Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 77 “Sang Mentari”


__ADS_3

“Jika hati kita terpaut, maka kamu akan mendengar suara hati ini saat memanggil namamu. Rindu pun kian membuncah dada, bahkan saat jarak mulai terkikis membuat ku ingin selalu mendekap tubuhmu.”


************


Keenan membutuhkan waktu untuk sendiri, sehingga beberapa menit ia berdiri di anjungan kapal. Menatap langit yang luas, bahkan cahaya matahari mulai meninggi. Memantulkan cahayanya ke laut, sehingga tercipta kesilauan saat mata memandang langit itu. Namun masih terlihat indah dengan pesona awan yang berwarna senja.


“Mengapa semudah itu bagi Pak Bagas Kara melepas Aletha jika benar-benar perpisahan akan terjadi. Tapi tidak denganku ... begitu sulit bahkan memori ku masih jelas merekam pertemuan saat pertama kali dengannya.” Gumam Keenan saat masih berada di anjungan kapal.


Keenan menghembuskan nafasnya, ia benar-benar tengah merasakan kegalauan yang diselimuti dengan rasa khawatir yang membuat sesak dadanya. Apalagi saat melihat Aletha masih dalam ruang operasi, yang tak kunjung keluar karena operasi juga masih berjalan.


Semua orang tengah menanti Edbert keluar dari ruangan yang mencengkam. Dan di sana juga ada Catrina, yang menyadari betapa baiknya Aletha. Ia menyesal pernah mengatakan hal yang membuat Aletha tidak suka, begitu kentara saat mendekati Keenan.


‘Aletha, maafkan aku. Aku seharusnya menyadari bahwa kamu memang wanita pilihan yang tepat untuk Kapten Keenan. Kalian adalah pasangan yang serasi. Begitu berani dan siap mengorbankan nyawa demi kami semua.’ Batin Catrina yang merutuki rasa sesal.


‘Tuhan Yesus, tolong selamatkan Aletha sahabat ku.’ Doa pun dilangitkan oleh Catrina.


Catrina adalah warga asli dari Amerika Serikat, yang menganut agama Kristen. Dan kini menjadi dokter relawan dalam Mercy Ship, dengan kontrak selama satu tahun mengabdikan dirinya mengitari pulau di Afrika.


Saat Catrina duduk sendiri yang tengah merutuki kebodohannya, tiba-tiba Leon datang seraya membawa dua botol air mineral dalam genggaman tangannya.


“Minumlah, Dokter Catrina!”


Leon pun menyodorkan satu botol minum kepada Catrina. Dan Catrina meneguk sebotol air itu sampai habis tak tersisa. Karena kejadian tempo hari membuat kerongkongan tenggorokannya mengering. Bahkan satu botol saja tidak cukup, sehingga Catrina kembali meminta air yang masih utuh dalam genggaman tangan Leon.


“Silahkan saja jika kamu masih haus. Aku sangat tahu itu, dan aku rasa ... memang tidak mudah bagi seorang dokter mengalami hal semacam itu.”


“Tapi ... berbeda dengan Aletha. Dia ... selain menjadi Dokter yang jenius, juga menjadi wanita yang tangguh serta pemberani. Aku baru tahu jika ... Aletha handal dalam menembak.”


“Itulah Aletha. Sudahlah, kita do'akan saja Dia agar selamat dan bisa berkumpul kembali bersama kita.”


Catrina mengangguk, mengiyakan perkataan Leon. Dan Leon yang tidak mendapati keberadaan Keenan di sana, ia segera mencari sahabatnya itu. Karena Leon tahu betul, bagaimana perasaan Keenan melihat Aletha tergeletak dengan darah yang terus keluar dari tubuh Aletha.


Leon menyelusuri lorong kapal untuk mencari keberadaan Keenan. Satu langkah ... dua langkah... akhirnya Keenan pun dapat ditemukan. Di mana kini Keenan tengah duduk dan menyandarkan diri di sisi kapal.


“Kenapa ada disini? Seharusnya kamu ada di sana.”


“Aku begitu bodoh, Leon. Aku tidak becus ... aku tidak bisa memenuhi janjiku sendiri kepadanya.”


Keenan kembali merasakan sesal yang terus menghantui dirinya. Bahkan Keenan melampiaskan kemarahannya dengan memukul kepalanya sendiri. Dan hal yang tidak terduga pun telah dilakukan Keenan.


Keenan berdiri di anjungan kapal seraya menodongkan pistol ke kepalanya. Dan hal itu membuat Leon tidak habis pikir, Leon merasa geram dengan kebodohan yang Keenan lakukan.


“Lebih baik aku tiada saja, Leon. Aku tidak sanggup jika melihatnya terluka. Hiks... hiks...”

__ADS_1


Keenan benar-benar hancur dan rapuh saat mengingat Aletha masih belum keluar dari ruang operasi.


“Jangan bertindak bodoh, Keenan. Aku tidak mengenalmu seperti ini. Yang aku kenal adalah Keenan yang kuat dan tegar. Berjiwa tegas, itulah Keenan yang aku kenal.”


Leon menangkis pistol yang berada di genggaman tangan Keenan. Dan beberapa kali Leon memberi tinjuan ke wajah Keenan demi untuk menyadarkan Keenan dari kebodohannya.


Setelah cukup puas memberikan tinjuan kepada Keenan, Leon meraih ponselnya yang berdering. Tak lain itu adalah Wilona, yang memberitahukan bahwa Aletha sudah selesai menjalani operasi. Hanya saja Aletha masih belum siuman pasca operasi.


“Aletha sudah melewati masa kritisnya. Sekarang dipindahkan ke ruang rawat inap. Dan sebaiknya kamu berada di sisinya untuk menemaninya daripada bertindak bodoh seperti tadi.”


Tubuh Keenan yang tersungkur karena mendapatkan tinjuan dari Leon, kini memegangi sisi kapal untuk membantunya berdiri. Setelah itu Keenan berjalan tetapi separuh berlari, karena rindu yang membuncah dada ingin rasanya ia obati.


Keenan berlari melewati semua orang yang masih menunggu Aletha sadarkan diri di ruang inap. Dan di tatap nya Keenan yang terlihat penuh dengan luka lebam di wajahnya. Rasa heran pun muncul dalam benak semua orang. Hanya Garda dan Laura yang berani bertanya kepadanya.


“Kak, wajah kak Keenan kenapa?”


“Iya, wajah Kapten kenapa?”


“Aku ... ini karena semalam melawan Bayu. Ya sudah, aku mau menemani Aletha dulu.”


Laura dan Garda hanya saling pandang, ia merasa heran dengan jawaban Keenan. Karena yang mereka lihat jauh berbeda, saat tiba di Mercy Ship Keenan tidak memiliki luka lebam seperti itu. Dan baru kali itu Laura dan Garda menyadarinya. Bahkan tidak mungkin jiga jika Keena mangku kepada Garda jika dirinya habis di tinju oleh Leon. karena perbuatannya yang bodoh.


Semua orang memberikan waktu luang untuk Keenan bersama Aletha. Karena mereka tahu bagaimana kisah Aletha dengan Keenan. Sehingga mereka membiarkan Keenan duduk di samping brangker Aletha untuk menemaninya, meskipun Aletha masih belum sadarkan diri.


Keenan menatap lekat wajah Aletha yang masih terlihat pucat dengan mata yang dipejamkan rapat. Terasa ada yang menghunus hatinya dengan belati tajam saat melihat Aletha terbaring lemah tak berdaya.


“Jika hati kita terpaut, maka kamu akan mendengar suara hati ini saat memanggil namamu. Rindu pun kian membuncah dada, bahkan saat jarak mulai terkikis membuat ku ingin selalu mendekap tubuhmu.” Bisik Keenan di telinga Aletha.


“Satu detik...”


“Dua detik...”


Aletha mengerjapkan kedua matanya dengan pelan, ia menyapu langit-langit kapal yang luas. Dan saat memandang kesegala arah, Aletha mendapati Keenan yang tengah tertidur dengan kepala tersandar di atas brangker.


“Keenan...” Ucap Aletha begitu lirih.


Suara Aletha seakan hilang, tenaganya belum pulih dengan benar. Sehingga sangat sulit baginya untuk sekedar memanggil Keenan. Namun, ia berusaha untuk menggerakkan pelanggan tangannya, lalu mengusap puncak kepala Keenan hingga Keenan pun terbangun dari tidurnya.


“Aletha ... kamu sudah sadar.” Keenan menatap tajam Aletha.


Aletha mengulas senyum tipis saat mendapati keberadaan Keenan di sampingnya.


“Benarkan Al, kamu sudah sadarkan diri? Ini bukan mimpiku saja, kan,”

__ADS_1


Keenan mengucek-ngucek kedua matanya agar pandangannya bisa terlihat dengan jelas. Karena ia masih menganggap bahwa itu sebuah mimpi yang datang di siang hari untuk sekedar melipur rindu. Namun, Aletha dengan sisa tenaganya berusaha untuk memberikan cubitan di lengan Keenan.


“Aww, sakit.”


“Sekarang sudah sadar kan, tidak lagi berhayal jika ini mimpi. Cukup penulis saja yang berhayal tentang kisah kita.”


“Iya benar, kamu sudah sadar, Al. Aku ... sangat mengkhawatirkan kamu.”


Obrolan ringan beegulit begitu saja, hingga tanpa disadari Laura dan Garda masuk ke dalam ruangan itu. Dan mereka melihat betapa indahnya pemandangan yang berada di depan mata. Aletha yang terlihat tertawa saat sesekali Keenan berceloteh tentang menjalani pelatihan di Washington. Dan sebentar lagi sekolahnya itu akan usai, yang diperkirakan hampir sama dengan masa kontrak kerja Aletha di Mercy Ship.


“Ehmmm... seru banget sih ngobrolnya. Sampai-sampai salam kita tidak dijawab.” Cicit Laura.


“Hei, Ra. Maafkan aku, aku memang tidak tahu jika kamu dan kak Garda ada di ujung pintu.”


“Disini aku mau ijin sama kak Keenan. Kalau aku dan kak Garda mau ke pantai sahara. Bolehkan?”


“Boleh, asalkan kalian tetap hati-hati saja.”


Garda mengajak Laura ke pantai sahara. Karena sejak berada di Afrika, Garda belum mengajak Laura jalan-jalan untuk menikmati suasana di Afrika. Meskipun terkenal dengan gersang, tetapi saat berada di pantai tetap juga terobati dengan segarnya lautan yang luas dan biru.


”Suka tifak disini?”


“Iya, suka.” Laura mengangguk. ”Tapi lebih suka kalau bisa berjalan.”


“Jangan berkata seperti itu, kamu adalah wanita yang kuat. Allah mendatangkan ujian kepada umatNya bukan hanya sekedar memberi saja, tetapi Allah yakin bahwa pundak kamu masih kuat memikul cobaan yang mendera.”


“Ingat, ada aku yang selalu di sampingmu.”


Garda mencium punggung tangan Laura, lalu naik ke kening Laura. Hingga membuat Laura tersipu malu dengan tingkah Garda yang manja.


***********


“Al, aku rindu sama kamu. Aku tidak pandai menajagamu, maafkan aku.”


“Tidak perlu minta maaf, Ke. Ini sudah wajib bagiku untuk menolong kalian semua. Jika kamu melihat peluru itu, maka kamu pun akan melakukan hal yang sama denganku.”


“Tapi aku mohon kepada kamu, Al. Jagan ulangi lagi dalam melakukan hal yang bisa saja membahayakan nyawa kamu sendiri.”


“Iya, aku usahakan.”


Obrolan ringan masih bergulir menemani keduanya. Dan Keenan melontarkan keinginannya untuk mengkhibah Aletha siang itu juga. Namun, Aletha tidak bisa memberikan jawaban saat itu, karena tidak adanya Bagas Kara dan Mama Nina disampingnya. Walaupun nanti Aletha sendirilah yang akan memberikan jawaban.


Jam makan siang telah tiba. Di mana siang itu sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima belas menit. Bahkan suster pun datang sembari membawa nampan yang berisi bubur untuk dijadikan santapan Aletha siang itu. Dengan telaten Keenan menyuapi Aletha sampai bubur itu tidak tersisa lagi. Setelah itu, Keenan meminta ijin untuk kepada Aletha untuk sholat di mushola yang disediakan di kapal itu.

__ADS_1


Meskipun tugas Keenan sebagai seorang abdi negara adalah tugas yang berat, tetapi Keenan tidak mau yang namanya meninggalkan sholat lima waktu. Ia selalu melaksanakan sholat itu secara tepat waktu. Sehingga banyak sekali kaum hawa yang mengagumi Keenan, kental akan agama Islam.


__ADS_2