Lentera Cinta

Lentera Cinta
EPISODE 7 Ingatan kecil


__ADS_3

Waktu itu Arra berhasil menjadi Wakil ketua, sedangkan ketuanya adalah Ben. Arra sedikit canggung saat harus mengurus kelas bersama Ben. Ia masih saja memikirkan Ben yang selalu mengejar dan mengusik dirinya.


Tiba jam istirahat, Arra dan Reiva berencana pergi ke kantin bersama. Namun ternyata Pak Gery memanggil Arra untuk pergi mengurus sesuatu. Terpaksa Arra harus membatalkan pergi bersama Reiva.


"Reiva maaf hari ini tidak jadi pergi ke kantin bersama. Aku harus ke ruangan Pak Gery sekarang"


"Ya.. Tidak masalah. Kita bisa pergi lain kali"


"Baiklah" Arra beranjak pergi meninggalkan Reiva dan langsung pergi ke ruangan Pak Gery.


Saat berjalan di lorong, lagi lagi Arra menabrak seseorang.


"Ah maaf aku tidak... Ben??" Arra terkejut dan ingin marah namun ia ingat perkataan Reiva untuk bersikap biasa saja.


"Ze? Maaf aku tidak sengaja menabrak dirimu"


"Em.. Yah tidak apa apa, aku juga tidak melihat dengan jelas tadi"


"Hah? Kenapa dia tidak marah seperti biasanya? Apa dia benar benar Ze?" gumam Ben.


"Kenapa?"


"Tidak apa apa,... Oh ya Ze kamu juga dipanggil Pak Gery?"


"Iya, kamu juga?"


"Tentu saja aku kan ketua kelasnya"


"Ya.. Benar" Arra masih saja sulit bersikap biasa saja kepada Ben.


Arra berjalan mendahului Ben menuju ruangan Pak Gery. Sampai di ruangan Pak Gery, mereka ditugaskan untuk mengatur beberapa fasilitas kelas dan berharap semua anggota dapat melaksanakan dengan kompak.


Selesai dari ruangan Pak Gery, Arra langsung buru buru kembali ke kelas untuk menemui Reiva. Tapi ternyata Ben terus mengikuti kemanapun Arra pergi. Karena merasa terganggu Arra berhenti dan bertanya kepada Ben.


"Mau apa lagi? Aku ingin kembali ke kelas. Jangan mengikutiku terus Ben!"

__ADS_1


"Aku juga mau ke kelas. Kita kan teman sekelas Ze"


"Eee iya juga sih" gumam Arra dan langsung beranjak pergi namun Ben menarik tangan Arra.


"Benn!!! Lagi lagi kamu menarik tanganku! Ada apa lagi!!"


"Ze.. Ingat aku! Aku Ben teman masa kecilmu.. Maaf aku dulu menghilang meninggalkanmu, itu terjadi karena aku kecelakaan dan aku hilang ingatan. Namun saat bertemu denganmu aku ingat kembali masa masa bersamamu. Arra kumohon ingat aku dan maaf untuk kejadian itu.."


Arra tidak tahu lagi harus berbuat apa. Saat mendengar Ben mengatakan semuanya, ia merasa memori memori dulu sedikit demi sedikit muncul dalam benaknya. Tapi Arra masih belum bisa memastikan nya.


"Maaf Ben.. Tapi aku belum mengingat mu.." setelah mengatakannya Arra langsung pergi meninggalkan Ben sendirian. Mengenai ingatan semasa kecil, Arra sulit sekali mengingat nya. Namun akhir akhir ini ingatan ingatan itu muncul secara perlahan. Tapi Arra masih saja belum memahami semuanya.


"Zeee aku pasti akan membuatmu mengingat ku kembali! Aku akan berusaha membuatmu mengingat ku Zee.. Tunggu sampai kamu mengingat ku, aku akan membawamu ke tempat yang kau inginkan waktu itu!" mendengar apa yang Ben katakan itu membuat Arra terkejut. Ben berusaha membuat Arra mengingat dirinya.


"Membawa ku ke tempat yang aku inginkan? Sepertinya tidak asing.. Mungkinkah.." sepanjang jalan Arra terus memikirkan apa yang dikatakan Ben. Ia bingung harus bagaimana terhadap Ben, sementara dirinya sama sekali tidak mengingat Ben.


"Waktu kecil.. Aku juga pernah bertemu seorang anak laki laki, dia gemuk tapi humoris. Ia selalu berteman baik dengan semua orang meskipun dirinya sering di bully. Namun Aku tidak pernah dekat dengan anak itu, waktu itu aku hanya fokus pada sekolah, sekolah, dan sekolah. Hingga aku hanya memiliki beberapa teman saja. Tapi.. Apakah itu Ben?.. Ah sudahlah..."


"Kumohon maafkan aku... Aku janji akan segera membayarnya..." langkah Arra terhenti ketika mendengar suara seseorang dari arah toilet.


"Eh.. Bukankah itu suara Seila? Apa yang dilakukannya didalam?" ucap Arra dalam hatinya.


"Seila aku mohon.. Keluarga ku tidak memiliki banyak uang.. Maafkan aku seila.."


Merasa ada yang tidak beres, Arra pun membuka pintu toilet dan ingin mengetahui apa yang terjadi.


"Seila? Erika? Ada apa ini?"


"Arra? Arra... Kumohon tolong aku.. " saat melihat Arra, Erika langsung mendekat kearah Arra karena ketakutan.


"Apa yang terjadi disini?" tanya Arra yang kebingungan melihat Erika hampir menangis gemetar.


"Wow lihat guys siapa yang jadi pahlawan disini? Ze Arrabella putri pertama tuan Zeck Darry. HAHAA.." Seila dan dua temannya tertawa dengan kesombongannya.


"Seila Emelie! Aku bertanya padamu! Kenapa kau membuat Erika ketakutan?" Arra berusaha menahan emosinya.

__ADS_1


"Oh gadis cupu itu telah melanggar peraturan! Aku bilang hari ini adalah iuran untuk fasilitas kelas tapi dia tidak membayarnya! Maka dari itu aku harus menghukumnya!" Seila menjawab dengan nada arogan.


Arra sebenarnya ingin sekali memukul Seila. Tapi ia harus menahan emosinya karena ia menjabat posisi wakil ketua sekarang. Jika ia melakukan kesalahan atau hal yang tidak baik sedikitpun, itu hanya akan merusak harga dirinya dan merusak nama baik kelasnya.


Melihat Erika yang gemetar dan ketakutan, Arra merasa kalau Erika terlahir dalam keluarga yang kurang mampu. Mungkin saja Erika sering dibully di sekolah dulunya sehingga dirinya gemetar ketakutan terhadap Seila.


"Seila! Aku tahu kamu itu bendahara! Tapi jika ada siswa yang keberatan dengan iuran, kamu harus berbuat dewasa! Kamu tahu bukan kalau Erika bilang ia tidak memiliki banyak uang untuk membayarnya dalam waktu singkat! Kalau begitu berikan Erika waktu untuk membayarnya! Bukan malah membuatnya tertekan!"


"Ggrrrh... Arra ini..."


"Baiklah aku akan memberikan waktu untuk Erika!" Seila dan temannya pun langsung pergi meninggalkan Arra dan Erika.


"A Arra.. Terimakasih sudah membantuku. Aku akan selalu mengingat dirimu" ucap Erika sambil menunduk dihadapan Arra.


"Tidak perlu begitu, membantu seseorang yang kesusahan adalah kewajiban semua orang. Kamu adalah anggota kelasku tentu saja sebagai wakil ketua aku akan menolong mu" balas Arra dengan senyuman.


"Terimakasih Arra.. Kamu sungguh baik"


Selesai berbincang, Arra dan Erika pun kembali ke kelas karena bel masuk telah berbunyi. Erika sangat senang karena ada seseorang yang sangat baik terhadapnya. Sewaktu di sekolah dulu, Erika sama sekali tidak mendapat teman satu pun. Ia sangat tertekan karena hidup dilingkungan yang keras. Tapi sekarang, ia telah mendapat teman yang begitu peduli padanya dan berhati baik.


Karena seminggu ini masih jadi sekolah baru jadi, guru guru mempulangkan awal semua siswa siswi. Seperti biasanya Arra dan Reiva pulang bersama namun kali ini mereka pulang bertiga, ya Arra dan Reiva mendapat teman baru yaitu Erika. Erika sangat senang ketika Arra dan Reiva mau menjadi temannya. Itu merupakan suatu kehormatan karena Erika dapat berteman dengan orang orang dari kalangan atas.


"Oh ya Erika, jika kamu perlu bantuanku kamu bisa datang kapan saja ke rumah ku oke" pinta Arra sambil tersenyum kepada Erika.


"Wowo.. Jangankan Arra, kamu juga bisa datang kerumah ku kapan saja. Akan kubuat kau takjub dengan taman yang kuhias menggunakan tanganku sendiri. Hehe.." Reiva tak kalah saing dengan Arra.


".... A apakah aku boleh datang kerumah kalian? Aku hanyalah rakyat biasa.." Erika menjawab sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa dirinya tidak pantas datang ke rumah orang kaya.


"Kenapa tidak? Kita kan teman! Rumahku bukanlah rumah yang hanya didatangi orang orang tertentu saja. Siapapun yang aku anggap teman maka dia dapat datang berkunjung ke rumahku kapan saja" jawab Arra yang berusaha menyakinkan Erika.


"Tapi.. " ucapan Erika terhenti karena Reiva langsung membalasnya. "Tidak ada tapi tapi an lagi oke? Jangan merendahkan dirimu sendiri Erika.. Kita temanmu anggap sebagai keluarga mu sendiri"


"Baiklah terimakasih teman teman" betapa bahagianya Erika mendapat teman yang begitu baik padanya. Ia akhirnya tidak sendirian lagi seperti dulu.


Dengan adanya Arra dan Reiva, Erika kini tidak takut lagi jika berhadapan dengan gadis gadis kaya raya yang sombong itu. Berkat Arra dan Reiva lah yang membuat semangat hidup Erika kembali.

__ADS_1


__ADS_2