Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 130 “Ratu Sejagad”


__ADS_3

“Menjadi seorang Dokter mungkin terlihat mudah, pekerjaan yang hanya memeriksa pasien dan mendapatkan gaji yang... besar. Tapi jika kita menjalaninya sendiri saat berada di ruang operasi, barulah kita mengerti... di sana mental dan adrenalin kita tengah diuji.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bian, Naina dan Bayu hanya saling sahut menyahut selama kosongnya waktu. Sebenarnya bukan waktu yang kosong, tetapi karena masih dalam jam istirahat mereka bukan berdiskusi tentang bagaimana melakukan taktik penangkapan, justru mereka tengah memikirkan Keenan dan Garda sebagai anggota mereka yang kini sudah tidak lagi.


Di tengah hutan mereka selalu menerawang jauh, memikirkan bagaimana mereka tanpa ketua. Bagaikan hewan yang berjalan tanpa adanya kaki. Sungguh nelangsa hati mereka merutuki kebodohan masing-masing karena tidak bisa membantu ataupun menolong Keenan dan Garda saat bom telah meledak begitu saja.


Bukan tidak bisa menolong, tapi mereka tidak sedang ditugaskan bersama. Hal itulah yang membuat ketuganya menyesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat masih berada di perjalanan sempat harapan Aletha membumbung tinggi, mengingat apa yang dikatakan pegawai toko es krim jika ada seorang lelaki yang memesan es krim di toko tersebut dengan rasa dan metode yang sama dalam bentuk es krim nya.


“Tidak, Aletha. Tidak mungkin jika itu Aa Keenan. Mungkin itu hanyalah kebetulan saja, andai itu benar pasti Aa Keenan sudah menemui istrinya di batalyon, tempat yang sudah di janjikan untuk saling bertemu.”


Setelah harapannya membumbung tinggi kini harus ia tepiskan sejauh mungkin, karena mengingat tak ada tanda hidup atau mati dari seorang Keenan. Sungguh membuat misterius apa yang terjadi sebenarnya dengan Keenan dan Garda, tetapi dengan setianya Aletha dan Laura terus menanti dan meyakinkan diri mereka bahwa suami mereka masih hidup. Entah itu hanya naluri seorang istri, atau memang takdir sangat Kapten dan Lettu.


Akhirnya Aletha sampai juga di rumahnya dan saat memarkirkan mobil Aletha mendapati sebuah mobil yang terparkir di halaman depan rumahnya. Membuat Aletha merasa penasaran saja, sehingga ia berjalan pelan sembari mengamati mobil yang teronggok di halaman rumahnya.


“Assalamu'alaikum,” sapa Aletha mengucap salam.


“Wa'alaikumsalam,” balas dari seseorang yang berasal dari dalam rumah.


Aletha terperangah, ia nampak terkejut mendapati Tara berada di rumahnya bersama putranya, Ezra.


“Tara, kamu...”


“Maaf jika aku tidak bilang ke kamu terlebih dahulu, Al. Tapi... aku tidak akan neko-neko kok, hanya berkunjung saja.” Terang Tara yang tidak menginginkan Aletha salah paham maksud kedatangannya.


“Tapi... kamu tahu darimana aku tinggal di sini, Tara? Karena hanya keluarga dekat saja yang tahu.”


“Aku... tahu dari Laura, sahabatmu. Tidak sengaja aku bertemu dengannya saat Dia bersama Mama Nina di mall tadi sore.”


Aletha membuatkan minum untuk Tara dan Ezra, yang kini sudah beranjak remaja saja. Sudah memasuki pendidikan menengah SMA, bahkan Ezra juga tidak kalah keren dengan Tara saat remaja dulu. Tetapi Ezra lelaki remaja yang tidak begajulan seperti Tara dulu, lebih pendiam tapi keren dengan segala kegiatan yang diikutinya.


“Minumlah! Hanya ada teh hangat, tidak ada yang lain. Adapun hanya kopi, tapi tinggal satu.”


Aletha hanya nyengir saja setelah berkata dengan kejujurannya. Karena selama Keenan masih belum ada tanda ditemukan Aletha selalu mendamaikan hati dengan kopi cinta, yang penuh aromah rindu di kala jauh.


Aletha lebay deh,


“Saya datang ke sini hanya ingin mengatakan rasa terimakasih saya dan Ezra yang mungkin saja tidak bisa aku tebus sampai kapanpun, hanya Allah lah yang akan membalas semua kebaikan kamu dan juga... Keenan.”


“Tara... kamu...?”


“Iya, Al. Setelah aku pulang dari rumah sakit aku memantapkan hatiku untuk memeluk agama Islam. Dan hanya Allah SWT, Tuhan yang pantas untuk disembah, karena Allah SWT tiada duanya.”


“Begitu juga dengan Ezra, aku mau Dia tumbuh dalam lingkungan yang akan membawanya masuk surga nanti.”

__ADS_1


Sejenak Tara dan Ezra saling tatap dengan senyuman yang mengenang masa lalu, di mana masa itu keduanya berjuang untuk selalu mengingat Allah SWT dan kewajibannya saja. Hingga Allah SWT membalas setiap doa Tara dan Ezra. Tara diberikan pekerjaan dari sahabatnya dulu. Setelah itu Tara mendapatkan gaji yang cukup untuk membangun bisnis kecil-kecilan, hingga kini usaha itu membuatnya menjadi orang berada, keuangannya setiap hari semakin bertambah melejit saja.


“Aku sangat bangga dengan semangat kamu, Tara. Dan Ezra ... sekolah di mana sekarang?”


“Dia sekolah di SMA satu Taruna. Sebentar lagi Dia juga lulus.”


“Oh ya...! Waw, sekolah itu sangat bagus loh! Dan... kalau sudah lulus mau lanjut kemana kamu, Ezra?”


“Emm... kurang tahu, Tante.” Ezra tersenyum.


Aletha manggut-manggut, Dan ia melihat aura kehebatan seorang Ezra dalam setiap kegiatan yang dilakukannya.


Tara memberikan bingkisan kecil kepada Aletha, setelah itu berpamitan hendak pulang. Karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, membuat Tara tidak enah hati jika ia terus berada di sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aletha mengingat sekotak es krim yang sudah dipesan tadi tertinggal di dalam mobil. Sehingga ia separuh berlari menuju bagasi untuk mengambil es krim itu.


“Nak Aletha, es krim nya sudah...” tanya Bu Laila setelah melihat es krim yang dibawa Aletha sudah meleleh begitu saja.


“Tadi lupa Bu, soalnya ada tamu. Dan sekarang... bisa langsung saja diminum.” Aletha nyengir.


Bu Laila tertawa geli melihat Aletha langsung meneguk semua es krim di wadah ke dalam mulutnya. Untung saja sudah cair, jika tidak pasti akan merasa kesulitan untuk memakan semuanya.


“Tapi Nak Aletha tenang saja, Ibu tadi menyimpan es krim yang sama persis seperti itu, ada itu di kulkas, mau Ibu ambilkan?” tawar bu Laila.


“Bu Laila dapat darimana es krim nya?”


“Tadi ada seseorang yang mengantarnya ke sini. Tapi Ibu tidak tahu pasti siapa orang yang mengirim es krim tersebut.” Terang Bu Laila.


“Apa ada memo yang dituliskan di dalamnya, Bu?”


Bu Laila menggeleng, lalu berjalan menuju ke dapur dan mengambil es krim di dalam kulkas.


Pikiran Aletha kembali terngiang saat masih berada di toko es krim tadi. Rasa penasaran pun membuncah dadanya, tetapi ia masih saja tidak bisa menemukan titik awal tentang keberadaan Keenan maupun Garda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Lapor! Pak.”


Seorang anggota polri tiba-tiba mengetuk pintu rumah yang dijadikan markas oleh Brian, Naina dan Bayu yang berada di sana.


“Kalian mau lapor, Apa?” tanya Bian saparuh menyelidik.


“Tidak kok, Pak. Saya datang kemari hanya ingin memberitahukan kepada pak Bian, Bu Naina dan juga Pak Bayu. Di mana nanti akan ada tugas lagi, melakukan pencarian markas anggota KBB dan Egianus. Apa kalian siap?”


“Kami akan siap. Tapi... katakan kepada atasanmu jika kami membutuhkan tenaga lebih untuk dijadikan sniper, karena jika kami meminta pasukan loreng ke sini semua pasti akan membutuhkan kendaraan yang tidak hanya satu.”


Bagas hanya manggut-manggut, membenarkan apa yang diucapkan Bian ada benarnya juga. Dan kombes Faisal pun menyetujui Bian, mereka harus ada persiapan untuk menciduk markas anggota KKB dan Egianus.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Sini Bu, ikut makan! Jarang-jarang loh Aletha makan es krim seperti ini, soalnya tadi hanya iseng saja belinya. Sekarang makan berdua saja.” Aletha memisahkan es krim yang berada di kotak itu ke wadah lain dan diberikannya kepada Bu Laila.


Aletha merajuk di depan layar laptopnya. Meneruskan kembali pekerjaan yang membuatnya esok akan sibuk seharian sampai jadwal sift nya berakhir.


“Kenapa es krim nya di kirim ke sini? Dari siapa es krim itu sebenarnya?”


Sesekali pikiran Aletha di penuhi dengan rasa penasaran terhadap orang yang sudah mengirimkannya es krim di rumah itu. Sedangkan tak banyak yang tahu jika Aletha sudah pindah untuk sementara waktu.


“Bisa gila aku jika hanya memikirkan hal ini. Sudah cukup, sekarang waktunya untuk meneliti data pasien.” Aletha menghilangkan rasa yang mebuatnya gila sesaat karena penasaran dan harapan yang membumbung tinggi harus di tinggalkan.


Dan kembali lagi Aletha membuka laptopnya setelah memfokuskan pikirannya hanya di depan layar laptop tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam pun tiba, anggota polri sudah ditambah lagi oleh Kombes Faisal. Dan malam itu semua sudah mulai bergerak di titik yang ditentukan oleh Bian. Mereka pun menanti ketua anggota KKB maupun Egianus aka mengirimkan salah satu anak buahnya entah menuju ke mana. Karena mengingat bahwa hutan itu luas dan gelap, membutuhkan ketajaman mata untuk mengawasi gerak gerik kejahatan yang hendak mereka lakukan.


“Siapkan tembakmu, Bayu. Karena kita harus siaga,” pinta Bian.


Bayu hanya mengangguk, mengiyakan perintah Bian sebagai sniper. Sedangkan Naina harus berada di depan untuk mengamati anggota KKB dan Egianus.


Bekerja keraslah kamu Bian, harus memiliki jiwa semangat. Dan pastinya para pembaca ikut penasaran kan, kemana Kapten Keenan sebenarnya...? Ikuti terus ya!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Dokter Aletha... kenapa aku selalu terpikirkan tentang keberanian Anda. Apa sebaiknya... aku hubungi saja Dokter Aletha?”


Cinta meraih ponselnya lalu menghubungi nomor Aletha yang sudah tersimpan di kotak ponselnya. Selang beberapa menit kemudian Aletha menjawab sering telepon dari ponselnya.


“Assalamu'alaikum, Dokter cantik.”


“Wa'alaikumsalam, ada apa kamu menelpon malam begini, Cinta? Apa ada masala?”


“Tidak kok Dok, saya hanya ingin mengobrol saja dengan Anda, ratu sejagad.”


Seketika Aletha tertawa mendengar Cinta telah menyebutnya sebagai ratu sejagad. Bagi Cinta Aletha adalah wanita yang memiliki banyak skil, keahlian dalam bidang apapun.


“Baiklah, apa yang ingin kamu bahas malam ini?”


“Emm... bagaimana menjadi seorang dokter itu, Dokter cantik?”


“Menjadi seorang Dokter mungkin terlihat mudah, pekerjaan yang hanya memeriksa pasien dan mendapatkan gaji yang... besar. Tapi jika kita menjalaninya sendiri saat berada di ruang operasi, barulah kita mengerti... di sana mental dan adrenalin kita tengah diuji.”


“Dan hal memalukan, menyedihkan serta hal yang mampu menguras emosi tak lain adalah saat Dokter merasa gagal dalam mengoperasi pasien.”


Cinta manggut-manggut, di catatlah apa yang dikatakan Aletha dalam menjelaskan bagaimana menjadi seorang dokter.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2