Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 75 “Kejutan”


__ADS_3

“Tak ingin kurasakan kehilanganmu lagi, cukup satu kali aku menyesali kepergianmu. Kali ini ... aku ingin pergi bersamamu, terbang berdua dan mendarat berdua...”


**********


Tidak perlu diceritakan lagi, suara hati Aletha merasakan kesedihan yang dialami Laura. Karena ia pun juga merasakan hal yang sama dengan Laura.


‘Cinta itu tidak mudah dimengerti. Terkadang membuat kita gila dan sesak di dalam dada karena tersakiti oleh cinta. Meski seperti itu... kita tetap ingin menikmatinya.’


‘Seperti halnya saat ini, cinta mengeruak rasa rindu. Begitu terasa sesak tidak mendengar suaranya... begitu membuat otak ini memanas saat sehari tidak membayangkannya... membuat suasana menjadi hening, sunyi bahkan membuat nafsu makan pun menghilang dalam sekejap saat pertemuan belum memihak kita.’


Aletha berusaha menenangkan Laura, meskipun ia sendiri juga butuh waktu untuk tenang. Hingga ia pun tidak sabar jika hanya menunggu saja.


‘Mungkin ini jalannya.’ batin Aletha.


Rindu tak berujung telah dirasakan Aletha dan Laura. menunggu seseorang yang mereka cintai tanpa kepastian itu adalah sesuatu hal yang menjenuhkan. Tetapi dengan kesetiaan Aletha dan Laura selalu sabar menunggu mereka kembali, lelaki berjiwa ksatria.


“Al, aku rindu sama suamiku. Kandungan ku sudah enam bulan, kenapa selama tiga bulan tidak ada kabar sama sekali tentang mereka. Apa...”


“Jangan berpikir yang aneh-aneh tentang mereka. Aku akan pastikan mereka akan baik-baik saja.”


“Bagaimana caranya, Al?”


“Aku akan kesana memastikannya.”


Seketika Laura mengalihkan pandangannya, menatap Aletha yang tengah menerawang jauh entah kemana.


“Maksud kamu apa, Al?”


“Aku akan ijin sama Edbert untuk pergi kesana, pulau Tristan de Chuna.”


”Apa kamu yakin mereka ada di sana?” Aletha mengangguk, mengiyakan pertanyaan Laura.


“Bagaimana kamu bisa tahu mereka ada di sana?”


Aletha melangkah dan menuju ke kamarnya, mengambil sesuatu barang yang hanya dimilikinya dan juga Keenan. Setelah itu membawanya keluar dan menunjukkan barang tersebut di hadapan Laura.


“Lampu lentera?” pekik Laura.


“Iya, lampu lentera yang aku berikan kepada Keenan sebelum pergi, itu bukanlah lampu lentera biasa. Ada ikatan di dalam cahayanya.”


Lampu lentera itu ada kamera tersembunyi dan juga ada sadap suara. Sehingga Aletha bisa mendengarkan yang dihasilkan sadap suara meskipun jarak yang jauh. Sehingga Aletha akhirnya tahu, jika Keenan dan pasukan berani mati dalam ancaman bahaya.


Anggap saja seperti itu ya, alat yang canggih dijaman sekarang.


Aletha mengetuk pelan pintu ruangan Edbert. Setelah mendengar suara Edbert yang memintanya masuk, seketika itu Aletha masuk dan menebar senyum kepada Edbert.


“Ada apa, Al? Apa perlu bantuanku?”


“Sedikit. Aku langsung to the point saja.”


Aletha memperlihatkan suara Wilona yang sedang terancam di bawah naungan Jodie. Bahkan Keenan pun tidak bisa menyelamatkan Wilona dan Catrina saat itu juga. harus membutuhkan strategi yang inti.


“Lalu, apa rencanamu, Al? Sedangkan kita juga tidak bisa membantu mereka.”


“Pergi kesana. Kita bisa membantu mereka, Edbert. Maka dari itu aku pergi ke ruanganmu untuk meminta ijin. Dan aku janji sebelum fajar menyingsing aku akan kembali membawa mereka semua.”


“Jangan gila kamu, Al. Kamu tahu, itu bahaya besar jika kita pergi kesana.”


“Tidak ada pilihan lain, Edbert. Bagaimana pun juga Wilona dan Catrina adalah tanggungjawab kamu sebagai ketua Mercy Ship. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan meraka?”

__ADS_1


“Kamu tidak lupa kan, Edbert. Wilona adalah putri Brigjen. Apa kamu mau disalahkan oleh Papanya Wilona atas penculikan anaknya.”


Terlihat Edbert tengah memikirkan perkataan Aletha. Dan ia pun juga tidak ingin menjadi sasaran atas penculikan Wilona. Sehingga Edbert mengijinkan Aletha untuk tetap pergi.


“Tapi bagaimana caranya kamu pergi kesana? Apa kamu tidak takut bahaya itu?”


“Tidak. Hanya satu alasan yang menjadi penyemangat untukku memperjuangkan cinta.”


‘Tak ingin kurasakan kehilanganmu lagi, cukup satu kali aku menyesali kepergianmu. Kali ini ... aku ingin pergi bersamamu, terbang berdua dan mendarat berdua...’ Batin Aletha saat rasa semangat telah berkobar di dalam jiwa.


Aletha tengah sibuk menghubungi papanya, Bagas Kara. Di mana ia meminta dikirimkan sebuah helikopter pribadi milik Bagas Kara untuk dijadikan kendaraan yang mengudara agar sampai di pulau Tristan de Chuna dengan hitungan belasan menit saja.


Hanya dengan rayuan mautnya, Aletha mampu membuat Bagas Kara memihaknya. Dan setelah mendapatkan persetujuan, Aletha menyiapkan senjata yang sudah dibeli melalui Maura. Tak lupa pakaian serba hitam miliknya ia pakai, agar penampilannya sempurna.


“Al, apa kamu yakin? Di sana bahaya untukmu.”


“Aku yakin, aku tidak mau hanya menunggu tanpa kepastian. Dan bagiku ... ini jalan keluarnya.”


Aletha sudah siap memakai pakaian hitamnya, membawa pistol dan juga dua pisau lipat. Tidak lama kemudian helikopter terdengar menderu dari atas langit. Seketika Aletha dan Laura keluar untuk memastikan helikopter itu.


“Helikopter nya sudah datang, aku pergi dulu, Ra. Kau baik-baik disini dan jangan lupa langitkan do'a sebanyak-banyaknya kepada Tuhan.”


Sopir helikopter menurunkan sebuah tali untuk digunakan Aletha naik ke atas. Dan ketika Aletha siap untuk naik, tiba-tiba Edbert berteriak.


“Al ... tunggu! Aku ikut...”


Separuh berlari Edbert membawa tas, entah apa isi di dalamnya. Dan dengan nafas yang memburu Edbert mengatakan kepada Aletha bahwa ia ingin ikut dengan Aletha ke pulau Tristan de Chuna.


“Kamu yakin ingin ikut? Lalu apa yang kamu bawa itu?”


“Aku yakin, Al. Dan di dalam tas ini ada beberapa alat medis, siapa tahu saja dibutuhkan di sana nanti.”


“Terserah kamu sajalah.”


Aletha memakai peralatan saat mengudara. Percakapan antara dirinya dengan Yudha yang mengemudikan helikopter bergulir begitu saja. Hanya seputar strategi yang sudah mereka rencanakan bersama.


namun percakapan itu tidak mampu masuk ke dalam otak Edbert, karena yang ada di dalam otak Edbert hanyalah alat medis dan penyakit jantung yang harus dilumpuhkan. Bukan musuh dalam peperangan seperti yang akan dihadapinya.


“Kamu mau aku mendaratkan dimana helikopter ini?”


“Aku mau kamu menghentikan sesaat tepat di ruangan penyekapan Wilona dan Catrina. Setelah itu, kamu cari tempat yang aman untuk mendarat. Lalu bantu mereka. Yang mungkin saja masih perang baku tembak di luar.”


“Baiklah, aku menyetujui pemikiran mu. Tak kusangka, sisi keberanian yang kamu miliki akan kembali lagi seperti sedia kala.”


“Sudahlah, lebih baik kita bersiap. Karena sebentar lagi kita akan sampai.”


Saat wajah serius dan tatapan tajam tengah mengintai dengan teropong yang sudah dibawa Yudha, tiba-tiba saja suara dengkuran telah mereka dengar Sehingga memecahkan keseriusan yang sudah terbentuk.


“Astaghfirullahhalazim... bagaimana bisa anak ini tidur sampai mendengkur seperti itu. Mana dengkuran nya keras sekali lagi.”


“Bwahahaha... Kok ada juga Dokter seperti itu. Disaat genting memikirkan strategi malah Dia tidur.”


Yudha tidak bisa menahan tawanya setelah melihat Edbert tidur dengan nyenyaknya saat berada di dalam helikopter. Bagaikan seorang bayi yang berada di dalam ayunan saja. Semakin keras ayunannya maka semakin lelap pula tidurnya.


Benar-benar konyol habis ya Edbert ini. Tampang boleh tampan, tubuh boleh ideal tapi... nyali menciut saat perang tengah menguji.


Akhirnya Yudha menghentikan helikopter itu seperti apa yang sudah direncanakan.


*************

__ADS_1


“Lihatlah Kapten Keenan, helikopter ku sudah tiba. Sebentar lagi aku akan pergi dan kalian semua akan hangus terbakar.”


Jodie kembali memberi ancaman kepada Keenan. Dan Wilona yang sudah terperangkap tompi bom semakin dibuat takut dan menangis terisak. Begitu juga dengan Catrina yang merasakan sama seperti Wilona.


“Tidak akan terjadi, Jodie. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi begitu mudahnya. Akan kupastikan kamu akan tertangkap.”


“Ha ... ha ... ha ...”


Jodie hanya tertawa dan membiarkan Keenan menatapnya dengan begitu tajam. Keenan juga tidak ingin melepaskan Jodie dengan percuma. Kali ini Keenan ingin mempertaruhkan nyawa nya untuk menangkap penjahat kelas kakap seperti Jodie.


*******


“Kita berhenti disini sejenak. Aku akan lepaskan tembakanku pada sasaran yang tepat.” Pinta Aletha yang mengarahkan terpongnya ke arah bidikan yang tepat.


Yudha hanya menurut, ia ikut penasaran dengan keahlian Aletha saat meluncurkan tembakan. Dan setelah mendapatkan bidikan yang tepat Aletha segera meluncur.


********


“Dor...”


Peluru meluncur ke perut Jodie bagian sisi kiri. Seketika Jodie melepaskan pistol yang di todongkan ke kepala Wilona dan rintihan pelan pun terengar dari bibirnya.


Keenan yang tidak tahu peluru siapa itu seketika ia menyapu pandangan sekitar, mencari pemilik peluru itu. Karena ia sendiri secara sadar tidak meluncurkan peluru untuk memulai tembakan.


“Bruak...”


Atap atas rumah itu seketika hancur saat Aletha berusaha untuk menghancurkannya dengan senjata yang dibawanya, palu. Dan dengan lompatan yang sempurna Aletha turun dari atas atap.


“Dor...”


Duduk berjongkok dengan menundukkan kepala. Setelah itu meluncurkan kembali pelurunya ke kepala anak buah Jodie bagian yang menodongkan pistol ke kepala Keenan. Sehingga wajahnya tudak terlalu kentara saat dipandang siapapun. Tetapi setelah mendongakkan kepalanya, seketika Keenan menyadari keberadaan wanita pujaannya.


“Aletha...”


“Surprise!”


Aletha menyunggingkan senyum. Namun tidak dimengerti oleh Keenan mengapa Aletha bisa berada di sana. Yang membuat Keenan benar-benar merasa terkejut akan kehadiran Aletha secara tiba-tiba.


“Lakukan tugasmu, Kapten! Karena yang pantas membunuh itu kamu, bukan aku. Tapi aku juga tidak berhak mengobati lelaki seperti Dia.” Aletha tersenyum semirk.


“Tidak. Kali ini keberanian mu diuji, Dokter Aletha. Ada sandera lain yang harus kita selamatkan bersama. Apa kamu mau melakukan misi ini bersama?”


“Baiklah. You jump, i jump.”


Keduanya mengangguk, siap untuk melumpuhkan musuh dan menyelamatkan sandera, yaitu Wilona dan Catrina. Meskipun mereka bersisihan, tetapi penjagaan begitu ketat dilakuakn anak buah Jodie.


Setelah mendapatkan tembakan Jodie tidak meninggal seketika. Dia masih menghembuskan nafasnya, bahkan berusaha meraih pistol yang sempat terlepas dalam genggaman tangannya.


Aletha dan Keenan siap melakukan aksi baku tembak untuk membunuh anak buah Jodie yang masih berkeliaran dalam pandangan mereka.


“Dor...”


“Dor...”


Satu persatu anak buah Jodie terkena tembakan dan tumbang di tempat. Dan Leon akhirnya bisa masuk dan membantu mereka melumpuhkan musuh.


“Tak akan kubiarkan anak Brigjen itu hidup. Dan kalian harus mati bersamaku.” Ucap Jodie begitu lirih.


Jodie siap melayangkan tembakan ke tubuh Wilona yang sudah dioasangkan bom, yang dirakit sendiri oleh Jodie.

__ADS_1


“Dor...”


Peluru menluncur begitu cepat dan mengenai tubuh Aletha.


__ADS_2