita, hmm? Kapten Keenan itu berarti buat kita semua, harusnya kamu tahu itu. Dan seharusnya kamu juga mengatakan kepada kita semua kalau Kapten Keenan ditugaskan di Yahukimo.” Tiada hentinya bibir Maya nyerocos dengan betibu pertanyaan yang ditujukan kepada Aletha.
“Kak, bukan maksud aku yang tidak ingin mengatakan apapun kepada kalian semua. Tapi bagi aku itu semua juga dadakan, membuat hatiku sendiri merasa nyeri saat mengingat semuanya. Dan berhubung kak Ilham dan kak Maya sudah tahu, aku mohon doa kan Kapten Keenan dan Lettu Garda, agar mereka kembali dengan selamat.” Aletha mengangguk, memohon kepada Ilham dan Maya untuk ikut mendoakan keselamatan Keenan dan Garda.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jam makan siang telah berlangsung, tetapi Aletha tidak pergi untuk sekedar makan siang. Ia tetap berada di ruangan Cinta yang ditemani oleh Nyonya Mourisa. Dan saat tiba di rumah sakit sekitar lima belas menit lalu sebelum jam makan siang berlangsung, Nyonya Mourisa telah membawa bekal makanan yang sengaja dimasak khusus diberikan kepada Aletha.
“Seharusnya Nyonya Mourisa tidak perlu repot-repot seperti ini. Kan, saya jadi merasa tidak enak.” Aletha menerima makanan yang diwadahi rantang.
“Saya tidak merasa direpotkan oleh siapapun, Dok. Saya justru berterimakasih karena Dokter sudah berjuang untuk menyelamatkan Cinta. Saya tidak tahu harus bagaimana jika Cinta tidak selamat,” ucap Nyonya Mourisa terdengar tulus.
Aletha menikmati sesuap demi sesuap makanan pemberian dari Nyonya Mourisa. Meskipun pada kenyataannya pikiran dan hatinya masih memikirkan tentang Keenan dan tak lupa juga Alina.
Dor... Dor... Dor..
Suara tembakan menguar ke udara.
__ADS_1
Bersambung...