Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 111 “You're My Everything”


__ADS_3

“Waktu adalah mesin yang bisa berputar dengan cepat. Dan kita sebagai manusia tidak dapat memutar mesin waktu itu kembali untuk sekedar ingin mengulang masa indah ataupun buruk yang mewakili perasaan sesal. Bahkan kita dituntut untuk tidak menoleh kebelakang agar pikiran kita tidak terkecai dengan masa lalu.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Merasa gemas dan tidak terima Keenan mendorong Aletha hingga tubuhnya menempel di sisi tembok. Bahkan Aletha tidak bisa beringsut dari cengkraman Keenan, kedua mata tajam Keenan pun siap untuk melakukan aksi nya.


Saat jarak sudah terkikis hingga tidak ada lagi yang menghalangi tubuh Aletha dengan Keenan, ciuman pertama telah dilayangkan ke bibir Aletha. Hingga membuat jantung Aletha beedegup kencang tak beraturan. Dan hanya deru nafas yang tersisa dari keduanya.


“Bagaimana, Neng?”


Aletha mengangguk, menyetujui ajakan Keenan sebelum melakukan aksi patroli malam itu. Namun bukan aksi adegan di ranjang, karena Keenan masih memiliki hati yang tidak mau menyakiti Aletha sedikitpun.


Dan Keenan masih waras. Wkwkwk


Kembali Keenan mengecup bibir Aletha dengan penuh gairah, begitupula dengan Aletha yang ikut mengikuti setiap gerakan Keenan dengan begitu lihai. Hingga keduanya terhanyut dalam malam yang romantis sebelum kembali menjadi malam yang mencekam.


“Aa rasa sudah cukup, terimakasih untuk malam ini, Neng.” Keenan mengusap lembut puncak kepala Aletha.


“Iya Aa, sama-sama. Aa harus hati-hati saat berpatroli, jangan sampai terluka walaupun hanya digigit ular. Neng cemburu, karena Neg belum pernah menggigit Aa sampai segitunya.” Aletha mengerucutkan bibirnya.


Keenan terkekej geli, “Neng, kenapa harus cemburu sama ular? Dengarkan Aa baik-baik, you're my everything.”


“Bohong Aa itu, hanya bualan semata saja kan? Nyatanya... Aa lebih mengutamakan bumi pertiwi daripada Neng.” Aletha mencebik.


Kembali Keenan tertawa, kali pertama ia kalah dengan ucap dengan Aletha. Dan memang benar, bumi pertiwi hatis dijadikan nomor satu oleh Keenan. Karena itu adalah tugasnya untuk melindungi, menjaga dan melestarikan keindahan alam yang tercipta.


Keenan melingkarkan tangannya di pinggang Aletha, lalu menarik tubuh Aletha dalam dekapannya untuk meredakan cemburu yang masih singgah di hati Aletha. Meskipun cemburunya itu tidak beralasan. Cemburu yang begitu konyol dengan ular dan bumi pertiwi.


“Jangan cemburu lagi, kalau rumah Aa sering cemburu tanpa beralasan seperti ini... bagaimana Aa bisa tinggal di sana dengan nyaman, hmm?”


“Neng tahu itu kok, mungkin kini Neng merasakannya di saat Neng sendiri tanpa kesibukan. Coba kalau di rumah sakit, pasti Neng bisa saja mengabaikan Aa juga.”


“Neng juga tahu. Waktu adalah mesin yang bisa berputar dengan cepat. Dan kita sebagai manusia tidak dapat memutar mesin waktu itu kembali untuk sekedar ingin mengulang masa indah ataupun buruk yang mewakili perasaan sesal. Bahkan kita dituntut untuk tidak menoleh kebelakang agar pikiran kita tidak terkecai dengan masa lalu.”


“Begitupun dengan kita berdua, mesin waktu telah melaju. Jika tiba waktunya kita akan berpisah kembali dengan tugas masing-masing, pertempuran di medan perang yang berbeda. Dan kita menjalaninya tanpa harus menoleh ke belakang, mengingat kita yang sudah banyak melukai hati setiap orang saat kegagalan dalam misi penyelamatan.” Aletha mengulas senyum di bibirnya.

__ADS_1


Keenan menyunggingkan senyum tipisnya, dan merasa benar ala yang sudah dikatakan Aletha. Saat satu meluncur tepat ke tanda vital lawan atau kawan, pasti akan tercipta hati yang terluka karena kehilangan. Begitu juga tugas Aletha yang sebagai dokter, sejenius apapun seorang dokter akan tetap saja merasakan kegagalan saat berada di dalam ruang operasi jika nyawa tak bisa diselamatkan. Dan kedua pekerjaan itu memang menguji adrenalin. Jika mental tak kuat, bisa saja baperan dan terus menerus menyalahkan diri sendiri. Dan tinggallah rasa sesal yang menyesakkan jiwa.


“Woi... patroli woi. Jangan lama-lama bermesraan nya. Ingat tugas... MA... LAM.” Garda berdiri di depan kamar Keenan dan Aletha sembari menggedor pintunya dengan keras.


Aletha dan Keenan seketika tersentak, keduanya melerai pelukan yang sebenarnya tidak ingin berpisah. Namun yang namanya tugas negara harus dijalani meskipun hati Keenan berontak. Sumpah yang terucap selalu diterapkan dengan benar oleh Keenan.


“Maafkan Aa, Aa harus pergi sekarang. Jangan lupa kunci jendelanya dan tutup gorden nya.” Keenan mengecup kening Aletha.


Aletha mengangguk, lalu menyalami tangan Keenan sebelum pergi. Setelah itu Aletha melakukan apa yang dipinta Keenan, mengunci jendela dan menutup gorden nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Hadeh, Ten... lama banget sih keluarnya. Ngapain saja di dalam?” tanya Garda kepo.


Mulai keluarkan tuh rasa kepo Garda. Duh Garda juga sih, tidak peka. Wkwkwk


“Tidak apa-apa, yang jelas bukan urusan kamu. Jika pengen lama-lama di kamar kamu bisa melakukannya dengan... Laura.”


“Isss... otak mesum. Punya Kapten kok gini amat.” Desis Garda seraya meraba dadanya.


“Tidak, ah sudahlah, ayo berpatroli saja. Ingat, sudah jam berapa ini, bisa bikin malu bawahan saja.”


Garda menaiki motor trail nya dan begitu pula dengan Keenan. Keduanya siap untuk melakukan motor mereka dengan kecepatan normal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“You're my everything, kenapa aku bisa gila hanya mengingat kalimat itu yang keluar dari mulut Aa Keenan? Kalimat yang sederhana tetapi sudah terbukti dilakukannya.” Aletha mengulas senyum.


Pelupuk mata Aletha masih dipenuhi dengan bayangan tentang kemesraan nya dengan Keenan yang baru saja mereka lakukan sebelum Keenan kembali menjalankan tugas negara.


“You jump, i jump. You're my everything. Dua kalimat itulah yang mengikat kita dalam satu cinta. Pertemuan awal yang singkat dan takdir kembali membawa kita menjalin hubungan dalam satu ikatan suci.” Aletha menatap lekat gambar potret pernikahannya yang terbidik dengan sempurna.


Kantuk tiba-tiba saja mendera setelah Aletha usia menunaikan sholat isya' pada jam sembilan malam. Mungkin karena efek obat yang masih harus dikonsumsi oleh Aletha untuk mengeringkan luka jahitan di perutnya. Sebelum memejamkan mata dengan sempurna rasa rindu membuncah dadanya saat bayangan Alina menari-nari dalam pelupuk mata.


“Sabarkan hatiku Ya Allah, ijinkan aku membawa Alina segera pulang. Hati seorang ibu tidak bisa jauh lebih lama dengan buah hatinya.” Aletha mengaminkan doa nya.

__ADS_1


Rasa kantuk yang mendera hebat tiba-tiba saja perlahan menghilang, ada rasa tidak tenang sebelum Aletha memastikan keadaan Alina. Hingga ia meminta Ilham untuk membidik potret Alina yang berada di ruang inkubator. Karena selain Ilham tidak ada lagi yang bisa dimintai tolong olehnya.


“Kamu lucu, Nak. Bunda kangen sama kamu, sayang.” Aletha mengusap layar ponselnya.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, rasa kantuk kembali mendera membuat Aletha tidak bisa lagi menahannya setelah perasaannya cukup merasa tenang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Sudah jam sebelas malam, tapi kenapa tidak ada pergerakan apapun dari para anak muda? Mungkinkah jika mereka tahu kalau kita berpatroli di lokasi ini?” tanya Keenan geram.


“Aku pun jika tidak tahu kenapa tidak ada pergerakan apapun. Tapi... darimana mereka tahu jika kita akan melakukan patroli di area ini?”


“Mata-mata, mungkin itu.” Brian menjentikkan jarinya.


Seketika Naina menabok punggung Brian dengan keras. Membuat Brian mengaduh kesakitan, tapi tidak dihiraukan oleh ketiga sahabatnya itu. Karena tatapan mereka fokus ke satu arah yang sama saat mereka melihat dua anak muda yang menaiki motor matic dengan membawa sesuatu yang dimasukkan ke dalam kotak besar. Dan saat mengangkatnya pun terlihat begitu berat.


“Kira-kira apa yang ada di dalam kotak besar itu? Kotak yang penuh misteri.”


“Apa mungkin itu benda berat? Karena tidak mungkin jika hanya sabu-sabu saja yang ada di dalam sana.”


“Untuk mengetahuinya apa kita harus mengikuti mereka, Kapten?”


“Jangan bertindak gegabah, jika mereka tahu kita dibelakang mereka... mereka bisa saja berpindah posisi tanpa kita ketahui. Lebih baik kita sekarang kembali pulang. Besok kita susun lagi strategi yang baru.” Keenan mengepalkan tangannya.


Pasukan berani mati memutuskan untuk kembali pulang di kediaman masing-masing. Hanya Keenan dan Garda yang searah saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Garda, apa kamu tidak ingin berpindah ke rumah dinas saja? Di sana kita bisa leluasa melakukan apapun, termasuk pulang malam seperti ini. Aku... merasa tidak enak jika Brigjen Bagas Kara mengetahui kita.”


”Yaelah, bilang saja kalau maunya hanya berdua saja. Lagian malah bagus jika Brigjen Bagas Kara tahu, kita bisa naik pangkat karena kita sigap dalam menjalankan tugas.” Garda menggerakkan alisnya naik turun.


Dor... Dor... Dor...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2