Lentera Cinta

Lentera Cinta
51. Mencoba Mengingat


__ADS_3

Menginggat cara Nathan yang mengambil hatinya dengan cepat, membuat Ayunda menggelengkan kepala, sampai dia tidak sadar kalau mobil Nathan sudah terparkir sempurna di halaman rumahnya.


"Ayo turun" ajakan Mana Mira menyadarkan Ayunda.Dia turun dan langsung masuk kekamar. Ayunda segera membersihkan diri, lalu membaringkan tubuhnya yang sudah lelah sejak tadi. Dia hanya bisa mengistirahatkan tubuhnya, tapi tidak dengan pikirannya.


Setelah kepergian Papa Richad hidupnya sedikit demi sedikit berubah. Kesulitan ekonomi diawal kepergian papanya, membuat dia belajar memilah mana kebutuhan dan keinginan, walaupun selama ini papanya tidak pernah memanjakannya tanpa usaha.


Tanpa Ayunda ketahui, selama ini Papa Richad menyiapkan tabungan untuk pendidikannya, dan tabungan itu dapat diselamatkan Mama Mira dari keserakahan pamanya. Ayunda berani mengambil resiko dengan menggunakan tabungannya tersebut sebagai tambahan modal usaha Mama Mira. Terlebih lagi dia dapat beasiswa penuh dari pihak rekanan universitas, Ayunda cukup bersyukur dengan semua itu.


Usaha toko Roti dan Kue RARA milik Mama Mira berkembang, tokonya cukup ramai pembeli, belum lagi pesanan para pelangan membuat omsetnya meningkat. Kuliah Ayunda juga berjalan lancar. Tapi dibalik semua itu, Ayunda sudah lama mengalami hal, dimana dia merasa berada di suatu tempat yang berbeda, dengan orang-orang yang berbeda. Itu terjadi setelah dia jatuh didorong oleh seseorang, kepalanya terbentur, dan dia tidak sadarkan diri, dia bangun sendiri ditempat yang sama, tidak ada yang tahu hal itu, kecuali dirinya dan orang yang mendorongnya, yang sampai saat ini tidak pernah Ayunda ketahui. Siapa dia?


Ayunda mendesah, Tidak mudah baginya untuk sampai di titik ini. Alisa satu-satunya sahabat yang tahu perjuangannya, yang selama ini selalu memberi dukungan untuknya.


Kevin? Ayunda tidak bisa melupakan kebaikan Kevin begitu saja, walaupun dia merasa kecewa dengan apa yang dilakukan pria itu. Tapi Ayunda tidak bisa marah, itu keputusan Kevin, bahkan dia akan mendukung keputusan pria itu, seperti dulu Kevin selalu mendukung setiap keputusannya.


"Ayunda maafkan aku, semua terpaksa aku lakukan, tapi aku tidak bisa memberitahumu saat ini alasan utamanya. Cukup kamu ketahui kalau papaku tidak merestui kita" itu, kata-kata kevin saat dia meminta maaf atas apa yang dia lakukan dan berakhir dengan kecelakaan yang dia alamai.


Dia ingat kecelakaan setahun yang lalu, saat itu dia memang sedang marah, tapi tetap mengendarai kendaraannya dengan kecepatan sedang, hanya saja dia sedikit melamun saat menyadari ada truk dengan kecepatan kencang mengarah kepadanya, dia sudah menginjak rem untuk menghidari benturan tapi remya blong.


"Akh iya, kenapa remnya tiba-tiba blong?" pikir Ayunda. Saat dia mendatangi Kevin di hotel, dia masih bisa memarkirkan kendaraannya dengan sempurna, rem mobilnya masih bekerja dengan baik. Lalu kenapa bisa tiba-tiba blong?


"Mungkin ada yang sengaja membuatnya blong. Siapa? Kenapa?" batin Ayunda, berusaha mengurai setiap kejadian.


Selama ini setiap dia mencoba mengingat sesuatu, kepalanya akan terasa sakit. Bayangan orang-orang yang dia temui dibawah alam sadarnya hadir berbaur dengan orang-orang di dunia nyatanya. Tapi sejak operasi, walau sakit, sakitnya masih bisa dia atasi. Bahkan ingatannya tentang kejadian dibawah alam sadarnya mulai hilang berlahan.


"Mengapa banyak orang yang membenciku? Apa yang aku perbuat, sehingga tega mereka ingin mengakhiri hidupku?" pikir Ayunda.


Seseorang tega memukulnya, tanpa dia tahu apa sebabnya? sampai dia harus hidup dengan dua dunia berbeda. Lalu seseorang sengaja ingin mengakhiri hidupnya dengan menyabotase kendaraannya.


"Apa ayah Kevin yang melakukan semua?" gumam Ayunda, "Tidak perlu membunuhku kan? Dia bisa memintaku baik-baik untuk menjauhi Kevin? Mengapa dia begitu membenciku?"

__ADS_1


Banyak pertanyaan yang tidak bisa Ayunda jawab. "Apa aku harus bertanya dengan Kevin? Itu berarti aku harus berhubungan lagi dengannya" kepalanya mulai terasa sakit, tapi dia tidak bisa menghentikan apa yang dipikirkannya.


Bagaimana dengan Nathan kalau dia tahu aku menghubungi Kevin?" Ayunda berpikir sambil menahan sakit.


"Akh aku belum minum obat" ingat Ayunda


"Obat, dimana obatnya?" Ayunda mencari obat yang sudah ditebus Nathan didalam tasnya. Dibukanya satu-satu, sambil menahan sakit dia meminum obatnya. Tepat pada obat yang terakhir ditelannya, Ayunda memejamkan mata dan semua menjadi gelap.


Sementara Nathan sejak tadi merasa khawatir dengan Ayunda, sejak sopirnya mengabari kalau Ayunda dan Mama Mira sudah sampai dirumah, Ayunda tidak dapat dihubunginya, tidak ada satupun pesan teks yang dikirimnya dibaca, dan semua panggilan teleponnya tidak dijawab.


"Nathan" ucap Mama Mira saat dia membuka pintu rumahnya.


"Tante" balas Nathan sambil mencium tangan Mama Mira.


"Masuk-masuk" Mama Mira mengajak Nathan masuk.


"Ayunda dimana tante?" tanya Nathan langsung.


"Tidak ada" jawab Nathan. "Hanya saja, Ayunda tidak membaca pesan dan mengangkat telepon saya" lanjut Nathan ucapannya.


"Saya takut terjadi sesuatu dengannya" Nathan diam sejenak. "Boleh Nath lihat ke kamar Ayunda, tante?" pintanya.


"Tentu, coba saja diperiksa" Jawab Mama mira sambil menunjukkan Nathan dimana kamar Ayunda.


Tok... tok... "Yunda... Nda..." Mama Mira mengetuk pintu kamar Ayunda sambil memanggil.


Tidak ada jawaban dari dalam, "Mungkin dia tidur, Mas" ucap Mama Mira sambil membuka handle kamar Ayunda.


"Rara"

__ADS_1


"Yunda"


Begitu terkejutnya Nathan dan Mama Mira saat menemukan Ayunda yang tergeletak dilantai, sambil memegang gelas yang airnya tumpah karena posisi gelas itu terbalik.


Nathan, menggendong Ayunda lalu meletakkannya diatas tempat tidur. "Mama tidak tahu apa yang terjadi dengannya" ucap Mama Mira sambil terisak.


"Kita hubungi dokter Sam, Ma" Nathan mencoba menenangkan Mama Mira, sambil menghubungi nomor dokter Sam.


Tiga puluh menit kemuadian dokter Sam tiba di kediaman Ayunda, Nathan yang menunggunya di teras segera mengajak dokter Sam ke kamar Ayunda.


"Sepertinya dia banyak berpikir akhir-akhir ini. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Dokter Sam.


"Tadi saat kontrol semua baik-baik saja, Apa setelah ini ada kejadian yang membuatnya harus berpikir" tanya Dokter Sam lagi.


"Iya, Dok. Mama saya keracunan, mungkin Ayunda merasa ini terjadi karena dia penyebabnya"


Dokter Sam mengangguk mengerti, dia sudah mendapat rekam medis Ayunda saat ditangani dokter Erick.


"Pak Nathan, anda bisa menghubungi Dokter Erick untuk membicarakan ini. Konsultasikan pada Dokter Erick, karena dia yang menangani Ayunda sebelum saya. Jadi dia yang lebih paham. Kalau urusan bedah- membedah tumor itu baru urusan saya" kekeh Dokter Sam mengakhiri kata-katanya.


"Baik Dok. Terima kasih" jawab Nathan.


"Sepertinya Ibu Ayunda sudah meminum obat yang tadi saya resepkan" ucap Dokter Sam saat melihat obat yang ada diatas nakas.


"Obat yang saya resepkan tidak ada obat tidurnya, jadi kemungkinan kecil dia tertidur karena obat ini"


"Saya menemukannya jatuh di lantai Dok. Mungkin sakit kepalanya menyerang lagi"


"Kalau begitu segera hubungi dokter Erick" Dokter Sam pamit, diantar Nathan sampai teras.

__ADS_1


"Erick" gumam Nathan. Mau tidak mau Nathan harus mengijinkan Erick menyentuh Ayunda, dan itu sangat tidak diinginkannya.


...*******...


__ADS_2