Lentera Cinta

Lentera Cinta
40. Luna


__ADS_3

"Bodoh, kalian semua tidak bisa bekerja dengan baik" gadis itu berteriak sangat kencang dengan amarah yang berapi-api, sampai-sampai yang mendengar suaranya dari seberang sana menjauhkan telepon selularnya yang menempel ditelinga.


Mendengar Ayunda yang sudah sadar kembali, membuat gadis muda itu kesal dan sangat membenci keadaan ini. Luna. Dia adalah Luna, dia sangat membenci Ayunda. Bukan tanpa alasan dia membenci wanita yang dicinntai sepupunya itu, sepupu? mereka tidak memiliki hubungan itu.


Luna kecil benar-benar mengagumi Nathan yang notabene adalah kakak sepupunya, dia menyukai setiap kebaikan dan perhatian yang diberikan Nathan. Laki-laki itu selalu mewujudkan segala keinginannya dan selalu berada disisinya disaat dia membutuhkan, dan itu berlangsung sampai mereka sama-sama dewasa, Semua perlakuan itu membuat Luna jatuh cinta, cinta seorang wanita pada pria.


Menyadari kesalahannya, Luna mengalihkan perhatiannya pada pendidikannya. Disaat bersamaan hadir pria yang menawarkan kasih sayangnya untuk Luna, dia mencoba menjalin hubungan dengan pria itu memindahkan ketergantungannya pada Nathan dengan pria lain yang dia sendiri tidak yakin dengan perasaannya.


Seiring waktu, Luna bisa menikmati dunia barunya bersama sang kekasih. Mereka membuat komitmen untuk meneruskan hubungan mereka kejenjang pernikahan.


Luna memberi tahu Nathan dan kedua orang tuanya, kalau dia telah memutuskan untuk menikah. Kenyataan baru yang harus diterima Luna, saat dia meminta ijin dan restu dari kedua orang tuanya.


"Maafkan kami merahasiakan ini, mungkin ini waktu yang tepat untuk kami memberitahumu" kata-kata itulah yang keluar dari orang tuanya, bukan restu seperti yang diinginkan Luna.


"Temukan ayah kandungmu dan mintalah restu padanya" kata-kata itu menusuk dadanya, dia harus menemukan ayah kandungnya untuk dapat menikah.


"Kami bukan orang tua kandungmu, tapi kami sangat menyayangimu Luna" air mata Luna tak tertahan lagi, dia harus menerima kenyataan baru. Ya... Luna bukan putri kandung dari kedua orang tuanya saat ini.


Dia bayi malang yang dititipkan seorang laki-laki yang menyebut dirinya seorang ayah pada pasangan suami istri yang saat itu sangat mendambakan kehadiran seorang anak dalam pernikahan mereka.


Kebenaran ini membuktikan kalau dia tidak memiliki hubungan darah dengan Nathan, laki-laki yang dicintainya sejak kecil. Senang? Luna senang mendapatkan kebenaran ini, kesempatannya untuk memiliki Nathan sudah sangat terbuka lebar. Luna yakin, seyakin-yakinnya dia akan menjadi nyonya seorang Nathan Pramana.


Mencari keberadaan ayah kandungnya bukanlah hal yang utama saat ini. Luna berlahan menjauh dari sang kekasih, tujuan utamanya saat ini kembali mendapatkan perhatian dari Nathan yang telah hilang sejak lima tahun yang lalu.

__ADS_1


Sejak lima tahun yang lalu Nathan sudah mengetahui hubungannya dengan Luna bukanlah sepupu kandung, karena itu Nathan mengirim Luna ke Singapore untuk melanjutkan pendidikannya disana. Bukan tanpa sebab dia melakukan itu pada Luna, semua karena dia tahu perasan Luna sebenarnya pada Nathan.


Luna yang ditemui Nathan tengah mabuk disebuah pub dimana dia baru saja datang bersama rekan bisnisnya. Melihat sepupunya sedang kacau, Nathan mendekatinya, tidak disangka Luna mengungkapkan semua isi hatinya yang sebenarnya.


"Hei... kamu tampan sekali, kamu seperti kakak sepupuku" Luna menangkup wajah Nathan yang hanya diam saja saat itu.


"Dia tampan, baik dan menyayangiku. Dia kakak sepupuku tapi aku jatuh cinta padanya, kamu tahu tampan" Luna benar-benar tidak menyadari kalau di hadapannya saat ini adalah Nathan orang yang dibicarakannya.


"Kalau saja dia bukan sepupuku, tentu saja aku akan memaksanya jadi kekasihku, dan menjadikan aku istrinya, nyonya Nathan Pramana" Luna tertawa bahagia.


Nathan tidak ingin lagi mendengar ucapan yang tidak jelas dari Luna yang dia yakini itu adalah isi hati sebenarnya dari seorang Luna. Nathan menghubungi pamannya untuk menjemput Luna yang kacau, dia berusaha menjauh dari Luna karena saat ini hatinya juga sedang kacau dipenuhi bayangan gadis yang dia peluk walau sekejap.


Pamannya mendengar kembali apa yang diucapkan Luna pada Nathan, tidak ingin hal yang buruk terjadi, pamannya menemui Nathan keesokan harinya dan menjelaskan semua pada Nathan.


"Aku sudah tahu kalau kita bukan sepupu kandung" Nathan memotong ucapan Luna saat dia mencoba menjelakannya pada Nathan.


Terkejut? tentu saja Luna terkejut kalau Nathan telah mengetahui yang sebenarnya, tapi dia tidak putus asa. "Aku mencintai abang" ucap Luna dengan yakin, berharap Nathan akan terkejut dan menerima cintanya.


"Aku sudah tahu" kembali ucapan Nathan diluar dugaan Luna.


"Kamu bisa keluar, sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi bukan? Aku ada rapat pagi ini dan jangan lupa langsung saja kembalilah ke Singapore" Nathan mengusir Luna secara halus.


Nathan meninggalkan Luna diruangannya, perasaannya yang kacau membuat Luna hanya berdiam diri. Nathan berubah, ya itu yang Luna rasakan dan dia akan membuat Nathan kembali seperti dulu.

__ADS_1


Luna keluar dari ruangan Nathan, hatinya tertusuk saat melihat Nathan tanpa malu memeluk Ayunda didepan karyawannya. Seketika hatinya merasakan kebencian pada Ayunda, ya, dia benci, Ayunda menguasai hati Nathan saat ini dan dia tidak menyukai itu.


Kekesalannya belum bisa hilang tentang apa yang dia lihat dikantor, sekarang kesal itu bukan hilang tapi bertambah saat menyasikan perhatian Nathan pada Ayunda di meja makan. Terlebih lagi semua yang ada disana seakan menyetujui hubungan mereka.


Tinggal satu cara yang bisa Luna lakukan, setelah dua bulan ini dia selalu gagal mendapatkan perhatian Nathan, bahkan menjebak Nathan untuk tidur bersamanyapun gagal.


Cara sadis yang dipilih Luna kali ini, dia berniat menghabisi nyawa Ayunda, tapi dia lupa bukan dia yang bisa mengatur hidup dan mati seseorang.


Kesempatan itu datang, Nathan sedang berada diluar kota, sahabat Ayunda juga bekerja diluar kantor. Luna segera mengirim pesan pada Ayunda untuk menawarinya makan siang bersama. "Harus dengan sedikit paksaan" gumam Luna setelah dia bisa meyakinkan Ayunda menerima tawarannya.


Luna sudah memperhitungkannya dengan matang, dia tidak bisa melakukan ini semua sendiri. Dia memutuskan untuk menghubungi seorang pembunuh bayaran untuk melakukan rencananya.


Luna melihat Ayunda sudah keluar Loby, tanpa disadari Ayunda, Luna masuk dan berbicara dengan resepsionis menguatkan alibi kalau bukan dia pelakunya.


Terdengar suara keras dijalan, Luna menyaksikan akhir hidup Ayunda dihadapanya. Senyum terkembang diwajahnya menyaksikan itu semua, lalu berlalu pergi begitu saja dari gedung mewah perusahaan Adhipramana Group.


Mendengar laporan Ayunda sadar dari komanya membuat Luna prustasi, dia tidak ingin Ayunda memberitahu Nathan kalau dia mengajak Ayunda makan siang. Sesuatu harus dia lakukan, tidak hanya berdiam diri dikamar hotelnya.


Dengan senyum terpaksa Luna masuk kekamar rawat inap Ayunda. "Bagaimana keadaanya bang?" suara Luna yang bertanya mengejutkan Nathan, rasa waspada seketika saja hadir dalam diri Nathan, dia mencurugai Luna terlibat dalam kecelakaan Ayunda.


"Tidak perlu mendekat, dia sudah tidur" halang Nathan saat Luna mendekati Ayunda.


Luna menahan diri, dia tidak ingin gegabah melakukan rencananya. Dengan senyum palsu dia duduk di sofa berhadapan dengan Nathan.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2