
"Saya mencintaimu Ayunda Tiara"
Ayunda hanya diam mendengar pernyataan cinta dari Dokter Erick, dia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Saat ini andai saja Dokter Erick dapat mendengar jantung, terdengar jelas detak denyutnya. Dan andaikan Dokter Erick dapat melihat hatinya, jujur betapa terkejutnya dia. Seandainya pernyataan ini diucapkan Dokter Erick saat dia belum memilih, mungkin tanpa berpikir Ayunda akan menerimanya.
"Mengapa baru sekarang Dokter menyatakannya pada saya?" tanya Ayunda.
"Maaf Tiara" lirih Dokter Erick.
"Sejak awal saya memendam rasa, saya kira selama ini...." Ayunda menghentikan ucapannya. "Tidak menyangka, di balik dinding pemisah yang Dokter ciptakan, ada cinta disana. Saya tahu Dokter menyayangi dan baik pada saya, tapi itu hanya sebatas rasa sayang dokter pada pasien" ucap Ayunda.
"Kamu salah Tiara, saya menyayangimu lebih dari itu, rasa sayang saya karena saya mencintaimu" bantah Dokter Erick ucapan Ayunda.
"Terima kasih untuk cinta Dokter pada saya, setidaknya saya tahu kalau selama ini saya tidak jatuh cinta sendiri. Sayangnya kesempatan ketiga itu telah terlewati. Maafkan saya, saya sudah menyerah untuk yang ketiga kalinya, jauh sebelum hari ini" Ayunda akhirnya menjawab pernyataan cinta Dokter Erick.
"Tiara" Dokter Erick menggenggam tangan Ayunda.
"Dokter, biarkan cinta ini menjadi kenangan kita berdua, hanya Dokter dan saya saja yang tahu. Dan biarkan cinta ini terbang tinggi, dimana tak ada seorang pun mampu menjangkaunya, selain kita, kita berdua" pinta Ayunda yang kini menggenggam balik tangan Dokter Erick untuk memohon.
"Walau terlambat, saya merasa bahagia, Dokter punya hati pada saya. Tapi saya harus memilih dan menyadari, suratan hidup kita seperti ini, saling mencinta tapi terlambat, terlambat untuk bisa bersama. Tidak ada kisah yang bisa merangkaikan cerita untuk ditulis bersama"
Dokter Erick hanya diam, dia berdoa mendapatkan kesempatan ketiga, dan ternyata kesempatan ketigapun telah berlalu, sebelum dua memohon.
"Dokter, saya harus segera pergi. Sampai jumpa saat makan malam dirumah Om Anggara" ucap Ayunda.
"Makan malam di rumah Papa?" tanya Dokter Erick.
"Iya, saya diundang makan malam Om Anggara, besok malam" jelas Ayunda. "Sampai jumpa" Ayunda melepaskan tangannya dari Dokter Erick dan langsung berdiri. Dia tersenyum menatap lekat wajah Dokter Erick, sebelum membalikkan badanya dan berlalu dari hadapan Dokter Erick.
Ayunda masuk kedalam mobil taxi online yang dipesannya saat dikasir. Dia menarik nafas lega, masalah hatinya dengan Dokter Erick sudah selesai, tujuannya bertemu dengan Dokter Erick, bukan hanya ingin memberikan lukisannya, tapi dia juga ingin melepaskan hatinya yang tersangkut dengan Dokter Erick sejak lama. Walau dia juga mendapat kejutan hari ini dengan pernyataan cinta Dokter Erick.
Sopir taxi menyalakan radio yang memutar lagu kenangan. "Mbak, saya putar lagunya, lagu nostalgia tidak apa-apa ya mbak?" tanya sopir itu, yang usianya memang sudah tidak muda lagi.
"Silakan pak. Tidak masalah" jawab Ayunda. Tidak lama Ayunda menjawab terdengar lagu dari sound yang terpasang di taxi online yang dia tumpangi.
Andaikan engkau dapat mendengar jantungku
Betapa jelas detak denyutnya
Andaikan engkau dapat melihat hatiku
Betapa jujur keterkejutanku
Mengapa baru sekarang
Kau nyatakan padaku?
Hm-hm
Deg. "Mengapa ini seperti yang aku rasakan" batin Ayunda.
Sekian lama aku pun meredam hasrat
Walau ku sadar hanyalah angan
Di balik dinding pemisah yang kukuh itu
__ADS_1
Ku baru tahu, kita sehati
Menyesal, sungguh menyesal
Kini ku tak sendiri lagi
Andaikan waktu dapat kembali
Aku ingin mengulang dari mula lagi
"Mengapa bisa sama seperti ini" Ayunda menggumam.
Biarkan cinta
Menjadi kenangan berdua
Hanya kau dan aku (dan aku) yang tahu
Oh, biarkan cinta
Terbang ke awan tinggi
Dan tak seorang pun
Mampu menjangkaunya
"Ohh... "Ayunda mengucapkanya sambil menghembuskan nafas kasar. Dia merasa tubuhnya merinding, lirik lagu ini sama seperti yang dia alami.
Walau terlambat, aku merasa bahagia
Kau punya hati pada diriku
Suratan hidup memang begini
"Kenapa Mbak?" tanya sopir taxi saat mendengar Ayunda ber ohh dengan berat. Mbaknya tidak suka sama lagunya? tanyanya lagi.
"Tidak ada apa-apa Pak. Saya suka" jawab Ayunda.
Menyesal, sungguh menyesal
Kini ku tak sendiri lagi
Andaikan waktu dapat kembali
Aku ingin mengulang dari mula lagi
Biarkan cinta
Menjadi kenangan berdua
Hanya kau dan aku (dan aku) yang tahu
"Pak. boleh saya tahu, ini judul lagunya apa? dinyanyikan siapa?" tanya Ayunda akhirnya dia penasaran.
Oh, biarkan cinta
__ADS_1
Terbang ke awan tinggi
Dan tak seorang pun
Mampu menjangkaunya
Ho-oh, biarkan cinta
Terbang ke awan tinggi
Dan tak seorang pun
Mampu menjangkaunya
"Oh.. ini judulnya Andaikan Waktu Dapat Kembali Mbak" jawab Sopir yang sudah berumur itu.
Hanyalah kita (hanyalah kita)
Kita berdua (kita berdua)
Hanyalah kita (hanyalah kita)
Kita berdua (kita berdua)
"Penyanyinya Meity Baan Mbak. Kenapa Mbak? Enak didengar ya lagunya?" tanya sopir itu setelah menjawab pertanyaan Ayunda.
"Iya Pak, lagunya enak di dengar, tapi saya tidak pernah tahu lagu ini" jawab Ayunda jujur.
"Ini lagu lama Mbak, tahun sembilan puluhan, anak muda seperti Mbaknya wajar kalau tidak tahu, tapi untuk seusia saya apalagi suka dengar radio lumayan sering dengar lagu ini diputar" jelas sopir itu.
Ayunda bukan tertarik dengan itu lagu lawas atau baru, liriknyalah yang membuat Ayunda memperhatikan lagu ini. Seperti mengambarkan kisah yang dia rasakan.
Ayunda kembali mendesah, nama Erick dikedua kehidupannya, selalu menjadi cinta yang hanya untuk dikenang, menjadi rahasia mereka berdua, kalau cinta itu pernah ada, terutama pada dirinya.
Tidak terasa Ayunda sampai di depan loby perusahaan Adhipramana Group. "Ayunda" Ayunda berbalik, ternyata Widya yang memanggilnya. "Apa kabar?" sapa Widya ramah.
"Hai Widya, Alhamdulillah baik. Kamu?" Ayunda menanyakan kabar Widya.
"Kabarku juga baik. By the way kamu kenapa keluar dari perusahaan?" tanya Widya. Rumor yang didengarnya tentang Ayunda, kalau Ayunda sudah tidak lagi bekerja diperusahaan tersebut dipecat Nathan, karena dia berani menggoda bos besar mereka.
"Aku cuti sakit, bukan keluar" jawab Ayunda jujur.
"Benarkah?" Widya tidak percaya dengan jawaban Ayunda. Ayunda dapat melihat keraguan Widya.
"Apa yang kamu dengar tentang aku? Apa gosip yang tidak menyenangkan?" tanya Ayunda.
"Kamu tahu sendirikan, karyawan disini seperti apa" jelas Widya.
Ayunda mengangguk mengerti "Biarkan saja" jawab Ayunda. "Aku keatas ya, mau menemui Alisa" pamit Ayunda.
"Apa kamu tidak takut ketemu bos. Dia tidak suka orang yang suka cuti lama-lama" Widya menginggatkan Ayunda.
"Nanti aku akan menghadap dan meminta maaf baik-baik" jawab Ayunda menahan senyum.
Namun saat berbalik dia melihat Nathan sudah berdiri dibelakangnya. "Mas... hem Pak " sapa Ayunda.
__ADS_1
Nathan mendekati Ayunda tanpa malu dia merapikan topi rajut yang Ayunda pakai, lalu meraih tangan gadis kecilnya, membawanya menuju lift khusus pimpinan dan dewan direksi. "Mas" bisik Ayunda.
...*******...