Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 122 “Maaf Aku Gagal”


__ADS_3

“Duka mu duka ku, luka mu luka ku... jadi, jangan kamu sembunyikan apapun dariku karena aku tahu meskipun kamu hanya diam dengan seribu bahasa.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kode blue... kode blue...”


Tanda itu begitu memekik telingan bagi setiap dokter dan juga anggota keluarga pasien yang bersangkutan. Rasa was-was seketika singgah di dalam hati Ilham saat ruangan Maya membunyikan bel seperti itu.


“Kak Maya...”


Dengan segera Aletha pergi ke ruang ICU untuk memeriksa keadaan Maya.


Ilham yang siaga menunggu Maya di luar seketika masuk ke dalam ruang ICU untuk memeriksa kondisi Maya yang tiba-tiba saja mengalami henti jantung.


“Kak Ilham,” panggil Aletha lirih.


“Al, bantu aku segera!” pekik Ilham.


Dengan segera Aletha menyiapkan alat kejut jantung, Ilham yang sudah berdiri di sisi branker bersiap untuk melakukan kejut jantung setelah alat itu disiapkan oleh Aletha.


“Dalam hitungan ketiga aku akan memulainya, Al. Siapkan!”


Aletha menjawab Ilham hanya dengan anggukan pasti. Kedua dokter dalam ahli bedah jantung itu tengah melakukan tugas mereka untuk menolong nyawa pasien. Aletha dan Ilham berusaha dengan sekeras mungkin, karena mereka tidak ingin jika Maya akan pergi saat itu juga.


“Lakukan sekali lagi, Al!”


Karena kejut pertama Ilham mengalami kegagalan, Aletha kembali mengangguk untuk melakukan kejut jantung yang kedua kepada Maya. Dalam hitungan yang ketiga Ilham melakukan kejut jantung.


“Tutttttttt... ”


Namun gagal, sudah dua kali Ilham dan Aletha berusaha mengembalikan detak jantung Maya tetapi hasilnya sudah jelas Allah yang menentukan. Dan akhirnya Maya telah dipanggil Allah detik itu juga.


“Kak Ilham,” pekik Aletha.


Ilham hanya diam dengan seribu bahasa, ia termangu dan menatap Maya yang sudah terbujur kaku.


“Kak Ilham, aku tahu bagaimana rasanya seperti ini. Kak Ilham harus kuat.” Aletha mengusap pelan lengan Ilham.


“Al... aku gagal.” Air mata yang memggenang di pelupuk mata Ilham sudah tumpah begitu saja.

__ADS_1


“Maafkan aku sudah gagal menjagamu dengan baik, Maya. Aku suami yang tidak becus... aku suami yang sudah melakukan kesalahan besar... aku suami yang sudah membiarkan istrinya pergi sendirian ketika Dia hamil besar.” Ilham tergugu, tubuhnya merosot kebawah.


Berita itu membuat hati Ilham, Aletha dan kerabat besar mereka merasakan pilu. Tidak pernah disangka jika takdir Allah adalah mengambil nyawa Maya dengan cara seperti itu. Kecelakaan itu berujung maut untuk Maya.


“Kak, maaf aku ... gagal menyelamatkan nyawa kak Maya.” Aletha termangu di hadapan jasad Maya.


Pedih itu sudah pasti dirasakan Ilham dan kerabat lainnya termasuk Aletha saat mereka harus menerima kenyataan bahwa Maya sudah dipanggil oleh sang pencipta. Dan semua harus ditintut untuk sabar dan lapang dada dalam menerima kenyataan pahit itu.


Pihak keluarga Maya dan Ilham seketika datang ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar jika Maya telah meninggal dunia.


”Mama... bangun Ma... Adam rindu sama Mama. Hik... hiks... hiks...” Anak Ilham dan Maya yang pertama begitu merasakan kehilangan sosok ibu yang tidak akan pernah bisa hadir kembali dalam hidupnya.


Adan tidak hentinya menggoyang-gitangkan tubuh Maya yang sudah terbujur kaku. Tangis pilu telah menyayat setiap hati yang ikut merasakan kehilangan atas meninggalnya Maya. Apalagi melihat Adam yang masih berusia enam tahun dan juga Sahira yang berusia tiga tahun harus kehilangan sosok ibu bahkan tidak akan pernah bisa merasakan kasih sayang ibu mereka lagi.


“Papa... Mama tidulnya kok lama? Kenapa nggak bangun-bangun cih,” cicit Sahira.


Ilham semakin tergugu, rasanya tidak kuat menerima kenyataan itu. Namun yang namanya takdir Allah tidak akan ada yang tahu dan tidak akan ada yang bisa merubahnya.


Pemakaman Maya segera diurus oleh pihak rumah sakit, di mandikan di rumah sakit oleh pihak yang bertugas. Setelah itu mobil ambulans pun menjadi kendaraan Maya untuk pulang. Aletha dan keluarganya ikut mengantar Maya ke pemakaman kecuali, Bu Laila dan bik Siti. Karena mereka harus menjaga Alina dan juga Atalaric di rumah.


“Selamat jalan kak Maya, semoga kak Maya tenang di surga.” Aletha menaburkan bunga di atas gundukan tanah yang masih basah.


Aletha menghampiri Ilham yang masih mengusap dan sesekali mencium batu nisan yang bertuliskan nama Maya Metaliani binti Ibrahim.


Hening...


“Aku pamit dulu kak, karena aku harus pulang. Kak Ilham jiga harus ingat, jangan berlarut dalam kesedihan... karena itu tidak baik.” Aletha menghempaskan nafas beratnya.


Dengan berucap salam Aletha berpamitan kepada Ilham dan juga pihak keluarga. Setelah itu Aletha, Luna, Juan, Mama Nina dan Bagas Kara masuk ke dalam mobil untuk kembali pulang.


Masih diselimuti rasa berduka, Aletha merasa tidak bersemangat untuk melakukan pekerjaannya hari itu. Sehingga ia meminta ijin kepada Dimas selalu direktur rumah sakit untuk tidak masuk pada hari itu. Cinta yang tertanam di dalam hati Dimas membuatnya mengijinkan Aletha libur untuk satu hari saja dan selebihnya Aletha harus masuk kembali seperti biasa.


“Bu Laila, ibu... bisa istirahat kalau sudah lelah. Alina biar saya yang jaga, saya juga... ijin libur hati ini.” Aletha menghampiri bu Laila uang masih setia menemani Alina di keranjang bayinya.


“Sebenarnya... Ibu merindukan kamu. Tapi... jika kamu ingin istirahat tidak apa-apa, kok. Alina biarkan saja di sini,” ucap bu Laila.


“Tidak apa-apa kok, Bu. Bu Laila saja yang istirahat.” Aletha menyunggikan senyum.


“Jika kamu mengijinkan ... boleh tidak jika Ibu menjaga Alina lagi? Ibu... hanya merindukan Fajar, andai saja kala itu pernikahan di antara kalian terjadi, pasti Ibu sudah mendapatkan cucu.” Binar mata bu Laila berubah menjadi sendu, membuat Aletha merasa tidak tega memisahkan bu Laila dengan Alina.

__ADS_1


“Baiklah, Aletha akan mengijinkan bu Laila. Aletha akan memberikan ASI terlebih dahulu setelah itu Aletha akan pergi ke kamar, Aletha... mengantuk.” Aletha tersenyum samar.


Aletha merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ingin sekali ia memejamkan mata meskipun hanya satu jam saja, tidak lama. Namun, ketika Aletha hendak melakukan itu tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan terpaksa ia harus melihat siapa yang tengah menelponnya itu.


“Aa Keenan.” Seketika senyum Aletha mengembang sempurna setelah melihat nama Keenan di ponselnya.


“Assalamu'alaikum, Neng,” ucap Keenan.


“Wa'alaikumsalam, Aa. Ada apa kok Aa bisa telepon Neng di jam segini?”


“Tidak apa-apa kok, Neng. Hanya saja rindu telah melanda hati Aa. Lagipula ini kan sudah jam istirahat, bisa hubungin Neng untuk mengobati rindunya Aa ke Neng.”


Seketika Aletha menyapu setiap dinding kamarnya untuk mengalihkan tatapannya dari Keenan. Karena Aletha tidak mau jika Keenan tahu ia menyimpan rasa malu saat Keenan mengungkapkan rasa rindunya.


“Oh iya, Neng. Di mana Alina? Dia... tidak rewel kan?”


“Tidak kok, Aa.” Binar mata Aletha berubah menjadi sendu.


Sepasang mata kecoklatan milik Aletha tidak bisa menipu Keenan, karena sudah terlihat begitu sembab setelah beberapa jam menangis merasakan kehilangan sosok sahabat yang baik seperti Maya.


“Ada apa, Neng? Kenapa sedih begitu?”


“Tidak kok, Aa. Hanya lelah saja, tadinya mau... tidur. Eh, tahunya Aa telepon.”


“Neng... jangan menipu Aa.”


“Duka mu duka ku, luka mu luka ku... jadi, jangan kamu sembunyikan apapun dariku karena aku tahu meskipun kamu hanya diam dengan seribu bahasa.”


Seketika Aletha menatap mata tajam Keenan yang jauh dari seberang. Dan benar saja, Aletha tidak bisa menipu Keenan. Sehingga Aletha menceritakan apa yang terjadi dengan Maya.


“Neng, bukannya Aa sudah bilang. Dan Neng juga tahu, bahwa kita sebagai manusia sudah dipastikan akan kembali kepada sang pencipta. Doakan saja yang terbaik buat Maya. Sudah, kalau Neng mengantuk tidur saja. Aa mau tugas lagi, ingat... jaga pikiran dan hati. Karena apa yang kamu rasakan juga akan di rasakan dia orang, Aa dan Alina.” Keenan menyunggingkan senyum.


“Iya Aa, Neng akan mendoakan kak Maya. Aa hati-hati saat bertugas.”


Keenan mengangguk, lalu mengakhiri obrolan dengan Aletha yang hanya melalui udara. Dan setelah usai memgobrol sejenak dengan Keenan Aletha tidak bisa lagi menahan kantuk yang tidak bisa ditahan. Hingga akhirnya semilir angin dari luar jendela kamar Aletha membuatnya tertidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Dor... Dor... Dor...”

__ADS_1


Terdengar begitu jelas dari dalam posko yang dijadikan tempat istirahat oleh Keenan, Garda dan anggota polri yang melakukan patroli di siang itu.


Bersambung...


__ADS_2