
“Dua hal yang berharga dalam kehidupan adalah cinta dan ketulusan. Jika kita mencintai orang itu dengan tulus, maka kita akan menerima segala kekurangannya dan tidak akan membandingkan berapa usianya serta seberapa kekayaannya.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ana uhibbuka fillah,” ucap Aletha.
Saat dagu Aletha terangkat oleh jari Keenan, ungkapan cinta telah diucapkan oleh Aletha. Membuat Keenan merasa mendapatkan surprise saja.
‘Wah, ternyata mereka enak-enakan berduaan ketimbang membalas pesanku? Apa mereka tidak tahu jika aku tengah risau dan merana, hah?’ Bian bermonolog dalam hati.
Bian melihat kebersamaan dan kemesraan Keenan dengan Aletha, hal itu membuat Bian semakin ingin memiliki Rania seutuhnya dan menikmati waktu berdua saja dengan Rania.
Bian tak tahan jika hanya berdiri di depan ruangan Keenan saja dan ia pun masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Bian, kenapa kamu datang kesini? Apa terjadi sesuatu di posko?” tanya Keenan.
“Tidak ada, tenang saja. Tapi terjadi sesuatu dengan... hatiku. Kenapa kamu tidak membalas pesanku, Ke?”
“Maafkan aku Bian, bukan aku tidak mau membalas pesan mu itu. Tapi, aku ingin membuatmu berpikir untuk lebih dewasa lagi.”
“Kalau kamu merindukan Rania, setidaknya kamu tanya kabarnya di sana. Bukannya kamu dan Rania masa ta'aruf? Tidak akan terjadi apa-apa selama kamu bisa menjaga pandangan dan hal lainnya yang akan menimbulkan zina.” Keenan mencoba untuk memberi Bian waktu berpikir.
Hening...
Bian terdiam, dalam hati ia membenarkan ucapan Keenan. Dan setelah itu Bian mencoba untuk menghubungi Rania saat memiliki waktu luang.
“Aa, jangan berlebihan seperti itu dengan Bian. Bagaimana kalau Dia tersinggung?”
”Neng, inilah resiko yang harus dihadapi Bian. Mencintai seseorang itu harus bisa menjaga apa yang wanitanya sudah jaga. Lagipula Bian adalah seorang lelaki, Dia harus bisa belajar menjadi imam yang baik yang akan memimpin rumah tangganya kelak.”
Aletha manggut-manggut, ia membenarkan ucapan Keenan. Dan Alatha menyadari jika Keenan adalah sosok lelaki yang pantas untuk menjadi pemimpin dan imam yang baik dalam rumah tangganya.
Aletha merasa bahagia memiliki suami seperti Keenan, selain bisa menjaga secara fisik Keenan juga mengajarkan banyak hal tentang agama. Bahkan Aletha mulai memakai hijab setelah Keenan berulangkali menyindir nya secara halus, tetapi mengena di hatinya.
“Assalamu'alaikum, selamat pagi!” ucap Bagas Kara bersamaan dengan Mama Nina.
“Wa'alaikumussalam, Ma_Pa.” Aletha segera menyalami kedua orang tuanya.
“Sudah Keenan, kamu duduk saja di situ. Papa dan Mama bisa mengerti bagaimana keadaanmu, lagipula Papa dan Mama hanya mau berpamitan saja dengan kalian. Karena Papa harus kembali ke Markas, Mempersiapkan acara pelantikan besok lusa.” Bagas Kara mencoba memberikan kejutan kepada Aletha dan Keenan.
“Pelantikan? Maksudnya... Papa naik pangkat?” tanya Aletha.
Bagas Kara mengangguk pelan, berita itu yang selalu ingin Bagas Kara ucapkan kepada keluarganya.
Sontak Aletha dan Keenan memberikan ucapan selamat kepada Bagas Kara, dengan senyuman bangga Aletha memeluk Bagas Kara.
”Terimakasih, Papa selalu menjadi Papa yang membanggakan untuk Aletha. Meskipun dulu... Aletha sering bandel tapi Aletha sayang sama Papa.” Aletha mengungkapkan masa di kala ia menjadi anak remaja yang tak ingin dikekang sama sekali oleh Bagas Kara.
“Papa hanya ingin melakukan yang terbaik untuk anak-anak Papa. Sudah, lupakan masa lalu dan kita pikirkan masa yang akan kita hadapi bersama. Karena kedepan nanti kita tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya,”
Aletha dan Keenan mengangguk, membenarkan ucapan Bagas Kara. Dan nanti akan ada lagi yang semakin membaut Keenan menguji adrenalin saat ditugaskan ke suatu tempat. Setelah pelantikan Bagas Kara dilangsungkan penugasan untuk Keenan akan diberitahukan. Dan untuk saat ini masih dalam misi rahasia.
Setelah keadaan di daerah Lebak sudah aman dari gempa susulan pasukan berani mati dan tim medis pun telah kembali ke Jakarta. Dan setiba di Jakarta Aletha tidak ikut kembali ke rumah sakit bersama Ilham dan lainnya karena ia akan merawat Keenan sampai luka bakar di punggung Keenan akan mengering.
“Aa istirahat saja dulu! Neng mau mengobrol sebentar sama Bu Laila. Paling tidak... membantu Bian walaupun hanya sedikit.” Aletha mengulas senyum.
“Tapi Aa tidak mengantuk, Neng. Aa maunya... bermain sama Alina saja.”
Aletha manggut-manggut, mengerti bagaimana rindunya Keenan kepada putrinya. Dan saat Alina duduk di atas kereta dorong Keenan tidak hentinya menghibur Alina dengan ocehan ala anak kecil yang masih belum jelas cara bicaranya.
Di ruang keluarga Aletha tengah mengobrol dengan Bu Laila. Hal utama yang mereka bicarakan adalah hari baik untuk mengadakan tasyakuran dan aqiqah dalam acara tujuh bulan Alina yang hanya tinggal satu minggu lagi.
“Kalau Ibu terserah orang tua nak Aletha saja, karena yang berhak memberikan saran itu mereka bukan Ibu.”
“Baiklah! Saya akan bertanya kepada Papa dan Mama terlebih dahulu. Tapi... Ibu nanti juga harus bantuin saya. Karena... selain Mama yang dekat dengan saya, ada Bu Laila yang sudah saya anggap sebagai Ibu saya sendiri.” Aletha menggenggam tangan bu Laila sembari mengulas senyum.
Bu Laila mengangguk, ia juga sedemikian rupa. Menganggap Aletha sebagai anaknya, bahkan tidak ada rasa sikap membenci setelah Fajar tiada. Rasa sayang itu murni tumbuh dalam hati Bu Laila, apalagi Bu Laila mengingat jika kesuksesan yang di dapat Rania saat ini itu berkat Bagas Kara.
Obrolan pun masih berlanjut, saat ini topik yang akan dibahas Aletha meliput kisah Bian dan Rania. Secara pelan Aletha menjelaskan niat baik Bian kepada Bu Laila yang direspon positif oleh Bu Laila.
“Jika nak Aletha bertanya kepada Ibu, jelas Ibu akan membalikkan semuanya kepada Rania. Karena yang akan menjalani biduk rumah tangga ya... Rania dengan nak Bian.” Begitulah tutur lembut dari Bu Laila sebagai jawaban persetujuan.
“Baiklah, Bu. Emm... bagaimana kalau sekarang kita masak bersama untuk nanti malam,” ajak Aletha.
Bu Laila mengangguk, keduanya segera meluncur dan melanjutkan kegiatan dengan menyibukkan diri di dapur. Memasak beberapa makanan yang akan dijadikan santapan makan malam bersama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ma, nanti Luna mau jaga sift malam. Tolong temani Larisa sebentar ke mall, katanya mau beli baju yang lagi hits,” ucap Luna.
“Baju apa memangnya, Luna?”
“Entahlah! Luna juga tidak tahu.” Luna mengendikan bahu. “Luna mau berangkat dulu, sudah pukul 17.00 sore dan Luna harus segera tiba di rumah sakit.”
Luna menyalami Mama Nina lalu berangkat ke rumah sakit. Sedangkan Mama Nina kembali fokus dengan masakannya yang belum selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keenan yang sedang berada di luar bersama Alina menciun aroma yang sangat menyengat hidung. Aroma masakan yang menyeruak membuat Keenan merasa lapar, sehingga ia membawa Alina masuk ke dalam bahkan, Keenan membawa Alina ke dapur.
“Bunda cama Nenek lagi macak apa cih?”
Keenan mengejutkan Aletha dan Bu Laila saat menirukan suara anak yang kecil yang belum jelas bicaranya.
“Aa, suaranya kok begitu sih? Seperti bebek loh,”
Aletha terkekeh geli mendengar suara Keenan yang dibuat-buat. Dan sedangkan Keenan hanya menatap Aletha tanpa memalingkan pandangannya ke arah yang lain.
“Kenapa menatap Neng seperti itu? Apa ada yang aneh sama wajah Neng?”
“Tidak ada kok, Neng. Tapi... cantik. Itu alasan Aa menatap Neng seperti ini. Aa tidak mau jika Neng bersedih dan Aa lebih suka jika Neng terus tersenyum seperti ini.” Keenan semakin mendekati Aletha dan menatap wajah Aletha kembali sedalam mungkin.
__ADS_1
“Apaan sih, gombal amat Aa itu.”
“Sudah ah, sudah sore waktunya Alina mandi setelah itu Neng akan bantuin Aa berganti pakaian.”
Aletha meraih Alina dalam gendongan dan mengajak Alina ke kamar untuk mandi sore. Alina di rebahkan di atas kasur, sedangkan Aletha mempersiapkan baju dan peralatan mandi untuk Alina.
“Nak Keenan, Ibu cuma mau nak Keenan selalu membahagiakan Aletha dan Alina. Jaga mereka dengan baik, Ibu akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian.” Bu Laila pun berpesan kepada Keenan dan memberikan kepercayaan yang amat besar.
“InsyaAllah, Bu! Keenan akan berusaha untuk... membahagiakan Aletha dan Alina.” Keenan mengangguk.
Keenan menghampiri Aletha ke kamar setelah membantu Bu Laila mempersiapkan masakan yang sudah dimasak di atas meja makan.
Bu Laila hanya bisa menatap Keenan yang semakin jauh dari pandangannya. Doa pun tak lupa selalu dipanjatkan oleh Bu Laila untuk kebahagian Aletha, setelah Fajar pergi meninggalkan Bu Laila untuk selamanya kini Bu Laila mendapatkan kasih sayang dari seorang putra kembali setelah bertemu dengan Keenan.
“Berikan kebahagiaan selalu kepada anak-anak ku, Ya Allah. Aamiin.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Neng, bantuin Aa lepas bajunya ya!” pinta Keenan.
“Tanpa Aa minta Neng akan selalu benatuin Aa. Itupun jika... Neng tidak ada panggilan darurat dari rumah sakit.” Aletha masih menyibukkan diri dengan memakaikan baju Alina.
Hening... Keenan tidak mengudarakan suaranya untuk menanggapi yang diucapkan Aletha.
Setelah usai memakaikan baju untuk Alina, Aletha berganti membantu Keenan melepas baju, lalu Aletha mengambil air hangat dan membantu Keenan untuk membersihkan tubuhnua tanpa membasahi punggung Keenan yang luka bakarnya belum mengering dengan sempurna.
“Sini, Neng oleskan salep nya.” Aletha meminta Keenan untuk duduk di bibir kasur.
Dengan setianya Aletha mengoleskan salep untuk mengeringkan luka bakar Keenan. Dan hal itu sudah biasa Aletha lakukan saat merawat pasien di rumah sakit. Sehingga pasien merasa nyaman dan betah saat dirawat oleh Aletha.
“Kenapa pelan banget, Neng?”
“Aa... Neng tidak mau jika Aa merasa kesakitan lagi. Dan luka ini... Neng yang sudah membuatnya seperti ini.” Air mata Aletha menggenang di pelupuk mata.
“Aa tidak pernah menyalahkan Neng, bagi Aa itu sebuah kewajiban yang harus Aa lakukan sebagai seorang suami. Dan Aa tidak mau jika Neng terus mengingat hal bodoh seperti itu, menyalahkan diri sendiri itu tidak baik.”
“Aa juga tidak mau kehilangan Neng, cukup waktu masa remaja dulu dan juga saat kita berada Mauritania.”
Kewnan tersenyum kecut mengingat berapa bodohnya dulu yang menghilang dari kehidupan Aletha karena merasa takut tidak akan pernah dicintai.
“Ya, Neng ingat benar hal itu Aa. Dan semenjak itu kita selalu bersama, hampir tertembak, menjadi sandera bahkan kita juga nyidam dengan makanan yang sama... daging ular.”
Aletha dan Keenan tersenyum bahagia, mengenang masa indah dan juga pahit bahkan masa yang amat menguji adrenalin keduanya. Dan lambang cinta yang mereka buat seolah membuat keduanya terikat satu sama lain.
Adzan maghrib tengah berkumandang, Aletha memutuskan untuk menunaikan sholat terlebih dahulu sebelum melanjutkan makan malam. Begitu halnya dengan Keenan dan juga Bu Laila.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Nek, bagaimana kalau baju itu yang Larisa beli, boleh tidak?”
Larisa menunjuk salah satu baju yang tergantung dengan mode modern, yang sedikit terbuka di bagian perut.
“Larisa, kamu itu mau jadi apa? Ayah dan Bundamu pasti akan marah jika kamu memakai baju yang kekurangan bahan seperti itu.”
Larisa menangkup kan kedua tangannya dan seolah merayu Mama Nina yang sudah menolak mentah pakain yang kurang bahan itu.
“Tidak. Sekali tidak ya tidak, Larisa. Nenek tidak mau cucu perempuan Nenek menjadi anak yang begajulan tidak jelas.”
Mama Nina pun meninggalkan toko yang menjual baju kurang bahan itu. Dan Latisa tidak mau jika Mama Nina akan mengadu ke Luna dan Juan, jika itu terjadi tidak ada kata lagi selain kata-kata nasehat dan amarah dari kedua orang tuanya itu.
Larisa yang dulu dengan sekarang sangatlah berbanding balik. Kehidupan dan pergaulan Larisa semakin kuat di zaman sekarang, sehingga perubahan arus zaman yang modern mampu mengubah anak remaja saat ini dengan mudahnya.
Setelah mengelilingi toko baju di mall akhirnya mentok juga di toko pakain yang tertutup, apalagi kalau bukan pakaian gamis. Dan Larisa juga tidak bisa menolak akan hal itu, meskipun dalam hatinya berontak.
Setelah puas berbelanja akhirnya tepat pukul sembilan malam Larisa dan Mama Nina pulang ke rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha sibuk menidurkan Alina yang sudah mulai mengantuk. Sedangkan Keenan masih merajuk dengan layar ponselnya, hal itu kembali membuat Aletha merasakan cemburu.
“Lanjutkan saja melototin itu handphone.” Aletha mengerucut kan bibirnya dan menyindir Keenan.
‘Hmm... salah lagi. Apes amat sih, baru juga mau balas pesan dari Bapak tersayang. Sudah main cemburu saja.’ Keenan bermonolog dalam hati.
Begitulah sifat seorang wanita yang tidak bisa menyimpan rasa cemburunya, seperti Siti Aisyah yang tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya saat Nabi Muhammad SAW masih mengingat Siti Khadijah. Begitu juga dengan istri Nabi Yusuf dan masih ada juga yang lainnya.
“Ya Allah Neng, jangan cemburu seperti itu, Aa cuma saling balas pesan saja sama Brigjen Carlos. Neng masih ingat dengan beliau, kan?”
Sontak Aletha menoleh ke arah Keenan, ada rasa malu yang tersimpan dalam lubuk hatinya. Karena Aletha sudah berburuk sangka dengan Keenan tanpa tahu dengan siapa Keenan bertukar pesan.
”Ya maaf Aa, habisnya dari tadi Aa senyum-senyum sendirian kok,”
“Ya maaf juga Neng, jika Aa sudah membuat Neng cemburu. Tapi... Aa suka dengan hal itu, itu tandanya Aa yang selalu ada di hati Neng.” Keenan manoel dagu Aletha.
Setelah Alina tertidur dengan pulas tidak lama kemudian Aletha dan Keenan pun ikut tertidur. Melepaskan rasa lelah sebelum besok melakukan perkumpulan ibu persit yang akan diadakan di lapangan markas.
“Luka Aa alhamdulillah sudah kering. Tapi...” Aletha menggantungkan ucapannya ke udara.
“Tapi apa Neng?”
“Tapi ada bekasnya Aa, Neng rasa itu tidak akan hilang.” Aletha menunjukkan luka itu kepada Keenan melalui pantulan cermin.
“Astaghfirullah, kok bisa begitu ya Neng? Kalau tidak bisa hilang apa Aa masih tetap keren di mata Neng?”
“Ya Allah Aa, Neng itu akan selalu menerima apa adanya. Biarpun muka Aa nggak ganteng lagi dan semakin menua Neng akan tetap cinta sama Aa.”
“Oh iya, kalau Aa mau Neng bisa bawa Aa ke tempat laser. Agar bekas luka Aa itu bisa disamarkan dengan sinar laser nya. Bagaimana?”
Keenan tampak terdiam, memikirkan apa yang akan menjadi keputusannya. Hingga akhirnya Keenan mau menyamarkan bekas luka bakar yang ada di punggungnya itu.
Keenan bersiap dengan mengenakan seragam lengkap dan tidak lupa dengan topi kabaret nya. Begitu kentara gagah saat Keenan sudah siap dengan seragamnya itu. Hal sama juga dilakukan oleh Aletha, pagi itu Aletha tidak mengenakan kemeja dan celana hitamnya serta sneli yang selalu melekat di tubuhnya. Dan yang dipakai Aletha tak lain adalah baju berwarna hijau dan rok span serta hijab yang berwarna senada, layaknya pakain ibu persit semestinya.
__ADS_1
Aletha tidak lupa menggendong Alina, karena hari itu Alina akan diajak dalam acara perkumpulan ibu persit di markas.
“Bu, Keenan dan Aletha ijin pamit dulu! Bu Laila tidak apa-apa kan, jika kita tinggal dulu sebentar?”
“Tidak kok, Nak. Ibu akan menjaga rumah, lagian Ibu juga ada kegiatan nanti sama ibu-ibu tetangga.”
Keenan dan Aletha megangguk, lalu menyalami Bu Laila dan setelah itu mengucapkan salam teelebih dahulu sebelum masuk ke dalam mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keenan memimpin apel pagi, sedangkan kaum wanita yang hadir dalam perkumpulan ibu persit masih berkumpul di sisi lain. Di sana Aletha bergabung dengan Mama Nina dan juga Laura.
”Assalamu'alaikum,” sapa Aletha.
“Wa'alaikumussalam,” balas Mama Nina dan Laura bersamaan.
Setelah Aletha ikut berkumpul dengan Mama dan juga sahabatnya tak lupa obrolan ringan menemani ketiganya sebelum acara inti akan dilaksanakan.
“Kak Ilham? Kak Ilham juga ada di sini?” tanya Aletha.
“Iya Al, tim medis yang bertugas di daerah Lebak kemaren ikut diundang acara pelantikan Brigjen Bagas Kara.”
Aletha manggut-manggut, ia baru tahu jika tim medis juga diundang oleh Bagas Karam dalam acara pelantikan.
“Al, tidak disangka ya jika kita akan selalu bersama seperti ini. Bahkan suami kita pun juga sama-sama abdi negara.” Laura menatap Garda dan Keenan yang masih berada di tengah lapangan di bawah teriknya matahari.
“Iya, Ra. Kamu benar. Dan inilah takdir yang indah.” Aletha mengulas senyum.
Di bawah teriknya matahari membuat keringat bercucuran di pelipis pasukan loreng, tetapi itu akan selalu mereka lakukan sebagai tugas dan melakukan latihan sebelum perang.
Acara apel pagi pun telah usai, setelah itu dilanjut dengan acara inti. Bagas Kara masuk ke lapangan dan naik ke atas panggung kecil yang sudah disediakan. Setelah itu sebuah penobatan kenaikan pangkat pun telah disemboyankan. Bros bintang telah disematkan dan hari itu telah dinyakatakan jika Bagas Kara sudah menjadi Letnan Jenderal TNI.
Seketika tepuk tangan riuh telah terdengar setelah penyematan bros bintang lima di baju Bagas Kara. Hal itupun berhasil membuat bangga Aletha dan Mama Nina.
Tepat pukul 11.00 siang acara sudah berakhir. Dan untuk merayakan kenaikan pangkat, Bagas Kara mengajak semuanya makan bersama di restoran Akira Back. Salah satu restoran ber bintang lima yang berada di Setiabudi. Di sana mengusung konsep makanan khas Jepang yang digabungkan dengan makanan khas Korea.
“Wah, restoran mahal Bayu.” Bian mengangumi penampakan diluar restoran yang memang terlihat menakjubkan.
“Tapi kau jangan aneh-aneh dalam bertingkah saat berada di restoran mahal Bian,” ancam Bayu.
“Tenang saja, tidak akan.” Dengan gaya sok cool Bian pun masuk mengikuti rombongan yang sudah lebih dulu masuk ke dalam restoran Akira Back.
Semua mangembil duduk sesuai dengan keinginan masing-masing. Dan tidak lama kemudian Luna dan Juan pun ikut hadir dalam acara makan bersama. Walaupun tidak ikut dalam acara pelantikan, yang namanya ayah tidak akan tega jika makan enak tanpa anak.
“Kalian semua bisa memesan makanan sesuai selera,” ucap Bagas Kara.
Pelayan pun menyodorkan menu makanan yang ada di restoran tersebut. Dan terlihat semuanya tengah memilah beberapa menu yang tertulis dalam kertas.
Kebanyakan dari mereka memilih menu favorit di restoran Akira Back seperti ... Pizza Tuna, AB Tacos, Miso Back Cod dan Crispy Kalbi Roll. Dan tentunya mereka akan menikmati menu makanan favorit itu, karena kelezatan khas hasil fusion yang kreatif tidak mungkin akan ditemukan di restoran lain.
“Aa, Neng lihat Naina hari ini bahagia banget ya! Lihat tuh, senyumnya...”
“Kenapa dengan senyumnya Neng?” tanya Keenan tanpa menoleh.
Keenan tidak mau melihat Naina yang tersenyum. Karena Keenan tidak mau menimbulkan sifat pencemburu Aletha yang nantinya bisa meledak sewaktu-waktu.
“Senyumnya begitu manis, Aa.” Pandangan Aletha pun beralih ke Ilham, karena setelah memandang Ilham, Naina selalu tersenyum yang mengukir bibirnya dengan lengkungan sempurna.
Aletha merasa penasaran akan hal itu, bahkan pikirannya pun menuju ke Ilham yang dulu sempat ingin meminang Naina yang usianya cukup jauh, sekitar lima tahun lebih muda daripada Ilham.
[Naina, apa kamu sudah siap?] tanya Ilham melalui pesan.
[InsyaAllah Mas, saya siap!] balas Naina.
Ilham berdiri dengan gentle, lalu mengudarakan suara yang mengumumkan hari pernikahannya dengan Naina. Jelas hal itu mengejutkan semua orang yang ada di sana, terutama Aletha. Karena hanya Aletha yang pernah diminta saran tentang tujuan Ilham. Namun saat itu Aletha menolak jika Ilham terburu-buru, tetapi kenyataannya... hari pernikahan sudah ditentukan dan akan dilangsungkan tiga minggu lagi.
“Kak Ilham serius dengan semua ini?” tanya Aletha setelah berada di luar restoran Akira Back.
“Aku serius, Al. Tidak mungkin aku menjadikan pernikahan menjadi sebuah candaan. Setelah aku meminta saran kepadamu waktu itu, aku selalu melakukan sholat istikharah. Dan InsyaAllah Naina adalah jawaban dari sholat istikharah ku.”
“Baiklah, semoga saja nanti kak Ilham dan Naina bisa saling bahagia. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik sebagai sahabat kak Ilham.”
Aletha menepuk pundak Ilham, setelah itu Aleyha kembali ke sisi Keenan yang akan bersiap untuk kembali pulang.
Saat dalam perjalanan Aletha masih termangu, tidak ia sangka jika Ilham dan Naina akan membina rumah tangga. Dan tidak di sangka juga jika Naina menerima ketiga anak Ilham yang masih kecil. Karena setelah menikah Naina akan menjadi seorang ibu meskipun belum pernah merasakan yang namanya mengandung.
“Aa... Neng masih tidak percaya sama kak Ilham da Naina.”
”Kenapa begitu, Neng? Apa yang membuat Neng tidak percaya?”
“Ya... Kak Ilham itu kan seorang duda, sedangkan Naina balik pernah menikah. Bahkan usia mereka berjarak lima tahun.”
“Neng, dengarkan Aa. Dua hal yang berharga dalam kehidupan adalah cinta dan ketulusan. Jika kita mencintai orang itu dengan tulus, maka kita akan menerima segala kekurangannya dan tidak akan membandingkan berapa usianya serta seberapa kekayaannya.”
”Dan mungkin saja itu yang namanya takdir Allah. Semua sudah diatur sama Allah, jadi kita tidak perlu pusing lagi memikirkan kehidupan orang lain. Cukup mendoakan saja yang terbaik untuk mereka ke depannya.”
Aletha mengangguk, ia membenarkan ucapan Keenan. Dan Aletha tidak akan lagi memikirkan hal yang tidak peting yang justru akan mengganggu jalan pikirannya sendiri.
Setiba di rumah Aletha menggendong Alina masuk ke dalam dan memindahkannya di kamar, karena sepanjang perjalanan Alina hanya tertidur dengan begitu pulas. Namun saat Aletha dan Keenan masuk ke dalam rumah mereka mendapati keberadaan seseorang....
“Tara,” ucap Aletha lirih.
Tara yang duduk di sofa seketika berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Aletha dan Keenan yang ada di belakangnya.
“Aletha, akhirnya kamu sudah pulang juga. Aku...”
“Apa tujuanmu datang kemari, Tara?”
“Aku... hanya ingin menyerahkan ini kepadamu, Al. Tidak ada maksud lain selain itu yang menjadi tujuanku datang kemari.” Tara memberikan sebuah bingkisan kepada Aletha.
Kedua mata Aletha dan Keenan membulat sempurna, bahkan keduanya penasaran dengan isi di dalam bingkisan tersebut. Namun, Aletha juga tidak mungkin akan membuka bingkisan yang diberikan Tara saat itu juga, karena Aletha harus menjaga attitude nya sebagai wanita yang tidak murahan.
__ADS_1
“Apa itu, Tara?”
Bersambung...