Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 144 “Perhatian Dari Sang Kapten”


__ADS_3

“Perlu kita ingat cinta itu tak harus selebihnya terus menerus diperjuangkan. Karena cinta itu akan hadir dengan sendirinya, jika terus memepetnya itu hanyalah hawa nafsu manusia yang harus dikendalikan.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keenan dan Aletha berjalan menyusuri pantai di Neuakchott, lalu mereka menghentikan langkah mereka di tengah-tengah pirogue.


Saat menatap ke lautan yang luas tiba-tiba Aletha menitihkan air mata. Aletha mengingat dengan benar saat ia menyatakan perasaannya kepada Keenan. Andai saja Allah tidak memepetemukannya kembali dengan Keenan kalau itu, maka entah siapa yang akan dijadikan tambatan hatinya saat ini.


“Neng, kenapa menangis?” tanya Keenan sedikit khawatir.


“Neng... menangis bahagia, Aa. Malam itu Neng bisa melihat Aa seutuhnya, bukan Aa yang selalu berpura-pura acuh sama Neng. Tapi Neng melihat Aa yang menyimpan sejuta cinta untuk Neng dengan setia.”


“Aa bersyukur Neng, doa Aa benar-benar di jabah sama Allah saat itu. Dan akhirnya kita pun bisa bersatu dalam ikatan cinta, hal yang selalu Aa jadikan impian terbesar Aa selama Aa masih hidup.”


“Neng, tetaplah begini saat Aa tidak ada di samping Neng suatu saat nanti. Karena ke depannya Aa tidak akan tahu ditugaskan kemana lagi, kecuali... kalau Aa sudah naik pangkat.” Keenan menatap Aletha dengan cengiran.


“Perlu Aa ingat, cinta Neng ke Aa itu ibarat lautan yang begitu luas... Bagaikan bintang dan bulan yang akan selalu bertautan satu sama lain. Dan sebagaimana lambang cinta kita Aa, you jump... i jump.


Keenan tersenyum, ia merasa sangat beruntung sudah memiliki Aletha sebagai istrinya, bahkan Keenan merasa bahwa rasa sabar dan semangatnya untuk mempertahankan cinta pertamanya tak pernah sia-sia. Allah telah membalas cinta yang dipendam oleh Keenan meskipun Keenan kala itu tengah diuji lebih besar. Karena Aletha mencintai lelaki lain dan hampir menikah. Namun Allah berkehendak lain dan pada akhirnya Aletha pun berjodoh dengan Keenan hingga mereka memiliki buah hati yang bernama Alina.


Keenan merengkuh Aletha dengan kuat, seolah rasanya enggan bagi seorang Keenan untuk melepaskan rengkuhannya itu. Dan dengan seiring nya waktu yang terus berjalan, bahkan hari pun juga sudah berganti siang, mereka semakin menikmati suasana langit yang warna warni, laut yang biru dan juga ribuan pirogue yang memamerkan keahlian yang cerdik di pelabuhan nelayan Neuakchott.


Mauritania memang dikenal dengan negara yang gersang, tetapi Keenan dan Aletha tetap saja menikmati keindahan dari berbagai tempat meskipun mereka berada di bawah teriknya cahaya matahari.


“Sudah capek belum, Neng? Kalau sudah capek kita ke hotel saja dulu untuk beristirahat, bagaimana?” tanya Keenan memastikan.


“Baiklah Aa, kita ke hotel saja dulu untuk istirahat. Lagipula Neng juga merasa lapar, haus dan juga ngantuk.” Aletha mulai mengeluh saat keringat mengucur di pelipis dan punggungnya.


Dengan mobil taxi Keenan dan Aletha menuju ke Azalai Marhaba hotel yang berpusat di Neuakchott dengan jarak terus ke Ge U Lacademie. Azalai Marhaba hotel berjarak lima belas menit berjalan kaki dari Work. Dan Artisans Market terletak berhampiran hotel.

__ADS_1


Keenan selalu memberikan sikap romantisnya saat berada di dalam mobil taxi. Tiada hentinya Keenan membelai kepala Aletha yang terbalut hijab, begitupula dengan Aletha yang tetap menyenderkan kepalanya di bahu kokoh Keenan. Hal itupun membuat sopir taxi merasa tertarik untuk menatap mereka dari kaca spion.


‘Hubungan yang jarang sekali aku temui. Ya Allah, jagalah pasangan-Mu ini yang sudah Engkau jodohkan. Berikan kebahagiaan kepada mereka, dan entah kenapa hamba merasa senang menatap pasangan ini.’ Sopir itupun bermonolog dalam hati. Mendoakan rumahtangga Keenan dan Aletha yang diliputi rasa bahagia selalu.


“Aa... apa masih lama sampainya?”


“Tidak kok, Neng. Mungkin sekitar satu jam lagi kita akan sampai di hotel nya. Kenapa Neng?”


“Tidak kok, Aa. Neng... hanya merasa ngantuk saja.” Aletha menguap, ia benar-benar merasa mengantuk.


Kembali Keenan mengusap puncak kepala Aletha, dan dibiarkan nya Aletha tertidur di pundaknya sebentar untuk melepaskan rasa kantuk yang mendera. Sedangkan Keenan sendiri ia memilih mengedarkan pandangannya di setiap perjalanan menyusuri pusat jalan Neuakchott yang cukup ramai siang itu.


Satu jam sudah berlalu, Keenan membangunkan Aletha dengan mengusap pipinya secara perlahan. Sungguh lembut perlakuan Keenan terhadap Aletha, dan itu kembali menarik perhatian sang sopir. Ada rasa kagum dalam diri sopir itu saat kembali menatap Keenan dengan jelas.


Setelah terbangun, Aletha dan Keenan segera turun dari taxi itu. Tidak lupa Keenan memberikan ongkos kepada sopir sebagai pembayaran. Lalu istirahat mereka pun dilanjut setelah chek-in di Azalai Marhaba hotel.


“Neng, jangan langsung tidur begitu! Sebaiknya Neng membersihkan tubuh lalu ambil air wudhu untuk sholat dzuhur. Apa perlu Aa siapkan air nya?”


Keenan manggut-manggut, membiarkan Aletha membersihkan tubuh yang akan bermanfaat menyegarkan tubuh di siang hari yang terasa panas karena cahaya matahari yang sudah semakin meninggi.


Seperti biasa, Aletha tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berendam di dalam kamar mandi. Setelah tubuhnya terbalut dengan gamis panjang dan longgar Aletha mengenakan mukena yang dibawanya. Setelah itu Aletha membentangkan sajadah panjangnya dan memulai sholat dzuhur empat rakaat.


Aletha memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah siap untuk dihuni. Sedangkan Keenan masih menyegarkan tubuhnya dibawah air shower.


“Neng, ternyata kamu sudah tidur. Hati Aa pun tidak tega jika mengganggu Neng yang sudah pulas begitu.” Keenan mengulas senyum tipis dari bibirnya.


Keenan menunaikan sholat dzuhur siang itu, dan seusai sholat Keenan mencoba menghubungi Bagas Kara untuk memberitahukan kepadanya jika saja ia dan Aletha sidah sampai di Mauritania dengan selamat. Setelah menyapa kedua mertuanya Keenan berlanjut ke Bu Laila yang memang sedang bersama Alina.


“Assalamu'alaikum, Bu.” Keenan menyapa Bu Laila dengan senyuman.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam, Nak. Bagaimana, apa kamu dan Aletha sudah sampai?”


“Alhamdulillah, Bu. Kami sudah sampai, dan sekarang Aletha nya sedang tidur. Mungkin... Dia merasa capek.” Keenan menyorot kan kameranya di bagian depan, sehingga gambar Aletha pun terlihat di sana.


“Kasihan Dia! Nak Keenan, tolong jaga selalu nak Aletha. Jangan sampai Dia kembali terluka dan mengalami trauma seperti dulu.” Bu Laila memberikan pesan yang teramat penting bagi Keenan.


Keenan pun mengangguk, mengiyakan pesan Bu Laila. Dan setelah menanyakan Alina, Keenan pun menutup sambungan telepon nya.


Keenan ikut merebahkan tubuhnya di atas ranjang, melepas rasa lelah yang membuat otot-otot nya menegang selama berada di dalam helikopter dan juga di dalam mobil taxi yang dijadikan kendaraan menuju ke Azalai Hotel.


“Lebih baik tidur siang saja, sudah lama sekali tidak tidur dengannya sambil meluk seperti ini.” Keenan melingkarkan lengannya di perut Aletha.


Keenan mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Dan setelah mendapatkan posisi yang nyaman tiba-tiba ponselnya berdering, menandakan ada panggilan masuk di ponselnya.


“Bian?”


Keenan mengernyitkan keningnya setelah melihat di layar ponselnya ada nama Bian tengah melakukan panggilan. Ingin rasanya Keenan mengabaikan panggilan itu, tapi ada rasa penasaran yang hadir dalam hatinya. Dan sebagai seseorang yang setia kawan Keenan pun menerima panggilan dari Bian, meskipun ia harus meninggalkan Aletha yang masih tertidur pulas.


“Assalamu'alaikum, Ke.” Bian menyapa Keenan dengan mengucap salam.


Sebagai umat muslim itu wajib diucapkan untuk menyapa, bertamu dan juga bisa diucapkan saat bedak memulai suatu acara.


“Wa’alaikumsalam, Bian. Ada apa kamu menelpon ku? Sungguh... mengganggu waktuku saja.” Keenan mengumpat begitu saja, tetapi justru membuat Bian terkekeh geli mendengar rasa kesal Keenan.


“Bro, jangan marah-marah seperti itulah! Aku ingin bertanya serius kepadamu. Dan ini sangat... penting. Hatiku merasakan gelisah saat mengingat Rania. Enaknya bagaimana ya?”


Keenan terkekeh geli mengingat Bian yang sedang bucin sama Rania.


“Perlu kita ingat Bian, jika cinta itu tak harus selebihnya terus menerus diperjuangkan. Karena cinta itu akan hadir dengan sendirinya, jika terus memepetnya itu hanyalah hawa nafsu manusia yang harus dikendalikan.”

__ADS_1


“Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya, seperti apa yang sudah dikatakan Rania. Jika kamu perlu memantapkan hati, maka lakukanlah sholat istikharah, Bian. InsyaAllah Allah akan menjawab siapa jodohmu melalui sholat itu. Ingat, lakukan sekhusu’ mungkin di sepertiga malam dan sesudah membaca doa jangan lupa menyebutkan namanya agar kamu tahu siapa jodohmu.”


Bersambung...


__ADS_2