
Ayunda tidak dapat menahan tawa mendengar pertanyaan narsis dari seorang Nathan pemimpin perusahaan besar yang terkenal wibawa, dingin dan menakutkan.
"Kenapa kamu malah tertawa? Apa kamu mau menggoda saya?"
Mendengar pertanyaan Nathan Ayunda menghentikan tawanya. "Saya bukan wanita yang suka menggoda laki-laki, tapi saya wanita yang sulit untuk digoda laki-laki" jawab Ayunda.
Jawaban Ayunda membuat Nathan berpikir keras, itu berarti secara tidak langsung Ayunda menyiratkan dia tidak terpengaruh dengan apa yang telah Nathan lakukan hari ini untuk memberikan perhatiannya pada Ayunda. "Wanita yang sulit untuk didapatkan" gumamnya yang hanya bisa dia ucapkan dalam hatinya.
"Maaf kalau saya tidak sopan menertawakan bapak" permintaan maaf Ayunda menyadarkan Nathan dari lamunannya.
"Saya hanya tidak menyangka seorang pemimpin perusahaan besar yang terkenal sulit di dekati ternyata bisa narsis juga, hehehe" Nathan ikut tersenyum mendengar ucapan Ayunda.
"Tidak seperti yang saya dengar kalau bapak itu pemarah dan sangat menakutkan"
"Jujur pertama kali Pak El menawari saya jadi sekertaris bapak, saya takut, takut baru bekerja satu hari lalu dipecat karena tidak sesuai dengan cara kerja bapak"
"Sekarang saya menyusahkan bapak, maaf membuat pekerjaan bapak jadi berantakan"
"Saya seperti ini hanya sama kamu Ayunda" jelas Nathan.
"Terima kasih pak" hanya itu yang bisa diucapkan Ayunda.
Keduanya sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Pak satu jam lagi bapak ada pertemuan dengan dewan dan pemegang saham" suara Ayunda yang nengingatkan agenda Nathan hari ini memecah kebisuan diantara mereka.
"Kita bisa kembali kekantor sekarang, saya akan dampingi bapak"
"Kamu yakin?" tanya Nathan ragu untuk mengikuti usulan Ayunda.
"Saya sudah merasa lebih baik pak, ini pertemuan penting jangan bapak lewatkan begitu saja" jelas Ayunda.
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di perusahaan Adhipramana Group. Nathan masuk kedalam ruangannya sementara Ayunda menyiapkan bahan untuk pertemuan.
"Pak sudah waktunya untuk pertemuan" Ayunda masuk keruangan Nathan untuk mengingatkannya.
"Ayunda.... apa kamu baik-baik saja?" Nathan masih mengkhawatirkan kesehatan Ayunda.
Ayunda mengangguk "Saya sudah sehat dan baik-baik saja" jawabnya.
__ADS_1
Nathan berdiri dari kursi kebesarannya berjalan mendekati Ayunda dan langsung memeluk erat gadis yang selalu dirindukannya. "Terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan berada disisiku saat ini" bisiknya lembut di telingga Ayunda.
Ayunda mengurai pelukan Nathan dan mundur sedikit menjauh dari jangkauan laki-laki itu. "Sekarang kita keruang pertemuan pak" ucap Ayunda setelah menetralkan dirinya dari rasa gugup dan terkejut.
Pertemuan dengan dewan dan pemegang saham berjalan lancar, hanya butuh waktu satu jam mereka bersidang lalu Dariel menutup pertemuan sore ini.
Selama pertemuan Ayunda duduk dibelakang Nathan, dia lebih banyak menundukkan kepala setelah beberapa menit pandangannya terkunci pada mata Kevin. Perasaan cintanya masih sangat besar pada laki-laki itu, tapi saat mengingat bagaimana laki-laki itu menyakitinya seketika dadanya merasakan sesak lalu mengalihkan pandangannya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Nathan saat melihat wajah Ayunda yang tidak bersemangat ketika merapikan dokumen dihadapan Nathan.
"Apa karena kehadiran dia?" tebak Nathan yang membuat Ayunda murung.
Tebakan Nathan sangat tepat dan benar tapi Ayunda tidak mau mengakui itu "Saya baik-baik saja pak, untuk apa saya menyusahkan diri dengan masa lalu" jawab Ayunda.
Nathan bisa tersenyum dihadapan Ayunda tapi dia tahu Ayunda membohonginya. "Sepertinya benar-benar sulit untukku mendapatkan hatimu" Nathan mendesah dengan kasar setelah mengucapkanya dalam hati.
Mereka keluar dari ruang pertemuan dan akan kembali ketempat masing-masing. Nathan baru saja membuka pintu ruangannya, dia menghentikan langkahnya untuk masuk saat seseorang menyapa Ayunda.
"Ayunda kamu sudah sehat?" suara berwibawa yang sangat Ayunda kenal menyapanya.
"Pak Robert, saya sudah sehat terima kasih, semua berkat bantuan bapak dan Ibu Siska" jawab Ayunda pada pria paruh baya yang selalu baik padanya.
"Saya dan Ibu Siska mengundangmu makan malam besok. Datanglah bersama Mira" Pak Robert kembali berbicara dengan suara keras.
"Maaf pak, mama ada di Bogor saat ini dan baru akan kembali tiga hari lagi" jelas Ayunda.
"Tidak apa-apa, kamu bisa datang sendiri, ibu mu sudah lama tidak bertemu, beliau sudah sangat merindukanmu"
"Terakhir beliau melihatmu dua bulan yang lalu, tapi kamu belum bisa diajak berbicara" jawab Robert sambil terkekeh.
Ayunda ikut tersenyum mendengar ucapan Robert "Baiklah pak, terima kasih undangannya" jawab Ayunda sambil menundukkan kepala memberi hormat.
Nathan memperhatikan interaksi keduanya dari jauh dan menyimak percakapan Ayunda dan papanya. "Mengapa aku terlambat mengetahui semua ini" kesalnya.
Malam ini Alisa menemani Ayunda, sudah biasa setiap Mama Mira tidak di rumah maka Alisalah orang yang akan menemani Ayunda.
"Aku tidak percaya dengan penjelasanmu" ucap Alisa setelah mendengar penjelasan Ayunda tentang hubungannya dengan Nathan.
"Terserah.... kamu mau percaya atau tidak denganku Lis" desah Ayunda. "Kamu pasti tahu hatiku untuk siapa? dan benciku pada siapa?"
__ADS_1
Alisa terdiam mendengar jawaban Ayunda. "Maafkan aku Nda... aku tidak bermaksud mengungkit sakit hatimu"
"Aku ingin kamu bahagia Nda, aku senang jika kamu memang dekat dengan Pak Nathan"
"Banyak wanita yang mendekatinya, dan hanya kamu wanita yang didekatinya"
"Kamu istimewah Nda.... cobalah buka hatimu untuknya, dia lebih tampan dari Kevin walau hanya sedikit" Alisa tertawa sendiri dengan ucapannya yang terakhir.
Nathan dan Kevin mempunyai wajah yang mirip, hanya kharisma keduanya yang membedakan. "Tentu saja mereka sama tampanya, karena mereka bersaudara"
Ucapan Alisa membuat Ayunda terkejut "Saudara? Maksudmu mereka berdua bersaudara? Adik dan kakak?" tanya Ayunda beruntun.
"Hei... kamu lima tahun berpacaran dengan Kevin apa tdak tahu siapa saja saudaranya?" tanya Alisa dengan kesal.
"Yang aku tahu Kevin anak satu-satunya sama sepertiku"
"Karena itu aku bertanya Lis... bagaimana Kevin punya saudara?"
Alisa menggelengkan kepalanya mengutuki kebodohan Ayunda yang terkenal dengan kecerdasanya, tapi untuk kali ini kecerdasan berpikirnya hilang entah kemana.
"Mereka saudara sepupu, Pak Robert kakak dari Pak Anthony calon mertuamu yang gak jadi"
"Nama belakang mereka sama-sama Pramana" jelas Alisa. "Apa kamu tidak menyadari itu?"
Ayunda terdiam setelah mendengar penjelasan Alisa, ini masalah hati bukan ketampanan wajah mereka.
Kepala Ayunda terasa sakit, ingatan saat tidur panjangnya kembali terlintas seakan tergambar jelas dalam penglihatanya. "Akhhh..." teriak Ayunda sambil memegang kepalanya.
Apa yang terjadi sebelumnya?" tanya Erick sesaat setelah sampai di sofa depan televisi dimana Ayunda terbaring.
Alisa segera menghubungi Erick saat Ayunda berteriak kesakitan dan lemas kembali tidak sadarkan diri.
"Kami hanya berbincang biasa, berbagi cerita dan informasi seperti biasanya" jelas Alisa.
Membicarakan seseorang?" tanya Erick dan mendapat anggukan dari Alisa. "Kami bicara tentang Kevin" jawab Alisa.
Erick mendesah dengan kencang. "Cintanya belum bisa hilang walau sudah diberi luka, luka yang dibuat sengaja untuk menyakiti tapi akhirnya seperti ini" kesal Erick, Kevinlah yang harus bertanggung jawab untuk keadaan Ayunda saat ini.
"Apa maksud dokter?"
__ADS_1
...*******...