
“Rindu itu terasa begitu berat. Begitu menyiksa saat jiwa dan raga tak bisa menjaganya... saat mata tak bisa memandangnya... saat bibir tak bisa bertutur sapa dengan lembut kepadanya. Hanya mesin waktu yang terus berputar. Dan ku nantikan pertemuan sebagai obat penawar rindu.”
***********
Jam makan siang telah tiba. Di mana siang itu sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima belas menit. Bahkan suster pun datang sembari membawa nampan yang berisi bubur untuk dijadikan santapan Aletha siang itu. Dengan telaten Keenan menyuapi Aletha sampai bubur itu tidak tersisa lagi. Setelah itu, Keenan meminta ijin untuk kepada Aletha untuk sholat di mushola yang disediakan di kapal itu.
Meskipun tugas Keenan sebagai seorang abdi negara adalah tugas yang berat, tetapi Keenan tidak mau yang namanya meninggalkan sholat lima waktu. Ia selalu melaksanakan sholat itu secara tepat waktu. Sehingga banyak sekali kaum hawa yang mengagumi Keenan, kental akan agama Islam.
“Ya Allah, mungkin jodoh yang Engkau takdirkan untukku adalah lelaki yang selalu menggantungkan namaku dalam setiap do'anya. Keenan Malik Mahendra, tak lain adalah lelaki remaja yang dulu pernah berjumpa denganku.” Ujar Aletha dengan begitu lirih.
Senyum pun mengembang di bibir Aletha saat menyebutkan nama Keenan dengan lengkap. Ada rasa bangga dalam hati Aletha saat menatap Keenan dengan seragam lorengnya dan di saat Keenan memakai baju koko, di mana dua baju khas itu membuat Aletha tak hentinya mengembangkan senyum.
“Kenapa senyum-senyum sendirian, hmm?” tanya Wilona.
“Aku ... benar-benar jatuh cinta, Na.” Aletha tersenyum. “Mungkin ini yang namanya takdir ya, Na. Dibalik kisah asmaraku yang selalu kandas sebelum janur kuning melengkung, ternyata ada hal yang tersembunyi.”
Aletha menatap Wilona dengan mengembangkan senyum. Hati Aletha kini benar-benar tengah berbunga-bunga, hidungnya kembang kempis merasakan kisah asmara yang sebentar lagi akan mekar.
“Aku tahu perjuangan Kapten Keenan, Al. Dia begitu menjaga hatinya untuk satu wanita, yaitu kamu. Aku salut, masih ada lelaki yang setia dengan wanita yang dicintai meskipun hanya satu kali bertemu. Lihatlah sekarang ... berapa lama mereka menjalin hubungan asmara, ujung-ujungnya berpisah juga. Tak banyak lelaki setia.”
Aletha manggut-manggut, ia membenarkan apa yang dikatakan Wilona. Pada kenyataannya saja banyak lelaki yang menduakan hati seorang wanita. Menyakiti hati seorang wanita seolah menjadi tradisi bagi setiap lelaki. Bahkan sekarang pun justru perlakuan keduanya sama saja. Abai akan menjaga perasaan satu sama lain.
Wilona memeriksa kondisi Aletha pasca operasi. Meminta Aletha untuk mengatur nafas dengan pelan. Dan dinyatakan bahwa kondisi Aletha secepat pulih, tetapi luka bekas operasi masih tetap harus dijaga. Jika terkena air, maka ditakutkan akan merembes dan mengeluarkan darah lagi.
“Kamu wanita yang tangguh, Al. Kamu bisa pulih secepat ini, padahal masih kemarin kamu menjalani operasi.”
“Ya iyalah, aku ini seorang Dokter, dan juga putri dari Papaku. Jadi ... harus menjadi wanita yang tangguh, iya kan?”
“Lebay kalau itu namanya, Al.” Wilona mencebik.
Aletha terkekeh geli melihat ekspresi Wilona. Selama delapan bulan bersama kembali, membuat Aletha dan Wilona menjalin persahabatan yang semakin kental. Bahkan canda dan tawa selalu menghiasi perjalanan mereka mengitari pulau Afrika untuk bertugas sebagai dokter relawan.
Bukan hanya persahabatan dengan Wilona saja yang semakin kental, Laura bahkan sudah di anggap sebagai seorang kakak bagi Aletha. Tapi akan berbalik jika Aletha benar-benar berjodoh dengan Keenan.
“Jaga kesehatan kamu, Al!” pinta Wilona seusai memeriksa kondisi Aletha.
“Siap, Dokter Wilona.”
Seketika gelak tawa menggema di ruangan itu. Membuat Leon merasa tertarik untuk mendengarnya. Dan saat mendapati senyum yang mengembang sempurna dari bibir Wilona, seolah senyum itu nyetrum. Bibir Leon ikut mengembang.
“Ngapain disini?” tanya Keenan seraya menepuk pundak Leon. ”Ngintip ya?” tanya Keenan kembali setelah melihat dua dokter cantik tengah mengobrol di sana.
Leon tidak bergeming, ia tidak mau mendengar perkataan Keenan bahkan memandang Keenan saja enggan. Hanya bibir yang melengkung sempurna saat mata elangnya menajam, menatap Wilona.
“Awas, ntar bintitan kalau ngintip seperti itu.” Pekik Keenan sambil menahan tawa.
“Astaghfirullahalazim, jahat benar sama teman sendiri. Tapi Ke ... sepertinya aku ... jatuh hati dengannya.”
“Kalau merasa jatuh hati ya tinggal tembak saja. Seperti apa yang aku katakan dulu, jika bertemu jodoh di Mercy Ship maka ... akan aku tembak dengan pistolku.”
“Gila. Itu namanya nembak dan Dia akan mati, Ke. Kalau Dia mati lalu dengan siapa aku? Masa iya harus berliku seperti yang dituliskan penulis untukmu. Aku mah ogah.”
“Husstttt ... jangan berisik. Sudahlah, jangan nyinggung penulisnya, jika dengar maka nasib mu akan apes, Leon.”
Seketika keduanya tertawa, begitu senangnya mereka jika sudah berbisik tentang penulis cerita lentera cinta. Tapi ya sudahlah, penulis akan menuliskan skenario yang indah untuk kisah cinta mereka, tetapi sedikit berliku untuk menggapai puncak cinta.
“Leon, jika cinta nyatakan saja. Sat set begitu, jangan sampai nanti nyesel karena sudah digaet orang.”
“Sebentar, Ke. Aku menunggu waktu yang tepat untuk menyatakannya.”
“Ingat, besok kita harus kembali ke Washington. Dua bulan di sana.”
Leon langsung tepok jidat, memikirkan apa yang dikatakan Keenan tadi. Pasti kisah asmaranya akan dibuat rumit dan berliku oleh penulisnya.
Maafkanlah aku, penulis kisah khayalan... aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.’
********
Aletha mulai merasa bosan hanya tidur di atas brangker saja. Lalu ia memutuskan untuk sekedar berjalan-jalan di dalam kapal saja. Saat menelusuri lorong kapal ia tidak sengaja bertemu dengan salah satu warga yang mendapatkan perawatan inap di sana. Sehingga langkahnya terhenti dan mereka pun saling mengobrol satu sama lain.
__ADS_1
“Selamat siang, Dokter Aletha.” Sapa Karina.
Karina adalah gadis yang berusia tujuh belas tahun, masih begitu muda untuk divonis memiliki penyakit jantung. Tapi yang namanya takdir manusia tidak ada yang tahu, dan atas kuasa Tuhan lah Karina masih mampu bertahan. Bahkan beberapa hari yang lalu ia dioperasi oleh Aletha.
“Selamat siang, Karina. Bagaimana keadaan kamu hari ini?”
“Berkat Dokter cantik, saya sudah jauh lebih baik.” Karina tersenyum. “Oh iya, saya dengar Dokter Aletha terkena luka tembakan ya?”
Aletha hanya mengangguk, mengulas senyum manis yang disukai oleh Karina. Karena bagi Karina senyum Aletha adalah senyuman penyemangat untuknya. Begitu pula dengan Aletha, tiada hentinya ia memberi motivasi kepada Karina saat merasa impiannya telah pupus setelah divonis memiliki penyakit jantung.
“Dengarkan saya baik-baik, kamu boleh bersedih hanya untuk hari ini. Dan setelah pulang dari sini kamu harus bisa membangkitkan kembali semangat yang sempat sirna.”
“Kamu harus bisa menggapai cita-cita yang sedari dulu kamu impikan. Jangan pernah mudah menyerah saat kamu dihadang masalah. Ingatlah satu hal, Tuhan akan selalu ada untuk kamu dan ... kita semua.”
“Baik, Dok.” Karina mengangguk. “Terimakasih karena Dokter cantik sudah memberikan saya semangat yang luar biasa.”
Obrolan ringan terus bergulir, terkadang gelak tawa menyelingi obrolan di antara mereka. Sampai-sampai Aletha tidak menyadari kehadiran Keenan yang sudah sedari tadi menunggunya. Dan Keenan hanya mendengarkan setiap obrolan yang bergulir, yang membuat Keenan berdecak kagum dengan sosok Aletha. Masih sama seperti dulu, pertama kali pertemuan tercipta di antara mereka.
“Kapten, ngapain berdiri di sini?” tanya Leon penasaran.
Karena Keenan tidak menjawab pertanyaannya maka Leon semakin dibuat penasaran atas sikap Keenan yang menatap tajam ke seseorang, tetapi dibalik mata tajamnya ada sisi yang meneduhkan.
“Tadi katanya tidak boleh Ngin ... tip. Lah ini, Kapten sendiri juga lagi ngintip Dokter Aletha. Awas saja, hati-hati nanti bisa bintitan.”
“Itu kan, kata ku kepadamu tadi. Tapi kali ini berbeda posisinya sama aku. Aku sedang memandangi Dokter ku, tak salah kan jika aku ngin ... tip.” Leon pun mencebik.
Keenan melangkahkan kakinya dan meninggalkan Leon yang masih menggerakkan bibirnya menirukan nada bicara Keenan. Bisa dibayangin, bagaikan bibir seekor bebek. Wkwkwk...
Keenan menghampiri Aletha, karena hari sudah berganti sore. Dan Keenan ingin Aletha kembali ke ruangannya untuk beristirahat, karena kesehatan Aletha masih belum pulih dengan sempurna.
“Al, bisa kembali ke ruangan?” Keenan menunjukkan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Ya Allah, aku sampai lupa waktu. Maafkan aku, Ke. Aku akan segera kembali, tapi tunggu sebentar, sebentar saja. Okey?” Keenan mengangguk.
Keenan kembali melangkah dan lebih dulu menuju ke ruang inap Aletha. Di sana dengan setia Keenan menunggu kedatangan Aletha. Sedangkan Aletha masih asik mengobrol dengan Karina. Bahkan obrolan itu tak ingin segera diakhiri begitu saja. Namun, apalah daya jika memang waktu yang tidak mendukung. Sehingga obrolan pun di akhiri dengan saling tukar nomor ponsel.
Karina mengangguk, lalu mengacungkan dua jempol tangannya. Di mana menandakan bahwa Karina siap memulai kehidupan baru dengan semangat baru.
***********
“Bagaimana, suka disini?”
Laura hanya mengangguk.
“Sudah capek atau belum?”
“Sudah, Kak.” Laura nyengir.
“Kalau capek ya sudah, kita kembali ke kapal. Besok pagi kita kembali ke Indonesia. Ada keluarga di sana yang menunggu kita. Tidak mungkin kan, jika kamu akan melahirkan disini?”
“Ya tidak lah, Kak. Kasihan juga om Bagas Kara dan tante Nina, pasti kesepian.”
“Nah, itu tahu. Ya sudah, istirahat di kapal saja biar besok tidak capek. Lagipula sudah sore.” Laura mengangguk.
Garda dengan sabar mendorong kursi roda Laura untuk kembali ke kapal. Karena hati yang sudah sore, Garda meminta Laura untuk segera beristirahat di sana. Dan esok harinya mereka akan kembali ke Indonesia, karena mengingat kandungan Laura yang sudah tujuh bulan.
********
“Kenapa jalan-jalan? Bukannya aku tadi memintamu untuk istirahat?”
“Aku bosan saja, jadi ... aku memutuskan untuk jalan-jalan. Toh ... tidak sampai jauh juga. Jangan marah, nanti tampannya hilang loh.” Goda Aletha yang membuat hidung Keenan kembang kempis seketika.
“Siapa juga yang marah. Aku tidak marah, ini lagi senyum.” Keenan melengkungkan bibirnya dengan sempurna.
Aletha yang melihat senyum Keenan seketika bibirnya ikut tersenyum, serasa nular saja. Dan setelah canda tawa menemani mereka, kini Keenan akan mengatakan kepada Aletha bahwa esok harus kembali ke Washington.
Ada rasa tak tega di saat Aletha masih membutuhkan waktu untuk bersama dengannya, akan tetapi itulah tugas untuk menjaga Ibu Pertiwi yang tidak bisa ditinggalkan.
“Al, aku besok akan kembali ke Washington.”
__ADS_1
“Tak apa, kembali lah kesana. Lanjutkan pendidikan yang kamu tempuh, Ke.” Aletha mengulas senyum.
“Benar tak apa? Apa kamu yakin?”
“Benar lah, aku ... sudah terbiasa seperti itu. Di saat dulu Papa dan Almarhum Kak Kevin sedang bertugas, aku selalu kesepian. Akan tetapi, setelah pindah ke Jakarta aku punya teman yang sekarang menjadi saudaraku.”
Setelah Keenan merasa yakin bahwa Aletha akan baik-baik saja dan tidak akan marah kepadanya, hal itu membuat Keenan sedikit bernafas lega. Dan selama dua hari menjalani perawatan di kapal, kini Aletha sudah bisa kembali melakukan tugasnya.
Saat Aletha tengah memeriksa kesehatan warga yang membutuhkan pemeriksaan Ctscan tiba-tiba seorang suster telah mengetuk pintu. Yang membuat Aletha harus menghentikan sejenak pemeriksaan itu.
“Ada apa, Sus?”
“Ada tamu untuk Anda, Dok.”
Sejenak Aletha terdiam, memikirkan siapa orang yang ingin bertemu dengannya. Sedangkan Keenan dan Leon sudah kembali ke Washington, Laura dan Garda sudah kembali ke Indonesia. Dan dokter yang lain juga tinggal bersamanya di kapal.
“Baiklah Sus, terimakasih.”
Suster itupun pergi dan melanjutkan pekerjaannya. Begitu halnya dengan Aletha, ia segera menyelesaikan pemeriksaan warga laki-laki yang berusia lima puluh tahun. Yang mengalami gagal jantung dan harus segera dioperasi. Dan Aletha akan menjalankan operasi itu sebelum masa kontraknya akan habis yang kurang dua bulan lagi.
“Karina,” panggil Aletha lirih.
“Hai, Dokter cantik. Apakabar?”
“Alhamdulillah, saya sehat. Bagaimana kabar kamu sendiri?”
“Seperti yang Dokter cantik lihat, saya sehat dan saya juga sudah memulai karier saya.”
“What?”
Karina selalu menebarkan senyum kepada Aletha yang tak pernah memudar, karena Karina selalu. merasa bahagia jika berada di dekat Aletha. Bahkan Karina menganggap Aletha sebagai kakaknya sendiri. Dan setelah menjalani perawatan selama dua minggu di kapal, kini Karina memulai kariernya dengan melukis.
Seni lukis adalah sebuah bidang yang ditekuni Karina, bahkan siang itu Karina memberikan lukisan yang begitu indah kepada Aletha sebagai tanda terimakasihnya.
“Karina, ini cantik sekali! Tapi ... bagaimana bisa kamu melukis saya dengan Kapten Keenan?”
“Rahasia.”
Gelak tawa kembali menemani obrolan mereka. Dan lukisan yang diberikan Karina adalah sebuah lukisan yang begitu terkesan bagi Aletha. Di mana di sana ada Keenan yang tengah menggenggam tangan Aletha di pesisir pantai dengan nuansa romantis, sebelum misi besar itu dilakukan.
*********
Waktu terus berjalan dengan begitu cepat, sampai-sampai tidak terasa kurang satu bulan lagi Aletha terikat kontrak dengan Mercy Ship. Dan malam itu adalah malam yang dikhususkan untuk perkumpulan para dokter bedah jantung. Di mana mereka berkumpul di restoran bawah kapal. Sengaja mereka rencanakan bersama pertemuan itu, karena setelah kontrak mereka berakhir dapat dipastikan mereka jarang bertemu kembali dan menjadi sukarelawan pada tahun berikutnya.
“Andai kita tidak dipertemukan di sini, mungkin kita tidak akan pernah saling mengenal, kecuali Dokter Aletha dengan Dokter Wilona. Mereka sudah saling kenal satu sama lain sejak kecil.” Ujar Edbert mengawali obrolan di antara mereka semua.
“Iya, kamu memang benar Dokter Edbert. Bahkan mereka adalah putri dari kalangan militer.” Sambung Catrina yang berdecak kagum.
“Sudahlah, hal itu jangan dibahas lagi. Kita bahas apa rencana kalian sesudah kontrak kita habis?” tanya Wilona.
Catrina dan Edbert saling pandang dan bertukar senyum, seolah mereka tengah menyimpan sesuatu hal yang masih belum diungkapkan kepada Wilona dan Aletha.
***********
“Ke, kurang satu bulan lagi pelatihan kita akan berakhir. Tak terasa ya ... waktu begitu cepat berlalu.”
“Kamu benar, Leon. Emm ... ngomong-ngomong apa rencanamu setelah ini?”
“Aku akan kembali menjadi tentara. Mengabdikan diri untuk negara. Kalau kamu?”
“Aku akan ajukan lamaranku, karena aku sudah rindu. Rindu itu terasa begitu berat. Begitu menyiksa saat jiwa dan raga tak bisa menjaganya... saat mata tak bisa memandangnya... saat bibir tak bisa bertutur sapa dengan lembut kepadanya. Hanya mesin waktu yang terus berputar. Dan ku nantikan pertemuan sebagai obat penawar rindu.”
“Lebay itu namanya, Ke.” Leon mencabik. “Tapi... sebagai sahabatmu aku akan mendukung niat baikmu.”
Keduanya saling menebar senyum. Mereka tengah merencanakan kembali apa yang akan mereka lakukan setelah pelatihan di Washington berakhir. Dan Keenan akan kembali ke Indonesia tepat dengan kembalinya Aletha.
*Anggap saja Aletha memakai bahasa Inggris saat mengobrol dengan Karina ya gaesss.*
Bab panjang untuk hari ini, selamat membaca para reader's ☺
__ADS_1