Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 76 “Berkorban”


__ADS_3

“Jodoh dan maut adalah satu hal yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan terhadap umat-Nya. Kita tidak akan pernah tahu kapan jodoh dan maut itu akan hadir dalam diri kita. Meskipun kita berharap sekeras mungkin, jika Tuhan belum mendatangkan jodoh maka... ia pun juga belum datang. Begitu halnya dengan maut, meskipun kita berlari sejauh mungkin, jika Tuhan sudah menetapkan maka... nyawa pun akan menghilang.”


**********


Satu persatu anak buah Jodie terkena tembakan dan tumbang di tempat. Dan Leon akhirnya bisa masuk dan membantu mereka melumpuhkan musuh.


“Tak akan kubiarkan anak Brigjen itu hidup. Dan kalian harus mati bersamaku.” Ucap Jodie begitu lirih.


Jodie siap melayangkan tembakan ke tubuh Wilona yang sudah dioasangkan bom, yang dirakit sendiri oleh Jodie.


“Dor...”


Peluru menluncur begitu cepat dan mengenai tubuh Aletha.


Flashback On


Saat Jodie berhasil meraih pistol dengan jangkaun tangannya, Jodie bersiap untuk memeberikan tembakan ke tubuh Wilona yang sudah terperangkap dengan rompi bom yang sudah dirakit sendiri oleh Jodie.


“Jika peluru ku tepat pada sasaran, maka... bom akan meledak seketika. Dan kalian semua akan hancur lebur bersamaku.”


Saat itu juga Aletha menyadari bahwa Jodie tengah bersiap meluncurkan peluru ke arah Wilona. Dan Aletha tidak mau jika kehilangan Wilona, sahabat semasa kecilnya dulu. Bahkan kedua ayah mereka begutu akrab, bak saudara.


”Aku tidak akan membiarkan peluru itu meluncur ke tubuh Wilona. Jika itu terjadi, maka... kita semua akan mati disini. Tidak. Ya Allah ... lindungilah aku.”


Aletha berlari untuk menghadang peluri itu agar tidak mengenai ke tubuh Wilona. Dan Aletha pasaran jika kematian akan menyabut nyawa nya saat itu juga.


“Dor...”


“Argghh”


Seketika tibub Aletha tumbang, jatuh ke lantai dengan perut sisi kiri bersimlah darah.


“Aletha...” Teriak Keenan memekik telinga.


Keenan terkejut saat Aletha berusaha menyelamatkan Wilona, bahkan Keenan tahu bukan hanya Wilona saja yang sedang diselamatkan oleh Aletha, melainkan mereka semua.


Wilona, Catrina, Leon, Yudha dan juga Edbert ikut terkejut, mata mereka terbelalak sempurna saat tubuh Aletha terjatuh dengan darah yang mengucur dari perutnya.


‘Aku tidak akan membiarkanmu hidup, Jodie.’


“Dor...”


“Dor...”


“Dor...”


Tiga kali tembakan telah diluncurkan ke tubuh Jodie. Sehingga saat itu juga tubuh Jodie yang tadi mampu berdiri telah limbung lalu terjatuh. Dapat dipastikan Jodie kehilangan nyawanya saat itu juga.


“Kapten Leon dan Lettu Garda, saya perintahkan kepada kalian untuk menjinakkan bom yang ada di tubuh Dokter Wilona. Dan Dokter Edbert, tolong berikan pertolongan pertama untuk Dokter Aletha. Dan aku akan menerobos pintu itu untuk menolong Dokter Catrina.” Perintah Keenan yang diangguki oleh Leon, Garda dan Edbert.


Meskipun Keenan merasa khawatir dengan keadaan Aletha, ia tidak bisa mengabaikan tugasnya sebagai kapten berani mati yang tengah menjalankan misi. Karena Catrina dibawa pergi oleh anak buah Jodie setelah tahu Jodie tertangkap dengan tubuh yang tidak bernyawa.

__ADS_1


“Berhenti! Lebih baik menyerahlah, daripada kamu ikut mati.”


“Tidak, Kapten. Maaf, jika kali ini aku membantahmu. Apa kamu ingat denganku?”


Keenan tampak berpikir, berusaha mengingat wajah yang tengah menodongkan pistol ke tubuh Catrina.


“Satu detik...”


“Dua detik...”


“Bayu,”


Keenan mampu mengingat pemilik wajah lelaki yang berada di hadapannya itu. Di mana lelaki itu adalah prajuritnya yang pernah dilatih dalam membuat taktik dan strategi yang pas untuk melumpuhkan musuh. Dan saat itu Bayu lah yang sudah menyusun strategi untuk sekedar berlabih di pulau Bouvet, lalu kembali berlayar ke pulau Tristan de Chuna.


“Akhirnya kamu ingat juga denganku, Kapten. Gara-gara perbuatanmu adikku jadi tertabrak mobil dan meninggal di tempat kejadian.”


“Kamu salah paham, Bayu. Bukan karena aku Clarissa pergi saat itu. Hanya saja Dia mendengar saat aku bicara bersama Almarhum Ayahku. Dan aku tidak tahu akan hal itu,”


“Sudahlah, Kapten. Bukan saatnya kamu merangkai kata. Bukankah, wanita yang tertembak tadi adalah cintamu? Berarti kita impas, bukan.”


“Dor...”


Tak segan lagi Keenan meluncurkan pelurunya ke paha Bayu. Sehingga membuat Bayu menjatuhkan tubuhnya dan melepaskan Catrina. Seketika Catrina berlari dan sembunyi dibalik tubuh gagah Keenan.


“Maafkan aku, Bayu. Meskipun aku dihantui bayang-bayang penyesalan, tapi aku berhak menjalankan tugasku.”


Akhirnya misi telah berakhir, semua penjahat telah diringkus dan dibawa ke tempat dimana seharusnya mereka berada. Tetapi berbeda dengan penjahat yang sudah meninggal saat itu, para korban dibawa ke rumah sakit terdekat untuk menjalani evakuasi dan pemakaman.


---------


Helikopter pribadi milik Bagas Kara membawa Aletha menuju ke Mercy Ship.


“Aletha, kamu harus bertahan. Tidak seharusnya kamu menyelamatkan aku. Hiks... hiks... hiks...”


Wilona ikut bersama helikopter itu. Tiada hentinya ia merutuki kebodohan karena telah membiarkan Aletha berkorban nyawa untuknya.


“Bodoh sekali kamu Wilona, kenapa kamu tidak langsung menarik Aletha agar mengingkir. Bodoh...” Beberapa kali Wilona memukuli dirinya sendiri.


“Wilona, jangan bertindak bodoh seperti ini. Ini murni bukan salah kamu, Wil. Jika kamu tahu maksud dan tujuan Aletha membiarkan peluru itu mengenai tubuhnya, kamu tidak akan merutuki kebodohan dengan sia-sia.”


Kedua tangan Leon menghentikan tangan Wilona yang terus memukul tibuhnya sendiri. Leon geram dengan tingkah Wilona yang merutuki kebodohan dengan sia-sia. Karena maksud dan tujuan Aletha bukan haya sekedar menyelamatkan dirinya saja, melainkan mereka semua.


Beberapa menit kemudian helikopter mendarat, dengan segera Edbert membawa Aletha dengan beberapa suster yang sudah siaga menyambut kedatangan mereka. Dengan pergerakan cepat Edbert meminta tim medis menyiapkan peralatan untuk melakukan operasi saat itu juga.


“Aku ingin masuk ke dalam.”


“Tidak, Dokter Wilona. Kehadiranmu akan membuat konsentrasi kami pecah nantinya, karena keadaan kamu belum stabil pasca disandera. Biarkan kami saja yang menjalankan operasi ini.”


“Iya, Dokter Wilona. Benar apa kata Dokter Edbert, kita melangitkan do'a saja dari sini. Akan lebih baik perbanyak do'a dari kita, daripada nanti akan memperpanjang penyelamatan untuk Aletha.”


Akhirnya Wilona mengangguk dan Leon pun meminta Wilona untuk duduk, lalu ia membeli minum yang disediakan di Mercy ship untuk diberikan kepada Wilona. Agar Wilona merasa tenang setelah mengalami kejadian tempo hari. Apalagi setelah melihat secara langsung bagaimana peluru masuk ke tubuh Aletha.

__ADS_1


“Kapten Keenan, kenapa saya lihat kamu begitu tenang?”


“Tidak, Dokter Wilona. Mungkin di luar saya terlihat tenang dan baik-baik saja, tapi ... saya merasa kehilangan ... hati saya rapuh. Separuh jiwa saya pun terasa mati seketika, bahkan jantung saya seakan berhenti berdetak saat melihatnya tergeletak dengan darah yang bersimpah. Tapi saya disini seorang Kapten, harus bersikap tegar, meskipun perasaan saya sedang bercampur aduk.”


“Saya salut dengan, Kapten Keenan. Tapi saya tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Kapten Leon saat berada di helikopter.” Wilona menatap Keenan.


“Sebenarnya ... Aletha menyelamatkan kita semua dari meledaknya bom yang menempel di tubuh kamu. Jika peluru itu tepat pada sasaran, maka dapat dipastikan kita akan meledak saat itu juga.”


Terang Keenan dengan jelas, karena saat itu Keenan ikut serta menemani Aletha sampai ke Mercy Ship. Sehingga tahu persis bagaimana Leon mengatakan hal itu kepada Wilona. Dan tidak lama kemudian Leon pun kembali dengan membawa dua botol air mineral.


“Kapten Keenan, kamu...”


”Maafkan aku, aku hanya ... tidak bisa memenuhi janji yang aku ucapkan tujuh belas tahun lalu. Aku tidak bisa menjaganya.”


Mata yang menggenang kini akhirnya telah tumpah juga. Meskipun hanya setetes atau du tetes, tetap saja Keenan tidak kuasa menahan tangisnya.


“Jangan berkata seperti itu, Kapten. Bukankah... kalian berjodoh, dipertemukan kembali setelah sekian lama.”


Keenan tak bergeming. Tubuhnya hanya berdiam dan bersandar di tembok. Tidak lama kemudian suara adzan subuh telah berkumandang, seketika Keenan meraih kursi untuk membantunya berdiri. Dengan sisa tenaganya ia melangkagkan kaki menuju ke mushola Mercy Ship.


Dua rakaat tekah dijalankan. Seusai berdzikir tidak lupa Keenan menengadahkan kedua tangannya untuk mencurahkan segala penat yang ada dan meminta kepada Allah atas kesembuhan Aletha.


“Ya Allah, aku hanyalah manusia yang tak luput dari dosa. Aku hanyalah manusia yang sangat minim akan iman. Bahkan akun hanyalah manusia yang banyak mengeluh dan mengeluh.”


“Dan saat ini aku sebagai umat-Mu ingin meminta satu hal kepada-Mu, Ya Allah. Berikanlah kesembuhan kepada Aletha, Dia sudah berkorban nyawa untuk kami semua. Dia wanita yang baik, Ya Allah... aku mohon sembuhkanlah Aletha. Aamiin...”


Keenan kembali menjumpai semua orang yang sedang menanti di depan ruang operasi. Masih terlihat jelas bagaimana rasa khawatir menyelimuti mereka, terutama Bagas Kara yang baru saja hadir. Namun di sana, tidak terlihat Mama Nina ataupun Luna ikut hadir dalam operasi Aletha.


“Selamat pagi, Pak. Saya lapor...”


“Sudahlah, saya sudah tahu semuanya melalui Garda. Bisa saya bicara denganmu?” Keenan mengangguk.


Di anjungan kapal Bagas Kara dan Keenan saling bertukar kata. Pagi itu di antara mereka tidak mengobrol secara formal, antara bawahan kepada atasan. Mereka saling mengungkapkan bagaikan ayah dengan putranya.


“Maafkan saya, karena saya gagal menjaga Aletha.”


“Ini bukan salah kamu, Dia yang selalu keras kepala. Tetapi ... Dia suka berkorban apapun asal orang yang disayanginya akan selalu tersenyum dengan sempurna tanpa rasa sakit sedikitpun jika Dia tidak ada bersama orang itu. Hatinya sudah mengalami kerapuhan dua kali.”


“Jodoh dan maut adalah satu hal yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan terhadap umat-Nya. Kita tidak akan pernah tahu kapan jodoh dan maut itu akan hadir dalam diri kita. Meskipun kita berharap sekeras mungkin, jika Tuhan belum mendatangkan jodoh maka... ia pun juga belum datang. Begitu halnya dengan maut, meskipun kita berlari sejauh mungkin, jika Tuhan sudah menetapkan maka... nyawa pun akan menghilang.”


“Bapak tahu, kamu ingin menjalin hubungan yang lebih dengan Aletha. Bapak merestui itu, tapi jika Tuhan berkehndak lain ... maka ikhlaskan kepergiannya.”


Bagas Kara menepuk bahu Keenan yang kokoh, tetapi saat ini bahu itu kian merosot. Seolah ada beban yang berat yang tidak bisa dipikul nya sendirian. Tetapi Keena harus benar-benar siap menerima takdir yang sudah ditetapkan Tuhan. Karena hanya Tuhanlah yang mampu membolak-balikan keadaan.


Keenan membutuhkan waktu untuk sendiri, sehingga beberapa menit ia berdiri di anjungan kapal. Menatap langit yang luas, bahkan cahaya matahari mulai meninggi. Memantulkan cahayanya ke laut, sehingga tercipta kesilauan saat mata memandang langit itu.


Bersambung...


Maafkan dua hari tidak upload ya...! Dikarenakan adanya kepentingan pribadi yang tidak bisa ditunda, sehingga sempat untuk hari ini. Semoga saja ke depannya bisa upload setiap hari.


Terimakasih reader setia...

__ADS_1


__ADS_2