Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 132 “Tak Lupa Akan Waktu”


__ADS_3

“Mencari kesibukan untuk pelipur lara itu boleh, tapi jangan sampai menyibukkan mata saat di depan layar ponsel, menyibukkan telinga dengan mendengar nyanyian dan... menyibukkan bibir dengan nyinyiran tidak jelas.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah mendapatkan sedikit ilmu dari Bu Laila, jarang sekali Aletha menenangkan pikiran di pantai, sebisa mungkin ia menenangkan pikiran dan hati dengan pergi ke masjid terdekat dari rumah sakit. Tidak lupa pula dengan mengucapkan dzikir dan sholawat untuk mendamaikan hatinya.


“Nomor siapa ini?”


Aletha mendapatkan sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal.


[Percayalah, tak akan kubiarkan lampu lentera itu padam untuk selamanya. Aku akan kembali.]


Belum sempat mencerna tulisan dari pesan itu tiba-tiba saja Aletha menerima panggilan dari rumah sakit. Yang mengharuakannya untuk segera tiba di rumah sakit karena ada insiden darurat yang terjadi dikarenakan kecelakaan bus mini dengan mobil truk pengangkut barang.


“Baiklah, aku akan segera ke sana. Untuk sementara kalian saja yang urus dulu.”


Aletha segera bersiap memakai snelinya yang kebetulan dibawa pulang. Dan hari itu Aletha tidak mengurai rambutnya yang pirang, hanya menguncit satu ke belakang agar memudahkannya saat melakukan pemeriksaan terhadap korban kecelakaan yang sudah diinformasikan oleh pihak rumah sakit.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk segera sampai di rumah sakit, cukup memakan waktu sekitar lima belas menit saja. Karena pagi itu Aletha melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung saja di jalan tidak terjebak macet, jika terjadi mungkin saja akan kekurangan dokter nantinya.


Dan di saat seperti itulah semua dokter diwajibkan untuk siaga.


“Selamat pagi, Dokter Aletha.”


“Selamat pagi, Suster. Bagaimana keadaan semua pasien? Apa. ada yang terluka parah?” tanya Aletha berbasa-basi.


“Ada di ruang UGD, Dok. Dua orang mengalami sakit di bagian jantung, katanya merasa sesak saat bernafas.” Suster memberikan tahu kepada Aletha, dokter ahli bedah jantung.


Dengan segera Aletha melingkarkan stetoskop di lehernya. Setelah itu masuk ke ruang UGD untuk memeriksa seperti apa korban mengalami kecelakaan.


Suster pun siap siaga membantu Aletha dan dokter lainnya yang bertugas memeriksa di kamar pasien setelah mendapatkan selang infus. Jika tidak segera diperiksa ditakutkan akan mengalami kerusakan organ dalam.


“Apa yang sedang Ibu rasakan saat ini?” tanya Aletha memastikan.


“Kepala saya pusing, saya juga merasa sesak saat bernafas.”


Aletha manggut-manggut, lalu memeriksa kondisi jantung dan yang lainnya dari Ibu itu. Aletha juga meminta perawat untuk melakukan CT scan terhadap korban kecelakaan yang mengalami perdarahan di bagian kepala dan juga kaki.


“Tunggu sampai hasilnya keluar ya, Pak-Bu. Tidak akan membutuhkan waktu yang lama kok, sabar dulu!” ucap Aletha dengan se sopan mungkin kepada pihak keluarga korban kecelakaan yang sudah tiba.


Aletha dan para dokter lain masih disibukkan dengan korban kecelakaan di pagi itu, tetapi Aletha tidak melihat keberadaan Ilham yang seharusnya ikut bertugas.


Aletha mencoba menghubungi Ilham, tetapi selalu dimatikan setiap panggilan Aletha yang terhubung. Membuat Aletha geram sendiri dengan Ilham yang seolah sudah berubah. Terkadang sibuk sendiri dan terkadang juga haya melamun tidak jelas.


“Arh, terserah kak Ilham saja. Jika ketemu nanti aku akan meminta perhitungan kepadanya,” umpat Aletha kesal.


Aletha kembali disibukkan dengan korban kecelakaan yang lain, hatinya merasa iba saat menatap seorang lelaki muda yang wajahnya di penuhi dengan darah segar. Mungkin saja kaca bus itu pecah dan mengenai sebagian wajahnya.


“Biarkan aku yang mengurusnya,” pinta Aletha mengajukan diri.


Dokter yang tadinya menangani pemuda itu seketika mengangguk, karena dokter itu harus melakukan operasi dibagian kepala korban lain yang sudah mendapatkan hasil dari pemeriksaan CT scan tadi.


“Tolong dicatat Sus, dan masukkan datanya ke CT scan,” pinta Aletha.


Perawat yang mendampingi Aletha saat melakukan pemeriksaan mengangguk dengan pasti, mengiyakan permintaan Aletha dengan menyiapkan buku dan memasukkan nama korban ke daftar CT scan.


“Nama korban Bagus Adayana, usianya dua puluh lima tahun dan mengalami perdarahan hebat di kepala.”


“Saat ini kondisinya mengalami penurunan secara drastis. Denyut jantungnya lambat, hingga dinyatakan korban mengalami bradikardia. Dan korban juga mengalami... hipotensi akut, karena terlalu banyak mengalami perdarahan.”

__ADS_1


“Jadi, kita harus siapkan ruang ICU dan juga alat pacu jantung agar jantung tetap memompa dengan kecepatan yang stabil.”


Kembali perawat mengangguk, lalu melangkahkan kaki dengan sedikit berlari menuju ke ruang ICU untuk menyiapkan peralatan medis terhadap korban bernama Bagus. Dan Aletha membantu perawat lain mendorong branker Bagus ke ruang ICU.


“Siapkan selang infus dan alat pacu jantungnya.” Aletha kembali meminta perawat untuk membantunya.


Setelah siap Aletha memasukkan perangkat kecil itu ke dada Bagus, agar dapat memompa denyut jantungnya dengan kecepatan yang stabil.


Saat keluar ruang ICU Aletha melihat seorang gadis yang menangis histeris seusai melihat kondisi Bagus saat itu. Wajah gadis itu sudah dipenuhi dengan banjir air mata, sehingga membuat matanya lembab dan juga sendu.


“Dokter, bagaimana kondisi Bagus? Apa Dia akan selamat?” tanya gadis itu saat melihat Aletha keluar dari ruangan.


“Saya hanya manusia, tidak bisa memprediksi bagaimana Baus ke depannya nanti. Untuk saat ini Bagus saya nyatakan stabil, semoga saja akan tetap stabil dan segera membaik.” Papar Aletha kepada gadis itu.


“Alhamdulillah...” pekik gadis itu dengan ucap syukur.


Sejenak Aletha beristirahat, karena melihat korban kecelakaan sudah ditangani semua. Dan Aletha memilih duduk di ruang tunggu depan ruang ICU. Aletha hanya ingin duduk berselonjor saja di sana, karena insiden pagi itu membuat kakinya meras pegal.


Beberapa butir keringat telah bermunculan di pelipisnya, rasa lelah benar-benar tidak bisa ia tepiskan hari itu. Bahkan rasa kantuk ikut mendera pelupuk matanya, tetapi ia tidak lupa akan waktu di mana ia harus bertugas. Tugas yang amat penting untuk menyelamatkan nyawa sebisa mungkin dengan ijin Allah.


“Minumlah... kanjeng ratu sejagad!” ucap Cinta yang membuat Aletha terkejut.


Cinta datang ke rumah sakit hendak melanjutkan pertanyaannya semalam yang dirasa harus dijawab oleh Aletha. Tetapi Cinta tahu betik bagaimana tugas seorang dokter yang harus berlati kesana kemari untuk menangani korban kecelakaan yang menyebabkan dua korban meninggal dunia, enam orang mengalami luka-luka ringan, dua orang mengalami luka berat dan sedangkan empat orang lainnya selamat.


“Cinta tahu kak Aletha pasti lelah habis mondar-mandir tadi, jadi... minumlah dulu! Biar konsentrasinya pulih kembali.” Cinta mengangguk pelan.


Aletha membalas Cinta dengan senyuman pula, laku diraihnya sebotol air mineral yang disodorkan oleh Cinta.


Aletha meneguk beberapa kali air itu yang membuat kerongkongan tenggorkannya tidak mengalami dehidrasi lagi. Cukup merasakan kesegaran tersendiri setelah meminum separuh air itu.


“Alhamdulillah... terimakasih ya, Cinta. Kamu datang di waktu yang... tepat.”


Gelak tawa pun terdengar, rasa lelah Aletha pun berkurang setelah beristirahat sekitar lima belas menit. Karena Cinta yang sudah pergi hendak ke suatu tempat maka kini Aletha duduk sendiri.


“Oh iya, silahkan!”


Aletha menarik dua ujung bibirnya dan menciptakan senyuman keramahan kepada gadis itu. Karena tidak mau mengganggu gadis itu, Aletha memilih untuk merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.


‘Sebenarnya siapa pengiriman pesan ini? Mungkinkah jika itu... Aa Keenan?’


Kembali hati Aletha terusik mengingat pesan singkat dari nomor yang tidak dikenalnya itu. Tapi kembali ia menjernihkan pikirannya mengingat ia tengah bertugas. Dan dokter juga tidak boleh lupa akan waktu kapan harus bekerja dan kapan harus berlibur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Sudah pagi, sejalan kapan kita tertidur di sini, hah?” umpat Bian.


Dalam satu jam Bian, Naina dan Bayu sampai di tempat yang ditunjukkan seseorang melalui pesan yang dikirim ke ponsel Bian. Dan ketika sampai di sana mereka tidak menemukan siapapun. Entah mereka ditipu untuk kedua kalinya atau memang mereka tidak bisa melihat apapun dalam keadaan gelap dan kantuk yang mendera mereka dengan hebat. Hingga mereka memutuskan untuk tidur di bawah pohon besar.


Untung saja tidak ada ular berbisa yang lewat. Wkwkwk


“Jangan berisik, Bian! Aku mendengar sesuatu, jika kamu berisik kita akan tertangkap.” Bayu mengeratkan rahangnya karena merasa kesal.


“Iya... iya... ok. Tapi... kamu mendengar apa, Bayu? Aku kok hanya mendengar bunyi... perut ku.” Bian nyengir.


Bayu dan Naina seketika menatap Bian dengan melotot. Ingin sekali Naina menabok punggung Bian, tetapi saat itu bukanlah waktu tepat untuk melakukan hal absurd seperti itu.


“Lupakan! Ini serius... Biannnn...” umpat Naina kesal.


Kembali mereka mendengarkan suara yang riuh, obrolan dengan beberapa orang tetapi mereka belum tahu pasti di mana pusat suara tersebut.

__ADS_1


Naina sudah menyiapkan teropong nya untuk melihat jarak yang jauh. Tetapi yang dilihatnya hanya bunga anggrek saja, membuatnya merasa rindu dengan Keenan yang suka akan bunga anggrek.


‘Aku tak lupa akan waktu, Kapten. Aku sedang bertugas, jika kamu masih hidup... tunjukkan dimana keberadaanmu. Jangan bersembunyi lagi,’ ucap Naina dalam hati.


Tes...


Air mata tidak dapat dibendung lagi oleh Naina, bertahan tiga bulan di Yahukimo membuat Naina, Bayu maupun Bian merasa tersiksa. Selain tidak mendapatkan keberadaan Keenan mereka juga belum menemukan titik temu untuk menyelesaikan misi itu.


‘Tidak Naina, jangan cengeng! Ingat kamu itu pasukan berani mati, tidak boleh cengeng cuma karena Kapten belum ditemukan.’ Naina menyeka air matanya.


Untung saja Bayu maupun Bian tidak melihat Naina tengah menangis, jika melihat pasti akan diejek oleh mereka. Meskipun sebenarnya mereka juga merasa kehilangan atas dua pasukan berani mati.


‘Mengapa bunga anggrek itu tidak memiliki tangkai? Atau akar yang menjalar? Dan kenapa bunga anggrek itu seperti sebuah tanda?’ Naina bermonolog dalam hati.


Naina terus mengamati bunga anggrek yang bisa dilihat oleh teropong nya. Ketajaman mata harus dilakukan oleh Naina, karena ia harus memastikan bunga anggrek yang terlihat aneh baginya.


“Iya, itu memang sebuah.” Naina merasa yakin dengan apa yang dilihatnya.


“Ting... Ting...”


Pesan kembali masuk ke ponsel Bian dari nomor yang sudah mengirim pesan sebelumnya.


[Jika kalian semua sudah berada di depan, maka sebar pasukan yang lain dan minta mereka bersembunyi saat sudah mengelilingi rumah mewah ini.]


“Ting... Ting...”


[Dan kalian harus berada di posisi masing-masing. Bayu menjadi sniper, tempatkan diri di atas atap. Bian serang dari sisi samping, kamar nomor tiga dari depan. Naina... tugasmu untuk saat ini agak sulit, samarkan dirimu menjadi perempuan yang feminim, pura-pura menjadi anggota mereka.]


Bian, Bayu dan Naina membaca secara seksama pesan yang sudah dikirim oleh nomor yang tidak dikenal itu. Namun, ketiga nya percaya jika itu tak lain adalah Kapten mereka yang sedang memeberikan perintah.


Dengan semangat yang membumbung tinggi Bian, melaksanakan tugasnya memanjat ke atas atap dan siaga di sana. Bayu bersiap dengan derap langkah kaki yang sebisa mungkin tidak akan di dengar oleh anggota mereka, sedangkan Naina harus merubah cara berdandannya, untung saja Naina sudah siap siaga membawa baju ganti yang cukup feminim. Dan semua pasukan sudah diminta untuk menyebar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Bukannya itu... kak Ilham? Kenapa Dia ada di sana sendirian?” gumam Aletha dalam hati.


Aletha beejalan untuk menghampiri Ilham yang tengah duduk sendiri di taman rumah sakit. Lalu Aletha hanya berdiri di belakang kursi panjang dan berwarna putih itu sembari melihat aktivitas yang tengah Ilham lakukan.


Aletha menggelengkan kepalanya saat melihat Ilham hanya menatap layar ponselnya sembari mendengar musik yang beenada melo. Membuat Aletha geram saja saat melihatnya, apalagi saat waktunya bertugas tetapi justru tidak ikut hadir membantu untuk memberikan pertolongan pertama tadi pagi.


“Mencari kesibukan untuk pelipur lara itu boleh, tapi jangan sampai menyibukkan mata saat di depan layar ponsel, menyibukkan telinga dengan mendengar nyanyian dan... menyibukkan bibir dengan nyinyiran tidak jelas.”


Aletha mengejutkan Ilham dengan sindiran yang secara halus. Suara Aletha sukses membuyarkan lamunan Ilham tentang Maya saat mendengarkan musik yang disukai oleh Maya.


“Yang namanya seorang Dokter itu harus siap untuk kehilangan pasien nya. Bahkan bukan seorang Dokter saja yang harus demikian. Tapi kita semua, karena makhluk Allah akan mendapatkan gilirannya untuk... mati. Dan kita pun juga tidak tahu kapan giliran kita meninggalkan dunia, harta dan seisi bumi ini.”


“Aku tahu kak Ilham masih memikirkan kak Maya, tapi bukan cara seperti ini yang bisa dilakukan. Coba kak Ilham masuk ke masjid, menunaikan sholat lima waktu lalu berdzikir dan bersholawat atas nama Nabi dan Tuhan. InsyaAllah hati dan pikiran kak Ilham akan jauh lebih tenang.” Aletha menepuk pundak Ilham.


Aletha meninggalkan Ilham yang masih duduk termenung di taman itu. Lalu Aletha kembali ke ruang ICU untuk memastikan perkembangan kondisi kesehatan Bagus.


“Boleh duduk di sini?” tahya Aletha kepada gadis yang setia menanti Bagus.


“Iya, silahkan, Dok!”


Aletha sejenak duduk di sebelah Rachel, gadis yang usianya sudah memasuki dua puluh tiga tahun. Dan tak nampak pihak keluarga lain yang menunggu Bagus siang itu, hanya ada Rachel di sana.


“Maaf jika saya mengajukan pertanyaan yang bodoh, tapi saya sebagai Dokter ingin tahu siapa kedua orang tua Bagus? Karena saya hanya melihat kamu saja di sini.”


“Tidak apa-apa kok, Dok. Saya... tunangan Bagus, dan satu bulan lagi kami akan menikah. Tapi musibah seperti ini yang harus kita jalani saat ini. Sedangkan Bagus sendiri tidak memiliki orang tua, karena orang tuanya sudah lama meninggal. Dan Dokter bisa anggap saya sebagai walinya.”

__ADS_1


Deg...


Bersambung...


__ADS_2